“Aku tidak akan menikah. Aku bisa jadi diriku sendiri. Aku bisa berdaya tanpa laki-laki.”
Dia hanya lulusan E.L.S.—bagaimana mungkin berani melantangkan sumpah menentang ikatan pernikahan? Menabrak akar tradisi, perempuan muda itu juga memiliki perspektif tentang dunia yang begitu jauh. Meradang terhadap ketidakadilan zamannya, pemberontakan Sang Putri Pingitan bak moncong senjata, yang bahkan mengentak kesadaran seorang Ratu Wilhelmina.
Memahami Kartini, berarti menyelami perasaannya akan nasib Ngasirah yang terusir dari rumah utama. Menyelami pedihnya harus memanggil ibu kandungnya itu dengan sebutan Yu, layaknya kepada pembantu. Menghayati lukanya menyaksikan Kardinah, adik kandungnya, menderita akibat dijadikan istri kedua; melihat kepedihan perempuan yang seolah menjadi-jadi usai pernikahan. Sementara di sisi lain, dia harus pula menghadapi para politisi busuk yang menikungnya dengan berbagai tindakan brutal.
Sungguh sebuah hidup yang penuh, bahkan ketika pada akhirnya Kartini menemukan satu-satunya yang dia kehendaki, “Ingin betul saya menggunakan gelar tertinggi, yakni hamba Allah.”
Novel ini benar-benar membukakan wawasan terhadap kehidupan dan sepak terjang Kartini. Teknik penulisannya begitu apik, rasanya seperti benar-benar dibawa menyaksikan tiap adegannya di depan mata. Sekarang jadi lebih mengerti mengapa hari lahir R.A. Kartinilah yang dipilih untuk diperingati sebagai hari besar nasional.
Habis ini aku pingin baca literatur soal Kartini yang lain.
Aku masih punya beberapa pertanyaan soal novel ini. Nanti kujabarkan.
Akhirnya selesai juga.. Membuat saya sadar walau di kurung dengan tembok yang tinggi sekalipun tidak mematikan semangat untuk terus belajar dan belajar ..
Belajar dari membaca membuat wawasan menjadi lebih luas dari pada kita menapakan kaki di setiap wilayah di seluruh dunia ini. Lebih cepat dari pesawat..
Mengelilingi dunia dengan membaca.. Contoh nyata yang diterapkan KARTINI... walau disirikin sama keluarga sendiripun tetap semangat buat membuat masyarakatnya pintar..... Cita-cita dan impian jika diperjuangkan dengan Sabar dan Ikhlas....
Saya kurang suka nonton movie... jadi saya prefer baca bukunya seperti ini.
Gaya penulisannya tidak bertele-tele, imajinasi saya terus berjalan dengan lancar setiap membaca buku ini. Seolah saya sedang menyaksikan tiap kejadian tepat didepan saya.
Buku ini menjadikan saya lebih menghormati dan mengagumi R.A Kartini. Serta memahami perjalanan hidupnya. Beliau mungkin telah meninggal dunia, namun perjuangannya akan terus dikenang dan di lanjutkan oleh para wanita, terutama wanita Indonesia.
Satu quotes yang sangat saya suka dari buku ini adalah: "Luwih apik liar dibanding goblok koyo kowe!!" -Young Kartini.
Karena menurut saya, memang lebih baik dianggap sebagai wanita 'liar' yang haus akan pengetahuan, daripada wanita bodoh yang hanya tau cara duduk manis menunggu jodoh.
This entire review has been hidden because of spoilers.
semakin paham perjuangan Kartini, tapi jujur untuk sebuah buku biografi, aku masih suka buku yang kemarin kubaca, Calabai.
mmm... buku ini berasa seperti proyek (atau ya emang proyek sih) untuk melengkapi film Kartini garapan Hanung. Membaca ini tak ubanya melihat film, cuma lebih detail. Sehingga kita lebih paham bagaimana jalan pikiran Kartini, perasaan Kartini, maksudnya meminta Alquran diterjemahkan oleh Kyai Sadar, serta huruf yang harus dipangkon untuk menciptakan ketentraman.
ya, intinya saya suka buku ini. membuat saya tahu juga kalau sebelum ada masa-masa ngetrennya perjanjian pranikah, rasanya Kartini dulu yang melakukan perjanjian sebelum nikah itu. bravo!
Tekanannya hidup zaman yang mementingkan adat dan perempuan tiada tempat untuk belajar. Kata Kartono takdir perempuan adalah menjadi isteri dan ibu,tapi Kartini membangkang keras. Jiwanya memberontak, Kartini tidak ingin mengalah seperti Yu Ngasirah, ibunya yang tunduk pada takdir hanya kerana dia bukan anak bangsawan. Yu Ngasirah ingin Kartini menjadi Raden Ayu. Karini tidak tunduk pada takdir membuatkan Romo yang dalam dilema sama ada mengikut kehendak Kartini atau mempertahankan adat demi keluarga besarnya. Katini adalah inspirasi.
Ternyata benar, apapun tidak bisa menghalangi seseorang untuk belajar dan berwawasan, bahkan tembok pingitan sekalipun. Ragamu boleh saja dikurung, namun pikiranmu bisa terbang kemanapun.
Mengejutkan sekali bahwa justru paling keras melarang perempuan sekolah justru para bupati Indonesia pada zaman itu, bukan Belanda😔.
Ini buku tentang Kartini terbaik yang pernah saya baca. Buku ini menyebutkan bahwa jasad Kartini berbau melati, harum. Jadi ingin mendengarkan lagu Ibu Kita Kartini.
Kartini memang sudah tiada, namun perjuangannya tetap ada dan berlanjut demi kesetaraan perempuan. Dari buku ini saya baru paham, bahwa anak tidak hanya berbakti kepada kedua orangtua, namun orang tua juga memiliki bakti kepada anaknya. Seperti R. Sosrodiningrat yang memilih mendukung semua kegiatan Kartini sebagai baktinya kepada anak kesayangannya.