"I want you back, Tavela." "Then win me back, Marshall." Setelah dua tahun berpisah dengan Marshall, mantan suaminya, Tavela kembali dipertemukan dengan pria yang sangat dibencinya itu dalam sebuah proyek. Proyek pembuatan kilang minyak ini melibatkan dua keluarga besar mantan suami istri tersebut. Dalam proses pembuatan proyek itu, Tavela harus kembali mempertanyakan perasaannya untuk Marshall. Haruskah mereka kembali bersama, atau berpisah memang yang terbaik untuk mereka? Ikuti kisah mereka dalam Inevitably in Love.
Bercerita tentang Tavella dan Marshal, mantan pasutri dari keluarga konglomerat yang sudah bercerai dua tahun lalu dan terpaksa terhubung kembali karena urusan pekerjaan.
Awalnya sudah baca cerita ini di wattpad. Dan ini adalah karya ke dua si author pula yang bikin 'nagih.' Kenapa? Ide cerita memang sangat mainstream kisah para CEO dan sebangsanya... tapi yang membuatnya istimewa yaitu dengan pengemasan konflik kerjaan para konglomerat yang detail, jelas, dan bukan sekedar tempelan cerita saja. TAPI ternyata kepiawaian si author ini tidak dibarengi dengan beberapa hal lain. Manusia sih ya wajar gak ada yang sempurna, jyah.. Ini dia beberapa ulasannya:
1. Desain: Cover didesain sederhana tapi elegan. Yah sejalan lah sama genre cinta punya para billionner ya? Tapi sayang, malah jadi terganggu dengan letak penulisan halamannya. Ada tepat disamping halaman. Niatnya biar beda dari yang lain kali ya? kok kesan yang ditengkap malah kayak gak enak dipandang? Bahkan rasanya pas lagi baca itu kayak ada yang ganggu gitu dipinggir halaman. Ehm semacam 'kotor' kali ya?
2. Plot: Bisa dikatakan plot di buku ini berkembang lebih baik dibandingkan saat di wattpad. Alur lebih rapi dan bahkan ada benang merah antara bisnis kerjasama si Tavella - Marshall dengan hubungan mereka di masa lalu. Tapi! Ada beberapa juga yang bikin gw bingung. Beberapa scene? Adegan? Yang kayak bertolak belakang.. Pas Marshall pulang setelah dari LN dia gak disambut Tavella di rumah, dan Tavella lagi ngurus Alia yang habis berusaha bunuh diri. Di bagian lain si Tavella lagi nungguin Marshall di bandara. Dan justru ngelihat Alia sama Marshall yang asyik berbicara. PADAHAL kedua adegan itu menceritakan tentang kepulangan Marshall dari LN. Jadi mana yang bener nih? Atau gua yg emang gagal paham?
3. Dialog: ada beberapa dialog sarkasme yang gak menyenangkan. Okelah si Alia ini egois dan gila harta plus di embeli gelar The Cinderella karena keluarga Alia berasal dari kalangan middle class. Tapi apa perlu ada kata yang perlu merendahkan para middle class ini? Sehingga gak cocok bersanding dengan para high class? Berikanlah alasan logis buat ngungkapin KETIDAKPANTASAN Alia dan Marshall bersanding tanpa merendahkan kelas lain ya kan? Bagi penulisnya ini logis kali ya karena beda kelas? Makanya ada kalimat begitu. Guanya aja sih kali yang sensi karena emang bukan kalangan high class. Ha-Ha -_-
3. Tokoh: Di wattpad di jelaskan dengan jelas kenapa Alia begitu ngotot minta si Marshall buat dikembalikan ke sisinya. Bahkan sampai penyelesaiannya yakni Marshall yang memberikan saham ke Alia agar tidak mengganggu hubungan Marshall dan Tavella. Dan ini ditiadakan di buku. Akbitnya, karakter villain menjadi kurang kuat. Ia hanya sekedar mampir lewat sepotong-potong di hampir semua flashback dan jadi makhluk cameo di setting cerita 'present'. Begitupun dengan Mama Alia hanya jadi pemoles di buku ini yang kerjanya sekedar nyamperin kantor dan ngancem Tavella. Hell what a waste of character!
4. Ending: Ini yang PALING MENGECEWAKAN! Epilog juga malah jauh dari kata jelas. Sekali lagi sebagai pembaca wattpad wajarlah berharap seenggaknya epilog dipertahankan karena itu yang menjadi penjelasan (atau pemuas dahaga cerita?) hubungan mereka setelah bersatu kembali. Sebaliknya yang di buku? Meh malesin banget. Benang merah? Gak usah kebanyakan mikir. Ibaratnya kayak makan kacang goreng. Makan dengan lahap dan cepat gak tau manfaatnya apa kecuali bikin kalori naik. Kalau kamu baca buku artinya ya ini cuman bikin baper doang lol
Akhir kata buat beli seri lain yang akan terbit, harus mikir2 dulu deh.. Apalagi yang endingnya udah 'ambigu' di wattpad. Bisa makin kacau kalau dibukukan ha-ha. Secara gua bukan tim masokis yang suka sad atau open ending. Sampai jumpa Ms. Wang dibuku lain. Tapi nanti ya nunggu review goodreads lain. Kalau bagus boleh deh dijajal lagi 😊
Yang perlu diingat hasil review ini murni subjektif dari gw, jadi kalau ada yang gk setuju gak usah ngamuk yak!
So The Conclusion is ★★☆☆
Note: HIKS ADEGAN FAVORIT GW GAK ADA DIBUKU!! Kalau gak salah kalimatnya mungkin begini "Marshall menyadari bahwa selama ia menikah, Tavella selalu menyambutnya di depan pintu.. selarut apapun itu." Ugh istri berbakti....
This novel is overrated. Mulanya saya baca versi Wattpad dari kisah Marshall dan Tavella ini. Saya bisa maklum dengan beberapa plot holes dan penceritaan yang singkat-singkat. It's free, anyway. Makanya, setelah membaca kabar bahwa kisah ini mau dicetak, saya sangat bersemangat, sampai ikut preorder karena penasaran. Dalam benak saya terpikir, pasti nanti akan banyak detail penceritaan ditambahkan, pasti banyak editan-editan. Setelah membaca, saya kecewa beraaaaaaat, tapi ga tega mau kasih satu bintang, karena mau bagaimanapun, banyak pihak yang bekerja keras hingga novel ini bisa terbit kan?
Mari kita mulai.
Kisah ini bercerita tentang Marshall Tjahrir dan Tavella Sastrawidjaya, mereka mantan suami-istri, bertemu kembali karena suatu proyek pekerjaan. Dari awal sudah diceritakan bahwa kemarahan mendominasi hubungan mereka. Bahkan, mungkin kata 'marah' merupakan kosa kata yang paling banyak dituliskan di buku ini.
Marshall selalu marah saat berhadapan dengan Tavella. Marah, marah, marah. Selalu marah. Alangkah baiknya jika penulis memakai kosa kata lain saat mendeskripsikan marah. Yang sering tertulis juga adalah dialog, "kamu membuat saya marah" dan berbagai turunannya. Intinya adalah empat kata itu. Oh ya, kata 'benci' juga lumayan banyak, diikuti dengan kata 'bodoh'. Jika memang ingin mendeskripsikan kata-kata tersebut, mungkin bisa memilih kosa kata yang lain, atau diceritakan dalam bentuk ekspresi wajah, agar pembaca tidak terlalu bosan. Diksi yang dipakai dalam buku ini lumayan terbatas.
Banyak beberapa detail yang dituliskan tetapi ngambang tidak ada kejelasan. Saya percaya bahwa semua yang ditulis harus memiliki arti dan kejelasan. Layaknya cerita detektif, apapun yang ditulis awal, harus memiliki penyelesaian di akhir cerita. Apakah mungkin karena ini buku volume 1, saya tidak tahu. Mungkin kejelasan detail-detail tersebut akan dijelaskan di volume-volume selanjutnya, mungkin.
Salah ketik pasti ada, penulisan dalam bahasa inggris yang salah juga ada. Its dan it's itu beda loh, mungkin kecil, tapi beda.
Kesalahan teknis kecil lain tapi sangat mengganggu saya karena kesalahan itu konsisten dari awal sampai akhir adalah penggunaan kata ganti 'kita' untuk menjelaskan 'kami'. Kesalahan ini sudah ada sejak zaman Wattpad dan merupakan salah satu poin editan yang saya harap tidak ada di versi cetak, dan ternyata masih saja ada :(
Contoh, Marshal membicarakan acara dia dan Alya (tunangan Marshall) kepada Tavella menggunakan kalimat 'acara kita', padahal Tavella tidak mengikuti acara tersebut. Lebih enak jika ditulis 'acara kami'.
Memang dalam Bahasa Inggris, kita dan kami diterjemahkan sama, menjadi we-our-ours. Namun, dalam Bahasa Indonesia kan penggunaan kita dan kami lumayan signifikan bedanya.
Inkonsistensi tertulis saat Tavella mengatakan baru mencium Marshall dua kali, saat Tavella sakit dan saat mereka berada di Kinokuniya, padahal di beberapa bab sebelumnya, Marshall dan Tavella pernah berciuman saat berada di Arlington untuk menonton pertandingan baseball. Ataukah mungkin ciuman kilat di bibir tidak termasuk dalam hitungan?
Motif Alya untuk bersandiwara tidak diceritakan dengan gamblang, meski sebenarnya pembaca sudah bisa menduga bahwa pasti ujung-ujungnya adalah harta dan kekuasaan.
Semoga, saya berharap dengan sungguh-sungguh, semoga kesalahan teknis dan lubang-lubang di plot cerita dapat dikurangi dan mungkin dapat dihilangkan di volume-volume selanjutnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
The cover and design of the book is super good, tempted to buy because the book is super eye catching. SPOILER ALERT! Tapi setelah baca lewat dari prolog, mesti ngelus dada berulang-ulang karena banyak banget typos, penulisan kurang sesuai EYD (yg agak awkward gitu pas bacanya dengan pemakaian kamu kamu kamu), plot holes (gak dijelasin dengan jelas why and why this happened, why Tavella kok nunduk2 aja sama Alia, kalo memang dia sayang banget sama Alia, trus kenapa dia terkesan benci sama Alia sekarang? Ngomong kasar dan meremehkan Alia padahal kalo dari flash back, dia sayang banget sama Alia sampe ngerelain Marshall?). Tapi tetap ngelanjutin baca karena udah beli sayang kalo gak lanjut, but until the end tetap gak ngerti kenapa Tavella nunduk2 aja sama Alia and her mother (kalo atas nama persahabatan dan rasa bersalah, why dia selalu kasar sama Alia?). Trus motif Alia apa juga gak dijelasin, tunangan Hanan yang hilang itu siapa juga gak dijelasin. I think Marshall and Tavella both sama2 gak masuk akal (Marshall suka marah2 dan cemburu gak jelas dan gak sweet, Tavella suka bilang tentang pacar2 khayalannya yg agak memalukan). Endingnya gantung segantung-gantungnya. It's not an open ending, more like an absurd ending :( Sorry banget utk penulisnya, aku harap bisa berkembang menjadi lebih baik lagi. I'm so interested why the editor or anyone from bukune gak menambal bagian-bagian yg kurang. Aku jujur penasaran sama author ini so I search her on wattpad dan udah baca 'Invitation only'. Kalo boleh jujur, invitation only lebih bagus plot dan gaya nulisnya 1000x lipat dari inevitably in love walaupun invitation only itu free baca dari wattpad. Like the part: "Udah selesai kamu membuat aku kepanasan?" rasanya so awkward aja bacanya, mungkin bisa jadi "Udah selesai kamu bikin aku kepanasan?" from page 57. Atau "Kamu bisa melepaskanku sekarang. Kalau leherku patah, aku sangat yakin hidupmu akan jauh lebih tenang" mungkin lebih baik kalo "Kamu bisa lepasin aku sekarang. Kalau leherku patah, aku yakin banget hidup kamu akan jauh lebih tenang juga" from page 56. Mungkin author nya mau sesuai EYD tapi rasanya aneh aja mereka bicara seformal itu di sehari-hari. The plot basis is good tapi agak kurang dikembangin, di awal cerita Marshall punya Alia tunangan dia. Di akhir cerita, Marshall gak jadi nikah sama Alia. Tapi sebenarnya pas Marshall masih tunangan sama Alia juga gak mempengaruhi cerita banget karena dia gak memperhatikan Alia banget, bisa nyium2 Tavella. So yah, I know this review is so harsh, but I know the writer has so much potential, good luck!
Untuk pembaca setia Cecilia Wang di Wattpad, mendengar IIL dibukukan adalah hal yang membahagiakan. Pertama kali ketemu IIL karena cover bukunya di Wattpad yang eye catching dan elegan. I know, don’t judge a book by its cover tapi dengan banyaknya cover receh(termasuk ceritanya) di Wattpad, melihat cover minimalis baju pengantin putih dengan background hitam merupakan pemandangan yang menyejukkan. Ditunjang dengan summary yang simple tapi menggigit, IIL memang cerita yang menarik banyak perhatian.
Baiklah, mari mulai dengan desain cetak IIL yang minimalis tapi kece. Desain buku ini, mulai dari cover, template serta konsep bonus, semuanya ditangani oleh design studio. Ini mungkin juga yang jadi salah satu alasan kenapa harga bukunya di atas rata-rata untuk genre buku chicklit romansa. Ada perubahan besar dari desain cover awal di Wattpad tentu saja. Cecil akan kena tuntutan hak cipta kalau dia pakai cover awal yang menggunakan gambar wedding dress milik Rami Kadi. But I do miss the old cover.
Selain itu, yang menarik di cover IIL adalah gambar dua kancing buku yang menjadi simbol penting di cerita ini. Begitu melihat kancing itu pasti ingat Tavela.
Secara gaya bahasa dan teknik penulisan, Cecil punya kemampuan yang cukup agar bukunya dicetak. Hal ini semakin ditunjang dengan kepopuleran IIL di Wattpad serta fanbase yang setia banget. Fanbasenya diberi nama A-Class fyi.
Secara isi cerita, plot masih sama dengan versi Wattpad. Hanya ada perubahan seperti pemangkasan bab dan pembersihan isi biar lebih rapi dan layak cetak. Sayangnya pemangkasan ini membuat beberapa bab favorit saya hilang, termasuk latar belakang hubungan Tavela dan mantan sahabatnya, Alia. Hal ini membuat konflik antara Tavela dan Marshall di versi cetak jadi kurang panas.
Untuk typos memang masih ada, syukurlah tidak begitu mengganggu tapi bikin gemes. Typos yang sama dengan yang ada di versi Wattpad yang seharusnya kelihatan mata dengan mudah tapi tetap tidak tersentuh editing. Yang disayangkan adalah plot holes yang saya pikir akan ditambal ketika berhadapan dengan editor Bukune, ternyata tidak. Plot holes masih tetap ada. Kekuatan Cecil ada pada gaya penceritaan dengan kalimat khas anak megapolitan yang mudah dicerna dan modern banget. Selain itu penggambaran karakter yang kuat membuat cerita Cecil punya ciri khas di setiap chara yang dia buat.
Info tambahan: Cecil mendapat kontrak eksklusif dengan Bukune untuk mencetak Tjahrir series sebanyak tujuh buku. Di mana buku kedua akan segera terbit berbarengan dengan filmnya! Sebagai pembaca Cecil, akhir-akhir ini saya mulai jenuh karena bisa dikatakan konflik asmara di setiap storynya sama. Serta penggambaran chara yang mirip-mirip di sifat charanya. Di Wattpad, cerita Cecil masih ngehitz banget dengan follower dan reader yang terus bertambah. Jadi ya ditunggu saja kabar buku keduanya.
Berawal dari baca cerita salah satu author di wattpad yang judulnya Eat,Me jadi aku putusin buat ikut pre order novel seri pertama tjahrir yang lama sekali.
Setelah novel sampai dan kubaca ternyata hasilnya tak semenarik cerita Eat,Me.
Novel ini menceritakan anak pertama Tjahrir, si Marshall yang sudah bercerai dengan istrinya, Tavella tapi ketemu lagi karena ada proyek kilang minyak yang dibangun perusahaan Marshall dan ayahnya Tavella.
Utk sifat Tavella menurutku oke, keras kepala, sok tegar, sedikit polos".
Utk sifat Marshall juga oke, bodoh, tidak peka, cemburuan, pemarah.
Yang buat kecewa adalah alur ceritanya. Ada sub bab flashback yang buat malas baca.m seperti "kemarin..." trus "tiga tahun tujuh bulan yang lalu ..." Jujur aja bagian itu aku skip. Isinya tidak terlalu mendukung konflik utamanya. Ada beberapa aja yang berisi masa lalu tavella soal kenapa ia menceraikan suaminya. Selebihnya ... ya gitulah.
Belum lagi 3/4 buku selalu diisi keributan mereka dan ga di tutup dengan hal yang melegakan. Happy ending memang. Tp ga se plong endingnya eat,me. Dimana udh sepanjang cerita kedua tokoh utama berselisih paham dan diselesaikan dengan sweet dan pantas.
Banyak halaman yang aku skip seperti baca komik. Langsung balik terus cuma untuk cari inti cerita. Mudah"an kedepannya lebih baik utk authornya.
Tetap semangat menulis.
This entire review has been hidden because of spoilers.
2 bintang, padahal ekspetasi untuk novel ini tinggi. Pernah membaca bagian menjelang akhir sampai epilog (+ekstra part seingat saya) saat masih dipublish di wattpad, dan saya suka (suka sekali malahan). Saat melihat novel ini diterbitkan, jadi tidak sabar untuk membelinya. Kupikir bakal ada penambahan ekstra part untuk pasangan ini, tetapi malah kecewa karena endingnya (mengingatkan pada ending novel Ika Natassa di Divortiare).
This entire review has been hidden because of spoilers.
Hanya dengan membaca prolognya saja, hati ini langsung bilang I’m falling for this novel. I feel alive ketika membacanya. Cecillia sukses membuat sosok Marshall & Tavella benar benar hidup dan terasa sangat nyata. Once more: membaca novel ini seperti “membaca” film. You’ll definitely falling in love.
Setelah sekian lama tidak muncul dan tidak buat review, akhirnya diriku bisa berkata: WOOHOO, I'M BACK, BITCHESSS!
Saya menemukan buku ini di tumpukan buku ibu saya, dan ketahuilah, ibu saya memang suka membeli buku-buku random yang dijual di laman fesbuk. Mostly emang karya penulis Wattpad, atau novel-dewasa-nyerempet-stensilan gitu deh. Nah, kover buku inilah yang mendorong saya untuk mencuri meminjamnya. Dan yah, berhubung saya lagi nganggur, mungkin bisa menulis review untuk buku ini.
-------update
Gw cuma sanggup baca sampe halaman 7. Sepertinya not my cup of tea, atau simply buku ini emang badly written aja. Ugh. Dialognya sama sekali gak hidup, malah kayak sinetron/FTV. Kesel sendiri bacanya.
Dan lagi, what's up with dis writer and double L?
CeciLLia TaveLLa MarshaLL ALLia JoshuaLL (okay, I was joking about the last two)
Eniwei, kenapa ya rata2 chicklit jaman now, atau more precisely, kenapa cerita2 di watty (including DIS ONE) always and always and always punya male protagonist yang gitu-gitu aja? Ganteng, tajir, atletis, jago ngent*d, dsb you name it lah. Bahkan mereka semua punya formula penamaan yang sama: dua atau tiga kata, dengan nama depan kebarat-baratan dan nama belakang sok ngindon kearifan lokal.
ceritanya cukup gereget karena kita dibuat penasaran kenapa Tavella menceraikan Marshall. saat mulai jalan ke belakang, alur makin jelas dan masa lalu pun terungkap.
**spoiler** agak ngegantung endingnya dan pembaca dibuat berpikir sendiri mau dibawa kemana hubungan ruwet antara kedua tokoh utama ini akan berlabuh. Move on or go back???
Seperti banyak yang orang bilang, aku pun sama merasa "ditarik" oleh cerita ini dan sulit berhenti untuk membaca. Sebagai debut pertama Cecil, novel ini termasuk sukses menggaet para penggemarnya. Untuk segi cover, novel ini terlihat elegan sesuai dengan latar belakang kisah karakter-karakter yang berstatus high-end. Sentuhan gambar kancing di cover dan layout terlihat manis ketika kamu tahu apa dibalik kisah kancing tersebut.
Jujur ekspetasiku terhadap cerita Marshall-Tavella ini sangat tinggi. Even I bet with myself to give 4 stars! Awalnya ketika membaca cerita ini, aku masih bisa memaklumi untuk kesalahan dan kekurangan tanda baca. Semakin jauh aku membaca, rasanya sulit untuk mengabaikan kesalahan itu. Pemilihan kata yang dipakai juga terasa terlalu berbelit-belit. Memang setiap percakapan antar karakter terkesan sangat natural, namun banyak sekali pemilihan kata yang menyulitkanku memahami pembicaraan mereka. Aku harus membaca satu sampai tiga kali untuk bisa paham. Seperti "Kamu mau aku...(blablabla kata kerja)...(blablabla kata benda), Marshall/Tavella... blablabla)..." ada kalimat yang menurutku it's ok, ada juga yang menurutku itu terlalu boros dan mempersulit, padahal jika dikaji ulang, bisa digantikan kalimat yang lebih sederhana dan lebih singkat untuk dipahami tanpa mengurangi makna. Antara kombinasi-kombinasi kekurangan yang barusan aku sebutkan, dan ternyata menjadi satu-kesatuan dalam kekurangan novel ini, membuatku sedikit "gemas" ketika berada semakin jauh dan jauh dalam tiap babnya.
Diceritakan oleh sudut pandang penulis, karakter Tavella lebih mendominasi di atas karakter Marshall. Aku suka percakapan "saling lempar" yang sering terjadi diantara mereka. Jenius. Sayangnya, penggambaran sosok Tavella bagaikan kabut bagiku, begitupun dengan Marshall. Aku seakan lupa seperti apa mereka dan malah terfokus dengan kisah hidup mereka. Marshall dijelaskan di buku ini sebagai sosok yang mendominasi, but sorry to say, aku sedikit boring dengan kalimat itu-itu saja yang menggambarkan sosoknya, seperti: "menatap tajam, tegas, mendominasi" penjelasan tersebut dijelaskan berulang dalam penggambaran diri Marshall yang membuatku tidak mendapatkan kesan tersebut 100%. Untuk Tavella, yang kutahu soal Tavella hanya sifat doyan aktingnya untuk membuat Marshall membenci dirinya dan sifat keras kepalanya, terus what else? Aku tidak tahu. Aku harap sih ada sisi lain dari Tavella yang dijelaskan. There's something that struck my logic, waktu ada kejadian di hotel yang tak disebutkan hotel mana, Tavella dikejar oleh anak-anak muda yang sedang mabuk. Aku asumsikan itu hotel untuk kalangan high-class (sesuai dengan karakter-karakter yang berstatus sosial sama). Lucu karena biasanya untuk moment penting penulis akan menuliskan lebih spesifik nama-nama tempat tersebut. Bisa diperhatikan seperti penulis menyebutkan: Amuz Gourment, Plaza Indonesia, Hotel Mulia, dll. Itu semua bukan tempat fiktif. Kali ini, penulis tidak menyebutkan di hotel mana. Lupakah? Bisa jadi. Aku juga menemukan kesalahan penempatan karakter waktu Tania dan Tavella dalam perbincangan di telfon membahas pernikahan Marshall. Dua perempuan itu sempat membahas Alia dan akhirnya menyebabkan kesalahan seperti... "Tavella tidak ingin mendengarkan, tapi Alia terus berbicara kepadanya,...". Padahal si Alia yang sedang jadi bahan perbincangan. Seharusnya "tapi Tania terus berbicara kepadanya...,". Tidak mungkin 'kan Alia membiacarakan dirinya sendiri. Bagusnya, soal-menyoal bisnis dalam bumbu novel ini, memang benar bukan sekedar tempelan. Aku juga menyayangkan tidak adanya sinopsis di bagian belakang paperback. Hanya ada 2 kalimat yang tertera disana. Padahal background bagian belakang paperback-nya sendiri terlihat sangat luas, didukung dengan tidak adanya ornamen-ornamen aneh. Entah berusaha misterius atau tidak, bagiku sayang saja space yang tersisa seluas itu tidak digunakan untuk meletakkan sinopsis di dalamnya. Bagi pembaca yang memang megikuti cerita ini di wattpad mungkin no problem tanpa sinopsis, tapi bagi yang tidak, jelas ini mempersulit. Di akhir cerita, menurutku ending yang ada terkesan biasa banget, apalagi setelah semua yang telah terjadi. Rasanya ingin bicara "Udah gini doang?". Sempat gemas di bagian ini. Entah novel ini akan ada kelanjutan untuk cerita Marshall-Tavella, tapi melihat dari versi paperback, tidak ada pembahasan kisah Marshall-Tavella akan berlanjut. Semoga next time jika ada versi revisi, bisa diperhatikan lagi kekurangan-kekurangan yang ada, karena menurutku novel ini punya PR yang banyak. Cerita ini sebenarnya sangat berpotensi, bahkan mungkin sudah, namun ya seperti yang kujelaskan, kekurangan di buku ini menyebabkanku mengurungkan niat untuk memberi 4 stars. Overall, untuk novel ini masih layak untuk dibawa pulang kok. ;)
I know this is a fiction novel but it is exaggerated. Banyak banget inconsistency di cerita ini. Beberapa di antaranya:
Halaman 72 — Di paragraf ke-4 disebutkan Tavella mengalami deja vu terakhir kali ke restoran tersebut 4 tahun yang lalu. Tapi di paragraf terakhir pada halaman yang sama disebutkan 2 tahun yang lalu ketika masih menikah bersama Marshall, mereka berdua sering kali menghabiskan waktu di restoran tersebut.
Halaman 107 — Alia memulai topik pembicaraan dengan menanyakan kabar Marshall tapi di beberapa kalimat selanjutnya dia bilang “Bisa kita berhenti membicarakan Marshall?”. I was like ????
Halaman 113 — I never met seorang pelayan tanya ke customer “Maaf, apa password-nya?” pada saat dimintai tolong untuk memoto. Dude that is confidential thing :/
Halaman 163 — Di awal diceritakan kalau Tania adalah saudara sepupu Tavella but this page stated “sedangkan Tania menatap temannya (Tavella) dengan tatapan tidak percaya”.
Halaman 266 — Inconsistency Conrad menggunakan “kamu” dan “lo” pada saat berbicara dengan Marshall. Idk it’s bothering me.
Halaman 271 — Ini yang paling aneh. Di pertengahan buku (I didn’t recall which page) diceritakan sebelum Marshall kembali dari Houston ke Jakarta, hubungan mereka merenggang karena rasa bersalah Tavella terhadap Alia. Saat Marshall sampai di rumah dan bertemu dengan Caki, ART mereka, ia menanyakan keberadaan Tavella dan mengapa Tavella tidak memasak untuknya. On the other hand, pada saat itu Tavella pergi ke apartment Alia dan menunggui Alia yang sedang sakit hingga pulih. BUT in this chapter, another story came up! Does it have multiple universe? Lol. Di halaman 271 diceritakan bahwa Tavella memergoki Alia menjemput Marshall ke bandara! Dan sebelum itu Tavella menyempatkan masak sebelum menuju ke bandara. That’s very strange….
Halaman 300 — Inconsistency mbak-mbak penjual makanan memanggil Tavella “mbak” dan “non”.
Halaman (lupa) — Why does she (Tavella) always have problem with parking lot? Beberapa plot menyebutkan dia susah menemukan mobilnya di parkiran. However, from the beginning of the story, it stated that she came from a RICH family. Why she didn’t use valey parking instead?!?!
Saya merasa kesal dengan Tavella. She looks strong enough and she often gaslight Marshall, mostly about their past issues. But whenever Tavella berhadapan dengan Alia atau Alissa (ibu Alia) dia malah kena gaslight mulu dan iya-iya aja.
Dan untuk endingnya anti-klimaks banget. Saya kira dengan banyak huru-hara tidak jelas pada cerita tersebut setidaknya akan mendapatkan ending yang jelas tapi ternyata tidak.
Anyway, keep fighting Cecil! I write this cause I support you!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita Cecilia yang saya baca adalah Eat, Me yang masih berada di wattapad. Saya sangat suka cerita itu, sehingga saya mencari tahu lebih tentang tulisan Cecilia yang lainnya. Saya memiliki harapan tinggi membaca kepada buku ini. Tapi jujur saya kecewa, karena dari pada konsen terhadap kisah Marshall dan Tavella, cerita ini malah fokus sama projek kilang minyak. Saya lelah membacanya karena tidak memberikan klimaks seperti cerita Eat, Me.
Um, so ini buku pertama Kak Cecil yang gue baca. Ketika di Wattpad gue suka melihat akunnya Kak Cecil muncul dimana-mana, maybe it's because her popularity amongst writers and readers of Wattpad kali ya? Gue sempet baca sekilas ceritanya Kak Cecil di Wattpad, dan gue kurang suka. Dan dari situ gue memilik persepsi bahwa karya-karyanya Kak Cecil ini pasti gak jauh-jauh dari spoiled rich kids yang biasanya laki-laki nindas perempuan (sorry, emang ini salah banget sih asumsinya). Tapi ketika gue ngeliat buku ini, gue langsung tertarik aja gitu. Dan gue pun baca.
AND IT WAS ACTUALLY PRETTY GOOD. Memang ada sih momen-momen ketika gue kesel setengah mati sama Alia dan nyonya Alatas yang nyebelin banget, dan rasanya gue ingin masuk ke buku itu dan nyulik mereka HAHAHHAH. Dan juga saat ending gue kurang suka karena Alianya gak muncul sama sekali, padahal gue udah nunggu banget ketika Marshall tau kalau Alia itu cuman pengen status sosialnya doang, Alia yang minta Tavella ngelepasin Marshall, Tavella yang sebenernya gak pernah selingkuh, dan juga konflik pertemanan Tavella dan Alia yang rumit banget. I mean, jadinya GREGET BANGET pas ending, dan gue kayak, "Dude, ini Alia ilang gitu ya ke laut." karena dia literally menghilang dan gak ada lagi. Izinkan gue bilang ini, endingnya kurang manis :) Selain itu juga ada ucapan Tania kalo gasalah yang suka "menghina" Alia, (I mean, yes gue juga ingin sekali menghina Alia sih) Tapi Tania ini pasti selalu membawa-bawa status sosial keluarganya Alia yang middle-class, I'd be fine if Tania doesn't like her because she forced Tavella to let Marshall go or her mother's determination to raise their sosial status, tapi gue kurang suka kalau dia menghinanya dengan alasan status sosial keluarganya yang middle-class.
BUT OTHER THAN THAT Bukunya menurut gue asik banget untuk dibaca. Gue selalu suka baca buku tentang konglomerat-konglomerat, ya walaupun emang rata-rata pasti ego mereka setinggi Jayawijaya sih, tapi selalu ada sesuatu yang dipelajarin. Di buku ini khususnya itu tentang Investment, perusahaan keluarganya Tavella yang sebuah Invesment Company dan juga perusahaannya Marshall yang sebuah Petroleum Company. Asli gue ngefans parah ketika mereka serius dengan pekerjaannya. Romance antara Tavella dan Marshall juga dibawakan penulis dengan baik, gue suka senyum senyum sendiri ketika mereka bertengkar dan Tavella menggunakan jurus bohongnya itu. Jangan lupakan juga Little Eden, oh she's so precious.
Menurut aku untuk debut novel tidak buruk dari gaya penulisan dan nama tokoh. Kalau di bandingkan para penulis wattpad Indonesia, gaya penulisan Cecillia Wang ini beda dari yang lain. Rapi dan agak baku. Lalu nama tokoh juga sangat indah. Dua poin ini yang membuatku memberi bintang 4.
Tapi... *menghela napas panjang* • typo • inkonsistensi • plot holes 3 poin minus itu paling banyak di bahas warga untuk me-review buku ini. BENAR BANGET!
Baru beberapa lembar sudah ada typo dan pada halaman 51 "Walaupun mungkin ia harus menekan harga dirinya sendiri di depan pria itu. Tavella melewati" Melewati apa? Tidak ada titik koma sama sekali langsung paragraf baru dibawahnya. MELEWATI APA??
Lalu pada halaman 111 penulisan waktu "tiga bulan, empat bulan yang lalu..." Aku bacanya diulang sampai tiga kali dong karena sudah jam satu pagi, aku kira aku salah baca ternyata memang typo. Seharusnya "tiga tahun, empat bulan yang lalu..."
Pada halaman 230 ketika Pak Akbar berkata, "Pak Richard sendiri yang turun tangan." Harusnya Pak Joshua. Joshua Avlar Sastrawidjaja.
Pada halaman 251 ketika Marshall bertanya pada Alia mengenai apa yang terjadi di antara mereka berdua. Tidak ada penyelesaian setelahnya. Kalau menyinggung bagian ini seharusnya dibahas juga akhirnya bagaimana. Apakah Marshall percaya mengenai pov Alia? Bagaimana Marshall melihat Tavella setelah mengetahui pov Alia?
Pada halaman 285 ketika Marshall berkata, "Telepon Fany, sekretaris saya dan tanyakan apa benar Tavella terbang ke Banyuwangi pagi ini." Telepon Laura. Sekretaris Marshall namanya Laura bukan Fany.
Dan sampai akhirpun tidak dijelaskan dengan baik apakah Tavella jujur dengan perasaannya pada Marshall, begitu sebaliknya? Bagaimana Alia dan ibunya ketika pernikahan tidak terjadi?
Jujur kalau terlalu banyak typo, inkonsistensi dan plot holes lama-lama kesal sendiri bacanya. Menyebalkan. Dissapointing.
Tetap semangat untuk penulis. Btw, aku lihat buku ini udah 2x cetul dan ternyata isinya tetap sama ya. Saran aku, kalau nanti cetul lagi tolong jangan cover aja yang di perbaiki tapi typonya juga. Terimakasih!
Inevitably In Love karya Cecillia Wang diawali dengan kalimat pembuka yang sangat menjanjikan dan sukses bikin penasaran. Gue merasa kayak langsung ditarik ke dalam cerita, berharap akan ada banyak kejutan dan alur yang cepat. Sayangnya, seiring berjalannya cerita, alur terasa melambat dan kurang dinamis.
Salah satu kekurangan yang cukup mengganggu buat gue adalah banyaknya plot hole yang seharusnya dijelaskan dengan lebih detail. Mengingat ini adalah novel, latar belakang dan asal-usul tiap tokoh terasa kurang digali. Karakter seringkali muncul begitu saja tanpa penjelasan memadai mengenai siapa mereka, dari mana asalnya, atau backstory apa yang membentuk mereka. Ini membuat gue jadi sedikit kebingungan dan merasa ada informasi penting yang hilang.
Namun, di tengah kekurangan tersebut, ada satu hal yang patut diacungi jempol: intensitas hubungan antara Tavella dan Marshall! Chemistry mereka terasa hidup dan berhasil bikin gue cengar-cengir sendiri kayak orang aneh. Meskipun romance-nya masih terasa nanggung dan belum sepenuhnya dieksplorasi, interaksi mereka sukses menciptakan momen-momen manis yang bikin betah buat dibaca.
Yang paling bikin gregetan adalah ending cerita yang juga terasa nanggung. Gue berasa digantung tanpa kejelasan: apakah Tavella dan Marshall akhirnya happy ending atau tidak?! Hal ini tentu saja meninggalkan tanda tanya besar dan sedikit rasa kecewa karena tidak adanya resolusi yang memuaskan.
Secara keseluruhan, Inevitably In Love punya potensi besar dengan premis awal yang menarik dan chemistry karakter utama yang kuat. Namun, pengembangan alur dan penjelasan latar belakang tokoh yang kurang detail, serta ending yang menggantung, sedikit mengurangi pengalaman membaca.
Marshall dan Tavella memutuskan untuk bercerai setelah beberapa waktu mereka bersama. Perceraian mereka terjadi karena Tavella berpura-pura selingkuh untuk bisa lepas dari suaminya. Hal itu terjadi karena Tavella merasa bersalah bahwa selama ini ia menganggap dirinya telah mengambil Marshall dari temannya, Alia. Pernikahan mereka memang terjadi karena perjodohan, namun yang mereka tidak ketahui rasa cinta tumbuh pada hati masing-masing.
Suatu hari, perusahaan papa Tavella bekerja sama dengan perusahaan Marshall dan Tavella ditunjuk untuk menangani project kilang minyak di Banyuwangi tsb. Kerja sama itu mempertemukan mereka kembali dan kisah mereka kemudian berlanjut.
Menurutku, novel ini ada beberapa plot holes: 1. Gimana ceritanya Marshall membatalkan pernikahannya dengan Alia pada hari H? 2. Gimana ceritanya Marshall dan Tavella berhubungan kembali? 3. Waktu Tavella masih menikah sama Marshall kan si Alia melakukan percobaan bunuh diri. Terus gimana kabarnya Alia waktu pernikahannya dibatalkan di hari H dan mengetahui Marshall ternyata kembali berhubungan dengan Tavella? 4. Kenapa sih Alia kyk cinta banget dan terkesan ngotot mau sama Marshall? 5. Gimana hubungan Marshall sama Alia sebelum dia menikah sama Tavella? Soalnya beberapa kali tertulis kalau Tavella merasa ga seharusnya hadir di kisah cinta Marshall-Alia.
Kalau ajaa pertanyaan-pertanyaan itu dijelaskan di novel pasti lebih seru lagi ceritanya dan feelnya pasti jadi dapet banget dehh.
This is the first novel by Cecilia Wang that I had just read. Dan ini juga pertama kali aku tulis review di goodreads. I am Malaysian and to be honest I love reading Indonesian novels. Sudah berpuluh-puluh novel dari penulis Indonesia yang aku baca dan antara penulis yang aku gemari ialah Santhy Agatha, Sofi Meloni dan lain-lain.
Back to the topic, ketika mula-mula baca novel ni aku sangat excited dan tidak sabar untuk tahu cerita selanjutnya. Tapi, endingnya buat aku hampa. I got excited for nothing huh.
Banyak persoalan yang masih belum terjawab. endingnya benar-benar tergantung. Aku tertanya-tanya apa reaksi Alia selepas pernikahan mereka dibatalkan? Reaksi ibu Alia? Semua sandiwara Alia dan ibunya yang belum terungkap? Dan bagaimana Marshall boleh nekad untuk membatalkan pernikahannya dengan Alia? Ya, aku tau dia mencintai Tavella tapi itu tidak benar-benar buatkan aku puas hati sebab Tavella sendiri belum menjelaskan semua kebohongannya kepada Marshall. Novel ini benar-benar buat aku frustasi.
Jadi, aku hanya memberi 2 bintang untuk usaha penulis merangkai cerita ini walaupun endingnya buat aku sebal.
This entire review has been hidden because of spoilers.
seperti kebanyakan pembaca Inevitably in Love, saya juga mengetahui novel ini dari Wattpad. Kalau saya tidak salah ingat, novel pertama yang saya baca dari Tjahrir Series ini adalah Eat, Me. Maafkan otak ikan dori saya karena saya sudah tidak mengingat cerita Eat, Me. Tapi, saya masih ingat kalau Marshall adalah favorit saya dari Tjahrir bersaudara.
Saya memang sudah lupa detail Inevitably in Love yang saya baca di Wattpad. Tapi, saya masih ingat kalau saya dibuat tidak bisa berhenti membaca bahkan untuk mengecek pesan yang masuk. Entah mengapa, perasaan itu tidak saya dapatkan ketika membaca versi cetaknya. Saya sebenarnya berharap banyak pada versi cetak Inevitably in Love. Masih ada beberapa hal yang saya pertanyakan sampai saya menamatkan novel ini. Seperti kebanyakan pembaca (mungkin), saya kurang puas dengan ending-nya:( karena banyak hal yang masih kurang saya pahami sampai akhir cerita:( apa Marshall dan Tavella akhirnya menikah lagi?:(
Oke, jadi aku baru baca beberapa karya cecil dan jujur, aku suka sama gaya penulisannya. But i have to say from all the stories yang dia buat, this 'might' be the last story that i like. Part 1 sampai terakhir kita dibuat ngebacain konflik dr gimana keras kepalanya Tavella yang sok tegar ninggalin org yg dia cinta, aku suka bagaimana agak sedikit rare seorang yg lebih 'kurang' dibuat bs ngalahin Tavella yg dr keluarga yg sama besarnya kaya Marshall. Tp penyelesaiannya amat sangat kurang. Endingnya bener2 ga jelas bagaimana kelanjutan hubungannya. Dan bagaimana akhirnya dia bs tau (ini jg ga dijabarkan) kalau Alia dan keluarganya lah yg membuat pernikahan mereka berantakan. Mungkin ini gayanya Cecil kali ya, karna aku jg udh baca cerita dia ttg Sierra yg jujur lebih bikin kesal endingnya drpd Inevitably in Love. Tp jujur ini kaya ngerasa di khianatin aja, kita udh pantengin dan coba ngekhayatin alur ceritanya, jatuh cinta sm karakternya but in the end we got nothing. Karna bagi aku, sebagai penonton dan pembaca, orang akan lebih melihat hasil (ending) itu bs memuaskan atau tidak.
Awal aku baca novel ini cukup menarik. Dimulai dengan Tavella dan Marshall yang telah bercerai.
Menarik ketika mereka telah bercerai tapi masih sering ketemu mulu. Hampir di semua tempat. But that's okay.
Yang nggak menyenangkan itu karakter dari tokohnya menurut aku. Tavella yang terlalu keras kepala dan membingungkan. Disatu sisi dia ingin ini dan disatu sisi yang lain dia ingin itu. Aku juga kalo jadi Marshall juga bakal bingung wkwk. Sementara karakter Marshall yang menurutkan terkadang agak-tidak-peka tapi itu bukan salah dia. Karena balik lagi, Tavella sangat membingungkan.
Hingga ke tengah, novel ini cukup buat aku gregetan sendiri. Kesel wkwk. Karena mereka yg gitu gitu aja seolah tarik ulur. Dan endingnya nggak sesuai ekspetasi aku.
Aku juga menemukan beberapa kesalahan tulis pada nama. Yang harusnya Tania jadi Alia. Dan menurut aku karakter dari para tokoh ini masih digali lagi dan juga tokoh-tokoh lainnya. Jadi nggak terlihat kalau dari awal sampai akhir cerita ini berpusat pada tokoh utama dengan permasalahan yang itu itu aja bikin aku gregetan.
Sekian.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Saya baca versi buku aja jadi nggak tahu apa yang terjadi di wattpad. Here is my honest review:
1) Too much blaming victim. Karakter Tavella itu membingungkan, antara ia tersakiti, terancam, mencoba baik tapi kekanakkan. Ada inkosistensi di dalam sikap-sikapnya, seperti ketika dia mengikhlaskan Marshall pada Alia, sikapnya dua tahun kemudian bertolak belakang. Untuk soal kelabilan, saya lebih memilih Sienna yang childishnya total. 2) Keseluruhan novel bagus, bapernya dapet dan lumayan menjungkirbalikkan perasaan. Tetapi kepiawaian penulis tidak dibarengi logika cerita yang memuaskan. Pertikaian dan tarik ulur dalam menangani proyek misalnya, apakah cukup masuk akal jika sebuah pekerjaan dilibatkan dalam sentimen perasaan pribadi?
Rating 3.5 Cecilia Wang adalah penulis favorit saya di kalangan YA.
Saya tidak bisa berhenti membaca novel ini hingga selesai hanya sekali duduk. Bagian awal sudah membuat saya penasaran. Ada apa sih?
Tapi setelah saya sampai dibagian akhir. Loh hanya begini? Kok tidak jelas ya? Banyak hal yang harusnya bisa dijelaskan.
Bagaimana Marshall bisa yakin kalau Tavella tidak pernah selingkuh dan hanya memiliki pacar karangan.
Bagaimana Marshall bisa mencintai Tavella dan selalu memilih Tavella (katanya) tetapi setelah cerai dengan Tavella, Marshall kembali kepada Alia dan bertunangan bahkan sudah tinggal bersama selama 3 bulan hingga memutuskan untuk menikah.
Bagaimana nasib Alia dan Ibunya (yang ngebet jadi sosialita) setelah Marshall membatalkan pernikahannya dengannya. Bagaimana tanggapan keluarga Tavella dan Marshall jika mereka kembali bersama.
Bagaimana... Bagaimana... Dan bagaimana lagi...
This entire review has been hidden because of spoilers.
Oke, jadi novel ini udah ada dilemari kakak aku udah lama. Dan baru ada waktu aku bener2 ngebacanya sekarang. Well, yah aku ga pernah baca versi wattpad nya. Tapi melihat dr review2 sblumnya, kyaknya perbedaan crtanya banyak banget. Jadi, setelah aku baca novel ini aku gemes sama prolognya. Aku sampe gabisa tdur sekarang karna mikirin novel ini, waste of time emang ! Aku berharap sih bakal ada volume 2, tp stlah liat udah dari thun 2017 kayaknya mustahil. Ntahlah, aku kecewa aja sm novel ini. Yah aku tertarik ngebaca novel ini dari sekian tumpukan buku dilemari kk aku karna covernya yg menurut aku simple but elegant. Tapi isi dalam bukunya ga seelegant crtanya. Makasih udah ngebuat aku penasaran, semoga aku bisa tdur nyenyak hehe
Gue bisa buka novel ini random halaman berapa aja dan pasti nemu typo/salah tulis nama/kalimat ngejelimet di halaman itu. Mana ada scene yang inkonsisten di bagian pertengahan dan menjelang ending.
Ya Allah.
Gue ga tau isi Wattpad-nya kayak apa ya, tapi kalo udah versi cetak gini (yang mana mewajibkan pembeli untuk mengeluarkan uang sekian puluh ribu rupiah) minimal isinya harus udah rapi 90% ya (karena kesempurnaan 100% hanya milik Allah & Gu Won King The Land).
Secara cerita, no komen.
Endingnya biasa banget dan apa kabaaaar Alia & mak-nya?????
Tapi gue masih tetep mau coba baca novel karya penulisnya (& terbitan dari publisher yang sama 😭😂), semoga lebih bagus ya!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Menurut saya, buku ini lebih menekankan segi romansa yang rumit yang dipadukan dengan hubungan pertemanan yang sulit dihindarkan. Kerumitan ini menjadi lebih fatal lagi ketika dibawa ke tahap yang jauh lebih serius seperti pernikahan.
Namun, ada beberapa hal yang nanggung seperti keterlibatan orang tua Alia yang tidak dijelaskan secara spesifik terkait latar belakangnya. Untuk peran dari Tavella dan Marshall aku kira jauh lebih upaya "mempermainkan" ego dari masing-masing mereka. Membawa Eden dalam ceerita ini membuat cerita jauh lebih dinamis dan "imut".
Secara menyeluruh dinamika kisah yang ditampilkan dalam kisah ini menarik terutama perihal hubungan.
I'm in "love-hate relationship" with this book. Aku suka cara Cecil menceritakan kisah duo konglomerat ini, yang membuat aku merasa ikut masuk ke dalam ceritanya. Ya, meskipun di beberapa bab, aku merasa bahwa ada beberapa karakter yang sepertinya mendapat peran yang sedikit. Kesannya menjadi "pemborosan karakter." Sungguh disayangkan, epilognya juga kurang jelas. Padahal, sejak pertama melihat buku ini, lalu tenggelam ke pertengahan cerita, aku sudah membayangkan ending cerita yang indah. Ternyata aku salah, endingnya mengundang pembaca untuk berpikir keras. Tapi ya, itu preference tiap pembaca. Kalau aku, aku lebih menyukai cerita dengan ending yang sudah jelas.
Yeay finally had the chance untuk baca cerita lainnya karya Kak Cecil! Aku suka sekalii sama cerita perjalanan Marshall & Tavella walaupun mostly emang dipenuhi dengan keributan antara mereka berdua yaa. Sayangnya, di buku ada beberapa bagian yang menurutku masih gantung dan mungkin masih bisa diceritakan lagi di dalam buku misalnya reaksi Alia pas akhirnya dia nggak jadi nikah dengan Marshall, apakah Ella akhirnya jujur ke Marshall tentang apa yang terjadi antara dia dan Alia, si hanan plus aku juga menemukan cukup banyak typo :’) but overall i do love the story 👍🏻
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tertarik baca buku ini karena direkomendasiin seorang teman. Abis beli langsung baca selesai malam itu juga, tapi kok agak mengecewakan ya. Pertama, saya nemuin banyak typo dan salah ketik nama tokoh. Kedua, alur yang kurang jelas karena ada beberapa yang bertabrakan. Tokoh antagonis juga kurang dijelasin ya sepertinya jadi gak terlalu dapet konfliknya. Ketiga, ending kok gantung banget ya :( kayak kurang dijelaskan akhirnya gimana.