"Pada mulanya, Tuhan menciptakan Twin Flames, dua jiwa yang hakikatnya satu, lalu menurunkannya ke dunia dalam dua raga yang terpisah. Perpisahan itu begitu menyakitkan. Tetapi mereka bisa merasakan frekuensi belahan jiwanya meskipun berjauhan dan belum saling kenal. Mereka saling terhubung, saling mencari, karena merasa selalu ada yang kurang jika belum bersatu."
Aleeta Jones mewarisi kekuatan cenayang dari nenek buyutnya di Tiongkok. Takdir membuatnya jatuh hati pada arwah seorang pemuda keturunan Jepang bernama Yuto. Karena cinta, ia ingin Yuto tenang di alamnya. Tetapi Yuto terus membayang-bayanginya. Ketika Aleeta menelusuri silsilah leluhurnya hingga ke Tiongkok, ia tahu bukan hanya dirinya yang mewarisi kekuatan cenayang. Adiknya, Chlea Jones, pun demikian. Celakanya, sebuah kutukan menyertai setiap ahli waris kekuatan itu dari generasi ke generasi. Aleeta dan Chlea pun mencari cara untuk memutus kutukan itu.
Melalui perkamen tua warisan leluhurnya, Aleeta memperoleh petunjuk tentang Twin Flames, Api Kembar, dua jiwa yang hakikatnya tunggal. Jika dua jiwa itu mampu menyatu secara spiritual, ia akan menjadi kekuatan mahabesar yang mampu memutus kutukan. Namun, sebelum benar-benar memahami hakikat Twin Flames, Aleeta menghadapi kekuatan jahat yang mahadahsyat.
Alexia Chen adalah penyuka warna ungu berzodiak Capricorn. Perempuan kelahiran Pontianak yang tertarik dengan segala yang misterius dan supernatural walau sebenarnya penakut ini memiliki koleksi novel yang tak pernah habis dibacanya. Ia berharap orang-orang mengenal dirinya melalui tulisan. Dan ia akan senang jika tulisannya mampu menghibur banyak orang dan kemudian mereka bermimpi bersama dirinya di dalam dunia rekaannya. Ia tinggal bersama suami dan seorang anak lelakinya. Alexia dapat dihubungi secara personal di: pequena_dee@yahoo.com.
Buku yang lama ditunggu-tunggu. Dan senang bisa ikut ngebantu penggarapan novel ini. Baik kita mulai review ala kadarnya: dibanding buku pertamanya, yang kedua ini terasa lebih berat karena mengusung tema Twin Flames. Tema yang belum pernah diangkat oleh penulis lokal (tolong koreksi kalo aku salah). Penjelasan ttg Twin Flames bisa kamu dapetin selengkapnya di buku ini (sengaja ga mau nulis biar penasaran dan beli bukunya *senyum*). Kisah cinta yang gak normal antara Aleeta dan Yuto berlanjut semakin seru karena ternyata Yuto blum bs beristirahat dengan tenang krn terikat kutukan dr nenek buyut si Aleeta, terpujilah engkau Qi Yue, si ghostbuster jadul, LOL
Kutukan tersebut membawa Aleeta, Chlea, Sammy aka Kai, Yuto, dan Anna (tante Aleeta) bertualang sampe di Cina. Ada hantu penasaran lain yang pikun nongol di buku ini. Ada pula hantu sakti yang udah pagi masih aja nongol buat gangguin mereka. Jujur aja sempet merinding waktu ngeproof naskah ini di malam hari. Serem bo! Intinya buku ini mengobati kerinduan kita akan sosok Yuto (udah mulai bingung mo nulis apa tanpa nyepoiler)
Bagiku, novel ini keren! Ayo Dee, aku tunggu kisah selanjutnya ya
Setelah menunggu lebih dari dua tahun, akhirnya sekuel dari A Girl Who Loves a Ghost akhirnya terbit juga. Agak berbeda dengan buku pertamanya yang didominasi kisah romansa unyu-unyu ala drama Korea yang manis, buku kedua ini berkembang menjadi kisah yang lebih tebal, lebih kelam, dan lebih horor. Kesan romansanya masih ada, tetapi aroma utama buku kedua ini adalah aroma horor yang pekat. Membaca buku ini agak mengingatkan saya pada kisah hantu dalam buku Undakan Menjerit karya Jonathan Stroud. Kata-kata seperti kuncian hantu, tekanan hantu, penampakan, dan istilah-istilah lain yang bikin bulu kuduk meremang banyak bertebaran. Terutama di bagian akhir, adegan-adegan horor bertaburan sampai saya yang baca siang hari sendirian pun merinding dibuatnya. Kisah besarnya agak melenceng dari yang saya harapkan, meski saya tetap menikmatinya. Unsur kerapian tulisan menjadi poin tambahan istimewa untuk buku ini.
"Ada dua hal yang membuat arwah tidak bisa beristirahat dengan tenang. Yang pertama ... masih ada kepentingannya yang belum diselesaikan di dunia. Dan yang kedua ... karena rohnya dikutuk." (hlm. 168)
Dalam buku pertama (silakan baca dulu ulasannya) Leeta berhasil mengikhlaskan kepergian Yuto ke alam arwah. Meskipun demikian, selama 3 bulan pertama, Leeta rupanya masih belum bisa benar-benar merelakan kekasih hantunya itu. Hari-harinya terasa kosong dan tak bermakna, penuh kegalauan serta kepedihan, dan ini mengisi hampir lima puluh halaman pertama novel tebal ini. Kegalauan Leeta ini yang bikin buku ini sangat lambat di awal, sangat berbeda dengan buku pertamanya yang bisa langsung menarik perhatian pembaca dengan deskripsi unyu ala drakor. Sementara di buku kedua ini, banyak deskripsi dan narasi yang sepertinya berpanjang-panjang. Bahkan butuh 100 halaman lebih sebelum akhirnya pembaca mulai menemukan petunjuk tentang twin flames ini. Untungnya, Alexia Chen menulis dengan begitu rapi, detail, dan deskriptif banget. Tulisannya konsisten sejak dari buku pertama dan dengan di Nedera.
"Setiap orang memiliki rahasianya sendiri. Sesuatu yang dianggap lebih baik disimpan untuk diri sendiri daripada dibagikan pada orang lain." (hlm. 190)
Di buku pertama pula, Leeta mengetahui bahwa leluhurnya adalah seorang penyihir. Inilah yang kemudian turut menjadi penggerak buku kedua ini. Selain mengetahui bahwa adiknya, Chloe, juga sama-sama bisa melihat hantu seperti dirinya, Leeta akhirnya mengetahui sebuah rahasia turun-temurun dari keluarga mereka. Sebuah kutukan mengerikan membanyangi generasi demi generasi keluarga ini. Kutukan itu pula yang ternyata membuat Yuto tidak bisa tenang di alamnya. Ya, hantu Yuto kembali ke dunia dan membayangi Leeta. Yuto bahkan merasuki saudara kembarnya, Hiro, yang sedang berusaha mendekati Leeta. Belum selesai dengan masalah ini, Leeta harus menghadapi masalah lain karena ada sosok-sosok hantu lain yang juga mengikutinya. Kali ini, penampakan tersebut tidak hanya membuatnya bergidik, tetapi bahkan hampir mencelakakannya.
"Twin flames itu terlahir pada kakak-beradik dalam satu silsilah keluarga. Mereka akan melemah jika terpisah, dan menjadi kuat di saat bersatu. Api kembar pembawa harapan." (hlm. 383)
Untungnya, kali ini Leeta tidak sendirian. Bersama Chloe yang juga bisa melihat hantu, Leeta diperkenalkan dengan tante Anna yang ternyata juga sama-sama menanggung kutukan keluarga tersebut. Dikatakan bahwa kutukan itu akan berakhir pada generasi ketujuh oleh kekuatan si api kembar. Tetapi, untuk mematahkan kutukan tersebut, mereka harus kembali ke asal muasal kutukan sekaligus tempat dari keluarga besar mereka berasal: Tiongkok. Porsi cerita saat di Tiongkok inilah yang paling menarik di buku ini menurut saya. Setelah terbuai dalam alur yang lambat hingga setengah buku, mulai halaman 300 buku ini mulai menunjukkan keseruannya. Petualangan Leeta, Anna, Chloe, dan Kai--cowok teman dekatnya--ke Tiongkok membawa mereka pada sebuah rumah tua angker yang dihuni sosok-sosok misterius yang tidak hanya luar biasa menyeramkan tetapi juga akan menjawab asal muasal dari kutukan turun menurun di keluarga mereka.
"Ketakutan adalah penghalang terbesar untuk mencapai tujuan. Saat ini yang harus kau pegang teguh adalah harapan, dan keyakinan bahwa tidak ada yang tidak bisa kami hadapi jika kami percaya. Harapan itulah yang menuntunku, membuatku kuat." (hlm. 260)
"Kehangatan dan harapan. Kedua hal itu melebur ke dalam aroma yang menamakan dirinya rumah. Bau hangat rumah. Aku telah pulang."
"Jangan khawatir. Kali ini aku tidak akan bersembunyi darimu lagi, Leeta. Karena itu akan membunuhku. Seandainya aku masih bernapas."
"Kenapa kau kembali, Yuto?" "Karena aku tidak pernah bisa jauh darimu." "Kalau begitu, jangan." "Selama kau menginginkanku tinggal." "Selamanya."
"Aku sudah pernah melepasnya sekali. Jadi, apa susahnya melepas dia untuk yang kedua kalinya."
Saya suka suka suka sama novel trilogi Aleeta-Yuto ini. Ide ceritanya unik dan alurnya rapi. Ini seri keduanya, sama seperti seri pertamanya, saya jatuh cinta sama tulisannya Alexia Chen yang bergaya formal dan terjemahan (saya memang agak ilfil sama novel2 yg bahasanya gaul, mungkin krn udah bukan masanya saya lagi, haha...) Alexia berhasil membuat karakter dalam novelnya hidup (bahkan tokoh hantu-hantu yang lain, jujur mbak, bulu kuduk sempat merinding karena bacanya pas malam hari, pdhl bukan novel horor, hahaha...) dan bikin dada berdebar setiap kali membacanya (maksudnya membaca nama Yuto sebagai si hantu tampan ^^) Tak sabar menunggu seri ketiganya. Yutoooooo.......
Membaca buku ini pada awal November 2018. Sepulang dari Sydney, Australia. Saat itu, ada banyak kejadian dan pengalaman spiritual, hingga pertemuam saya dengan past life karmic link, My Twin Flames.
Menyadari bahwa dunia kami sangatlah berbeda. Meskipun ada banyak kemiripan & kesamaan, dalam hal ide, minat, kebiasaan, dan hal-hal lainnya. Kami belajar, bahwa pertemuan dan seluruh pembelajaran itu dapat kami simpulkan, sebagai pembelajaran berarti di kehidupan kami saat ini.
Tujuh taun berlalu, tujuh tahun dalam proses pertemuan-perpisahan-pertemuan kembali.
Meyakinkan kami, bahwa semesta ini sangatlah luas.
Aleeta Jones yang mewarisi kekuatan cenayang dari nenek buyutnya, ia bertemu dengan arwah pemuda Jepang bernama Yuto. Aleeta menemukan konsep twin flame, yaitu dua jiwa yang sebenarnya tunggal, dan berupaya menyatukan diri dengan Yuto untuk memutus kutukan kuno yang menyertai kekuatan cenayang mungkin dapat dimaknai sebagai cerita kuno di era modern saat ini.
Twin-Flames, one soul in two separates body.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bagus Kak, ceritanya gampang dibayangkan dan kata-kata penjelasnya begitu jelas. Ceritanya mengalir meskipun membawa lumayan banyak konflik. Sosok Chle yang maskulin, bener-bener mengagumkan. Overall, great story!
Sebenarnya ceritanya bagus hanya saja tll banyak kata dan cerita unt menyampaikan isi shg spt membosankan membaca melingkar lingkar .tp aku suka ide ceritanya mkn perlu bumbu lagi agar LBH menarik jiwa
masih bingung....ini maksudnya jodoh aleeta itu adek perempuan nya sendiri? HAH?????😭😭😭 trs maksudnya Yuto ada di dalam tubuh adek perempuan lewat itu apa....
Istilah twin flame terdengar megah—dua jiwa yang berasal dari satu sumber kosmik. Tapi dalam cerita, konsep ini sering dipakai seperti jawaban instan untuk menjelaskan kenapa dua tokoh harus saling terikat. Alih-alih berkembang lewat dinamika hubungan yang kompleks, kadang rasanya seperti: mereka berjodoh karena “sudah ditakdirkan semesta”. Romantis, iya. Dramatis? Kadang malah terasa shortcut.
Awalnya novel ini seperti romansa supernatural yang melankolis, tapi semakin jauh cerita berjalan, ia berubah menjadi horor, petualangan mistik, bahkan drama keluarga lintas generasi. Ambisi ini sebenarnya menarik, tapi efek sampingnya: tonalitas cerita terasa tidak selalu stabil. Saya yang datang untuk romansa bisa kaget ketika cerita tiba-tiba menjadi seperti eksplorasi rumah berhantu atau ritual mistik.
Singkatnya, Twin Flames: Belahan Jiwa adalah novel dengan ide besar—cinta lintas jiwa, kutukan keluarga, spiritualitas—tetapi kadang terlihat seperti cerita yang punya terlalu banyak ide sekaligus dan belum semuanya benar-benar diperdalam.
Benar, gaya penulisannya seperti dikatakan beberapa orang, seperti membaca novel terjemahan. Tapi berkat penggambaran detail setiap emosi dari tokoh, membacanya tetap terasa nikmat. Kisah awal yang agak lambat tapi bertahap semakin seru membuat novel setebal itu satu hari habis terbaca.
Penyelesaiannya sangat manis, secara logika Yuto akan menyadari ketidakmampuannya membahagiakan Aleeta seiring waktu kesadaran Aleeta bahwa belahan jiwanya ternyata begitu dekat.
Maaf ya soulmate minggir dulu, ini pawang twin flamenya sudah reconnected 😁
This entire review has been hidden because of spoilers.