Psychology investing
- Kita sebagai seorang investor tidak boleh overconvidence, over convidence akan membuat investor terlalu banyak melakukan trading dan overconvidence bisa berujung pada return yang di hasilkan investor, hal ini juga akan menimbulkan bias tentang pemilihan saham
- antara kebanggaan dan penyesalan. Investor akan merasa bangga akan pilihanya sendiri ketika mendapatkan return yang positif, dan sebaliknya, investor akan menyesel akan keputusanya jika mengalami kerugian, tetapi efek tersebut akan berkurang jika investor memilih reksadana, karena kesalahan dalam pengambilan keputusan karena orang lain atau hal hal diluar kendali mereka
- Mengenai persepsi tentang resiko, kebanyakkan investor mengambil resiko sesuai dengan keadaan masa lalu mereka. ada beberapa hal yang mempengaruhi managemen resiko para investor 1. House of money atau uang bandar, investor akan cenderung menaikkan resiko ketika saham pilihan mereka telah mengalami kenaikan sebelumnya, mereka berfikir bahwa mungkin jika kehilangan itu bukanlah uang mereka, melainkan uang hasil pemberian, sehingga mereka berani menaikkan resiko. 2. Snake bite atau gigitan ular, kondisi seperti ini adalah ketika investor pertamakali terjun kedunia investasi atau membeli sebuah saham dan harga saham tersebut memberikan return negatif, investor akan berpikir berulangkali untuk kembali berinvestasi atau membeli saham yang sama, dan mereka memilih untuk lebih hati hati dalam menakar resiko kehilangan uang mereka. lalu yang ke 3. Break even point, atau kembali ke modal awal, kondisi ini adalah selayaknya pejudi yang kalah, dan terus terusan bermain hanya untuk mengembalikan modal mereka, mereka tidak memahami seberapa besar resiko kehilangan uang mereka, yang terpenting adalah bagaimana uang mereka bisa kembali atau balik modal.
- Framing, pengambilan keputusan investasi juga bisa berdasarkan suatu framing, apakah framing itu positif (mendapatkan keuntung) atau negatif (mengalami kerugian) dalam sebuah framing, peran fungsi kognitif juga sangat berpengaruh
- Mental akuntansi, mental akuntansi adalah sebuah mental dimana kita lebih melihat jangka waktu dalam penggunaan atau kebermanfaatan, kita akan rela berhutang sebuah smartphone dengan cicilan 12 bulan daripada umroh terlebih dahulu lalu mencicil biaya umroh yang kita keluarkan. dalam mental akuntansi terdapat anggaran mental, dimana mental ini terbentuk dari kita melacak dan mengontrol pengeluaran, lalu sunk cost effect, atau efek biaya hangus, ini adalah efek dari kita mengorbankan sesuatu, misal kita hendak pergi menonton konser, tapi 30 menit sebelum konser hujan lebat menerpa, dan kita dihadapkan dalam sebuah pilihan antara kita tetap berangkat atau kita merelakan uang
- Menyusun portofolio, sebaiknya menyusun portofolio haruslah sesuai dengan tingkat resiko dan tujuan investasi
- Bias, sebagai seorang investor kebanyakan para investor lebih percaya perusahaan dimana mereka bekerja, perusahaan yang dekat dengan lingkungan mereka dan produk yang mereka gunakan sehari hari
- keputsan investasi juga bisa dari interaksi sosial, contohnya jika teman anda membeli saham A dan anda mendapat sebuah insight bahwa saham A akan naik, jika anda tidak memiliki conviction yang kuat anda akan ikut ikutan (FOMO) dalam membeli saham tersebut
- Emosi sangat mempengaruhi keputusan investasi, dimana dalam optimisme terkada orang tidak memperhatikan resiko dalam berinvestasi, dan sebaliknya, seseorang yang pesismis akan selalu mengukur tingkat resiko.
- selain faktor psychologis, polah asuh dan genetika juga mempengaruhi dalam pengambilan keputusan investasi