Berapa banyak dari kita yang pernah melihat kenalan atau orang-orang dekat disekitar, yang dengan percaya diri mendeklarasikan jasa bisnisnya, membuat design, layanan foto, videografi, event organizer, website bahkan membuat aplikasi mobile phone atau merekam lagu-lagu karyanya dan menyebut diri sebagai musisi. Dan ternyata dalam hitungan bulan, kita mendapati mereka mengeluhkan kegagalan penjualan hasil kerjanya, mulai pesimis dengan karya-karya yang dihasilkan, dan belakangan, sebagian dari mereka memutuskan menjadi orang kantoran bahkan dengan bidang kerja yang tidak sesuai dengan keinginan mereka?
Dan sekarang, saya mendapati ada begitu banyak kawan-kawan muda di sekitar, yang melakukan apa yang pernah saya lakukan dulu, melabeli diri sebagai “self corporation”, yang sayangnya hanya bertahan tak lebih dari seumur jagung.
Banyak diantara mereka yang masih menyodorkan konsep kreatif semata, yang belum sepenuhnya bisa menjadi solusi dari sebuah permasalahan. Padahal esensi dari kewirausahaan justru upaya untuk mencari solusi dan jalan keluar. Mereka asyik dengan produk yang dikembangkan, namun tidak tahu bagaimana produk-produk itu akan dimanfaatkan oleh pasar.
Inilah yang kemudian mendorong saya dan tim redaksi majalah Money&I, entrepreneurship magazine yang tim redaksinya saya pimpin, untuk melakukan sejumlah kajian, menelusuri lebih dalam bagaimana sebuah kesuksesan itu dibangun.
Sampling studinya kami kumpulkan dari narasumber pewartaan di majalah Money&I, para Kreator yang punya banyak persamaan, muda, adaptif, komunikatif, suka bekerja, ngotot, gigih, cerdik, lincah dan banyak mau. Mereka memulai karirnya tanpa modal, hanya berbekal keterampilan, ada animator, desainer, fotografer, penulis, digital startup, kreator konten dan berbagai profesi independent workers lainnya. Karir mereka bertumbuh, dari yang tadinya kerja sendiri, kemudian punya karyawan, hingga akhirnya menjadi bisnis (corporation/ incorporation) yang menjanjikan. Itulah alasannya mengapa buku ini berjudul Creators.Inc. Dan menariknya, tidak sedikit cara-cara yang mereka lakukan, memvalidasi pengalaman saya pribadi sebagai sesama Kreator, proses yang akhirnya mewujudkan resolusi untuk berdaya dengan karya sendiri.
Itulah sebabnya, dalam buku ini saya menguraikan bagaimana proses berkembangnya karir seorang Kreator berdasarkan pengalaman pribadi, pun dari anak-anak muda yang perjalanan karirnya kami ikuti. Agar menjadi referensi untuk menjalani proses yang lebih baik, dan terus berkembang dengan karya-karya yang bermanfaat.
Jika dikelola dengan baik, pendapatan dari profesi ini bisa mencapai 50 juta per bulannya. Hal itu disampaikan Yoga Arizona, pemuda yang sukses menjalani profesi sebagai content creator. Ia populer di instagram dan youtube. Berawal dari sering ditolak tiap kali ikut kasting, ia akhirnya mulai membuat video sendiri.
Pria berkacamata yang akrab disapa Kuka itu memiliki 300 ribu lebih pengikut di instagram dan 21 ribu subscriber di youtube. Tak hanya itu, Yuga juga sering diundang menjadi bintang tamu dalam acara talk show televisi, serta aktif menjadi nara sumber di berbagai seminar.
Demi menggaet sejumlah followers, Yoga sering mengunggah video lucu-lucuan melalui akun dubsmash miliknya. Ia kerap menirukan gaya selebriti papan atas negeri seperti Syahrini, Cinta Laura, hingga Deddy Corbuzier. Walhasil, aksi kocak itu mengundang banyak respon dan gelak tawa. Mulailah ia dikenal sebagai content creator.
Yoga memperolah income yang tak sedikit dari aktivitasnya itu. Kini, setiap bulannya ada saja klien yang meminta dirinya untuk memasarkan produk di instagram. “Kadang dalam satu bulan produk iklan yang masuk banyak. Kadang cuma ada satu. Kadang juga ngak ada sama sekali. Bergantung ramai atau tidak. Jika sedang ramai, dalam sebulan aku bisa menghasilkan hampir 50 juta, tapi kalau lagi sepi, paling 10 juta”. Ungkapnya dalam satu wawancara.
***
Kisah tentang pemuda sukses ini saya temui saat membaca buku Creator. Inc, karya Arief Rahman, yang terbit beberapa waktu lalu. Buku ini membuka wawasan tentang perkembangan dunia baru, lahirnya banyak peluang usaha berkat kemajuan teknologi serta perubahan sosial yang sedang dan akan terjadi. Arief merangkum wawancara dengan sejumlah anak muda yang telah sukses membangun bisnis. Terlebih, mereka menjalankannya sesuai passion masing-masing.
Tesis utama yang diusung dalam buku ini adalah bagaiama perkembangan teknologi turut menggandeng sejumlah profesi baru yang menggiurkan. Blogger, animator, kreator konten, perencana keaungan, hingga menjadi seorang komika merupakan beberapa profesi baru yang banyak dijumpai di abad digital.
Argumentasi dalam buku ini sangat kuat dan bertabur banyak bukti. Wajar saja sebab buku ini diolah dari hasil riset. Saya juga membaca metode penelitiannya. Arief membangun tim peneliti, lalu mewawancarai ratusan narasumber, para kreator yang berhasil dalam karier. Semula ada 150 anak muda, kemudian mereka memilih sejumlah nama untuk dijadikan sampel yang refresentatif. Melalui proses yang panjang, buku ini lalu lahir dengan bahasa yang renyah sehingga memudahkan siapapun yang membacanya.
Hal lain yang saya temukan adalah bagaimana memaksimalkan sebuah hobi sebagai jalan setapak menuju dunia impian. Ada kiat-kiat enterpreneur skills yang dapat dipelajari dan diaplikasikan dalam membangun karier sebagai seorang kreator. Yang perlu diketahui adalah, membangun sebuah usaha, tak cukup hanya dengan mengandalkan keterampilan teknis yang bisa diperoleh saat bekerja di perusahaan profesional, tetapi juga membutuhkan keterampilan bisnis. Tak percaya?
Arief memberikan contoh. Dua perusahaan digital dunia sekelas Facebook dan Google pernah terjebak pada produk mereka sendiri. Kreator Facebook Mark Zuckerberg, awalnya hanya membuat aplikasi ini sebagai hiburan. Ketika tumbuh dengan jumlah pengguna yang banyak, Facebook tetap saja belum menghasilkan pendapatan yang memuaskan.
Sebagai seorangprogrammer dari universitas sekelas Hardvard, Mark berpikir akan tetap mendapatkan penghasilan jika Facebook menjadi media sosial yang keren. Namun, ini tidak cukup untuk mempertahankan pertumbuhannya, bahkan sempat melambat.
Barulah ketika Sheryl Sandberg, mantan wakil presiden pemasaran Google, bergabung dalam tim, orientasi Facebook pun berubah. Sejumlah strategi disusun untuk fokus pada pendapatan iklan, dari sinilah salah satu media sosial terlaris ini mendapat banyak keuntungan. Sharyl sanggup menangkap visi dan misi teknologi yang diusung Mark dan mengubahnya menjadi laha gembur yang sedemikian menguntungkan.
Google pun sama. Situs yang mulai beroperasi pada 1998 ini didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin, dua orang mahasiswa program ilmu komputer di Stanford. Sebagai ilmuan komputer, mereka adalah jagoan pembuat algoritma dan koding-kodingan, tetapi tidak memiliki pengetahuan bisnis yang cukup agar ide mereka bisa dipasarkan. Eric Schmidt adalah orang yang kemudian melengkapinya dengan pengetahuan bisnis yang mempuni. CEO Novell ini sangat berpengalaman dan mampu membawa Google dengan IPO senilai 1,67 US Dolar.
Keterampilan inilah yang dirangkum oleh buku ini dalam beberapa bagian. Pertama, merintis jalan dan tapaki. Di bagian awal terdapat empat bab yang berisi fondasi, pemahaman konsep dari profesi seorang kreator. Terutama bagi mereka yang ingin merencanakan karier, bahwa ada profesi-profesi baru yang menjanjikan dan relevan dengan passion yang kita miliki.
Kedua, tunjukan karyamu. Bagian ini berisi enam bab yang berfokus pada pembahasan bagaimana cara sebuah produk bisa diterima oleh pasar. Ketiga, dari kreator menjadi perusahaan. Bagian terakhir ini berisi empat bab yang menguraikan tahapan transformasi yang harus dijalani, dari yang awalnya kreator, hingga menjadi seorang pebisnis dalam sebuah unit usaha. Ada tahapan-tahapan kecil yang harus dilewati serta strategi khusus di setiap tahapan agar perusahaan tetap bertahan dan terus tumbuh.
***
Pada akhirnya, di tangan mereka yang pas, hobi itu ibarat ayam bertelur emas. Mereka yang tak akrab dengan keputusasaan, akan terus mengasah skill hingga kelak menjadi pepohonan rindang berbuah kesuksesan. Selama ketekukan dan kemauan untuk terus belajar masih ada, selama itu pula pintu peluang tetap lebar menganga.
Masih banyak yang beranggapan bahwa sejumlah profesi baru yang lahir karena kemajuan teknologi belum bisa menjadi sandaran hidup. Masih banyak orang tua yang mengkhawatirkan anak-anaknya tidak bisa sejahtera tanpa berstatus sebagai pegawai negeri, karyawan kantoran atau berbagai pekerjaan bergengsi peninggalan masa lalu.
Akan tetapi, seiring waktu berjalan, keadaan mulai berbalik. Siapa sangka, anak muda yang dulunya hanya menjual stiker untuk para penyelam, kini bisnisnya mengakar kuat dibidang penjualan t-shirt hingga luar negeri. Ada pula seseorang ilustrator muda yang karyanya turut tercatat dalam buku cerita dongeng karya oenulis dari Amerika Serikat.
Sesaat membaca buku ini mengingatkan saya pada kisah pendiri youtube. Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim memiliki hobi mendokumentasikan sesuatu. Mereka kerap kesal karena selalu kesulitan meng-upload video di internet. Tak disangka, kekesalan itu berbuntut pada revolusi besar di dunia visual.
Yah, dunia memang bergerak dengan cepat. Seiring dengan kemajuan teknologi, generasi baru pun bermunculan. Dalam usia muda, mereka punya kecerdasan, kreatifitas, serta solidaritas yang sangat kuat. Mereka dengan cepat bisa membangun kolaborasi dan jejaring, kemudian bersama-sama mendorong terjadinya perubahan.
Jika dulu, jabatan layaknya anak tangga yang harus ditapaki secara bertahap, sekarang bak tebing yang luas, curam, dan penuh rintangan. Tidak ada rute khusus, kita bisa melompat dari satu pijakan ke pijakan lain dengan bebas. Yang terpenting adalah jangan berhenti mencoba.
Inilah zaman ketika generasi baru bebas menentukan karir dan membuat dunia bekerja untuk mereka. Mereka lahir sebagai antitesa dari generasi sebelumnya. Mereka membentuk gaya baru, passion baru, serta cara kerja baru. Generasi baru ini bergerak lincah, dan bermanuver cepat, memahami aturan main, serta akrab dengan teknologi. Mereka disebut Net Generations, selalu terkoneksi dengan internet.
Generasi ini mampu melakukan banyak hal secara bersamaan. Mereka pandai memanfaatkan peluang, lalu menciptakan solusi sendiri terhadap suatu persoalan. Generasi-generasi baru ini juga membenci sistem birokrasi dan struktur yang bertele-tele, mereka selalu berusaha mendobrak tatanan tanpa harus melanggar aturan yang ada.
Ah, mungkin generasi seperti inilah yang dimaksudkan Soekarno dulu. Generasi yang akan membuat bangsa kita berlari cepat.
Creator Inc berisikan panduan-panduan berwirausaha di peradaban Uber. Dikemas dengan narasi yang to the point, menarik, dan berisi. Isinya menyegarkan dan memberi pemahaman awal bagi para pekarya. Intisari pengalaman Arif Rahman sebagai creativepreneur ini saya rekomendasikan bagi pembaca yang berminat memulai usaha.
Beberapa poin penting yang saya rasa penting. 1. Bermitra dengan rekan strategis. Artinya mulailah berusaha mencari partner yang memiliki skill, pengalaman yang mendukung kita. Akan lebih baik bila mitra kita adalah orang yang sudah menguasai seluk beluk usaha yang ingin dijalani dan tentunya pengalaman yang panjang di sektor usaha tersebut.
2. Mulailah. 3. Fokus dengan pengembangan di bidang operasional. Jika usahamu masih dalam tahap rintisan, mulailah dengan fokus pada kegiatan operasional. Ibaratnya menguatkan kerangka dan tulang punggung perusahaan. Sebelum bersiap lepas landas setelah memiliki modal untuk memasarkan diri lebih lanjut.
Hal terakhir yang menjadi kesan positif membaca buku ini adalah Arif Rahman memiliki riwayat pembacaan yang baik. Bacaannya memperkaya isi Creator Inc sehingga relevan dengan kebutuhan generasi milenial.
Creator .Inc bagi saya merupakan buku panduan teknis yang mudah untuk diterapkan, atau malah justru sebaiknya segera diterapkan begitu selesai membaca.
Creator Inc membagi buku menjadi 3 bagian utama, yakni bagian Persiapan Individu, bagian Persiapan Usaha, dan bagian Persiapan Ekspansi.
Bagi saya yang masih pada tahap Persiapan Individu, penjelasan buku ini sangat mudah untuk diterima. Contoh kasus pada buku ini banyak menggunakan contoh kasus nyata yang sebagian besar adalah contoh kasus lokal, dan sebagian besar bisnis masih ada dan bahkan semakin populer saat ini. Selain itu, penulis sendiri, merupakan salah satu praktisi, atau bisa disebut profesional, yang memiliki banyak pengalaman dalam berbisnis, sehingga opini-opini penulis sangat mudah untuk diterima.
Komposisi tiap bagian buku ini menjadi sebagai (kurang lebih) sebagai berikut: 1. Persiapan Individu 30% 2. Persiapan Usaha 50% 3. Persiapan Ekspansi 20%
Mungkin kita bisa mendapatkan shortcut ilmu / hal-hal yang harus dilakukan mulai dari membuat usaha sendiri hingga ekspansi usaha yang telah kita buat. Namun, pada buku ini menceritakan kisah-kisah bagaimana tokoh-tokoh lain membuat usaha mereka dari 0 hingga saat ini usaha mereka berekpansi menjadi lebih besar maupun lebih luas. Hal ini yang jarang sekali ada di sumber bacaan lain, sekalinya ada pun, sumber bacaan itu hanya akan fokus pada suatu usaha saja.
Dengan membaca buku ini, saya tersadar betapa sebetulnya membuat usaha sendiri itu hal yang mudah, akan tetapi akan lebih mudah jika kita memiliki pengalaman dalam membuat usaha dan relasi untuk bermitra.
Selain itu penulis juga memotivasi bagi para Millenial untuk memulai usaha dengan cara ikut usaha orang lain. Hal ini memberikan Millenial akses berupa ilmu secara gratis, serta relasi yang dimiliki oleh pemilik usaha tersebut. Dan para millenial dituntut untuk tidak terlalu pilih-pilih dalam memilih tempat bekerja, karena fokus mereka jadinya malah sibuk mencari tempat bekerja, bukan mencari ilmu.
Buku yang sangat luar biasa dalam menjadi pedoman untuk beraktivitas di dunia kerja. Terima kasih kepada tim penulis buku!
Bukunya inspiratif dari hasil wawancara para kreator muda sukses tanah air. Ada 3 step besar yang dirincikan untuk menjadi kreator yang handal dibidangnya dari awal hingga menjadi pebisnis yang mendirikan perusahaan, dilengkapi tips dan share pengalaman para kreator yang sudah sukses.