Sebuah benda bermassa 4000 kilogram akan diletakkan di atas gunung yang kemiringan tebingnya mencapai 59° dengan cara dilempar oleh tangan kananmu yang malam tadi baru saja menyeduhkan teh-melati selama-5-menit untukku. Ini bukan perkara seberapa cepat lesatan lemparanmu sebab kamu pernah bilang, "Jarak dan waktu itu tempat tinggalnya bukan di peta, tapi di kepala dan di sini!" (Kau menepuk dada kirimu berkali-kali. Dokter bilang itu tempat tinggal jantung, tentu saja aku bilang itu hati).
Perkaranya seberapa kuat aku akan menanggung beban rindu yang mengganggu, sedangkan di saat yang sama dengan air muka senewen ibuku bilang kalau pesanan kelapa dari luar kota sudah menumpuk (What! Ibu, tidakkah bisa kau bayangkan, seorang pencinta yang galau tengah memetik kelapa dengan air mata yang leleh dan masa lalu yang mencabik-cabik di punggung?). Bunuh saja anakmu ini, Bu! Bunuh!
sayembara novel dkj memang selalu menawarkan dua hal (yang saya coba amati dari banyak pemenang dkj dari tahun ke tahun), kalau tidak tema yang seksi dan teknik yang aduhai. teknik ini bisa ada dua, narasi yang kuat (kalau saya boleh contoh adalah kambing dan hujan) atau teknik-teknik penulisan yang baru atau menabrak pakem (coba kita tengok surat panjang tentang jarak kita... atau puya ke puya). dan salah satunya adalah novel ini, yang saya rasa punya teknik cukup tak lazim dari kelima lulusan dkj 2016. saya akui sebenarnya premisnya sangatlah jamak, persoalan dua anak manusia yang saling jatuh cinta kemudian ditemui banyak persoalan termasuk orang ketiga dan pada suatu titik harus berpisah. kemudian bertemu kembali, simple
tapi kekuatan utama dalam novel ini adalah permainan teknik (yang sepertinya baru di novel ini) bahwa narasi panjang novel bisa disusun dari narasi-narasi pendek berupa flashfiction atau cerpen. kekuatan lain dari novel ini adalah kekayaan metafora benny arnas dan juga (tentu khas benny arnas) adalah bunga-bunga bahasa yang sesekali di beberapa part terlalu berlebihan. tapi bunga bahasa benny arnas memang tidak bisa dienyahkan dari prosa karangannya. dan itu memang mendominasi di buku ini.
saya juga senang kritikan benny arnas soal novel(is) yang merasa dirinya adalah novel dengan telah menjadi juri dalam sayembara penulisan. keekeee, entah benar atau tidak, mungkin satrawan di kepala saya adalah yang dimaksud benny arnas.
Meski beberapa potongan saya baca sekilas, saya cukup menikmati metafora, gaya bahasa, sekaligus keliaran teknik benny arnas dalam novel ini. dan satu hal yang belum saya lakukan adalah membuktikan apa yang tertera dalam sub-judul. apa benar ada Seratus Enam Urusan, Sembilan Puluh Perumpamaan, Sebelas Tokoh, Sepasang Kegembiraan , karena saya tidak menghitung benar. kalau sebelas tokoh ini sedikit samar, karena benny arnas tak menyebut secara jelas kecuali aku dan kamu. fulan, fulanah, fulani, fulano.
jadi sudah tahu kan bagaimana mencuri perhatian dewan juri dkj?
satu lagi, dari kelima sampul lulusan dkj tahun 2016, sampul benny arnas menurutku paling classy. selain punya ziggy. mungkin juga karena diolah dari ulustrasi karangan perupa paling saya sukai, ibunu thalhah
Saya bingung menyebut buku ini dibilang puisi juga bukan tapi dikatakan cerita pendek juga bukan karena ada juga yang satu judul terdiri dari setengah halaman.
ini yang jadi favorit saya :
Berpisah
Kita rupanya harus mempercayai kalau keakraban yang instan takkan langgeng dan oleh karena itu kita pun sepakat untuk berpisah entah untuk beberapa lama. Kita berharap Tuhan akan mempertemukan kita dalam keadaan yang lebih baik dan kedekatan yang tak buru-buru. Akan lebih baik kalau Tuhan mempertemukan kita dalam keadaan sama-sama kosong. Aku pikir kau juga akan mengaminkan doaku. Seperti Ramadan yang kita tunggu-tunggu dan ketika tiba kita tak sabar ingin mengakhirinya dan ketika hari raya tiba kita menganggap kalau semuanya kembali seperti semula padahal masa lalu telah menumpuk peristiwa tanpa kira-kira, Tapi tetap, kita berharap Tuhan mengabulkan doa kita dan satu-satunya jalan agar perpisahan kita melegakan adalah kita harus percaya kalau keajaiban itu ada dan akan menimpa kita - Halaman 69
Finally masuk juga Buku ke-100 yang dibaca di Scoop!
Saya menyesal harus memberi sedikit bintang. Alurnya begitu susah dicerna, bagi pembaca awam seperti saya. Barangkali butuh waktu lama untuk bisa memahami jalan cerita di dalamya. Padahal, secara sekilas, buku ini seharusnya bisa dibaca sekali duduk..
Entahlah, apa yang melandasi bacaan ini bisa meraih penghargaan seperti trtera di sampulnya. Apakah yang namanya sastra itu memang bikin mumet kepala ya?
seperti judulnya, buku ini berisi tentang curriculum vitae kehidupan. lengkap, abstrak, campur aduk dan bikin ber-hhh berkali-kali. pas baca ini tuh kayak langsung inget kakek, inget masa SD, ingat tagihan utang yang belum terbayar dan ingat situasi politik saat ini. campur aduk banget sih.
kesukaan saya, hm, susah kalau minta disebutin. hampir suka semua. dan semuanya juga berhasil bikin mesem2 sendiri gitu.
yang Arah bagus. mindblown banget
arah.
sejak itu aku mencari-carimu dan selalu memulai perjalanan dari utara tiap pagi sebab aku harap kau akan memulai perjalanan dari selatan sehingga akan sangat mungkin kita akan berpapasan di jalan. satu hari aku merasa sungguh bodoh sebab aku mengakhiri perjalanan di barat sebelum kemudian aku terdiam untuk mengutuk kedunguanku bahwa yang dimulai dari barat tak mesti berakhir di timur, sebagaimana kau yang mungkin saja berbelok ke kanan untuk tiba di tenggara.
pas baca ini, yang ada di bayangan saya adalah matahari dan kentut. iya, kentut xD
Menjadi karya pertama Benny Arnas yang ditelan mata dan dikunyah pikiran saya. Seperti membaca menu autobiografi, atau bahkan buku diary, yang disajikan si atas tatakan emas berlapis berlian majas dan keindahan diksi sastra tingkat lanjutan (saya tak berani memakai istilah 'tingkat tinggi', novel ini bukan kitab suci). Tak bisa dibaca sambil lalu, jika Anda mau mengambil resiko mengulang plot berikutnya dengan kualitas kenikmatan yang turun beberapa persen dengan dalih usaha mencari benang merah yang sempat terputus. Sentuhan budaya asal dalam plot cerita menjadi kekhasan penulis, lepas di beberapa bab yang harus dilihat secara jeli sangkut pautnya. Seperti ada yang lompat-lompat kemudian menghilang. Padahal tidak. Tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa dinikmati. Ayam dan bebek akan setia mendampingi.
Maha karya unik dan tidak biasa ini belum pernah aku temui. Mulai dari sisi cerita, gaya penulisan, dan juga konsep novel, semua di-ramu dengan begitu apik. Ya, wajar saja jika novel ini berhasil menoreh prestasi. Dengan aroma ke-khas-an inilah aku merekomendasikan Novel Curriculum Vitae. Terutama bagi kamu yang lagi penat dengan novel mainstream. Curriculum Vitae jawabannya!
hmmm I don't understand why this book classified as a novel because I'd rather say this as a compilation of social commentaries told in metaphorical and satirical way a.k.a. short stories or essays or poems smh I'm not really sure.
there's alot "what was that!?" moment in this book it felt like this can only be entirely understood by the writer himself. but I kinda enjoy the prose and the illustrations and some of its chapters, so two stars is kind enough I suppose.
Saya sudah baca Semua Ikan di Langit. Dan membandingkannya dengan Curriculum Vitae ini. Menurut saya kedua buku itu sama-sama gila! Jadi kalau juri "menyatakan" kalau "Ikan" jauh melampaui para pemenang unggulan sayembara novel DKJ lainnya, tentu saya tak sepakat sebab CV salah satu pemenang unggulannya.
Novel ini berbeda sekali dengan buku-buku Benny yang lain. Saya tidak mengendus sense of local(ity) yang selama ini jadi "andalannya" Benny.
Ini novel tanpa (kejelasan) tokoh, karakter, latar, plot. Hebatnya, novel ini menyajikan konflik yang samar dan makin ke ujung makin benderang.
Satu lagi, CV menjadi novel superkeren karena ia bisa dibaca dari halaman/(sub)bab mana pun dan .... karena sebagian besar babnya hanya terdiri dari--kurang dari--satu halaman, CV pun bisa dibaca sekali duduk. Saya bacanya kurang dari dua jam, beres!
Curriculum Vitae Benny Arnas Gramedia, 213 halaman.
"Ada yang lebih sakit dari kehilangan, rupanya. Kerinduan yang gemar mempermainkan dan alam bawah sadar yang tahu kapan memetik momentum untuk menunjukkan kemenangannya sekaligus kekalahan yang takkkan pernah kuakui." - Hujan, halaman 186 * Ini buku yang awalnya saya lirik sewaktu edisi Gramedi* diskon 44 persen. Hari itu juga saya lagi kontraksi karena sudah due date mau melahirkan tapi saya bela-belain ke Gramedi* Matraman demi kumpulan buku-buku amunisi pasca melahirkan. Dan pada intinya, saya gak kenal siapa Benny Arnas. Tapi di pojok kanan bawah sampulnya ada logo Pemenang Unggulan DKJ 2016 yang membuat buku ini sudah pasti gak diragukan lagi: pasti ini novel ciamik. * Coba baca satu dua halaman dan…..gak ngerti! Hahahaha. Asli, saya pusing sendiri setiap baca lembar per lembar. Tapi, saya pantang menyerah. Demi kelulusan target Goodreads Challenge saya yang baru seumur jagung, saya terus menerus secara berkelanjutan membaca buku ini. Alhasil, ada juga titik terang saat saya sampai di halaman 12. Barulah saya tau kalau beberapa tokoh adalah sama, walaupun nama tokohnya hanya “Aku”, “Kau”, “Fulan”, “Fulani”, “Fulanah”, “Fulano”, yang memang bikin gemes karena saya jadi harus fokus ini cerita sebenernya mau ceritain kisah si “Aku” yang mana ya? Karena si “Aku” di halaman 1 belum tentu sama dengan si “Aku” di halaman 15. Jadi, sebagai pembaca yang baik, saya harus mengingat-ingat kisah tokoh-tokoh tersebut dan apa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Dari sampulnya yang berwarna pucat, tertulis bahwa ada “sebelas tokoh”, tapi maaf saya belum sempet hitung kebenarannya haha, I’m too lazy for any counting thingy. * Alurnya tentu saja loncat sana-sini. Maju mundur. Bebas. Jadi, itulah kenapa buku ini gak bisa ditunda untuk dibaca karena nantinya pasti pembaca lupa sudah sampai kisah tokoh yang mana. Unik kan? Atau..ribet? * Yang membuat saya cinta banget sama buku ini adalah pilihan diksi dan luasnya cara bercerita Benny Arnas. Beliau bisa menuliskan masalah perbedaan pendapat dengan kata-kata puitis, detail, dan luas sekali. Jangan ditanya apa tulisannya cukup bagus untuk dikutip atau enggak, nyaris di setiap cerita, ada kalimat-kalimat yang secara otomatis bikin kepala pembaca mengangguk sendirinya. ***
Ini bukan buku tutorial bikin CV kerja ya. Ini adalah sebuah novel (mungkin). Impresi saya terhadap karya Benny Arnas yang pertama kali saya baca yaitu "Sejumlah Alasan Mengapa Tiap Anak Sebaiknya Melahirkan Seorang Ibu", membawa saya untuk menjajal buku ini. Ternyata ia agak berbeda dengan buku sebelumnya. Agak lebih sulit bagi saya (pada awalnya) untuk menyenangi buku ini. Mungkin memang kemampuan sastra saya yang masih jauh dari mapan untuk memahaminya. Tapi begitu saya memasuki lembar2 akhir dan sampai di halaman penghujung, saya bisa lebih memaknai dan menghargai karya yang baik ini.
Setiap tulisan terkadang hanya seperti lintasan-lintasan pikiran, yang tidak menceritakan apa-apa, tanpa ada subyek yang jelas dan ditujukan kepada siapa, tapi secara misterius saya sepakati. Seperti tulisan “Berpisah” dalam bagian Identitas yg bagi saya usil sekali, atau tulisan “Doa” di bagian Lingkungan, yang saya rasa sangat jujur dan menampar iman. Juga tulisan “Tuhan”, yang singkat, padat tapi kurang ajar.
Beberapa tulisan terasa sangat puitis dengan bahasa yang arkais. Tapi beberapa sangat apa adanya dan sekenanya, tapi malah yang paling mengena. Begitulah mungkin gambaran kehidupan kita dengan topeng-topengnya. Curriculum Vitae ini seperti menelenjangi diri kita sendiri dari berbagai aspek, seperti CV yang menunjukkan diri kita dengan berbagai caranya agar nampak selalu baik-baik saja.
Saya tidak jamin buku ini dapat menyenangkan pada awalnya, mungkin malah membingungkan dan membawa perenungan panjang. Tapi pendalaman itu yang menarik untuk kita temukan hal-hal yang terkandung di sana.
membaca “curriculum vitae” seperti meraba-raba; tanpa kejelasan tokoh, karakter, latar, apalagi plot (saya cukup kesulitan dengan tokoh-tokoh siapa saja yang ada di dalam novel; siapa sih “kamu” dan “fulan” sebenarnya?). tetapi satu hal yang saya rasakan setiap kali duduk dan membaca “curriculum vitae”; saya ingin berlama-lama di tiap halaman. alasannya;
1. tiap halaman dipenuhi beberapa kalimat yang manis, 2. membuat saya mengingat kembali utang yang belum dibayar 😅 dan ibadah yang saya kerjakan (masih) segitu-gitu saja namun mengharapkan imbalan lebih dariNya. 3. serta beberapa sakit hati dan perasaan-perasaan manis yang pernah saya rasakan (terhadap seseorang yang memilih pergi dan tak kembali *eh). 4. sepanjang beberapa buku pemenang sayembara novel DKJ yang pernah saya baca, bahwa para pemenang selalu memberikan tema yang seksi dan unik. seperti dalam “surat panjang tentang jarak kita yang jutaan tahun cahaya” atau “semua ikan di langit”. 5. “curriculum vitae” dan “semua ikan di langit” adalah dua buku yang menurut saya gila. sementara “surat panjang tentang jarak kita yang jutaan tahun cahaya” merupakan cerita yang disajikan secara sederhana tapi manis.
Akhirnya setelah sekian lama selesai juga membaca buku ini. Novel ini hadir dengan mengandung tiap bab di tiap halaman. Jadi, satu bab itu panjangnya hanya 1-2 halaman. Kebayang dong awalnya baca aku pikir ini kumcer, atau prosa-prosa gitu. Sempat terhenti karena bingung ini benang merahnya gimana. Karena buku ini terbagi 4 babak. Identitas, Lingkungan, Ujian, dan Surga. Memasuki halaman sekian di babak Identitas barulah aku menyadari bahwa buku ini sangat singkron dengan judulnya. Iya, kita diajak untuk mengikuti Riwayat Hidup seseorang dari mulai dia berada di Surga hingga kembali ke Surga. Lingkungan dan Ujian adalah fase dimana diri kita dibentuk. Lingkungan punya pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan seseorang. Dialah kunci utama pembentukan individu.
Buku yang menarik, ide yang menggelitik. Dan percayalah, kau akan sering tersedak ketika membaca ini. Karena apa yang Benny tuliskan begitu dekat dengan kehidupan kita. Ya, secara tidak langsung aku seperti membaca riwayat hidupku sendiri. Padahal bukan
Pada awalnya, ini terlihat membingungkan. Bahkan, tidak jarang malah ngantuk dan pusing sendiri. Namun, semakin dibaca, rupanya buku ini semakin menunjukkan permainannya sendiri.
Curriculum Vitae menurutku adalah sebuah tajuk yang mind-blowing untuk karakter buku seperti ini tanpa harus kehilangan benang merahnya. Konsepnya monolog, menceritakan tentang "diriku dan kisahku" yang mana jelas sejalan dengan definisi dan tujuan sebuah CV.
Sebuah buku yang seru jika dikupas lebih mendalam, mengingat ini adalah buku kategori sastra--dan memang harus dikupas. Mencari hubungan antara satu adegan dengan adegan lain yang serupa, hingga akhirnya didapatkan beberapa cerita yang memiliki karakter dan energinya sendiri-sendiri.
Terus terang tidak mudah bagi saya untuk memahami Curriculum Vitae sebab novel yang meraih pemenang unggulan Sayembara Novel DKJ 2016 ini memang tidak lazim atau tidak biasa … banget.
Curriculum Vitae, dalam pandangan saya, merupakan novel yang mengangkat kisah sederhana: kisah cinta dua insan dari awal bertemu, dekat, ada pertengkaran, berpisah, balik lagi, dan bersatu. Pasang-surut asmara. Namun jangan salah, cerita cintanya ini tentang dua orang yang sama-sama berselingkuh, hahaha. Laki-laki beristri bersama perempuan yang telah memiliki kekasih sampai keduanya menikah.
Buku Benny Arnas pertama yang saya baca dan buku pemenang sayembera yang pertama saya baca. Ungkapan-ungkapan yang nyaris seperti puisi. Novel yang berbeda dari novel lain yang selama ini saya baca denga alur jelas. Alur dalam novel ini bias karena gaya bahasa yang digunakan namun itulah yang membuatnya menarik. Saya jadi tertarik untuk membaca karya Benny yang lain dan juga karya pemenang sayembara lainnya.
Saya paling suka kata-kata ini: Sebab perjalanan bukan hanya tentang bertemu tempat dan menyapa orang asing. Ia adalah tentang membiarkan diri tersesat, lalu menikmatinya, lalu melebur dalam ketakmengertian paling mesra
Sebenarnya mau kasih bintang 3 tapi melihat bahawa buku ini adalah novel, saya mengurungkan niat. Sejak awal, saya kira ini adalah kumpulan kutipan satir yang diperuntukkan untuk pembaca, tapi ternyata ini adalah novel.
Namun, ke mana alur ceritanya? Yang saya temukan hanya ada tiga tokoh, si Aku, si Kamu, dan si Fulan. Sesekali otak saya mencerna, si Aku dan Kamu ini speertinya menjalin hubunyan, atau si Aku suka sama si Kamu, tetapi di beberapa halamana, si Aku diceritaakn telah memiliki keluarga.
Soooo????
Ini buku tentang apa? Sebuah buku satir? Kalau pun novel, sepertinya ini nggak patut saya sebyt novel karena saya bingung menemukan titik inti ceritanya.
Novel ini diceritakan dengan gaya yang terbilang unik: yaitu dengan bab-bab yang punya masing-masing judul dan satu cerita dengan cerita yang lainnya tampak seperti cerita yang terpisah ditambah dengan panjang satu bab demikian pendek seperti fiksi mini.
Mungkin cara bertutur itulah yang membuat naskah novel menarik minat dewan juri DKJ 2016.
Namun sayang, konten atau isi dalam cerita tidak se-filsafat yang aku kira—karena beberapa pembaca mengkategorikan ini novel filsafat—dan tak ada plot yang membuatku menarik minat untuk membacanya sampai bab terakhir. Sekadar berakhir di pertengahan halaman.
Seperti membaca tulisan diary sendiri..yang terkadang saya sendiri bingung ini dulu maksud saya nulis ini apa ya??.. 😃😃
Awalnya gak ngerti, siapa tokoh2 yang ada dalam cerita ini,..tapi belakangan jadi menyimpulkan sendiri, dan saya pikir kesimpulan saya bisa berbeda dari pembaca lainnya, jadi begitulah..jalan cerita tak harus runut dan realistis.
Seperti saat saya membaca diary saya, kemudian berpikir, yang lalu ini saya tulis karena khayalan yang muncul karena emosi tertentu, atau emosi yang diluapkan saat kejadian tertentu..jadi ya..begitulah..
Membingungkan. Seperti baca draft naskah untuk novel. Juga seperti baca flash fiction. Tidak. Seperti slice of life. Terputus-putus. Tapi ini novel unggulan DKJ 2016. Heuheu. Oke, ini novel yang alur ceritanya harus disusun ulang di kepala sepanjang baca. Harus teliti mengenali tokoh Aku, Kau, Fulan, Fulano, Fulane, Fulanah, dsb. Kalau dari susunan kalimat, logika, metafor, dan penyajiannya, oke banget. Jago. Puitis. Kadang bijak, kadang sinis. Baca yang judulnya “novelis”, misalnya. Aku lebih menikmati ini bukan sebagai novel. Tapi, flash fiction bersambung saja lah.
Entah temasuk buku apa ini, yang pasti tertera pada buku ini kategori novel/sastra. Kalau memang demikian ini adalah novel yang keren karena cocok dengan tipe saya yang tak suka membaca satu buku novel tebal. Curriculum Vitae berisi potongan-potongan kisah bahkan ada yang tertulis tak lebih dari setengah halaman. Namun tetap asik dan indah untuk dibaca, dan semakin semangat selesaikan membacanya.
Mulanya gak mudeng baca ini, tapi pas masuk bab Lingkungan dan ending, gue maki2: anj*** ini tentang bebek dan ayam?!’ Hahhahaa. Asik sekali. Nampar2 manusia yang sibuk ngurusin CV-nya yang ternyata gak lebih baik daripada CV sepasang bebek dan ayam Huahhahaa. Makasih, Benn!
Setelah baca Ethile! Ethile! gue nametin buku ini, Kepunan, Tanjung Luka dan sekarang sedang baca Eric Stockholm. Semua bintang 5. Entah Eric ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Dua hal yg saya cari saat membaca buku: 1. Hiburan, 2. Informasi. Entah buku fiksi atau non fiksi, entah temanya tentang perang atau kisah cinta. Dua hal itu harus ada.
Buku ini, tidak menawarkan dua2nya 😁 tapi sesuatu yg lain.
Buku ini jelas bukan hiburan. Bacanya bikin saya pusing dan lelah. Jauh dari kata entertaining. Kalimat2nya panjang lebar beranak pinak, berbunga2, menyamarkan pesan. Tiap kalimat mesti dibaca berkali2 sambil kita meraba2 untuk mencari2 entah apa di baliknya.
Buku ini sebenarnya isinya kisah cinta antara laki2 dan perempuan. Kisahnya sendiri sedih banget (kayaknya), dan diceritakan dgn cara yg aneh sekali. Entah berapa ratus halaman penuh deskripsi, opini, observasi hal2 dan tema2 sehari2 yg nada keseluruhannya depresif. Lewat penceritaan yg seperti itu, samar2 di latar belakangnya sedikit demi sedikit terungkap cerita. Intinya, cerita terungkap tanpa diungkapkan (secara langsung).
Sepanjang buku, yg saya rasakan, seperti kalau kita mau bilang sesuatu yg sudah di ujung lidah, tapi gak bisa menemukan kata2 buat mengungkapkannya. Gemes banget. Seperti kalau kepala kita gatel banget tapi lagi pake helm, jadi gak bisa digaruk.
Jika memang emosi seperti itu yg ingin ditimbulkan oleh penulisnya, maka ini benar2 eksperimen yg berhasil. Tapi, ke manakah buku ini mesti beredar untuk menemukan pembacanya?
Bukunya Benny Arnas yang pertama kubaca. Nggak terlalu paham sama isinya, siapa tokohnya, apa konfliknya, tapi menurutku ini bagus. Mungkin seperti ketika mendengar lagu asing yang kita nggak ngerti liriknya tapi tetep enak didengar telinga.
Buat pembaca yang suka diksi nyastra dan suka menerka apa makna dibaliknya, buku ini sangat layak untuk dibaca. Hanya saja, bila lebih menyukai tatanan kata yang lugas dan cepat terbaca pesan dibaliknya, buku ini bukan untuk Anda.
Entah karena saya yang kurang memiliki pemahaman bacaan yang bagus. Sehingga bagi saya novel ini tidak begitu menarik. Tidak menimbulkan perasaan 'wah' saat membaca maupun setelah membacanya.
Berkeping-keping, yang mungkin perlu dipahami secara mendalam.