Jump to ratings and reviews
Rate this book

Berhala: Kumpulan Cerita Pendek

Rate this book
Semua cerpen dalam buku ini menyiratkan jalan pemikiran Danarto, bahwa realitas yang tak tampak, jalin-menjalin menjadi satu. Seperti dunia dan akhirat.

Berhala mendapatkan penghargaan dari Pusat Bahasa pada tahun 1990 dan Pustaka Firdaus mendapat penghargaan sebagai penerbit Buku Utama jenis fiksi 1987.

Saat ini, Berhala sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jepang.

***

“Apakah orang ini sudah siap dicabut nyawanya?” nada bertanya Izrail yang entah ditujukan kepada siapa.
“Belum. Orang ini belum siap untuk dicabut nyawanya,” jawab rambut di atas kening saya. Ruang dan waktu seketika diliputi kehampaan dan saya bergulir persis batang pisang dari tebing ke sungai. Tidak. Sungguh tidak. Ini tidak benar.
“Orang ini sama sekali belum siap untuk dicabut nyawanya,” seru kaki saya. Tidak. Sungguh tidak. Ini tidak benar.
Saya merasa diperlakukan tidak adil. Bahkan merasa ditindas. Bagaimana mungkin rambut di atas kening dan kedua kaki saya telah bertindak tanpa seizin saya, menjawab pertanyaan Malaikat Izrail. Ini kelancangan yang keterlaluan. Bagaimana mungkin mulut saya justru terkunci menghadapi saat yang paling genting ini. —“Dinding Anak”

***

Danarto dan cerpen-cerpennya adalah kasus yang istimewa. Mungkin tidak ada penulis cerpen di negeri ini yang sejak semula sudah dengan sangat sadar menciptakan “dunia alternatif” dalam cerita-ceritanya.(Umar Kayam)

228 pages, Paperback

First published December 1, 1987

25 people are currently reading
366 people want to read

About the author

Danarto

30 books42 followers
Danarto dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Jakio Harjodinomo, seorang mandor pabrik gula. Ibunya bernama Siti Aminah, pedagang batik kecil-kecilan di pasar.

Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo. Pada tahun 1958–1961 ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis.
Ia memang berbakat dalam bidang seni. Pada tahun 1958—1962 ia membantu majalah anak-anak Si Kuncung yang menampilkan cerita anak sekolah dasar. Ia menghiasi cerita itu dengan berbagai variasi gambar. Selain itu, ia juga membuat karya seni rupa, seperi relief, mozaik, patung, dan mural (lukisan dinding). Rumah pribadi, kantor, gedung, dan sebagainya banyak yang telah ditanganinya dengan karya seninya.


Pada tahun 1969—1974 ia bekerja sebagai tukang poster di Pusat kesenian jakarta, Tam Ismail Marzuki. Pada tahun 1973 ia menjadi pengajar di Akademi Seni Rupa LPKJ (sekarang IKJ) Jakarta.

Dalam bidang seni sastra, Danarto lebih gemar berkecimpung dalam dunia drama. Hal itu terbukti sejak tahun 1959—1964 ia masuk menjadi anggota Sanggar Bambu Yogyakarta, sebuah perhimpunan pelukis yang biasa mengadakan pameran seni lukis keliling, teater, pergelaran musik, dan tari. Dalam pementasan drama yang dilakukan Rendra dan Arifin C. Noor, Danarto ikut berperan, terutama dalam rias dekorasi.
Pad tahun 1970 ia bergabung dengan misi Kesenian Indonesia dan pergi ke Expo ’70 di Osaka, Jepang. Pada tahun 1971 ia membantu penyelenggaraan Festival Fantastikue di Paris. Pada tahun 1976 ia mengikuti lokakarya Internasional Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, bersama pengarang dari 22 negara lainnya. Pada tahun 1979—1985 bekerja pada majalah Zaman.
Kegiatan sastra di luar negeri pun ia lakukan. Hal itu dibuktikan dengan kehadirannya tahun 1983 pada Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.
Tulisnanya yang berupa cerpen banyak dimuat dalam majalah Horison, seperti “Nostalgia”, “Adam Makrifat”, dan “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaekat”. Di antara cerpennya, yang berjudul “Rintrik”, mendapat hadiah dari majalah Horison tahun 1968. Pada tahun 1974 kumpulan cerpennya dihimpun dalam satu buku yang berjudul Godlob yang diterbitkan oleh Rombongan Dongeng dari Dirah. Karyanya bersama-sama dengan pengarang lain, yaitu Idrus, Pramudya Ananta Toer, A.A. Navis, Umar Kayam, Sitor Situmorang, dan Noegroho Soetanto, dimuat dalam sebuah antologi cerpen yang berjudul From Surabaya to Armageddon (1975) oleh Herry Aveling. Karya sastra Danarto yang lain pernah dimuat dalam majalah Budaya dan Westerlu (majalah yang terbit di Australia).
Dalam bidang film ia pun banyak memberikan sumbangannya yang besar, yaitu sebagai penata dekorasi. Film yang pernah digarapnya ialah Lahirnya Gatotkaca (1962), San Rego (1971), Mutiara dalam Lumpur (1972), dan Bandot (1978).

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
45 (30%)
4 stars
66 (44%)
3 stars
25 (17%)
2 stars
8 (5%)
1 star
3 (2%)
Displaying 1 - 24 of 24 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
March 6, 2017
Tahu novel ini dari teman yang lulusan Sastra Indonesia, katanya 'Berhala' adalah salah satu karya Danarto yang wajib banget dibaca. Sayangnya, waktu itu kumcer ini sempat langka di pasaran sehingga saya hanya bisa penasaran. Kemudian, ciduk pun bersambut, Berhala kembali diterbitkan dalam proyek #SastraPerjuangan sehingga saya bisa turut membaca gratis novel ini di kantor. Seperti pengalaman saat membaca Gergasi dulu, banyak hal yang bikin kaget saat membaca Berhala. Ciri khas Danarto yang surealis-relijius masih terasa kental di banyak cerpen, tetapi tampaknya tidak sekental di Gergasi atau di Setangkai Melati di Sayap Jibril. Beberapa cerita agak 'longgar untuk ukuran Danarto, tetapi di cerita-cerita akhir di buku ini, elemen religius-surealis itu terasa kembali.

Ulasan tak tuntas di https://dionyulianto.blogspot.co.id/2...
Profile Image for Truly.
2,763 reviews12 followers
September 11, 2019
Tahu buku ini ketika ada teman yang cari, jadi ikutan.
Isinya ternyata luar biasa. Tak heran banyak yang cari.
Tak ada kata yang tepat kecuali unik.
Profile Image for Teguh.
Author 10 books334 followers
February 17, 2014
Saya tidak tahu mengapa Danarto memberi judul BERHALA pada kumpulan cerpen yang ini. Padahal tidak ada satu pun cerpen dalam buku ini yang bertajuk Berhala. Hal ini didasari biasanya ada satu judul cerpen yang dijadikan judul buku. Ini tidak. Mungkin ini menjadi rahasia yang patut dipecahkan sampai akhir pembacaan. Satu lagi hal unik yang perlu ditelaah, adalah foto Danarto di sampul belakang.

Di foto itu Danarto duduk di kursi bercat putih, dengan sepotong semangka merah. Mungkin ini biasa saja, tetapi kalau dicermati jangan-jangan sepotong semangka merah merona yang terbelah itu adalah sebuah tanda atau semacam klu untuk menerjemahkan apa isi cerpen2 kali ini atau menerjemahkan mengapa judul BERHALA dipakai. Dalam hipotesa saya, semangka itu ada kaitannya dengan hijau-merah, warna yang mendominasi semangka. Kulit hijau dan berisi merah. Sampulnya hijau tetapi isinya merah. Sampulnya santri (warna hijau) ternyata abangan (merah). Entahlah, ini kan sekadar hipotesa.

Cerpen pertama "!"(red: tanda seru) menceritakan keluarga seorang kaya-raya yang sangat kejawen, terutama ayah. Namun dari 11 anaknya, ada satu anak ZIZIT yang berpikir bahwa dibalik gerbang itu ada kaum pengemis yang menunggu. Tetapi cerpen ini kemballi di akhiri dengan adegan surealis, ayah yang sakit itba-tiba menyanyi. Saya menangkap Danarto menyelipkan angka"suci" yaitu angka tujuh (seperti kebanyakan menganggap angka tujuh angka istimewa).

to be contiunes nulis ulasannya....
Profile Image for Mark.
1,284 reviews
September 24, 2011
Danarto adalah seorang penulis yang dikenal tidak produktif, sesuatu hal yang diakui sendiri olehnya. Selama kurun waktu 12 tahun, antara 1975 - 1987, ia hanya menghasilkan 3 buku kumpulan cerpen, Godlob (1975), Adam Ma’rifat (1982) dan Berhala (1987). Namun selebihnya ia mengisi waktu dengan melukis.

Kepiawaiannya dalam menulis karya sastra cerpen, tampak jelas mewakili suatu pergulatan intens antara visi, filosofi dan latar sosio-kultural, yang sukses mengaduk-aduk emosi pembaca. Pengamatannya yang tajam dapat dirasa begitu pekat di dalam kumpulan cerpennya, terutama Berhala. Danarto bisa membuktikan bahwa pengarang sufistik yang begitu dekat dengan tradisi Jawa seperti dirinya, memiliki relevansi dengan iman dan masalah sosial, serta sangat arif dalam menghayati kenyataan kehidupan.

Dalam Berhala, Danarto menggebrak ranah sastra tanah air berkat fokusnya pada realitas dunia yang sangat manusiawi. Kepekaannya pada problem-problem sosial di sebuah dunia kapitalis yang terlalu menghamba pada niat hedonisme, meski ditulis lebih dari 20 tahun lalu, masih terasa signifikansinya dalam memandang kehidupan saat ini. Berhala sendiri kemudian dianugerahi penghargaan dari Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pada tahun 1987.
Profile Image for DIVA Press.
26 reviews20 followers
February 28, 2017
Nah, karena membaca sastra itu penting, dan pas bener mau tanggal muda, Mimin mau promoin satu buku #SastraPerjuangan yang oke banget, yakni Berhala. Buku ini adalah salah satu karya masterpiece dari Danarto, pertama kali dicetak pada tahun 1987 sebelum kemudian menjadi buku langka. Berhala mendapatkan penghargaan dari Pusat Bahasa pada tahun 1990, dan sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Belanda, Prancis dan Jepang. kumcer ini lahir setelah dua kumpulan cerpen Danarto yakni Dodlob (1975: 9 cerpen) dan Adam Ma'rifat (1982: 6 cerpen).

"Danarto dan cerpen-cerpennya adalah kasus yang istimewa," ungkap sastrawan Umar Kayam dalam sambutannya untuk buku ini. Mungkin tidak ada penulis cerpen di negeri ini yg sejak semula sudah dengan sangat sadar menciptakan “dunia alternatif” dlm cerita-ceritanya. Dalam buku ini, pemikiran Danarto tersirat jelas, tentang realitas yang tak tampak saling jalin menjalin jadi satu, seperti dunia dan akhirat. Danarto juga lebih banyak menggunakan diksi sederhana dalam Berhala, tetapi isinya sungguh telak menampar serta menyinyiri realitas yang kacau.

"Kita selalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya."(hlm. 34)

Keunikan 'Berhala' di antaranya pada tidak adanya satu pun cerpen di buku ini yang berjudul 'Berhala'. Jadi kenapa buku ini judulnya Berhala? Masih misterius kenapa judul ini dipilih oleh Danarto, tetapi salah seorang pembaca menyebut keterkaitan judul dengan tema-tema cerpen di dalamnya. Berhala adalah lambang dari yang kita agungkan, puja dan banggakan. Berhala ini bisa berupa apa saja: pangkat, jabatan, harta, kepintaran. Tema-tema 'berhala' inilah yang memang diangkat oleh Danarto dalam cerpen-cerpen di buku ini.

Selama ini berhala selalu diidentikkan dengan patung yang dipuja. Tapi, berhala itu bisa jadi diri kita sendiri yang kelewat batas narsisnya. Dan, lewat cerpen-cerpen sederhana di buku ini, Danarto dengan telak namun indah menghantam berhala-berhala dalam diri dan hidup kita. Kepintaran pun bisa jadi berhala, seperti disindir penulis:

"Seperti rumah dan mobil kami, buku-buku kami pun banyak sekali."(hlm. 23)

Danarto tetap menyelipkan ciri khas surealisnya dalam karyanya ini, walau tidak sepekat di buku-buku lain karyanya. Lebih membumi, istilahnya. Berhala menyajikan kisah-kisah surealisme di setting dunia nyata, dunia keseharian dengan berbagai persoalan yang menghinggapinya. Yang awalnya terlihat sederhana, tiba-tiba berubah menjadi tak rasional di penghujung cerita. Begitulah menariknya, sangat khas Danarto. Umar Kayam mengibaratkan kisah-kisah di buku ini seperti manusia, manungsa tan kena kinira, manusia yang tak dapat diduga. Dengan demikian, kisah-kisah dalam Berhala memang masih khas Danarto, yang berupaya memahami dan memuliakan misteri keesaan sang Pencipta. Empat bintang untuk kumcer dengan sampul indah ini.

Profile Image for Kaha Anwar.
46 reviews5 followers
August 21, 2013
Kenapa kumpulan cerpen ini judulnya "Berhala"? Padahal dalam daftar isinya, tak ada satupun judul yang menyebutkan hal itu. Saya nyicil membacanya, sekaligus menelusuri setiap jalan cerita dari tiga belas judul yang termuat dalam buku ini. Mengingat berhala hanyalah "tanda" dari yang kita agungkan, yang kita puja dan banggakan. Dan tentunya, berhala bisa berupa apa saja: pangkat, jabatan, anak, kepintaran, bahkan cendera mata. Selama ini berhala selalu diidentikkan dengan patung yang dipuja. Bahkan, boleh jadi, berhala itu tak lain diri kita sendiri yang kelewat batas mengaguminya: narsisme.
Kali ini, yang dikemas dalam antologi cerpennya, (Mbah) Danarto tampil beda dibanding dengan cerita-ceritanya yang lain, misal Adam Ma'rifat dan Asmarandanya. Meski tak sepenuhnya Beliau bisa meninggalkan gaya ceritanya: surealisme. Namun, Berhala menyajikan alam nyata, alam sehari-hari yang tengah dihadapi: dengan berbagai persoalannya. Dengan begitu, ceritanya seakan menjamah keduanya: alam yang bisa dirasional dan tidak. Sesuatu yang tak terduga.

Bersambung


Profile Image for Radhiyya Indra.
46 reviews2 followers
August 27, 2018
Meski tarik-ulurnya panjang, buku ini tetap kuat disorientasinya. Masing-masing berhala disembah sedemikian rupa oleh tiap pemeran sehingga tidak kasat mata di pandangan kita.
Profile Image for Nina Majasari.
136 reviews1 follower
February 25, 2024
Beruntung sekali saya nemu buku ini tanpa sengaja. Ternyata isinya bagus, cara berceritanya waduh, keren banget, saya terkagum-kagum sembari baca. 13 cerpen yang ditulis dalam kurun waktu tahun 1979 s/d 1986 ini hampir seluruhnya saya beri score 5/5.

Walaupun judulnya Berhala, tidak ada cerpen yang dengan judul tersebut di buku ini. Berhala merupakan benang merah dari keseluruhan cerpen yang isinya keterikatan pada hal-hal yang sifatnya duniawi.

Berhala juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jepang. Buku yang saya miliki merupakan cetakan pertama dari DIVA Press tahun 2017. Sampulnya dibuat oleh Amalina, sebuah ilustrasi sebuah tangan yang menyibak langit, cakep banget dengan warna biru tua dan merah. Di halaman pembuka terdapat pengantar dari Umar Kayam tentang novel-novel Darmanto.

! - 4/5
Zizit, adik perempuannya selalu membuat ia jengkel dengan sikap sok dermawannya. Tiap hari Zizit menggantungkan nasi bungkus di pagar dan menyediakan sejumlah uang untuk pengemis yang datang ke depan rumah.

“Aku tidak mau mereka mengotori pemandanganku. Mengotori tempatku. Bikin risi aku. Aku seorang yang bersih sudah sepantasnya menghindari yang kotor-kotor. Adalah hakku untuk tidak sudi melihat mereka. Hakku, Zizit!”

Panggung - 5/5
Dari keseluruhan isi buku, cerpen ini yang paling saya suka. Plot twistnya banyak.

Bercerita tentang anak seorang pejabat tinggi Bappenas yang membenci kemunafikan bapaknya. Dengan tega, dia menembak ayahnya dengan pistol di depan para pejabat Bappenas dan pejabat IGGI.

“Kebencianmu terhadap ayahmu sudah kelewatan.”

Pelajaran Pertama Seorang Wartawan - 5/5
Bambang, merupakan wartawan yang masih baru, jam terbangnya masih pendek, namun dia mempunyai prinsip yang kuat. Dia selalu menolak amplop yang ditawarkan, bahkan dengan kepolosannya, dia tidak mampu membedakan uang saku dan amplop. Kenaifannya itu membuatnya berada dalam situasi yang pelik.

"Mas tidak berbakat jadi wartawan."

Memang Lidah Tak Bertulang - 5/5
Dalam pengejarannya menangkap Kasfar, penjahat kakap di sebuah gubuk, Kasfar minta ampun padanya untuk tidak ditangkap. Apa saja akan dia lakukan asal bebas demi keluarganya.

“Kami butuh beking, Pak. Jika Bapak tidak keberatan….”

”Anakmu bukanlah anakmu,” ujar Gibran - 5/5
Niken, anaknya yang masih mahasiswi di fakultas kedokteran mengaku hamil. Siapa yang menghamilinya, Niken tidak mau mengaku. Demi nama baik keluarga, untuk sementara Niken disembunyikan di sebuah rumah kontrakan sampai ia melahirkan.

“Niken adalah anak saya. Biarlah keputusan akhir berada di tangan saya dan istri saya.”

Selamat Jalan, Nek - 4/5
Eyang putri telah mendidik anak cucunya untuk mengerti hari. Menghargai hari. Lalu memilih hari baik untuk kematiannya.

“Eyang bakal mati pada Selasa Kliwon dini hari, tujuh hari mendatang.”

Dinding Ibu - 4/5
Hari itu dia diminta hadir dalam pertemuan yang dianggap penting dalam hidup ibunya. Di sebuah hotel mewah, Ayah, dia dan adik-adiknya untuk pertama kalinya menyaksikan kembaran Ibunya.

Pundak yang Begini Sempit -5/5
Setiap kali dia mengerjakan pekerjaannya sebagai petrus (penembak misterius), lelaki berkerudung itu tiba-tiba muncul di dekat targetnya. Ia membunuh hanya dengan memejamkan matanya.

“Pasti ia tukang santet yang membunuh dengan ilmu hitamnya.”

Gemertak dan Serpihan-Serpihan - 5/5
Iming-iming uang dan sepetak tanah membuat dia bersedia membakar seluruh rumah petak dikampungnya yang terancam digusur. Namun tidak semua bersedia angkat kaki.

“Kita akan bertahan di sini sampai titik darah penghabisan.”

Dinding Anak - 5/5
Ketika dia koma di rumah sakit, dilihatnya Izrail, malaikat maut muncul di hadapannya. Namun Tuhan masih memberinya kesempatan hidup.

Selang lama berlalu, tiba-tiba dia melihat Izrail muncul di halaman rumahnya. Namun bukan dia yang didekati, melainkan Bibit, anak bungsunya yang masih berusia 4 tahun.

“Ini tidak adil! Mengapa justru Bibit yang dipilih? Kenapa bukan saya, bangkotannya. Kenapa bukan kamu, ibunya?”

Pageblug - 3/5
Sudah tiga minggu sebanyak 21 desa diserang pageblug, wabah. Pak Kiai Kasan mengumpulkan anak-anak untuk melawan wabah. Berbekal obor dan tembang, mereka berkeliling ke seluruh desa.

Langit Menganga - 5/5
Sudah satu bulan Ayahnya ditahan karena dituduh melakukan pembunuhan. Ayahnya memang jelas seorang dukun, namun mereka sekeluarga tidak percaya, bagaimana mungkin Ayahnya pembunuh? Misteri yang menyelimuti Ayahnya sulit dibedah oleh siapa pun, termasuk keluarganya.

Cendera Mata 4/5
Wiwin, gadis kecil murid SD Palmerah mendadak terkenal karena air matanya. Ketika menangis, air matanya mengeluarkan benang. Keanehannya membuat ia dikenal banyak orang, bahkan sampai bertemu dengan Presiden.
48 reviews
May 5, 2025
menudaftar

DEWATASLOT merupakan situs penyedia layanan taruhan online terbaik di Asia yang menyediakan permainan terpopuler dan lengkap di kelasnya. Nikmati berbagai pilihan game seperti sportsbook, e-sport, slots, idn-live, tangkas, live casino, togel hingga tembak ikan di satu tempat.


DEWATASLOT hadir sebagai standar kualitas terbaik pilihan jutaan player yang memiliki sistem enkripsi tercepat. Didukung dengan teknologi terkini yang menghadirkan permainan bebas hambatan ataupun bug. Rasakan sensasi betting online unik, seru dan menantang lewat tampilan dan desain atrakrif. Jangan lewatkan promosi, event dan bonus menarik yang Dewataslot bagikan setiap harinya. Daftar Dewataslot sekarang.
Profile Image for Restutama.
7 reviews
April 6, 2022
Dunia alternatifnya Danarto akan begitu sukar diterima, kalau pembaca maksa buat benturin realitas yang dipercayainya dengan realitas yang ada pada cerpen-cerpennya Danarto. Sebagai penulis yang memilih jalan 'aman', pada masa pemerintahan Soeharto, saya kira awalnya penggunaan kata "insya Allah", "masya Allah", "Alhamdulillah", adalah upaya agar cerita-cerita belio bisa 'lulus sensor', ternyata setelah saya cari-cari, itu adalah manifestasi dari proses belio untuk dekat dengan penciptanya. Di bukunya ini, cerpen yang judulnya Berhala gak akan kita temuin, karena mungkin, lewat tema-tema yang dipilih belio, 'berhala' itu sendiri adalah sebuah tanda bahwa ada sesuatu yang patut 'disembah'.
Profile Image for Andria Septy.
249 reviews14 followers
July 17, 2021
masing-masing ada 13 cerita pendek di buku ini. semuanya membekas. wajar saja karena pada tahun 1988, penulis mendapat penghargaan SEA WRITES dari pemerintah Thailand, dan memperoleh profesional fellowships dari The Japan Foundation selama satu tahun utk menulis novel. selain itu penulis juga multitalenta, pekerja seni sejati.
Profile Image for Irma Kartika.
24 reviews
November 17, 2020
Pembahasan perihal kritik budaya Jawa yang baru saja menambah pengetahuan saya, pemberhalaan terhadap hal-hal tak umum yang ternyata benar-benar melekat dalam diri saya, makna-makna tersembunyi yang membuat saya musti kesal sendiri karena belum dapat memahaminy sekarang, mungkin nanti.
Profile Image for Niskala.
94 reviews1 follower
November 27, 2022
Cerita ke 4 menarik, endingnya ga terpikirkan.
Buku ini lebih gamblang dibanding godlob n adam ma'rifat yg terlalu rumit analoginya. Tetap banyak keanehan, tapi bbrp cerita kurang menarik dan cenderung membosankan.
Profile Image for Anggraini.
43 reviews1 follower
July 9, 2018
Pak Danarto menulis cerpen ini pada tahun 1980-an dan tentunya kisah-kisahnya diilhami dari kejadian yang berlangsung saat itu. Kisah nyata berbalut imajinasi dan terasa betul ke-satir-an nya.
Profile Image for Jurnalis  Palsu.
48 reviews1 follower
November 22, 2018
Seperti biasa, danarto memberikan kejutan-kejutan baru dalam cerita pendek. Mungkin seumur hidup saya, cerpen danarto akan tetap mengingang saking dekat dan realnya kemungkinan yang ia ceritakan.
Profile Image for Faris Toyyib.
30 reviews
October 22, 2025
baca buku ini adalah upayaku mengintervensi genre bacaanku yang gitu-gitu aja, lurus-lurus. lumyan menyenangkan!
Profile Image for Yusnia Sakti.
118 reviews39 followers
August 14, 2011
Magical realism. Keklenikan dan kemistikan berpacu dengan eh (bukan melodi) logika dan realita, sesuatu yang tidak mungkin menjadi biasa-biasa saja, sepele. BUkan berarti hanya kumpulan dongeng kosong ala nina bobo tapi ada 'pesan rahasia' yang nampaknya atau pastinya ingin Danarto bagikan kepada pembacanya: tentang hidup, kepercayaan, budaya, dsb. Bacalah, resapilah, dan pikirkanlah.
Profile Image for upiqkeripiq.
79 reviews4 followers
April 1, 2012
Hahaha... Agak subjektif mungkin karena saya memang adalah pengagum Danarto. Tapi rasanya memang pantas kok diberi rating segitu.

Agak kecewa karena saat membaca pengantar tentang kumpulan cerpen ini dari umar kayam ada banyak spoilernya. Jadinya ya gimana gitu deh :)

Tapi tetap aja Mbah Danarto buat saya ketawa-ketawa sendiri karena terlalu kagum dengan cerita2 yang dia buat :)
Profile Image for eti.
230 reviews107 followers
May 19, 2012
dengan menggunakan kata ganti orang pertama, hampir semua cerpen-cerpen di dalamnya mampu menyeret saya untuk menjadi tokoh "saya" dalam ceritanya. dengan bahasa yang sederhana, juga sesekali terselip kata dalam bahasa jawa dan jumpingnya yang smooth, membuat saya merasa ikut mengalir dalam ceritanya. dan tentu saja ending yang tak terduga. keren!
Profile Image for Shahnaz.
196 reviews
October 8, 2011
entahlah... bacanya agak2 gmn gt..
setauku danarto bikin cerpen yang religius... eh, kok disini banyak adegan2 aneh :(
Displaying 1 - 24 of 24 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.