Seruni tak menyesal meninggalkan segala hal yang menjadi tumpuan hidupnya selama bertahun-tahun di negeri sakura. Karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menunda atau menunggu untuk bisa kembali ke Indonesia demi seseorang yang amat dirindukan. Meskipun harus menempuh jalan yang panjang, sukar, dan terjal. Ia siap menanggung segala konsekuensi asalkan bisa bertemu dengan orang itu. ***
Ada sebuah misi besar yang membuat Seruni jauh-jauh datang ke Indonesia. Ia tahu bahwa tindakannya ini bisa menghancurkan dirinya, tapi Seruni sudah siap menanggung segala risiko.
Tak ada jalan kembali. Rahasia, luka, dendam, dan kebohongan yang terkubur selama bertahun-tahun pelan-pelan akan terkuak.
Lalu, sebuah hal yang tak diduga terjadi dan meluruhkan seluruh tekad Seruni, memaksanya untuk mundur. Lalu, apa yang akan dilakukan Seruni? Menuntaskan misi atau menundanya? Atau justru menghentikannya saat itu juga?
Bisa dibilang, ini adalah novel keluarga. Bercerita tentang seorang anak yang menjadi korban perisakan oleh ibu tirinya sendiri. Keadaan itu membuat si anak memutuskan untuk melakukan sebuah hal yang tidak pernah bisa dibayangkan oleh anak seusianya. Namun, ia tidak tahu bahwa akibat yang bisa timbul dari kejadian itu berbuntut panjang. Meskipun, misteri masih terbungkus rapi dan meminta untuk dikuak satu per satu tentang keseluruhannya.
Sebuah kisah bertema keluarga, biasanya bisa membuat saya tersentuh, dan memberikan pembelajaran yang besar bagi pembacanya. Membaca Seruni, awalnya bagi saja menimbulkan sebuah tanda tanya: Nama si tokoh utama kan Seruni, mengapa di sampulnya bergambar mawar? Nah, rupanya, ada kisah tersendiri mengapa para tokohnya terikat dengan bunga mawar, pun juga menjawab pertanyaan tentang mengapa yang ditonjolkan justru mawar merah.
Kisahnya menarik, saya bisa membacanya dalam waktu yang singkat meskipun awal mulanya saya agak ragu apakah font yang dipakai di buku ini, font "Champagne" akan dirasa nyaman saat dibaca--apalagi bagi tipe pembaca cepat seperti saya. Namun, rasanya saya tidak memiliki masalah dengan itu. Jadi, pemilihan huruf tidak memberikan komplen apa pun :)
Menariknya, penulis turut membawa nuansa Jepang di novelnya, misalnya dengan percakapan berbahasa Jepang, atau tentang si kedai ramen, dan ada beberapa hal lain yang rasanya akan lebih seru kalau dibaca sendiri :)
Untuk kekurangan, ada beberapa masukan dari saya kepada penulis, agar bisa menjadi bahan perbaikan dan saran membangun untuk karya-karya selanjutnya. Menurut saya, ada banyak kebetulan di novel ini, dan itu (bagi saya pribadi) cukup mengganggu, karena pada akhirnya berhubungan dengan kelogisan cerita. Terlalu banyak hal penghubung antartokohnya yang rasanya, agak sulit diterima :) Namun itu semua tertutupi dengan gaya penulisan yang menyenangkan untuk dibaca. Juga, minimnya typo atau kesalahan penulisan. Meskipun, memang masih ada, seperti tanda baca elipsis yang harusnya titik tiga tapi titiknya berkurang satu. Semoga masukan dari saya bisa menjadi pertimbangan untuk karya-karya selanjutnya :)
"Maaf... Terbersit rasa bersalah karena telah menciptakan sebuah kebohongan besar & membuat keputusan untuk meninggalkan Indonesia. Keputusan yang ia sesali selamanya." (Hal. 33) Setelah bertahun-tahun pergi meninggalkan Indonesia, Seruni akhirnya kembali. Seruni rela meninggalkan segalanya di Jepang, demi menuntaskan rasa rindu yang sudah tidak mampu ditahan olehnya. "Kangen memang harus diungkapkan biar nggak mengganjal di hati dan di pikiran." (Hal.208)
Menjelang malam, hujan deras masih mengguyur Jakarta, Seruni menggigil. Di saat itulah Ia bertemu dengan Ana, seorang pemilik Resto Ramsu yang menawarkan bantuan kepadanya, yaitu untuk sementara waktu tinggal resto tersebut, sekaligus bekerja sebagai salah satu koki. "Ada satu kamar di resto. Kamu boleh tinggal di sana." (Hal.11)
Ana pun sebenernya memiliki masalah yang cukup rumit di keluarganya, meskipun begitu Ia tetap memiliki kepribadian yang baik dan tulus sehingga dengan sukarela membantu Seruni. Ana memiliki adik kembar dan ibu yang sifatnya sangat bertolak belakang dengan dirinya, mereka memiliki sifat yang kurang baik. Selain itu, Ana juga memiliki seorang kakak yang bernama Aster. Aster, dahulu adalah seorang gadis yang periang seperti Ana, tetapi sudah bertahun-tahun senyuman dan kata-kata hilang dari dirinya, bukan karena sebuah penyakit atau kelainan, melainkan karena sebuah depresi yang tidak mampu diatasinya. Aster hanya menampakkan wajah datar tanpa ekspresi dan tidak pernah merespon oranglain. Ia hidup seolah-olah seperti mayat hidup. "... Kakaknya itu kini sungguh apatis menghadapi kenyataan yang tampak di depannya, berbanding terbalik dengan fakta bunga aster yang sangat mempesona karena spektrum warnanya." (Hal.8)
Berbeda dengan Seruni dan Ana, Taro adalah seorang pemuda yang terpaksa kembali ke Indonesia karena harus mencari adiknya yang kabur dari Jepang dan meninggalkannya. "... Ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa dan kesal jika mengingat adiknya. Karena tingkah adiknya, ia harus terbang jauh-jauh ke Indonesia dan mengorbankan pekerjaannya." (Hal. 41)
Novel ini mengambil tema keluarga, salah satu tema favorite saya selain romance. Saya selalu senang setiap membaca novel dengan kisah keluarga, karena dapat menemukan cerita-cerita hangat dan khas dari sebuah keluarga. Tetapi, ternyata novel ini mengambil jalan yang berbeda, bukan tentang keharmonisan sebuah keluarga, melainkan sebuah kisah tragis dan memilukan akibat dari perceraian.
Novel ini mengisahkan tentang kehidupan anak-anak dari korban perceraian kedua orangtuanya, di sini penulis menggambarkan sisi negatif dari sebuah perceraian yang diawali oleh sebuah jalan bernama perselingkuhan. Ada anak-anak yang tersakiti atas perbuatan orang tuanya, mereka menjadi anak yang pendendam, pemberontak, bahkan ada juga yang membenci orangtuanya. Meskipun sudah dewasa, ternyata anak-anak ini masih menyimpan luka masa lalunya.
Keempat tokoh utama di novel ini tumbuh dari hasil luka masa lalu masing-masing. Seruni yang kabur dari keluarganya melalui sebuah skenario kebohongan karena tidak tahan atas perlakuan mama tirinya, menyebabkan ia memiliki jurang pemisah dengan sang kakak. Ana tidak bisa memandang mama dan papa nya sebagai orangtua yang harus dihormati karena baginya mereka berdua telah gagal menciptakan lingkungan keluarga yang nyaman diantara anak-anaknya, karena sang mama terlanjur membenci dan seolah-olah memberi label 'anak kandung' dan 'anak tiri'. Aster menjadi pribadi apatis dan berhenti berkomunikasi dengan oranglain sebagai sebuah bentuk penyesalan seorang kakak yang tidak berhasil menjadi pelindung untuk adiknya. Sedangkan, Taro menjadi pribadi yang begitu obsesi dan posesif terhadap apa yang dimilikinya sekarang, karena menyimpan dendam yang begitu dalam terhadap mama tirinya yang telah meninggalkan papa dan dirinya. Novel ini tidak lantas menjadi novel yang dipenuhi oleh kisah dramatis tanpa hikmah, tentu saja jalan ceritanya akan mengajak pembaca untuk belajar menerima masa lalu dan memaafkannya agar masa depan menjadi jauh lebih baik.
Nah, ternyata takdir membawa mereka berempat untuk menghadapi kusutnya benang merah diantara ketiganya. Ada hubungan apa sesungguhnya antara Seruni, Taro, Aster dan Ana? Apakah mereka berhasil menguraikan kusutnya hubungan masa lalu diantara ketiganya? Bagaimana cara mereka menuntaskan misinya masing-masing? Selamat Membaca! 😊
Buku Seruni mempunyai ide cerita yang baru bagi saya. Tentang anak-anak yang menjadi korban perceraian orang tua. Karakter utama yang muncul hampir bersentuhan dengan isu orang tua yang bercerai. Hasilnya, mereka menjadi orang-orang dewasa yang dibayangi oleh efek perceraian tersebut.
Ada yang menjadi pendendam, ada yang membenci orang tuanya atas perceraian itu, ada yang menjadi pemberontak, dan karakter di buku Seruni ini tidak ada yang memandang perceraian sebagai hal positif. Pesan besarnya, jangan gampang bercerai.
Bermula dari perceraian, konflik lainnya muncul. Dominan buku ini mengungkap permasalah keluarga. Seruni bermasalah dengan keputusannya di masa lalu dan membuat jurang dengan orang yang ia sayangi. Kak Aster menjadi pribadi murung dan memutuskan berhenti bicara sebagai bentuk penyesalan seorang kakak. Ana terbelit masalah antara keluarga papa tirinya dan mamanya. Taro menjadi pribadi yang terobsesi membalaskan luka pada orang yang melukai papanya hingga ia meninggal.
Sehingga buku Seruni ini bisa dikatakan buku bertema keluarga. Walaupun bukan keluarga harmonis, melainkan keluarga broken home.
Buku ini juga membawa kisah klise tentang jahatnya ibu tiri. Bukan jahat seperti menyiksa secara fisik, tetapi melalui verbal dan sikap yang pilih kasih.
Unsur Jepang melekat pada novel ini. Kita bisa melihat pada sampulnya yang berwarna kuning biru dan ada sosok perempuan berbusana kimono. Kita juga akan dibawa pada setting resto Ramsu pada awal buku. Resto dengan desain interior khas Jepang dan memiliki koleksi manga.
Utamanya tentang manga, saya berharap akan ada kelanjutan kisah yang berkaitan dengan manga. Tapi, sampai halaman terakhir, manga yang ada di resto tidak diceritakan kembali. Manga menjadi tempelan semata di buku ini.
Ritme cerita dibangun teratur. Bukan karena tema cerita yang kelam, kemudian kita disajikan cerita yang sedih-sedih melulu. Penulis membuat bertahap. Karena kesedihan itu muncul ketika misteri masa lalu diungkap dengan perlahan. Sehingga kamu akan menemukan beberapa bagian cerita berupa kilas balik.
Selingan yang menyenangkan ketika cerita menyentuh sisi roman. Bukan yang begitu kentara bisa dirasakan, tetapi manisnya cukup bisa dirasakan. Seruni kan punya masalah berat terkait keluarga dan masa lalu. Sedangkan Rifat sosok yang dewasa dan bukan orang yang spontan mengungkapkan apa yang dirasakannya. Kalian bisa tebak sendiri seberapa alot bagi keduanya untuk mengakui perasaan.
pertama baca bisa langsung ngeh kalau seruni itu adalah krisan. seketika kecewa dengan penulis dan berpikiran bahwa "it's suck". tapi, uniknya, walaupun sudah kecewa. jalan cerita seruni ini ngga bisa di skip begitu saja. bawaannya mau tau aja selanjutnya. ada kejutan apa dan! penulis benar" lihai mempermainkan pembacanya. tebak"an jalur cerita seruni semuanya meleset. ceritanya sederhana, tapi sangat menarik untuk dituntaskan dalam satu waktu. untuk endingnya sendiri saya merasa digantung, dan saya berpikiran "apa akan ada seruni seri ke 2?"
ceritanya mudah ditebak. banyak dialog-dialog yang gak penting dan terkesan mubazir. berkali-kali ditaruh karena males bacanya lagi. butuh 6 bulan baru bener-bener selesai baca :(
Seruni bercerita tentang kisah dari Seruni. Seruni yang baru saja datang di Indonesia merasa bingung akan tinggal dimanakah dia. Bertahun-tahun tinggal di Jepang dan sekarang kembali lagi ke Indonesia hanya untuk misi yang bisa dibilang besar. Tapi, memang di setiap kebingungan pasti akan ada penolong. Seruni berkenalan dengan Ana, seorang gadis muslim yang kemudian menawarkannya sebuah pekerjaan menjadi Koki di Restoran Ramsu miliknya. Beruntunglah Seruni, karena dengan pertolongan yang diberikan Ana kepadanya, dia bisa menjalankan misinya untuk mencari orang yang dirindukannya.
Saat Seruni datang, Ana langsung memperkenalkan Seruni kepada Rifat, partner bisnis sekaligus Koki di Restoran tersebut. Dan akhirnya setelah lama tutup, Restoran tersebut buka kembali. Ana memiliki dua adik kembar dan seorang Kakak. Kedua adiknya, Cantik dan Jelita tak pernah menyukai sikap Ana yang terlalu perhatian kepada Aster, kakaknya. Ana memberikan Aster perhatian lebih tanpa alasan, kondisi Aster yang depresi, tak pernah berbicara, selalu sedih, dan tatapan matanya kosong. Semua itu terjadi karena Aster kehilangan adiknya, Krisan, 7 tahun lalu karena bunuh diri. Dia seperti kehilangan semangat dalam hidupnya semenjak Krisan meninggal dunia. Ana selalu berusaha untuk menemani Aster, memberikannya semangat, mengajaknya berbicara, walaupun Aster tak pernah memberikan ekspresi apapun. Hubungan Aster dan Ana adalah saudara tiri. Aster lahir dari Mama yang berbeda dengan adik-adiknya. Dan Mama tiri Aster tak pernah memperlakukan Aster dan Krisan adiknya dengan baik.
Membaca novel ini benar-benar bikin aku gemas, baper, nangis terhari akan kelembutan hati Ana, perjuangan Seruni dan kesedihan Aster. Ana yang tetap menyayangi Aster meskipun sang Mama tak menyukai Aster membuatku terharu. Aku suka dengan ide ceritanya. Jarang membaca sebuah novel yang bertemakan tentang anak-anak yang menjadi korban perceraian orang tua. Yang ternyata berimbas saat anak-anak tersebut menjadi dewasa, mereka seperti takut melangkah menuju pernikahan akibat efek dari perceraian tersebut.
Awalnya memang dari perceraian, kemudian timbul konflik yang lain. Tentang Seruni dan keputusannya di masa lalu, tentang Aster yang menjadi pemurung, kemudian Ana yang terbelit masalah antara keluarga Papa tirinya dan Mamanya. Taro yang menjadi pribadi penuh dengan obsesi demi membalaskan dendam pada orang yang melukai Papanya.
Kalau boleh dibilang, aku sekilas seperti melihat Cinderella disini. Dimana ada cerita tentang ibu tiri yang jahat. Hampir sama dengan Cinderella. Jahatnya ibu tiri disini bukan dalam hal fisik tapi lebih kepada pilih kasih. Sama seperti Cinderella yang terasing di rumahnya sendiri, karena Ibu tirinya lebih menyayangi kedua anaknya.
Awalnya sewaktu melihat covernya, aku udah nebak kalau novel Seruni ini akan ada unsur Jepangnya. Bisa dilihat dari kimono yang dipakai oleh sesosok perempuan. Sebenarnya kalau ada setting Jepang di setiap novel, aku pasti iri, karena pingin kesana, habis itu ke Korea. Setting Jepang sendiri bisa dilihat di Restoran Ramsu. Restoran yang didesain dengan interior khas Jepang dan ada koleksi manga. Bikin betah nongcan nih, susah pergi.
Buku ini sebenarnya menawarkan ide yang baru. Saya suka cara penyampaiannya yang tanpa basa-basi. Pinginnya bisa suka dengan novel ini, tapi sayang banget menurut saya terlalu klise dan dramatis, dan faktor kebetulannya sangat wow. Mungkin karena berfokus pada cerita, setiap tokoh jadi tidak ada bedanya bagi saya (walaupun diberikan penekanan si Taro temperamental, atau Seruni yang pendiam). Tapi secara keseluruhan buku ini cukup baik sebagai bacaan ringan dan unsur kekeluargaannya lumayan terasa.