Cornelia Dean draws on her 30 years as a science journalist with the New York Times to expose the flawed reasoning and knowledge gaps that handicap readers when they try to make sense of science. She calls attention to conflicts of interest in research and the price society pays when science journalism declines and funding dries up.
Dean is a journalist from the science desk of the NYT. Her promise to separate substance from spin in a worthy one and she marshals a lot of interesting examples of situations where the public and press got out in front of science in jumping to conclusions about such things as silicone breast implants--science finally did not find any harms--and links between vaccines and autism--absolutely no proof of that one either. She points out how people do not always evaluate things scientifically and that they are also poor at weighing evidence presented in a scientific form. I recognized most of the examples brought forward and it was interesting to read. Some of her claims were clearly a challenge to orthodox opinion--the BP oil spill not as damaging as expected, she says of the scientific evidence. At the end of the book are some suggestions for how to evaluate scientific claims, and those suggestions are the kind of thing you would have learned in any good research paper class in college. It is not a book to tear away the veil from our eyes or anything like that, but an interesting read that reminds us that we really do need to improve in our scientific literacy if we are to be effective as a democratic people in making decisions about resource allocation and policies worth pursuing and so on. Pretty good read.
Sains merupakan bidang yang dihormati di masyarakat, dan sayangnya, karena itu pula kata 'sains' seringkali dimanfaatkan oleh segala macam pihak dengan kepentingan tertentu (ehm, menurut saya, begitu pula yang terjadi dengan 'agama'). Orang-orang menyebar klaim-klaim dengan mengutip 'ini menurut sains lho' dan awam manut saja karena tidak tahu. Padahal klaim tersebut belum tentu benar. (Ya kan.. mirip sekali dengan agama).
Karenanya, sesuai dengan judulnya, buku ini berusaha membantu awam memahami apa itu sains, dan bagaimana membedakan mana yang esensial, mana yang pelintiran, atau yang mengandung bias politik dll.
Cornelia Dean bekerja sebagai science journalist di New York Times selama 30 tahun, dan 7 tahun di antaranya mengepalai Science Department di sana. Selama itu pula ia mengenal seluk beluk publikasi dunia sains, intrik-intrik dan politiknya, dan bertemu dengan berbagai permasalahan yang menjadi bahan pertimbangan 'topik sains yang mana yang layak diangkat dan hal apa saja yang perlu diketahui sebelum topik tersebut dibahas di NYT'.
Melalui buku ini, Dean ingin berbagi pengalamannya ini kepada publik, sebagai 'sesama awam' yang ingin dan merasa perlu tahu tentang sains dan perkembangannya tetapi kadang kewalahan dengan banyaknya informasi "sains" yang disodorkan media dan lingkungan sekitar. Buku ini menjadi panduan awam untuk memilah-milah klaim dan berita sains.
Di bab awal Dean mengangkat permasalahannya seperti ini: begitu banyak hal di lingkungan sekitar kita yang tidak kita pahami. Katakanlah misalnya soal efek suatu zat kimia yang mempengaruhi lingkungan. Yang bisa mencerahkan publik tentang hal ini adalah ilmuwan dan pakar di bidang tersebut, serta jurnalis yang melaporkannya.
Tapi sayang, menurut Dean, sepertinya sudah menjadi budaya di dunia ilmuwan, bahwa mereka tidak suka terjun ke publik. Di sini jurnalis menjadi 'jembatan' antara dunia sains dan publik. Tetapi, seperti diketahui, jaman sekarang jurnalisme berkualitas sulit bertahan dan bersaing. Tanpa pendanaan yang memadai, mereka juga kesulitan melaporkan berita-berita sains yang teknis. Akhirnya apa yang terjadi? Hasilnya adalah sebuah dunia di mana ilmuwan mengumpulkan data; politisi, pebisnis, dan aktivis memelintirnya; jurnalis salah menginterpretasikan atau menyampaikannya terlalu hiperbol; dan publik tetap tidak mengerti. Yang suaranya paling lantang adalah mereka uangnya paling banyak atau yang punya klaim paling bombastis.
Semakin parah karena pemahaman awam tentang sains yang mendasar (matematika, fisika, biologi, kimia) juga tidak bagus, dan bahkan seringkali 'bangga' dengan ketidakpahamannya itu. Familiar kan dengan pernyataan-pernyataan semacam "Aduh aku tuh bloon banget deh kalo soal matematika atau sains" atau "Well, I'm not a scientist!". (Tapi 'lucunya', pernyataan seperti ini tidak pernah muncul kalau sedang berdebat tentang politik dan agama ya?)
Jadi hasilnya, media dan diskusi awam seringnya penuh dengan "junk science, corrupt science, pseudoscience, and nonscience," tulis Dean.
Di bab-bab berikutnya Dean membahas apa itu sains dan seperti apa proses bersains. Pada intinya, kegiatan dalam sains adalah bertanya dan berhipotesis tentang sesuatu di alam, dan berusaha menjawabnya melalui eksperimen. Hasil eksperimen tersebut bisa cocok dengan hipotesis atau tidak. Temuan dari satu eksperimen itu sebetulnya tidak terlalu berarti jika eksperimen tersebut tidak bisa direplikasi. Tetapi jika temuan tersebut diuji berulang-ulang dan tetap tegak, maka bisa dikatakan temuan tersebut kuat dan dapat diterima, sampai ada eksperimen yang mematahkannya.
Persoalan replikasi eksperimen ini adalah sebuah krisis yang nyata di dunia sains (bahkan di dunia matematika). Tahun 2005, John Ioannidis seorang profesor dari Stanford menerbitkan makalah berjudul "Why Most Published Research Findings Are False". Makalah ini sangat terkenal, dan telah diakses sebanyak 3 juta kali! Di dalamnya ia menyatakan bahwa sebagian besar riset yang diterbitkan di jurnal-jurnal sains itu penuh dengan kesalahan kalkulasi, eksperimen yang tidak dirancang dengan baik, dan analisis data yang tidak tepat. "Dikhawatirkan, sebagian besar temuan riset adalah tidak benar," tulisnya.
Ini mengejutkan bukan? Jika 'temuan sains' ternyata banyak yang tidak benar, lalu bagaimana nasib kita yang awam yang akan mengonsumsi temuan itu?
Bab-bab berikutnya Dean bercerita tentang bias-bias yang terjadi di dunia sains akibat ketergantungan ilmuwan akan sumber dana riset. Akibatnya seringkali topik yang diteliti, dan hasilnya, condong kepada kepentingan tertentu. Lalu, kadang ilmuwannya sendiri juga meneliti bukan 'just for the sake of research' tetapi demi supaya penelitiannya bisa masuk jurnal bergengsi, atau demi paten. Semua berkaitan dengan prestise dan dana. Belum lagi kalau sudah berurusan dengan politik dan industri. Tidak jarang ilmuwan diserang oleh kepentingan-kepentingan tertentu yang tidak suka dengan temuannya. Dean mencontohkan kasus pakar climate Michael Mann yang diserang habis-habisan oleh raksasa industri bahan bakar fosil (lengkapnya bisa dibaca di review buku The Climate War https://www.facebook.com/bookolatte/p... ).
Setelah berbagai cerita 'menyedihkan' ini, di akhir buku Dean menyarankan bahwa sebagai warga negara, kita perlu melatih sifat kritis terhadap berita atau informasi yang kita terima. Dari mana asalnya informasi itu. Apakah sumbernya kredibel. Siapa ilmuwan yang membuat pernyataan atau klaim itu, apakah ia pakar di bidang ilmu yang bersangkutan. Contoh, Freeman Dyson memang fisikawan top, tetapi pernyataan-pernyataannya tentang perubahan iklim perlu dikritisi karena ia bukan pakar iklim.
Intinya, jadilah 'informed citizen'. Supaya tidak mudah diakali.
I read this a while back after I completed the quarter I took Biostatistics with Professor Lloyd Mancl. He recommended this book to the class at the end of the quarter, and because I loved the class, I decided to give it a read. The author was a science reporter for the New York Times for 30 years and speaks about what she learned from her experience. It’s basically a message to the readers to make sure to think critically when consuming information in this age of mass media. It was thoughtfully written and I like how it came from the perspective of a journalist, rather than a scientist. She has seen science conveyed in mass media firsthand.
As an individual interested in pursuing science career-wise, I found this to be a good read and indicative of the intersectionality between science, law, media, politics, and such.
This being said, I would recommend this book to anyone interested in having a better understanding of how science intertwines with day-to-day living, and how it can affect us all. It is by no means a difficult read, as Dean explains terminology cleanly and without deterring from her point. The organization of the book is clear and easy to follow-- albeit a bit repetitive at times. Admittedly, the book is quite U.S.-centered.
Dean brings up interesting points on the social impacts of scientific research and technological development, and the need for increased communication between scientists and the general public.
Overall, I would recommend to people interested in having a solid start to understanding the intersectionality and nature of scientific research.