Pelajaran terbesar dari buku ini saya dapatkan dari Den Baguse; tentang ketulusan, tentang kebesaran hati, tentang menerima kesalahan, dan menebusnya dengan sikap seorang kesatria.” Lugina WG, dokter, penulis cerpen “Senja yang Mendadak Bisu”.
***
Demi wanita yang dicintainya, Ali mengejar kereta kuda bapaknya hingga ke markas Jepang. Tersebab sang bapak tak juga memberinya restu, bahkan mengancam akan menyerahkan Avifah kepada Jepang untuk dijadikan jugun ianfu! Di luar dugaan, Den Baguse justru menyelamatkan Avifah. Ali merasa bahagia, namun menelan pil pahit akibat pengusiran bapaknya. Setahun kemudian, di saat sang bapak sekarat, Ali pulang. Di saat itulah pula, Ali dan Avifah meminta restu untuk menikah. Diiringi deru terakhir sisa napas sang bapak. Namun, keadaan Semarang yang panas, pemberontakan pemuda, serta Jepang yang melancarkan serangan, mengubah takdir kebersamaan yang mestinya mereka jalani.
Saiful Anwar, dengan nama pena Sayfullan. Lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro ini sangat menyenangi dunia tulis-menulis. Kocak dan gokil adalah kata yang pas buat Penulis ini.
Pemain teater ini memiliki banyak hobi, selain menulis, dia juga sangat menyukai renang, volly, dan lari. Namun semua hobby olahraganya harus rela ditinggalkan karena penyakit gagal ginjal yang dideritanya.
Dia juga masih melaksanakan rutinitas hemodialisa dua kali seminggu.
Judul: Cinta untuk Perempuan dengan Bulir-Bulir Cahaya Wudhu di Wajahnya Karya: Sayfullan Isi: 256 halaman Penerbit: Diva Press
Novel ini sudah lama ada di rak bukuku. Pertama kali beli karena aku tipe yang gampang tertarik dengan novel sejarah. Ya, covernya sudah menarik perhatianku untuk kali pertama.
Ekspektasiku, ini akan jadi novel dengan kisah heroik di zaman koloneal atau masa penjajahan. Memang iya sih, tapi agaknya meskipun latar dan setting tempat digambarkab dengan bagus, tapi aku belum menemukan kisah yang cukup tragis dan dalam.
Tapi, aku cukup menikmati alurnya. Meski agak kecewa karena tokoh utamanya--Ali (setidaknya itu yg jadi pemikiranku waktu awal baca) malah gugur di medan perang.
Beruntungnya, novel ini ditutup dengan ending yang bagus. Terimakasih ya, sudah menulis ini. :))
Pertama kali tertarik dengan buku ini adalah karena judulnya. Yup! Judulnya. Memang panjang tapi manis.
Dikemas dengan setting dan plot yang apik membuat saya membalik halaman-halaman berikutnya. Saat menuju konflik klimaks penulis berhasil mengayun-ayun emosi pembaca. Jujur, saya deg-degan waktu baca bagian klimaksnya. Sedih sih, kenapa Ali... . Ya, sudah lah. pov penulis di bagian akhir juga menjadi kejutan buat saya, untungnya dijelaskan di bagian epilog. kalau tidak, mungkin saya masih bingung sama paragraf terakhir ceritanya.
Tentang perjuangan, tentang kesabaran, tentang keikhlasan, dan tentang memaafkan. Banyak hal yang bisa dipelajari dari buku ini.