Saya mencoba membuat ulasan singkat tentang buku ini. Tapi, kalau misalnya jadinya sotoy, maafkan kesotoyan saya ini *nyengir*
Saya merasa, buku ini memiliki "nyawa" yang sama dengan seri Lockwood and Co (saya baru baca buku pertamanya, tbh). Yang dimaksud dengan nyawa di sini adalah, saya merasa kalau universe yang dibangun sedikit mirip. Atau memang penulis terinspirasi dari bukunya Stroud yang itu sehingga membuatnya versi lokal dan versi si penulis sendiri? Saya tidak tahu. Saya juga merasakan ada semacam kesamaan dengan mekanisme horcrux di Harry Potter, meskipun setelah ditelaah (ciye ditelaah segala), rasanya masih terlalu mirip dengan Lockwood (juga mekanisme pengusiran hantunya) ketimbang Harpot.
Kesan pertama saat membacanya di bagian awal, saya benar-benar tertarik dengan buku ini dan sepertinya bakal menawarkan sebuah kisah remaja fantasi yang menjanjikan. Saya suka dengan adegan Trisula dengan guru BK-nya (namanya bukan guru BK, lupa disebutnya apa, tapi fungsinya saya rasa sama) dan tentang guru lain di ruangan itu. Bagaimana si Trisula menceritakan perlawanannya ketika dirisak pun, wow, saya suka.
Lalu, ketika saya melanjutkan membacanya, saya merasakan kekakuan bahasa yang digunakan di sini. Entah ini perasaan saya saja, atau memang demikian. Mungkin penulis memaksudkan ingin membuatnya terkesan seperti novel terjemahan? Atau memang gaya bahasanya begitu? Saya mengira ini berkaitan dengan "aku-kamu" yang digunakan saat berdialog, tapi rasanya bukan. Justru aneh kalau memaksakan "gue-elo" karena setting kisah ini di Medan, bukan Jakarta. Jadi, kekakuan bahasa ini secara pribadi membuat saya merasa kurang santai saat membacanya. Apalagi, ditambah dengan diksi yang kurang familier seperti "maharatu berkilau" atau istilah-istilah lainnya.
Mendekati akhir, saya cukup merasakan keseruannya. Namun, juga berbanding lurus dengan semakin miripnya (menurut perasaan saya) dengan kisah Lockwood waktu menginap di rumah paling berhantu itu. Dari segi cerita jelas teramat sangat berbeda. Tapi, kesan yang saya dapatkan adalah kedua kisah itu memiliki "nyawa" yang sama.
Bagi saya, sebuah buku yang bagus adalah buku yang saat saya membacanya, membuat saya ingin menulis. Buku ini, di bagian awalnya, sukses membuat saya ingin menulis tentang fiksi remaja fantasi (dan karena keimpulsifan serta keabsurdan saya, sekarang saya sudah bikin tiga bab awal cerita saya sendiri T_T #lah). Jadi, ini membuktikan bahwa kesan yang dimiliki oleh buku ini begitu kuat sehingga saya terresonansi karenanya =))
Well, berbicara tentang ending, apakah buku ini dimaksudkan untuk dibuat kelanjutannya? Kalau iya, saya senang sekali. Kalau tidak, sayang disayangkan karena endingnya begitu "bolong" dan "kentang".