3.25/5
Sebenarnya buku ini berbicara tentang tema-tema yang menarik: dari sisi gelap perjuangan kemerdekaan Indonesia, normalisasi kekerasan, permasalahan mental (seperti PTSD, depresi, anxiety), hingga tujuan dan makna perjalanan hidup itu sendiri. Sayangnya, secara struktur dan penulisan, buku ini terasa begitu kikuk di beberapa tempat; dari struktur prolog yang berantakan, fokus pada karakter yang tidak penting di cerita (Mr. Kamaruddin), penggambaran seksualitas yang usang, hingga klimaks yang terasa timpang dan mendadak.
Mengambil latar di Jakarta pada era setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia (akhir 1940-an), cerita berfokus pada Guru Isa, seorang guru sekolah yang bersahaja dan benci kekerasan, serta Hazil, seorang komponis yang beralih menjadi pejuang kemerdekaan. Takdir mempertemukan kedua lelaki ini di kubu perjuangan pemuda Indonesia yang melakukan perlawanan secara sporadis kepada tentara NICA dan Gurkha. Keduanya terikat oleh kegemaran yang sama akan musik. Hazil kerap mengunjungi rumah Isa untuk berbincang-bincang tentang kehidupan dan menggubah musik.
Di sisi lain, Isa sedang mengalami pergulatan batin yang sulit. Setelah menyaksikan kekerasan militer dan baku tembak, ia mengalami trauma (PTSD) dan kegelisahan yang berat. Ia semakin terjepit karena para pemuda pejuang kemerdekaan memberi peranan penting kepadanya, sedangkan berbagai bentuk kekerasan yang kecil pun tidak dapat ia tolerir. Di sisi lain, ia juga terhimpit masalah ekonomi dan rumah tangga yang tidak bahagia. Ditekan oleh berbagai ketakutan dan trauma, kesehatan Guru Isa pun semakin terpuruk, hingga pada puncaknya ia diharuskan ikut dalam misi perjuangan kemerdekaan yang riskan.
Sekali lagi, sebenarnya pergumulan Guru Isa digambarkan sangat baik di sini, terutama pada adegan di mana ia dan Hazil mendiskusikan jalan perjuangan yang tanpa ujung dan berulang, yang saya baca seperti figur Sisyphus dalam mitologi Yunani yang terjebak dalam tugas tanpa akhir. Mereka pun menggubah musik yang terinspirasi dari perjuangan tersebut. Benturan perjuangan individual dan perjuangan kolektif yang tiada akhir dikupas dari dua sisi: sudut pandang Hazil yang optimis dan membara, dan sudut pandang Guru Isa yang dirundung rasa takut dan trauma. Sayangnya, ketika kedua sudut pandang ini ditinjau ulang di akhir, perubahan yang disajikan oleh Mochtar Lubis terasa canggung, mendadak, dan dipaksakan.
Walaupun buku ini memiliki peranan penting dalam sejarah sastra Indonesia (terutama dalam menggambarkan sisi gelap kemerdekaan dan perjuangan batin), secara pribadi saya merasa lelah dengan karya sastra dengan struktur yang timpang dan nada yang sinis. Edisi Yayasan Obor ini juga penuh dengan typo yang parah, di mana pada bagian akhir ada dua paragraf besar yang terulang. Hal ini juga mengurangi apresiasi saya terhadap buku ini.
---
In all honesty, this book speaks about interesting themes: from the dark side of Indonesian independence wars, the normalisation of violence, the mental problems (like PTSD, depression, anxiety), to the purpose and the meaning of life's journey itself. Unfortunately, structurally and technically, this book feels clumsy at different parts; from the messy prologue structure, focus on an unimportant side character (Mr. Kamaruddin), the obsolete depiction of sexuality, to the uneven and abrupt climax.
Taking place in Jakarta during the era after the Proclamation of Indonesian Independence (late 1940's) the story focuses on Teacher Isa, a humble and violence-hating schoolteacher, and Hazil, a composer turning to a freedom fighter. Fate brought these two men together in the Indonesian freedom fighter camp who have been sporadically fighting against NICA and Gurkha forces. Both men were bonded by the mutual passion for music. Hazil often visited Isa's house to talk about life and compose music.
On the other hand, Isa was undergoing tough mental struggles. After witnessing military violence and crossfire, he experienced PTSD and severe anxiety. He got even strangulated by the burden of the vital role given to him by the freedom fighters, all while being unable to tolerate the smallest forms of violence. Moreover, he was in a bind of an economic problem and unhappy married life. Pressured by various fears and trauma, Guru Isa's health took on a plunge, until at the climax he was tasked to accompany a high-risk mission for freedom fighters.
Once again, Teacher Isa's internal struggles were depicted superbly here, especially during the scene where he and Hazil discussing the repeating and endless road of endeavour, which in my reading resembles Sisyphus from Greek Myth who was trapped in an endless task. Both men then compose a musical piece inspired by the endless struggle. The endless clashes between individual struggles and collective endeavours were dissected from two perspectives: the optimistic and fiery Hazil and the fearful and trauma-riddled Teacher Isa. Unfortunately, when these two perspectives were revisited at the end of the book, the change/twist offered by Mochtar Lubis felt awkward, abrupt, and forced.
Although this book has a significant role in Indonesian literature history (especially in depicting the dark sides of independence wars and internal struggles), personally I am exhausted by literary works with uneven structure and cynical tone. This Yayasan Obor edition of the book is riddled with severe typos, where during the last part of the book there is a repetition of two big paragraphs. This also contributes to reducing my appreciation of this book.