Ini Senin malam, pas banget buat ngomongin sesuatu yang vulgar dan frontal dalam banyak arti (gak ada hubungannya sama hari, Gie). Yah, pokoknya sesuatu yang cocok buat Senin malam deh~ *maksa*
Ngomongin pengarang ini perlu kemampuan(?) khusus. Mesti bisik-bisik juga, semacam ngomongin dosa #bukan
Tapi saya merasa mesti bikin catatan juga mengenai pengarang ini. Catatan pribadi sebagai bahan pertimbangan buat yang mau mengenal Zariya (yeah, siapa tau ada di antara kalian :p)
Ada temen fujo saya yang bilang: "Gak afdol jadi fujo kalau belum kenal Zariya" dan saya setuju #plak
Zariya terkenal dengan adegan hot-hot dengan posisi hot-hot dan permainan hot-hot dan plot yang... apa-itu-plot--alias PWP--hot-hot, terutama di karya-karya awalnya semasa masih doujinka hot-hot.
*saya merasa harus selalu mengulang kata "hot-hot" untuk menggambarkan pengarang ini!!* *berjuanglah(?), Gie!!* *buat yang kenal saya di RL, pura-pura ga kenal aja pas baca review ini ya!*
Tapi, saya pernah bilang ke temen waktu kami ngobrolin Zariya via WA (karena bahaya ngomongin dia via mulut, berasa dosanya lebih besar :v) (tapi saya udah cukup umur, kok!), bahwa Zariya udah berubah begitu direkrut penerbit mayor. Dia udah mulai berusaha mikirin plot yang lebih rumit yang terbukti dengan karya-karyanya belakangan ini--dan bikin temen saya itu bales: "Wah, Zariya udah tobat rupanya~" lololol
Saya sendiri kenal Zariya di karyanya yang Sleeping Man and Loving Man (Nemuri Otoko to Koi Otoko) yang versi scanlation english-nya di-uncensored dengan heboh--HEBOH, saya ulangi pake caps--oleh pihak scanlator. Mimisan baca itu wuwuwuuuu~~~
Temen saya itu sampai bilang, "Aku gak fokus sama ceritanya, soalnya distraksi *piip*nya luar biasa," yang bikin saya ngakak abis-abisan.
Saya pribadi punya batasan-batasan khusus saat membaca BL, jadi saya sampe mesti nyari raw-nya di internet, yang masih disensor, supaya gak terdistraksi macem-macem :v :v :v
Btw, mari kita kesampingkan karya-karya terdahulunya, lets discuss about Coyote, karena dialah bintang utama kali ini sekaligus karya Zariya terbaru.
Saya akhirnya tertarik baca ini karena beberapa hal:
1. Saya suka banget latar belakang kota yang digambar dengan detail. Cantik. Ini salah satu perkembangan yang signifikan dari Zariya, menurut saya, berhubung dulu dia cuma ngegambar ranjang #krik
Seenggaknya kita harus mengapresiasi dia lah, udah naik level dari ranjang ke tata kota London yang indah *dari tadi si Gie sarkas banget*
Dan saya suka banget warna-warna indigo yang dipakai sebagai warna utama di Coyote. Mengingatkan saya pada Tegami Bachi (Letter Bee) yang penuh warna indigo.
Duh, saya emang suka warna begituan sih.
2. Plot. Saya lagi cenderung ke cerita-cerita BL action-thriller, makanya Canis dan Coyote jadi menarik perhatian saya karena temanya sesuai. Enaknya Coyote, Zariya ternyata bisa ngegambar fighting scene dengan bagus, saya gak nyangka lho (saya kira dia cuma hebat gambar pertarungan di ranjang doang #sarkaslagi).
Apalagi didukung gaya gambar Zariya yang emang agak-agak bara (berotot), nyem nyem~
Mata Anggi bahagia liat otot~
Otot everywheeerrrreeee sluuurpy~~
Plotnya cukup menarik. Seriusan. Saya dari tadi salah fokus mulu malah ngomongin otot di bagian plot. Yah, pokoknya saya suka plotnya, meski jujur nih, masih 50-50 karena saya masih belum tau apa Zariya mampu mengembangkannya dengan baik. Tapi sepanjang buku 1 sih saya suka, ada beberapa bagian yang ketebak dan klise, tapi sejauh ini dibawakan dengan sangat baik dan menarik. Tampaknya Zariya dapet editor yang mumpuni mengolah plot setelah diadopsi penerbit mayor.
Perkembangan Zariya dalam plotting saya rasa titik baliknya ada di "Void", karyanya tepat sebelum Coyote ini. Sebelum Void, dia hanya bikin oneshot-oneshot doang, sementara di Void dia semacam bikin gebrakan dengan bikin tankoubon full dengan plot yang cukup berat tentang human android yang penuh penjelasan sci-fi. Sayangnya, saya kurang suka karena naik-turun plotnya terlalu jomplang dan ending-nya terlalu "mudah". Ini pendapat pribadi lho.
Kali ini, di Coyote, tampaknya dia nyoba tema fantasi, which is lebih saya sukain dibanding sci-fi. See? Itulah kenapa saya sangat berharap pada Coyote.
====
Rasanya saya kepengen banget ada orang nanya ke saya "Emang cerita Coyote itu kayak gimana sih?" dan saya pengen banget jawab dengan cengiran super jail: "Ganteng-Ganteng Serigala versi manga" dan bikin si penanya illfeel :v
Singkatnya, ceritanya tentang perseteruan kaum werewolf--setengah manusia setengah serigala, dengan sekelompok manusia yang memburu mereka.
Jadi, tokoh utama (uke) kita yang bernama Coyote ini pemuda werewolf sementara pasangannya (seme) adalah keturunan satu-satunya Galland Family (mafia, btw) yang mengasingkan diri dari kelompoknya dan memilih jadi musisi.
Semacam cinta terlarang uhuy(?) gitu deh. Ala-ala Romeo and Juliet, cinta terhalang status dan kedudukan dan ras dan spesies gitu deh (dan jenis kelamin, btw).
Sayangnya, hanya si Abang Seme yang tau jati diri Coyote sebagai werewolf, sementara Coyote sendiri gak tau kalau si Abang itu adalah anggota mafia yang menjadi musuhnya.
Cerita diawali dengan datengnya heat aka musim kawin Coyote untuk pertama kali dalam hidupnya pas dia lagi ketemuan sama si Abang Seme di bar tempat dia biasa main piano.
Btw, karena ribet manggil Abang Seme, saya pakai nama Marlene, soalnya itu nama alias pemberian Coyote buat dia, diambil dari penyanyi yang lagunya sering dimainkan olehnya di bar. Iya, jadi si Coyote dan Marlene ini sampai akhir jilid 1 pun masih sama-sama gak tau nama asli. Cuman pake nama alias: Lily dan Marlene, yang notabene gak cocok buat cowok lol.
Berhubung saya pembaca super rese, sepanjang heat Coyote berlangsung, si Gie malah mikir: Apa semua werewolf mengalami heat di saat yang sama (bulan purnama)? Soalnya di buku 1 cuma diliatin si Coyote aja yang sibuk(?) ngalamin. Kalo semuanya mengalami heat di saat yang sama, mendingan para mafia yang memburu werewolf itu nyerang pas bulan purnama aja kan? Toh para GGS (lol) itu lagi sibuk ngurusin heat. Saya heran kenapa selama ini mereka ga melakukannya. Apa karena mafianya gak ada yang tau soal heat itu? Atau karena yaoi logic yang mengaburkan human logic (lol)?
Jadi, saya berharap Zariya mampu menajamkan konsep tentang heat para werewolf (dengan mengesampingkan yaoi logic); terutama tentang jangka waktu, siklus, bobotnya (liat aja tuh si Coyote di bab 1-2, seminggu full ogah keluar dari ranjang rumahnya si Marlene :v), dan yang terpenting: kaitannya dengan plot non-romance, yakni masalah perseteruan kaum werewolf dengan mafia.
Plot romance dan non-romance itu mesti sinkron. Saya mau liat Zariya udah mampu sampai taraf ini atau belum. Sementara saya berharap plot romance-nya berlangsung klise dan dramatis, saya berharap plot non-romance berlangsung sebaliknya, meluap-luap dan full aksi.
=====
Masalah Zariya gak cuman itu. Saya dan beberapa temen punya pendapat yang sama mengenai karakter buatannya.
Zariya itu semacam punya "template" untuk seme dan uke-nya. Coba cek dari karya-karya awalnya. Seolah-olah seme dan uke-nya tuh cuma "ganti muka" doang. Sifat, karakteristik, bahkan kelakuannya saat di ranjang sami mawon orzzzz
Padahal ya di Coyote ini saya menyadari bahwa ternyata Zariya bisa membuat banyak tokoh figuran yang variatif! Bahkan cuma dari gerak-geriknya aja (tanpa ada dialog atau cerita) pun, saya bisa nebak karakteristik masing-masing tokoh figuran itu! Yang menurut saya cerdas bagi seorang komikus!
Jadi, sebenarnya Zariya itu bukannya GAK BISA bikin variasi tokoh, dianya aja yang GAK MAU bikin variasi untuk tokoh utama.
Sebagai seorang pengarang, Zariya masih terlalu egois. Dia masih masukin apa-apa yang dia sukain secara pribadi ke dalam karyanya dan mengabaikan pembaca. Sangat disayangkan, semoga aja setelah Coyote ini dia dapet editor super galak yang bisa memaksanya mengubah tipe seme dan uke yang udah ber-template selama ini.
Dan!!
Saya jadi inget sesuatu yang bikin saya gak bisa ngelupain Zariya di awal-awal!! Duh, sambil ngetik aja saya udah ketawa duluan!
Jadi, di Nemuri Otoko to Koi Otoko bagian bab tambahan, ada adegan si uke diranjangin dengan masih tetap mengenakan sepatu botnya tanpa celana! Sepatu bot, plis! Saya berbaik hati mengingatkan kalian bahwa bot itu jenis sepatu panjang yang dikenakan di luar celana.
Pertanyaan: Gimana caranya si seme melorotin celana si uke tanpa ngelepas sepatu botnya???
Sungguh suatu misteri besar ciptaan Zariya yang sampai sekarang masih bikin saya penasaran!!!
Tunggu, tunggu! Anggi yang hebat dan genius ini sudah memikirkannya siang-malam dan akhirnya mendapatkan dua hipotesis besar yang saking luar biasanya sampai-sampai saya gatel pengen menyampaikan ini pada Zariya langsung:
1. Seme-nya bisa sulap! Atau sihir! Pokonya hanya dengan "tring", celana si uke ilang! Dengan sepatu botnya masih terpasang (mungkin karena mantra yang dia pake masih belum sempurna, jadi sepatunya masih ketinggalan, mestinya dia belajar mantra dari Hermione /salah seri, woi/). Bisa jadi Nemuri Otoko to Koi Otoko itu diam-diam karya fantasi, bukan drama!
2. Seme-nya sebenernya ngelepas sepatu botnya juga. Jadi, langkah-langkahnya: lepas sepatu bot, plorotin celana jins dan segala jenis celana lain, pasang lagi sepatu botnya. Demi apa??? Semua demi fanservice!! All hail fanservice!! All hail yaoi logic!! All hail boots!!
Tapi, saya menarik kesimpulan bahwa yang betul itu adalah HIPOTESIS 1!! Sebab hipotesis 2 terlalu awam!! Saya gak suka jadi awam! Dan saya rasa Zariya juga gak suka jadi awam! Dia kan yaoi goddess!! Dengan yaoi logic yang begitu luar biasa! Goddess tak mungkin awam!!
..........Maap, saya... gak bisa berenti ketawa.
Untunglah misteri(?) semacam itu gak terulang lagi di Coyote ini.
Baiklah, baiklah.
Sekian celotehan vulgar-frontal si Gie yang cocok untuk Senin malam.
Btw, 3 bintang untuk Coyote adalah eerm... karena saya masih harus melihat perkembangan ceritanya ke depan, biar adil.
Dan seperti saya bilang di awal, meski review ini banyak sarkas, saya jujur berharap banyak pada Zariya untuk judul ini demi otot!!
Eh, jangan salah! Coyote ini udah masuk cetakan keberapa gitu hanya dalam beberapa bulan, lho! Dia juga masuk jajaran atas untuk beberapa award sekaligus lho! Serius! Makanya saya bilang saya berharap pada judul ini! Tapi entah kenapa saya bisa ngabisin Canis The Speaker dalam sekali duduk dan gak bosen baca itu berulang-ulang, sementara Coyote ini butuh waktu yang cukup lama ngabisinnya karena saya sering bosen dan nutup bukunya