Emha Ainun Nadjib, nama yang tak asing lagi bagi sebagian besar orang Indonesia. Sosoknya sangat merakyat. Dia melebur kemana saja. Dia dikenal sebagai sastrawan, budayawan, tokoh mbeling, namun tak sedikit pula yang menganggapnya sebagai tokoh agama. Siapakah sebenarnya Cak Nun? Bagaimana perjalanan hidupnya hingga bisa tumbuh dari seorang anak biasa di Jombang menjadi salah satu tokoh bangsa yang bahkan ikut berperan penting di masa krisis 98? Apa keistimewaannya sehingga Cak Nun dijadikan teladan oleh begitu banyak generasi muda? Bahkan mereka pun kemudian ikut bergerak mendirikan dan membangun jaringan Maiyahan di berbagai kota demi menyebarkan ajaran Cak Nun untuk bangsa.
Buku ini mengisahkan tentang kembara sunyi seorang Emha Ainun Nadjib. Bagaimana seorang Cak Nun berproses dan berguru pada kehidupan sebelum akhirnya beliau menjadi guru kehidupan bagi para anak bangsa melalui gerakan Maiyah. Berasal dari riset yang mendalam dan cermat, Semesta Emha Ainun Nadjib akan mendekatkan pembaca kepada sosok yang kadang dianggap mbeling namun dicintai oleh banyak orang ini.
Saya agak terkejut ketika mendapati buku ‘Semsta Emha’ ini sebagai sebuah naskah akademik. Rupanya, Emha Ainun Nadjib sebagai individu telah jadi referensi beberapa karya akademik yang lulus untuk diujikan. Pun, ketika menjelma simpul-simpul Jamaah Maiyah di seluruh Nusantara. Ada banyak sudut pandang yangbisa digunakan untuk membahas seorang Emha.
Buku ini dimulai dengan menguraikan potret seorang Emha Ainun Nadjib. Semacam biografi kecil yang tidak mencapai 1 bab. Pembahasan menjadi kian mendalam ketika menguraikan faset-faset perjalanan Emha Ainun Nadjib. Mulai dari masa kecilnya di Jombang, kemudian fase Malioboro dimana Emha mengenal Umbu, fase teatrikal bersama Dinasti, pementasan Lautan Jilbab, keterlibatan Emha dengan ICMI dan politik, Pak Kanjeng, Padhang Mbulan, fase reformasi hingga yang terkini adalah fase Maiyah.
Yang terjadi pada bab-bab selanjutnya adalah sebuah filsafat dalam memandang objek berupa Emha Ainun Nadjib. Emha diuraikan dari sudut pandang Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Ontologi berbicara tentang kosmologi Emha, bagaimana filsafat dasar Emha sehingga kemudian menghasilkan sebuah eksistensialisme dan metafisika cinta. Epistemologi Emha mengetengahkan kesadaran dan pengetahuan sebagai sebuah kesatuan dalam mencapai kebenaran. Aksiologi Emha membahas etika dan estetika seni yang dijalani oleh Emha. Filsafat pendidikan ala Emha pun terpapar didalamnya.
Filsafat dasar Emha yang telah terbentuk sedemikian rupa kini diejawantahkan sebagai sebuah pemikiran kebudayaan. Sepak terjang Emha dalam bidang sastra, seni dan ideologi dikupas menjadi sebuah eksekusi dari filsafat dasar yang melingkupinya. Hal ini kemudian membawa pembaca pada sebuah teori relativisme kebudayaan dan kebudayaan Ilahiah dari seorang Emha Ainun Nadjib.
Semesta Emha yang multidimensi itu menghasilkan sebuah potensi besar terhadap kemanusiaan. Potensi pemikiran Emha yang humanis itu diteruskan oleh Emha untuk menemani bangsa Indonesia hingga saat ini. Emha dengan segenap perangkat kemaiyahannya terlihat berjalan di arus bawah masyarakat sekelilingnya. Jelas hal ini adalah bukan sesuatu yang populer, melainkan suatu jalan yang sunyi. Gagasan-gagasan kemanusiaan Emha dari berbagai sumber nilai bersifat dialektis dan dinamis dengan dilandasi konsep kesadaran untuk membangun peradaban yang luhur.