“Tukang potong kep sedang mencari kepala anak-anak.” Aku bergeming. Tak merasa perlu gemetar seperti ketika pertama kali me - ngetahui kep itu artinya apa. “Ah, yang macam beginian cuma cerita omong kosong saja,” aku menyahut begitu dengan nada tak acuh. Sendy jadi tersinggung. Ia mendelik, mengangkat kepalanya, dan memelototiku, “Baik, kalau tidak percaya. Coba saja kalau tidak percaya. Lihat akibatnya nanti.” “Jembatannya sudah jadi. Tidak perlu lagi kepala anak-anak,” aku menantangnya. “Perlu kepala anak-anak,” Sendy ngotot. “Tetap perlu.” “Mau ditanam di mana lagi?” “Di bawah jembatan. Memang mau di mana lagi?” “Kenapa kamu tidak takut sama dia?” tanyaku. “Kamu anak-anak juga, sama seperti aku.” “Tidak sama. Tukang potong kep suka kepala anak-anak berambut lurus.”
Dibuka dengan ‘tukang potong kep’, kisah tentang tentara Jawa dan keluarganya yang tinggal di Papua tahun 1970 mengalir dari sudut pandang anak berusia tujuh tahun. Asih, tokoh utama dalam cerita ini, dengan berani sekaligus lugu, memotret kehidupan Jayapura, Papua di awal masa integrasi. Dibalut kisah masa kecil yang menyenangkan, permasalahan domestik hingga politik ditampilkan oleh penulis tanpa mengurangi rasa manis kehidupan anak-anak hingga akhir cerita.
Akhir-akhir ini saya banyak membaca novel bertema/bertokoh utama anak-anak; sebut saja Genduk, Di Tanah Lada, Semua Ikan di Langit (jika boleh dibilang demikian), dan Lengking Burung Kasuari ini. Beda novel ini dari ketiga judul yang saya sebutkan adalah konfliknya. Jika Genduk, Di Tanah Lada, dan Semua Ikan di Langit memiliki konflik serius, lain halnya dengan Lengking Burung Kasuari. Bisa dibilang novel ini minim konflik. Rasanya keseluruhan cerita datar saja. Tapi setelah saya pikir-pikir, bukankah rasa takut dimarahi tetangga, dikejar-kejar binatang, teror cerita tukang potong kepala merupakan konflik tersendiri bagi anak kecil?
Terlepas dari itu, saya sangat menikmati sekali alur cerita yang dibangun Nunuk dan setting waktu yang dipilih. Saya pernah merasakan hidup di jaman minim teknologi, dimana TV masih langka, dan gadget hanya ada dalam buku fiksi ilmiah. Bermain di pekarangan rumah di siang hari adalah kegiatan yang sangat menyenangkan dan ditunggu-tunggu sepulang sekolah. Di novel ini berulang kali digambarkan Asih, Tutik, Watik, Sendy bermain-main riang di siang hari hanya dengan menumbuk-numbuk dedaunan. Saya kecil pun merasa demikian. Tidak pernah absen di pekarangan tetangga seusai sekolah.
Terlebih lagi, sosok Bapak yang digambarkan novel ini adalah sosok bapak yang sabar, penyayang, melindungi, dan pekerja keras. Sembilan puluh persen menggambarkan sosok bapak saya (minus profesi tentaranya hehe). Berkali-kali selama membaca saya berteriak 'That's my dad!'.
Teror cerita pemotong kepala anak-anak pun pernah saya dengar ketika kecil. Bedanya di tempat saya, kepala anak kecil digunakan untuk persembahan mesin pabrik gula. Duh, ngerinya minta ampun kala itu.
Dari pengalaman-pengalaman masa kecil yang kurang lebih sama itulah, saya berpikir dan saya berniat dari awal untuk membaca novel ini dengan 'kepala anak-anak'. Alhasil, saya suka cerita ini. Saya berterima kasih untuk Ninuk. Terima kasih telah membangkitkan memori-memori indah masa kecil saya.
Well, kenapa bintang tiga? Secara obyektif, novel ini 'main aman' saja, tanpa adanya konflik besar dari kacamata orang dewasa. Saya hanya menikmati membaca dengan mengingat kembali jaman kanak-kanak.
bila anda membaca buku ini dan berkekspektasi akan sedahsyat tanah tabu, atau minimal setara dengan isinga, speerti halnya saya, maka anda akan siap-siap kecewa sebagaimana saya. saya memang sedari awal hanya ingin menikmati cerita perihal asih dan dunia papua yang dibangun penulis. apalagi sedari awal penulis sudah membimbing perihal tukang potong kep yang menghantui dunia anak-anak asih. itu hal yang jamak di jawa bila ingin membangun jembatan konon harus digati dengan kepala manusia.
tapi di tengah-tengah, cerita justru bergeser ke persoalan komplek dan rumah keluarga asih. dan kita tidak diberi jawaban atau misteri lebih lanjut soal tukang potong kep ini.
narasinya mengalir sih, sedari kalimat pertama saya sudah menduga akan ada aroma femina manis-manis gimana gitu. dan kalau dugaan saya benar novel ini adalah narasi panjang atas kenangan penulis tentang masa kecilnya yang dihabiskan di tanah papua.
enggak nemu apa yang ditemukan juri lomba DKJ dan juga juri Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. cerita anak-anak berlatar sejarah awal bergabungnya Irian Jaya ke NKRI. banyakan tentang dolanan pasar-pasaran. dah, itu saja.
Seven-year-old Asih and her Javanese family (military dad, business-oriented mom, prodigal little sister), moved to the newly established province of Irian Jaya (now Papua and West Papua). This book is the slice of life on her first two and a half years living in the humble military housing complex in Jayapura during the turbulent years following Papua's early days of joining the Republic of Indonesia.
They were turbulent years in history, but through the eyes of Asih, the terror of a neighbor and the absence of her parents at home due to the demands of their professions eclipsed all of those. In fact, the political struggles happened outside of her periphery, mentioned by adults every once in a while. So if you're looking for a political commentary about Papua in the 1970's, this is not one. This is meant to be a memoir.
There were passages that allude to the racial issues but I can't say they were written to address them, at least not in the way that satisfies me. The half-baked racial topics resulted in ambiguous undertones. Not rampant, but some became issues that stayed in the back of my mind while I read.
Despite all that, I quite enjoyed it. A breeze of a read with entertaining narration.
ini adalah buku ke-4 yang saya baca dari daftar pemenang novel sayembara DKJ tahun 2016
berkisah tentang seorang anak perempuan yang masih sekolah di SD dan tinggal di Jayapura bersama orang tua nya, dimana bapaknya menjadi tentara yang harus bertugas ke berbagai tempat anak tersebut bernama Asih, dan dia mempunyai seorang teman bermain di sekitar rumahnya, bernama Sendy
tadinya saya sempat merasa bahwa buku ini akan seru, apalagi ada istilah "tukang potong kep" alias orang yang suka potong atau memenggal kepala yang diyakini bisa memperkuat fondasi jembatan (sepertinya saya pernah nemu hal seperti ini di cerpen, entah siapa penulisnya), tetapi sepanjang buku ini, istilah "tpk" ini ga terlalu sering2 amat disebut, seperti sekilas saja
Asih serta adiknya, Tutik menjalani kehidupan seperti layaknya anak2 SD pada umumnya, yaitu bermain, bersekolah, dan saya merasa bahwa Asih di sini cukup lugu, polos, dan tidak sepintar adiknya yang meskipun masih bersekolah di TK, namun ternyata Tutik lebih rajin ketimbang Asih
kalau dibandingkan dengan 2 novel rasa Papua yang sempet masuk nominasi Kusala, rasanya masih jauh #IMO
Pemenang unggulan novel DKJ sekaligus pemenang Kusala Sastra 2017 serasa novel Gaiman yg menang Hugo sekaligus Nebula. Reputasi yg gak main2 yg telah dikantongi oleh novel ini membuatku tertarik untuk membacanya - selain jg ilustrasi kovernya yg cantik -meski sinopsisnya tdk terlalu memanggil2ku.
Alhasil, stlh membaca, malah berasa spt novel Newbery medal. Kisah sebuah keluarga tentara yg ditugaskan di Irian di era 1970-an, dituturkan dari sudut pandang lugu Asih, seorang bocah berusia 7 tahun. Rupa2 kjdn dialami Asih, mulai dr pertemanannya dengan anak lokal, kehidupannya sehari2 sbg anak kolong, kesibukan orang tuanya yg membuat ia dan adiknya kesepian, hingga perselingkuhan tetangga rumahnya yg judes gak kepalang.
Bagus sih, semuanya tertangkap dengan wajar dan mengalir. Shock culture digambarkan dengan halus bersahaja, bahkan untuk topik2 sensitif seperti perbedaan agama, perbedaan prinsip dalam kehidupan (bertani vs mengambil dr hutan) ataupun politis (DOM). Tapiiii... aku kurang begitu suka alur tanpa konflik utama seperti ini. Benang merah cerita di sinopsis ttg tk potong kep, hanya jadi tempelan di awal dan akhir. Tidak ada unsur signifikannya. Boleh jd ini adalah metafora kecemburuan Sendy thd Asih yg 'njawa' (rambut lurus, kulit cerah) yg paralel dengan ide moderintas Irian. Bahkan burung kasuari yg jd judul novel ini pun pada gilirannya mesti mengalah pada 10 anak ayam peliharaan Asih.
Saya terkesan dengan buku ini karena penulis dapat menghidupkan suasana Papua dengan saksama seolah-olah saya berada di Papua. Mungkin karena penulis pernah sebelumnya tinggal di Papua sehingga bisa menjadi modal setting untuk cerita ini .
Buku ini menceritakan kisah kehidupan Asih dan Adiknya Tutik yang bersama-sama orangtuanya tinggal di Papua. Ayahnya bekerja sebagai seorang tentara dan ibunya berdagang untuk menyanggupi nasib keluarga mereka. Itu inti yang saya tangkap dari cerita ini. Saya sempat mengira akankah buku ini akan seperti Tanah Tabu karya Anindita S Thayf tetapi jujur saya lebih menyukai Tanah tabu ketimbang cerita yang satu ini meski sama-sama masuk didalam DKJ
Nunuk Y Kusmiana tidak mengajak pembaca untuk berlenggak-lenggok dalam konflik besar atau sebuah petualangan pikiran rumit yang menguras tenaga. Ia hadir dengan kisah tentang seorang gadis yang masih menatap dunia dengan kepolosan. Asih, sang tokoh utama, menciptakan kesederhanaan, kehangatan, dan nuansa anak-anak tanpa mengabaikan kejadian-kejadian yang dialami orang dewasa. Menjadi pendatang di tanah Papua, Asih dan keluarganya mesti menghadapi berbagai penyesuaian. Mulai kondisi rumah yang sempit, gaji sang Ayah yang minim, hingga sang Ibu yang mesti menyambi untuk membuka usaha demi menutup pengeluaran keluarga. Dalam perjalanan kisahnya, masalah-masalah domestik Asih menjadi daya tarik. Berhadapan dengan Tante Tamb, tetangga yang semaunya sendiri; atau yang mendalam seperti kerinduan Asih terhadap Ibunya yang jarang berada di rumah. Baik konflik "besar" maupun "sepele" tetap disampaikan dengan kesederhanaan ala anak-anak, ala Asih.
Meski terkesan kurang dinamis, namun kisah ini kuat dalam gaya penyampaian, dan menitikberatkan pada kesederhanaan, meski tersimpan ruang pesan yang pembaca mesti isi sendiri. Melalui mata Kasuari, atau ketakutan akan Tukang kep.
Saya nggak menemukan sesuatu yang luar biasa dari buku ini sampai saya agak bingung, dari sisi mana juri DKJ memandang istimewa Lengking Burung Kasuari? Meski begitu, saya akui memang novel ini membawa saya pada nostalgia kisah seorang anak kecil (Asih) dan keluarganya yang pindah dari Jawa ke Papua, mengikuti sang ayah yang seorang tentara. Mungkin karena ditulis dari sudut pandang anak kecil, hal-hal yang bisa dijabarkan pun terbatas agar nggak menimbulkan tanda tanya di benak pembaca—meski saya menemukan kejanggalan darimana anak kecil (yang masih SD pula), bisa tahu seluk beluk operasi Dwikora sedemikian detail? Padahal sumber utamanya hanya sang ayah?
Sampai setengah buku saya sempat ingin berhenti karena cerita hanya berputar-putar di satu tempat, terlebih cerita tentang Tante Thamb yang hobi mencari kesempatan dan menitipkan anak. Saya sempat kesal dengan tokoh yang satu ini. Barangkali hal yang paling saya suka dari Lengking Burung Kasuari adalah soal sosok ibu yang tetap berusaha berjualan ketika ia menyadari kalau gaji sang suami nggak akan cukup untuk menghidupi keluarganya. She's amazing, walau kadang menjengkelkan juga.
"Novel ini bercerita tentang kehidupan keluarga tentara yang pindah ke Irian Jaya pasca bergabung dengan NKRI. Dengan sudut pandang semesta anak kecil, ramai persoalan ringan namun berkesan. Konflik yang dihadirkan sangat sesuai dengan karakter tokoh dan nalar pembaca. Tidak dilebih-lebihkan dan tidak juga ekstrim. Pondasi cerita kokoh, deskriotif yang membuai dan unsur kemajemukannya pas."
Aku kasih nilai ini udah baik, beneran. Karena memang di mataku, ini biasa saja ternyata. 'Tukang potong kep' yang dibahas sedari awal hanya berujung 'oh gitu doang'; hanya terkesan sebagai bumbu cerita.
Yang kusuka dari sini hanyalah lingkungan Papua pasca merdeka yang digotong menjadi latar cerita ini--mengingat aku jarang mendapati yang seperti ini--ditambah tokoh utamanya yang berasal dari Jawa. Jadi, sedikit banyak aku tahu bagaimana waktu itu para perantau harus bertahan hidup di Papua, terutama mengatasi masalah makan dan mencari penghasilan.
Di luar itu, aku tidak menemukan sesuatu yang luar biasa. Sudut pandang anak kecil yang 'kurang pintar' tapi gemar mencari tahu (Asih) juga tidak terlalu menarik minat baca. Sayangnya, karena dia masih anak kecil, si tokoh utama jadi punya keterbatasan untuk mengulik lebih dalam tentang konflik yang dihadirkan. Misalnya, soal mengapa Tante Tamb gemar mengusik Asih, atau mengapa Ibu dan Bapak tidak pernah sejalan dalam urusan bisnis.
Cerita ini hanya lebih banyak berpusat pada anak kecil, oleh sebab itu adegan demi adegan terkesan berjalan dengan datar-datar saja. Hanya sebatas dunia anak kecil, tidak bisa lebih. Bagiku, ini malah membosankan dan 'suram'; maksudku tidak bisa membuatku terhibur.
Pada akhirnya, aku tidak begitu merekomendasikan buku jebolan DKJ yang satu ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sebagai pemenang unggulan Sayembara Novel DKJ 2016 dan peraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017, Lengking Burung Kasuari dalam pandangan saya merupakan novel tanggung. Buku ini lebih banyak memotret sepenggal lika-liku kehidupan Asih dan keluarganya selama tahun-tahun pertama tinggal di kompleks tentara yang sederhana lagi biasa-biasa saja meskipun pada tahun yang sama (1970-an) tanah Papua masih penuh gejolak setelah menyatakan bergabung dengan NKRI.
Apakah kurang menarik? Nah, ini letak tanggungnya. Saya menyukai narasi-narasi perihal kehidupan sehari-hari Asih, yang sekolah, bermain, belajar, dst. itu membangkitkan kenangan masa kecil saya yang serupa (meski saya tidak sampai merantau ke mana-mana). Ya begitulah memang kesehariannya bocah tujuh tahun. Tidak saya, tidak pula pembaca. Rata-rata, alias sebagian besar merasakan demikian. Yang saya kurang suka itu kisahnya tidak tuntas.
Saya menaruh ekspektasi tinggi sebelum membaca buku ini, mengingat penghargaan yang sudah diraih dalam Sayembara DKJ 2016 dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Namun, ternyata cerita ini tidak mengandung klimaks. Di samping itu, penggunaan burung kasuari sebagai judul agaknya kurang pas mengingat hewan tersebut sepanjang buku ini tidak memegang peran yang berarti-berarti amat, seperti ingin menunjukkan saja bahwa buku ini berkaitan dengan tanah Papua. Tukang potong kep- yang disinggung sejak halaman awal buku juga seperti dibuat untuk meninggikan ekspektasi pembaca akan konflik menarik yang bakal terjadi di tengah-tengah buku. Sayang itu tidak terjadi.
Hal yang patut dipuji adalah penuturan yang dilakukan dengan cukup baik, khas keluguan seorang anak rantau, mengingat cerita disajikan dari sudut pandang anak kelas 1 SD.
Dengan kepolosan yang sangat cerdas digambarkan ka Nunuk Y Kusmiana pada sosok Asih yang membuat sosok Asih seakan hidup dan benar terjadinya.
Keluarga tentara yang berkeluargakan keluarga kecil Nan manis yang di sekelilingi oleh tetangga tetangga yang beranegaragam. Kisah mereka berawal dari situ.
Kepolosan anak usia 6 Tahun yang kadang bikin jantung degdegan dengan kepolosannya tapi kadang bikin tertawa dengan ketidaktahuannya.
Kisah adat jawa yang harus berbaur dengan keras nya tanah Jayapura yang menggambarkan berapa Indonesia ini luas dengan bhineka tinggal ika nya yang digambarkan oleh tempat tinggal Dan lingkungan mereka.
Over all cerita nya cukup asik dengan kepolosan seorang anak kecil yang benar benar polos.
buku yang ringan untuk dibaca, konflik tidak terlalu berat, atau malah tidak ada konflik? buku ini membuat saya berpikir bahwa, jangan terlalu terpaku pada sinopsis. karena inti cerita buku ini, tidak seperti yang ditulis pada sinopsis.
hanya saja buku ini kurang emosi, terasa terlalu hambar. rasa penasaran yang timbul atas tukang potong kep di awal cerita, harus ditimbun karena kejadian-kejadian lain, dan akhirnya hingga tamat, buku ini tak bercerita tentang potong kep. justru tentang lengking burung kasuari yang tak pernah saya perhatikan.
saya berekspetasi bahwa akan diceritakan bagaimana jayapura kala itu, entah menceritakan alamnya atau kehidupannya melalui orang-orang. hanya saja itu tak terlalu ditonjolkan oleh penulis
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tertambatnya "Burung Kasuari" dan "Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa" pada karya ini hanya mendatangkan beban berupa ekspektasi tinggi calon pembaca. Pada kasus saya, karya ini gagal memenuhi ekspektasi grande tadi
Cerita yang 'pelik' dikemas dengan kepolosan khas anak-anak. Tentang hidup yang penuh perhitungan, perencanaan, keberanian, kejujuran, kemarahan, ketegangan, ketenangan, semuanya diramu menjadi sebuah kisah yang dituturkan oleh anak.
Buku yang menceritakan ttg kehidupan sehari-hari anak SD di lingkungan baru. Buku ini benar-benar minim konflik, jadi dataaar aja. Ceritanya mengambil sudut pandang seorang anak kecil yang masih polos. Cocok dibaca kalau lg ga bisa baca buku dgn alur yg rumit👌
Ceritanya bagus banget. Dengan tokoh utamanya Asih, anak kecil dari pulau Jawa yang harus ikut merantau ke Papua. Walaupun aku belum pernah ke Papua, tapi feel-nya dapat. Terus sudut pandang asih sebagai anak SD itu pas banget penggambarannya.
Suka dengan gaya bahasanya yang mengalir. Kekurangannya saya rasa dari konfliknya yang kurang mengena. Cukup datar. Tapi selamaaaat, novel ini bisa memenangkan DKJ dan Kusala. ❤️
Ada kisah masalah domestik rumah tangga dari seorang perwira TNI yang ditugaskan di Irian Jaya sesaat wilayah ini masuk dalam NKRI, yang dibalut dengan kepolosan cerita sudut pandang anak usia SD.
Buku ini menyenangkan untuk dibaca, hahaha. Tidak perlu banyak mikir karena sudut pandangnya anak-anak. Konflik-konfliknya sederhana saja, tapi saya rasa penulis berhasil memotretnya dengan tepat.
Bagus buat hiburan ngisi waktu gabut Gk bereksptasi banyak konflik di blurb udah dijelasin tokohnya bocil 7 tahun Tentang burung kasuari sama tukang potong pas mau ending kurang greget ihh 😭 Kasian Asih sama Tutik sering kesepian 😔 Sendy ngeselin gitu kalo ngomong kadang sombong apalagi Tante Tamb suka nyuruh2 Asih kepergok selingkuh pula 😤