"Ketika kita berdoa sebelum makan, kita mengucapkan terima kasih kepada Tuhan untuk makanan yang baik ini. Padahal kalau mau jujur, makanan yang ada di depan kita tidak selalu makanan baik, ya kan?
Sadar atau tidak sadar, yang disuguhkan kepada diri kita sendiri bukan real food tapi fake food/junk food yang justru berbahaya. Maksudnya palsu adalah makanan ini sudah kehilangan bentuk aslinya karena dicampur berbagai bahan kimia, disimpan lama, dan melalui proses yang panjang.
Saya mengatakan ini sebuah perjalanan spiritual. Dengan penuh syukur, kita harus mengobrol dengan makanan kita dan menjadi sahabat satu sama lain untuk feeding the body. Jika tidak, ini diibaratkan bersahabat dengan teman yang palsu. Kelihatan indah padahal dia membahayakan diri kita.
Saya pikir, mengapa saya harus memakan sesuatu yang diproses begitu heboh dengan bahan yang begitu fake. Olahan yang diolah lagi, dan diolah lagi.
So, find your true friend in real food. Not a fake one!
Tubuh kita adalah secret garden. Tuhan memberikan secret garden ini gratis loh. Saya mensyukurinya dengan makan makanan asli yang datang dari Bumi Pertiwi dan disinari Matahari, tanpa merek, tanpa olahan mesin, tanpa tanggal kadaluwarsa tahunan, tanpa pewarna buatan, tanpa pengawet.
Keputusan tentang siapa yang menjadi prioritas adalah konsep di kepala kita. So, it is all in your mind. Change the way you look at yourself. Nikmati chapter baru dalam kehidupan dan katakan, 'I am a priority!' "
_ Desak Made Hughesia Dewi, S.Pd., M.Si, CHt, CI dalam buku #DietKenyang Dengan Cooking Hypnotherapy