Abigail “Abby” Hendrawan, memiliki hidup yang terlindung. Sebagai putri bungsu pengusaha kaya dengan kedua kakak yang over-protektif, Abby tumbuh menjadi gadis polos yang hanya memiliki kehidupan di rumah dan sekitar kampus.
Sebagai pemilik jaringan hotel ternama, Jonathan “Joe” Hasby dikenal memiliki reputasi buruk. Sepak terjangnya di dunia malam sudah diketahui umum, termasuk pergaulannya dengan gadis-gadis panggilan papan atas.
Sampai suatu kesalahpahaman membuat Abby tersasar di kamar Joe dan disangka salah satu gadis panggilan yang dipesan pria itu. Saat Joe menyadari kesalahannya, kerusakan suda terjadi. Abby sudah menghilang.
Penyesalan membuat Joe berusaha keras melacak keberadaan Abby. Ketika akhirnya Joe bertemu Abby, dia tahu gadis itu takkan mungkin memanfaatkannya. Hingga Joe bertekad untuk meyakinkan Abby bahwa sesuatu yang diawali dengan sesal itu kini berkembang menjadi cinta yang serius untuknya.
Aku tidak tahu lagi apa yang 'sakit' dari buku ini. Apakah Joe, ataukah (siapa nama tokoh utama perempuannya? Aku sampai lupa) ah, atau Abby. *harus lihat contekan di sinopsis dulu* Atau bahkan justru penulisnya? ... Atau malah aku sebagai pembaca yang mau saja membaca buku ini dan menyia-nyiakan waktu beberapa jam membaca?
Aku harus mengakui, sejak awal aku sudah tertarik dengan buku ini karena label Amore. Biasa penulis buku Amore setipe seleranya denganku. Setelah lama berkutat dengan buku HR, HQ dkk, akhirnya aku kembali mencoba membaca buku-buku lokal.
DANG!
Aku memilih buku yang salah rupanya. Harusnya aku memilih penulis yang aku tahu, atau pernah kubaca bukunya. Ada beberapa penulis yang memang piawai menuliskan kisah romance, tapi yang ini TIDAK SAMA SEKALI. Atau mungkin memang sejak awal premisnya sudah MENJIJIKAN buatku.
Oke, jangan terpengaruh dengan intro dariku, siapa tahu kamu justru suka dengan kisah seorang pelaku pemerkosa yang bertobat dan akhirnya jatuh cinta dengan korban pemerkosaannya. Buktinya? Wow, banyak sekali kisah-kisah jebolan wattpad yang tanpa sensor, typo bertebaran seperti pasir di pantai, dan disukai oleh banyak pembaca, dibaca ribuan juta kali pula! Apalah aku ini, bukan? Hanya sebutir debu yang mencoba menyampaikan pendapat tentang buku ini saja.
Well, ini kisahnya, kalau kamu suka kisah premis seperti ini, jangan baca. Kalau kamu memilih buat membaca tanpa mau kena spoiler, jangan baca, aku akan menuliskan dengan sejujur mungkin...
Duhhh kalo bilang isi buku ini kacau dan halu, aku keliatan nyinyir nggak yaaa? ah tapi bodo amat! isinya emang kacau kok. Dark romance (kalau memang bener genre-nya itu) yang GAGAL. Oke, mari kita sedikit ngebahas buku ini, meski setelah hlm 122, aku bacanya loncat2, tapi aku masih ingat bbrapa hal yg bikin aku ewh sm buku ini.
1. Abby diperkosa krn dia salah kamar hotel. ehm, nganu mbak, untuk ukuran ciwik cerdas, kuliah di LN, ini agak membingungkan. Pas dia masuk hotel, nggak nanya ke resepsionis kamar brp yg disewa kakaknya?kalopun nggak nanya, nggak bisa nelpon kakaknya?
2. Jonathan alias Joe Sang Pemerkosa ini menjijikan banget. Abis memerkosa, dia jatuh hati dan merasa memerkosa Abby yg perawan adalah hal terbaik dalam hidupnya. Anyiiiingggg sakit jiwa nih laki.
3. Butuh waktu setahun untuk Joe untuk tahu siapa cewek yg diperkosa. Nyewa siapa kek gitu untuk nyari tahu ttg Abby ke seluruh penjuru Indonesia.m kan horang kayahhh. Joe juga udah punya cctv muka Abby, harusnya gampang dong yaaa. Ini malah bikin lukisan wajah Abby sebelum dan sesudah kejadian laknat itu. Nggak tauuuu apa gunanya itu lukisan selain diraba dan dicium trus ngebatin "gadisku. milikku" dengan nada Dora rebutan pisang sm monyetnya.
4. Abby, kamu katanya baik, berhati malaikat. Tapi kalo kamu diperkosa, KAMU NGGAK BOLEH JADI ORANG BODOH. Biar di wattpad aja korban perkosaan jatuh cinta sm pemerkosanya. KAMU JANGAN! Kamu kan AMORE terbitan GM, harusnya lebih bijak. Dan tindakan kamu yg cuma bisa mendam, mimpi buruk, lalu menolak ketemu psikolog, itu bikin aku kecewa, Abby. Kalau kamu mau nunjukin kamu kuat, berdiri atas kakimu sendiri nggak gitu caranya. Yang kamu lakukan malah bikin korban pemerkosaan lain jadi kecil. Pemorkosaan itu perbuatan biadab, dan kalo kata Tao Ming Tse, untuk apa ada polisi kalo masalah bisa selesai dengan maaf??
5. Endingnya bikin aku pengen bakar buku. Joe mau ngancurin muka biar kamu bisa nerima dia lagi kan, By? udaaahh biarin aja dia ngancurin muka. Toh dia ngancurin muka juga di klinik mahal, nggak sebanding dengan penderitaan korban pemerkosaan.
Plotnya agak aneh, dari kekerasan seksual menjadi obsesi yang besar hingga mau merubah wajahnya menjadi cacat. Apa tidak ada cara lain yang lebih masuk akal untuk menebus kesalahan ? Dan juga saya tidak merasakan adanya chemistry yang kuat antara tokohnya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku macam apa ini??? *kembalikan dua jamku yang berharga plisss.... mending dua jam itu aku pakai buat bobok siang atau luluran dah!
Sorry to say, this book is suck—or sick. Sampai-sampai pas baca aku tanya berulang kali dalam hati, "Seriusan ini terbitan mayor?" Soalnya berasa baca wattpad, bedanya tulisannya minim typo.
Awalnya aku penasaran aja karena beberapa teman ngasih penilaian minus buat buku ini, sementara buku ini terbitan mayor yang harusnya oke. Berangkat dari itu akhirnya aku nekat baca, dan beneran, buku ini menurutku belum layak untuk diterbitkan oleh penerbit mayor.
Mengambil genre novel roman dewasa alias amore, aku sama sekali nggak bisa merasakan 'amore' itu sendiri. Mungkin maksud penulis ingin membuat cerita bergenre dark romance, but TOTALLY FAILED! Mulai dari premis, alur cerita, serta konfliknya aye aye banget. Apalagi karakternya, ugh, sorry lagi, bikin eneg maksimal. Penulisannya kurang smooth, perpindahan POV-nya juga. Terus endingnya bikin pengin tepok jidat abang bakso. Haduh, sumpah aku bingung mau komentar apa, banyak hal-hal konyol di luar nalar yang bikin aku muterin mata sampe berasa juling. Kurang lebih seperti inilah: https://biancatwinbee.blogspot.com/20...
Selesai baca buku ini saya ketawa garing sendiri. Yaampun, saya sampe batal nyalon karena memutuskan baca buku ini dan bikin mood saya njomplang banget.
Waktu memutuskan untuk beli buku ini, saya pertama-tama melihat label Gm di sudut kanan atas bukunya, lalu ada label Amore pulak, batin saya: Wah, bagus dong ini buku. Pas baca sinopsisnya pun tumbuh ekspektasi dari isi bukunya.
Terus yang saya dapet? ZONK
Banyak banget plot hole yang bikin saya gemesh sendiri. Dan, saya rasa tokoh-tokoh di novel ini hidup di negeri dongeng, deh. Dan satu lagi, saya menganggap tokoh Joe itu adalah psikopat, dan ohmegaaat, apa yang dilakukannya untuk menebus kesalahannya pada Abby? Dengan memermak wajahnya? Ish, out of my mind banget.
Maaf sebelumnya, tapi saya benar2 tidak bisa menikmati novel ini. Saya kira, novel ini akan seperti novel amore seperti yang sebelumnya saya baca (nuansa amore-nya kental banget)
Ternyata?
Aneh... Beneran...
Si Abby ini segitu lemahnya apa sampai nggak berkutik pas di'gituin' si Joe.
Terus si Joe, sangar2 gitu tapi dangdut juga. Rasa cintanya ke Abby terlalu imajiner, nggak natural sama sekali.
Terus soal operasi itu... Really? Beneran dangdut deh.
Maaf, tapi novel ini bener2 banyak plot hole. Keanehan dan kejanggalan di sana-sini.
saya pernah membaca novel dengan plot serupa. dan saya merasakan kesamaan itu sebagai keseruan, walaupun sama dengan novel lain namun bumbu - bumbu ceritanya tidak sama.
saya cukup menikmati novel ini namun karena saya sudah berpengalaman dengan kisah sejenis makanya saya tidak terlalu berharap terlalu banyak.
untuk eksekusi penyelesaian konflik saya juga suka sekali. sangat menarik.
Aku baca buku hampir terserang DnF. Dan untung saja aku menyelesaikannya dengan yaa walaupun agak lambat prosesnya. Buku ini diceritakan dengan alur yang lambat dengan karakter yang menurutku nggak realistis, terlalu dilebih-lebihkan. Dan Chemistry untuk karakter tokoh utamanya kurang dapat dan aku kurang puas.
Masih banyak yg ingin aku komentari tentang buku ini. Tapi ya sudahlah aku cukupkan saja yaa. :)
Beli novel ini di Gudang Gramedia Palmerah, lagi diskon 50%. Untung saja setengah harga belinya, karena ceritanya sangat mengejutkan dalam arti yang buruk.
Rating dari saya cukup menjelaskan karena saya gak sanggup berkata-kata panjang lagi. Cukup 2 jam saja menyelesaikan novel ini, selain memang tipis dan layak untuk dipercepat bacanya.
Kayaknya tulisan capslock di atas cukup menggambarkan isi hati saya. Soalnya, tema yang diambil buku ini lumayan serius lho. Pemerkosaan. Kurang serius apa coba :')
Tapi kenapaaaaaa? Kenapa ceritanya jadi si cowok kemudian menyesal dan mengejar-ngejar cewek yang dia perkosa???
(Ini emote nangis di mana sih, kok nggak ketemu?)
Yaudah gitu aja. Saya udah lupa ceritanya gimana sebenernya, cuma masih ada kekesalan yang tersisa :')
Judul : Broken Angel Penulis : Anna Anderson Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Tahun : 2016 Finished : 10.03.2018
...
Amore yang kurang manis. Itu kesan yang kudapatkan sepanjang membaca kisah kelam Abby ini.
Manisnya justru terasa dari kehangatan keluarga Hendrawan. Pemahaman dan kasih sayang mereka satu sama lain. Dan bukannya dari kisah Abby-Joe yang justru lebih pahit menurutku.
Endingnya menyebalkan. Seharusnya Joe lebih hancur lagi untuk menebus kesalahannya. Seharusnya Abby tidak semudah itu memaafkan Joe yang sudah merenggut hartanya. Bagaimana mungkin hanya karena Joe berniat operasi plastik menjadi buruk rupa Abby langsung mengiyakan menikah dengan lelaki itu? Bukankah perkenalan mereka yang baru beberapa minggu seharusnya tidak cukup mengobati luka yang dia pendam setahun lebih? Semudah itukah menyembuhkan luka akibat perkosaan?
Dan lagi, cara Joe jatuh cinta pada Abby justru membuatku merinding. Apalagi saat dia bicara dengan lukisan Abby. Aku tidak menemukan sisi romantisnya. Justru lebih merasakan obsesi tak masuk akal Joe yang disebutkan sebagai rasa bersalah yang menjelma menjadi cinta mati. Apalagi saat kemudian setiap kali Joe membayangkan Abby diikuti narasi ketertarikan fisik yang malah tidak menunjukkan rasa bersalahnya, tapi seakan lebih pada keinginan mengulang pengalaman buruk mereka. Bagian ini mengesalkan.
Namun aku suka dengan pilihan penulis membuat Abby tetap berdiri tegak dan memilih melawan traumanya. Hanya saja kupikir kurang adil membuatnya jatuh cinta pada Joe semudah itu. Aku setuju Joe bertanggung jawab dan menebus kesalahannya pada Abby. Tapi rasanya perjuangan Joe kurang berat.