Saya yang gila, atau penulis yang gila?
Setidaknya saya selalu terpikir hal itu ketika membaca kisah-kisah yang ditulis Budi Darma. Pak Budi selalu punya kemampuan untuk bermain dengan psikologis tokoh sehingga membuat pembaca turut larut dengan karakter "ajaib" tokoh-tokoh yang ada. Rafilus, Olenka, begitu pun ketika saya membaca Hotel Tua.
Saya turut jadi pecundang di cerpen pertama, "Pistol". Keahlian Pak Budi dalam memainkan emosi dan kegilaan pembaca patut ditepuktangani. Di satu sisi membuat pembaca penasaran dengan jalan cerita, di sisi lain pembaca juga diajak untuk menjadi tokoh utama yang bertanya-tanya tentang tokoh perempuan di hadapannya. Siapa yang gila?
Di awal cerpen kedua, "Pengantin", Pak Budi terasa terlalu lama mengulur waktu. Beliau membicarakan pakaian, jam, tingkah laku orang lain, dan sebagainya. Singkatnya hal-hal yang ada di luar koridor utama cerita. Namun semakin ke belakang, detail-detail itu membesar, melebar, membuka jalan kegelapan rahasia yang ada sebelumnya. Setelah dipacu dan terbiasa dengan gaya sang pencerita, laju cerita tiba-tiba direm mendadak di beberapa paragraf terakhir. Kemudian pembaca dibuat ternganga, dikejutkan sedemikian rupa.
"Gauhati" mengandung banyak kebijaksanaan hidup. Cerpen ketiga ini mengingatkan kembali pembaca untuk legawa dengan alur kehidupan melalui tokoh Gauhati, Kuthari, dan penggesek biola. Kehidupan dunia seperti mampir ke sebuah rumah, kata sang tokoh. Lahir dan masuk melalui pintu depan, menghabiskan waktu di dalam rumah hingga habis, dan keluar melalui pintu belakang entah kapan.
Pembaca kemudian seakan disajikan sebuah dongeng melalui "Derabat". Menarik diikuti, seperti sedang duduk dan mendengar seorang kakek yang sedang bercerita. Namun, bukan berarti seperti dongeng kakek biasanya yang berakhir bahagia. Akhir kisah ini justru mengejutkan, dan membuat pendengar cerita keras berpikir. Pak Budi seakan menggerakkan sisi "gila" pembaca dalam kepala melalui karakter-karakter tokoh yang lebur. Pak Budi berhasil mengaburkan garis hitam-putih pada karakter diri tokoh.
"Mata yang Indah" membuat pembaca kembali diingatkan gaya khas Pak Budi. Setelah mengikuti alur, pembaca diminta menyusun cerita sendiri pada akhirnya. Caranya bisa dengan apa saja. Diam merenungi kisahnya, atau kembali ke awal cerita. Beberapa baris akhir dari cerpen Pak Budi memang mesti diwaspadai, meski begitu selalu tersirat pesan. Kali ini tentang seorang ibu, anak, masa lalu, dan malaikat.
Pembaca kemudian dibawa ke luncuran tajam melalui "Pilot Bejo". Pak Budi seakan membuka batas-batasnya, dan lepas menyindir (kondisi penerbangan negeri ini) melalui cerita sedemikian rupa. Meski begitu di sisi lain, gaya penyampaiannya bisa juga dianggap penuh humor dalam cerpen ini. Jika diperhatikan, karakter Bejo memang menarik. Terlalu percaya diri, seenaknya, cenderung tak tahu diri. Yang lebih buruk, apa lagi?
"Sahabat Saya John" lebih menyenangkan. Ia tak menghadirkan kejutan, namun tokoh utama berhasil menciptakan keterikatan tersendiri dengan pembaca. Mengikuti naifnya, turut merasakan perjalanan petualangannya, juga mereguk kelegaan dengan hasil perjuangannya yang tak sia-sia.
Karakter dari "Bluke Kecil" menarik. Namun ada hal yang lebih besar dihadirkan di kisah ini. Bukan hanya tentang hubungan orang tua dan anaknya, namun juga "kesewenang-wenangan" orang dewasa dalam menyikapi kepolosan seorang bocah kecil. Lebih dalam, mengajak menengok tentang karakter dasar manusia.
Secuplik latar belakang sejarah masa penjajahan dihadirkan Pak Budi melalui cerpen berikutnya, "Misbahul". Tentang betapa rakyat begitu tertindas dengan kesadisan tentara Jepang di tahun 1943. Namun Misbahul, sang tokoh menjadi sosok yang benderang karena sikapnya yang subversif. Namun seakan tak rela menampilkan kesimpulan yang tegas hitam-putih, Pak Budi membawa Munir, anak Misbahul sebagai ironi.
"Laki-laki Pemanggul Goni" masih membekas dan semenarik sebelumnya. Di kumpulan cerpen ini, kisah tersebut dihadirkan kembali. Cerpen ini rasanya tak mudah lekang. Ia masih semisterius dan sekontemplatif sebelumnya meski telah dibaca berulang kali.
Masih ada cerpen-cerpen lain seperti "Gimbol", "Tangan-tangan Buntung", " Dua Sahabat", "Percakapan", "Tanda tanya", "Angela", dan "Hotel Tua". Secara keseluruhan Budi Darma sebagai salah satu maestro sastra Indonesia masih memiliki karakter penulisan yang kuat, dan selalu menarik diikuti. Beliau bukan hanya mementingkan bagaimana sebuah kisah berjalan, namun juga memunculkan hal-hal yang perlu ditengok jauh ke dalam. Kembali ke substansi melalui tawaran berbagai sikap dan sifat manusia yang dihadirkan.