Sepuluh cerita pendek yang terdapat dalam buku ini memuat kekayaan permainan budaya timbal-balik yang dioleh kembali oleh seorang pengarang India. Meski pun cerita-cerita yang dimuat hanya memetik gema dari belahan India, namun pada hakikatnya yang dituturkan di dalamnya tak lain adari hakikat kemanusiaan, pergumulan manusia menghadapi hidup dalam segala kesemrawutannya. Beberapa di antara cerita-cerita tersebut berdasarkan kisah sejati. Perubahan tradisi dalam pernikahan dan kehidupan seorang janda, siksaan politik dan kisah percintaan yang sederhana maupun rumit, merupakan masalah-masalah yang diangkat oleh Saloni Narang. "Gelang warna-warni" mengungkapkan tanpa ragu keadaan India masa kini, dengan perubahan tradisi dan sejarah yang kadang menyakitkan dan kadang sangat menguntungkan.
Suprise bukan suprise: buku propaganda anti-komunis.
Sulit membaca buku terjemahan terbitan obor setelah membaca buku Kekerasan Budaya oleh Wijaya Herlambang. Tanpa mereduksi cerpen-cerpen dengan isu keperempuanan yang dibahas di kata pengantar oleh Marianne Katoppo meski Marianne Katoppo tidak menyinggung soal cerpen-cerpen anti komunis (jadi penasaran bagaimana pendapat atau sentimen Marianne Katoppo soal komunis? selain sedikit sentimen di novelnya Terbangnya Punai). Komunis didemonisasi lewat cerpen “Daun Teh”. Lewat pov tokoh utama sebagai pemilik kebun yang “diserang” oleh kaum buruh. Kemudian komunis punya tujuan yang sia-sia lewat cerpen “Sang Patriot”. Lewat pov Ibu yang gagal bersimpati pada mimpi anaknya yang seorang revolusioner.