Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hotel Tua

Rate this book
Budi Darma kembali hadir untuk Anda. Sastrawan kondang yang produktif melahirkan cerpen-cerpen antara tahun 1970-2014 memiliki gaya penuturan tersendiri. Imajinatif, kreatif, piawai dan cekatan dalam menjalin cerita sehingga kita tidak ingin berhenti membaca. Bercerita berbagai hal, dari soal pistol, pengantin, pilot, persahabatan, dan sebagainya.

Cerpen-cerpen yang ditampilkan di sini ia tulis dalam rentang waktu panjang, dari tahun 1970 sampai 2014. Empat puluh empat tahun bukan waktu pendek. Dengan terus berkarya menulis baik novel, esai, maupun cerpen—sampai saat ini ia masih terus menghasilkan cerpen— Budi Darma jelas tergolong produktif. (Bre Redana, wartawan harian Kompas)

240 pages, Paperback

First published February 1, 2017

9 people are currently reading
61 people want to read

About the author

Budi Darma

44 books181 followers
Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Semasa kecil dan remaja ia berpindah-pindah ke berbagai kota di Jawa, mengikuti ayahnya yang bekerja di jawatan pos. Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.

Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggris—kini Universitas Negeri Surabaya—sampai kini. Di universitas ini ia pernah memangku jabatan Ketua Jurusan Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan Rektor. Sekarang ia adalah guru besar dalam sastra Inggris di sana. Ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.

Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Jauh kemudian hari sekian banyak cerita pendek ini terbit sebagai Kritikus Adinan (2002).

Budi Darma memperoleh gelar Master of Arts dari English Department, Indiana University, Amerika Serikat pada 1975. Dari universitas yang sama ia meraih Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novel” pada 1980. Di kota inilah ia menggarap dan merampungkan delapan cerita pendek dalam Orang-orang Bloomington (terbit 1980) dan novel Olenka (terbit 1983, sebelumnya memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 1980).

Ia juga tampil sebagai pengulas sastra. Kumpulan esainya adalah Solilokui (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Harmonium (1995). Setelah Olenka, ia menerbitkan novel-novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu. Cerpennya, "Laki-laki Pemanggul Goni," merupakan cerpen terbaik Kompas 2012.

Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut-tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (12%)
4 stars
33 (51%)
3 stars
19 (29%)
2 stars
4 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
March 8, 2017
Duh, saya selalu terpesona dengan sosok pribadi dan karya-karya Budi Darma. Pertama, di karya-karya Budi Darma kita dapat melihat karakter-karakter tokoh yang kadang nyeleneh dan sangat unik. Selain karakter, kejadian yang sangat tidak mungkin terjadi di ranah realis. Surealis tapi masih bisa diterima dengan nalar orang biasa. Kedua, adalah sosok Pak Budi Darma sendiri. Beliau sangat ramah, kemudian ngopeni anak-anak muda, dan kadang di sinilah kita tidak bisa membuat generalisasi bahwa karya sastrawan dan pengarangnya adalah berkaitan. Buktinya, pribadi Pak Budi Darma sangatlah jauh dari karakter-karakter dalam bukunya yang kadang tengil, jahil, jahat, dan pikiran2nya warbiasah.

reviews setiap cerpennya menyusuul
Profile Image for Arista Vee.
Author 6 books44 followers
June 3, 2017
Seperti biasanya tulisan semacam ini *sastra selalu membuat saya gemas dan menebak-nebak, sekiranya makna tersirat apa yang ada di baliknya. Dan bukunya ini HOTEL TUA. Orang-orang yang sekilas melihatnya, pasti mengira ini novel horror, tapi nyatanya sama sekali bukan, ini adalah kumpulan cerpen milik Budi Darma, di mana Hotel Tua adalah salah satu cerpennya yang termuat di dalamnya, berlatar di Surabaya. Buku ini nggak bikin saya kecewa, Pak Budi memang tidak pernah gagal untuk menyajikan cerpen-cerpen tersirat di dalamnya.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
297 reviews7 followers
March 28, 2023
Perasaan saya ketika selesai membaca KumCer karya Budi Darma yang ini adalah sama halnya dengan membaca karya-karya beliau yang lainnya, yaitu perpaduan antara kagum, kesal dan heran. Dimana disaat yang bersamaan merasa terkejut karena cerita yang diangkat seringkali tidak biasa, penokohan yang brilian tetapi dilain sisi saya merasa kesal karena terkadang beberapa kali tidak sanggup menalar jalan cerita yang disajikan. Tetapi kemewahan fiksi memang tidak selalu untuk dinalar, cukup dengan dinikmati.

Karya Budi Darma selalu khas dengan plot yang tidak meledak-ledak, tapi justru hal tersebut yang menjadikan karya-karya beliau mempunyai ciri khas dan karakter yang kuat. Pesan moral maupun hal-hal satir disampaikan dengan begitu "flawless" sehingga terkadang saya merasa beliau hanya sedang bercerita. Pembaca diberikan wewenang sepenuhnya untuk memaknai bacaan yang ada.
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
March 10, 2021
Niatnya sih mau baca buku ini untuk tantangan baca gri bulan februari lalu, tapi apa daya, tengah bulan kemarin itu dapet reading slump yang lumayan parah, jadi baru tamat sekarang bacanya.

Secara umum aku menangkap keunikan cara bertutur dan tema-tema yang diangkat sang pengarang, tetapi jatuhnya secara keseluruhan ini bukan bacaan minum tehku. Aku merasa berjarak, tidak nyaman dan separuh waktu cerpennya berakhir dengan aku berjengit tidak mendapat maksud penceritaannya.

Demikianlah. Tapi aku tetap masih tertarik untuk baca novel-novel dari bapak ini. Semoga lebih beruntung mood bacanya nanti.
Profile Image for Bukan Petrik.
31 reviews
January 15, 2025
'Hotel Tua' berisi 18 kumpulan cerita dengan berbagai tema kehidupan seperti, persahabatan, percintaan, politik, dan masih banyak lagi. Budi Darma piawai membuat nama karakter yang unik dengan latar belakang kisah yang unik pula, Bluke Kecil salah satunya. Disamping lelucon gelap tentang moral manusia, Budi Darma begitu pandai membuat sarkasme tentang politik. Banyak sekali kritik pemerintah yang tersisip pada kumpulan cerita ini. Pun terdapat distopia politik pada 'Tangan-tangan Buntung' yang ceritanya tidak kalah menggelitik.
Profile Image for Trian Lesmana.
77 reviews1 follower
May 8, 2018
Seperti yang dikatakan Bre Redana dalam kata pengantar di dalam buku, Budi Darma merupakan penulis yang terampil, ia mampu memunculkan dua produk atau lebih secara berbeda dari inspirasi yang sama. Artinya, ketika Budi Darma mendapatkan sebuah inspirasi, ide itu mampu diolahnya menjadi dua atau tiga karya. Maka tidak heran apabila banyak ditemui berbagai kesamaan di antara karya-karyanya. Misalnya Budi Darma menyebut burung, pedagang keliling, Burikan, Indiana, dan sebagainya.
Profile Image for Anton.
157 reviews8 followers
July 1, 2025
Cerita-cerita Budi Darma selalu jenaka. Rasanya, dialah penulis sastra yang paling bisa mengangkat tema sehari-hari menjadi terasa begitu lucu. Gaya berceritanya juga selalu penuh kejutan. Tak hanya membuat tertawa, tetapi juga nggumun: Lah, kok jadi begini akhirnya?

Delapan belas cerita pendek dalam Hotel Tua ini sudah pernah terbit di berbagai media sebelumnya. Dalam kurun waktu 1970-2014. Meskipun terentang begitu lama, semuanya tetap menyenangkan untuk dibaca.
Profile Image for rivanlee.
20 reviews
June 16, 2017
bagaimana cara merangkum buku ini? rasa-rasanya Budi Darma masih hebat dalam penyusunan cerita. ia menempatkan [menurut saya] cerpen-cerpen terbaiknya di awal bab. meskipun pada pertengahan bab saya sudah kehilangan tenaga untuk melanjutkannya. mungkin karena ekspektasi saya tentang karya budi darma tinggi setelah membaca Orang-Orang Bloomington.
Profile Image for Nike Andaru.
1,653 reviews112 followers
March 18, 2025
20 - 2025

Kumcer dari Budi Darma.
Beberapa judul menurutku menarik banget, ada yang rasanya kurang dapet dan bisa kunikmati, ada yang asyik banget sampe berasa kurang panjang.

Judul Angela ini pasti terinspirasi dari Pedro Paramo.
Hotel Tua sendiri ceritanya gak begitu menarik.
Judul favorit : Misbahul, Tangan-tangan Buntung
Profile Image for Ratih.
210 reviews17 followers
June 30, 2018
4.5 bintang

ajiibbbbbb!!!!!
Profile Image for Andria Septy.
249 reviews14 followers
July 14, 2020
panutan. seperti biasa, kumcer berkelas. kendati telah sepuh, namun beliau masih produktif menulis. salut dan salam hormat buat Eyang Budi Darma:)
Profile Image for Nabila Budayana.
Author 7 books80 followers
April 18, 2017
Saya yang gila, atau penulis yang gila?

Setidaknya saya selalu terpikir hal itu ketika membaca kisah-kisah yang ditulis Budi Darma. Pak Budi selalu punya kemampuan untuk bermain dengan psikologis tokoh sehingga membuat pembaca turut larut dengan karakter "ajaib" tokoh-tokoh yang ada. Rafilus, Olenka, begitu pun ketika saya membaca Hotel Tua.

Saya turut jadi pecundang di cerpen pertama, "Pistol". Keahlian Pak Budi dalam memainkan emosi dan kegilaan pembaca patut ditepuktangani. Di satu sisi membuat pembaca penasaran dengan jalan cerita, di sisi lain pembaca juga diajak untuk menjadi tokoh utama yang bertanya-tanya tentang tokoh perempuan di hadapannya. Siapa yang gila?

Di awal cerpen kedua, "Pengantin", Pak Budi terasa terlalu lama mengulur waktu. Beliau membicarakan pakaian, jam, tingkah laku orang lain, dan sebagainya. Singkatnya hal-hal yang ada di luar koridor utama cerita. Namun semakin ke belakang, detail-detail itu membesar, melebar, membuka jalan kegelapan rahasia yang ada sebelumnya. Setelah dipacu dan terbiasa dengan gaya sang pencerita, laju cerita tiba-tiba direm mendadak di beberapa paragraf terakhir. Kemudian pembaca dibuat ternganga, dikejutkan sedemikian rupa.

"Gauhati" mengandung banyak kebijaksanaan hidup. Cerpen ketiga ini mengingatkan kembali pembaca untuk legawa dengan alur kehidupan melalui tokoh Gauhati, Kuthari, dan penggesek biola. Kehidupan dunia seperti mampir ke sebuah rumah, kata sang tokoh. Lahir dan masuk melalui pintu depan, menghabiskan waktu di dalam rumah hingga habis, dan keluar melalui pintu belakang entah kapan.

Pembaca kemudian seakan disajikan sebuah dongeng melalui "Derabat". Menarik diikuti, seperti sedang duduk dan mendengar seorang kakek yang sedang bercerita. Namun, bukan berarti seperti dongeng kakek biasanya yang berakhir bahagia. Akhir kisah ini justru mengejutkan, dan membuat pendengar cerita keras berpikir. Pak Budi seakan menggerakkan sisi "gila" pembaca dalam kepala melalui karakter-karakter tokoh yang lebur. Pak Budi berhasil mengaburkan garis hitam-putih pada karakter diri tokoh.

"Mata yang Indah" membuat pembaca kembali diingatkan gaya khas Pak Budi. Setelah mengikuti alur, pembaca diminta menyusun cerita sendiri pada akhirnya. Caranya bisa dengan apa saja. Diam merenungi kisahnya, atau kembali ke awal cerita. Beberapa baris akhir dari cerpen Pak Budi memang mesti diwaspadai, meski begitu selalu tersirat pesan. Kali ini tentang seorang ibu, anak, masa lalu, dan malaikat.

Pembaca kemudian dibawa ke luncuran tajam melalui "Pilot Bejo". Pak Budi seakan membuka batas-batasnya, dan lepas menyindir (kondisi penerbangan negeri ini) melalui cerita sedemikian rupa. Meski begitu di sisi lain, gaya penyampaiannya bisa juga dianggap penuh humor dalam cerpen ini. Jika diperhatikan, karakter Bejo memang menarik. Terlalu percaya diri, seenaknya, cenderung tak tahu diri. Yang lebih buruk, apa lagi?

"Sahabat Saya John" lebih menyenangkan. Ia tak menghadirkan kejutan, namun tokoh utama berhasil menciptakan keterikatan tersendiri dengan pembaca. Mengikuti naifnya, turut merasakan perjalanan petualangannya, juga mereguk kelegaan dengan hasil perjuangannya yang tak sia-sia.

Karakter dari "Bluke Kecil" menarik. Namun ada hal yang lebih besar dihadirkan di kisah ini. Bukan hanya tentang hubungan orang tua dan anaknya, namun juga "kesewenang-wenangan" orang dewasa dalam menyikapi kepolosan seorang bocah kecil. Lebih dalam, mengajak menengok tentang karakter dasar manusia.

Secuplik latar belakang sejarah masa penjajahan dihadirkan Pak Budi melalui cerpen berikutnya, "Misbahul". Tentang betapa rakyat begitu tertindas dengan kesadisan tentara Jepang di tahun 1943. Namun Misbahul, sang tokoh menjadi sosok yang benderang karena sikapnya yang subversif. Namun seakan tak rela menampilkan kesimpulan yang tegas hitam-putih, Pak Budi membawa Munir, anak Misbahul sebagai ironi.

"Laki-laki Pemanggul Goni" masih membekas dan semenarik sebelumnya. Di kumpulan cerpen ini, kisah tersebut dihadirkan kembali. Cerpen ini rasanya tak mudah lekang. Ia masih semisterius dan sekontemplatif sebelumnya meski telah dibaca berulang kali.

Masih ada cerpen-cerpen lain seperti "Gimbol", "Tangan-tangan Buntung", " Dua Sahabat", "Percakapan", "Tanda tanya", "Angela", dan "Hotel Tua". Secara keseluruhan Budi Darma sebagai salah satu maestro sastra Indonesia masih memiliki karakter penulisan yang kuat, dan selalu menarik diikuti. Beliau bukan hanya mementingkan bagaimana sebuah kisah berjalan, namun juga memunculkan hal-hal yang perlu ditengok jauh ke dalam. Kembali ke substansi melalui tawaran berbagai sikap dan sifat manusia yang dihadirkan.
Profile Image for Puri Kencana Putri.
351 reviews43 followers
April 17, 2017
Budi Darma kembali mengisi deret rak buku mainstream, meski cerita cerita pendeknya luar biasa absurd dan surealis. Sama seperti rasa surealis ketika saya membaca kembali ke-19 kumpulan cerpen yang dirajut dalam buku berjudul Hotel Tua.

Ada beberapa judul kesukaan yang sempat saya baca beberapa kali. Alasannya sederhana, ceritanya kena dan sentimentil di hati. Judul-judul seperti Pengantin (cerita tentang pasien mental jiwa yang sedang berdialektika dengan kenyataan dan ilusi hidupnya), Bluke Kecil (pembelajaran tentang imajinasi dan kisah keluarga yang absurd tapi juga hangat), Tangan Tangan Buntung, dan Hotel Tua itu sendiri telah menunjukkan bahwa Budi Darma selain sastrawan yang memiliki kualitas kepenulisan produktif, ia juga bisa mengajak para pembacanya untuk bergerak memahami dunia imajinasi manusia yang luar biasa luasnya.
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.