Lima fakta tentang Carisa: pintar berorganisasi, judes apalagi jika berhubungan dengan Stella, diam-diam punya bakat dalam bermusik, menyukai Rama (sahabatnya sendiri), dan menyimpan kisah kelam tentang keluarganya.
Lima fakta tentang Kiana: jagoan sains SMA Pelita Bangsa, pemalu, bersahabat dengan Stella si cewek populer, menjalin komunikasi misterius dengan cowok terkenal di sekolahnya, dan menyayangi Papa melebihi apa pun di dunia.
Rama bersaing dengan Rico, pacar Stella, dalam pemilihan ketua OSIS SMA Pelita Bangsa. Strategi kampanye yang diusung Carisa sebagai ketua tim sukses Rama, terbukti jitu. Stella jadi berang dan mengembuskan gosip tidak sedap tentang Carisa dan Rama.
Carisa berniat melabrak Stella. Namun karena hanya ada Kiana, dialah yang diserang Carisa hingga terjadi kecelakaan kecil. Orangtua Carisa dan Kiana pun dipanggil. Di pertemuan orangtua itu, satu rahasia tentang keluarga mereka terungkap.
Bagaimana Carisa dan Kiana menghadapi kenyataan baru yang mengubah cara pandang mereka akan hangatnya keluarga? Apa yang harus Carisa dan Kiana lakukan saat menyadari mereka sama-sama menyukai Rama?
Lahir dan tinggal di Samarinda. Hobi membaca berbagai genre buku, terutama fiksi. Suka menulis sejak kecil. Jarang menulis sambil mendengarkan lagu. Senang mempelajari banyak hal dari sekitarnya. Suka IPA dan matematika. Gemar bermain dengan kucing-kucingnya. Dan suka bengong sendiri setiap malam.
Aku harus katakan bahwa menghabiskan semalaman dengan buku ini adalah hal yang menyenangkan.
Aku menyukai bagaimana penulis bisa memisahkan sudut pandang di antara tokohnya, mengingat sudut pandang orang ketiga itu amat sulit bila dibagi per tokoh. Dan bila penulis tidak lihai memisahkannya akan amat mengganggu bagi para pembaca. Aku juga menyukai betapa kisah Carisa dan Kiana amat realistis terlepas dari segala macam hal-hal mengejutkan di dalamnya.
Yang paling kusuka? Bab pementasan musikalisasi puisi! Penulis berbakat dalam menarasikan langkah demi langkah dan membuatnya mudah dibayangkan, setidaknya buatku sebagai pembaca. Dan terselip pula puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono.
Dan OneRepublic juga! (Serius deh, nama grup band-nya ini disambung lho!) Salah satu grup band yang lagunya sering kuputar.
Setelah memberanikan diri untuk membaca buku ini, akhirnya kemarin saya menyelesaikannya juga :D Well, ini bukan review-an, karena isinya bakal subjektif kalau saya yang mereview. Jadi, anggap saja pengantar. Sekaligus ucapan terima kasih kepada teman-teman semuanya yang mau meluangkan waktunya untuk membaca novel pertama saya ini. Segala bentuk apresiasi akan saya terima dengan baik :) Jangan sungkan untuk memberikan kritik dan saran perbaikan untuk buku ini, maupun untuk saya, agar ke depannya saya bisa menghasilkan karya yang jauh lebih baik lagi.
Saya titipkan Carisa dan Kiana dalam imajinasi pembaca semuanya. Semoga kalian menyukainya! :)
Setelah menyelesaikan buku ini, saya memutuskan kalau... saya suka buku ini! HEHE.
Selain bercerita tentang kehidupan pacar-pacaran remaja, cerita ini menekankan banget ke masalah keluarganya.
Tokoh-tokohnya saya juga suka! Walaupun pakai sudut pandang orang ketiga dan kadang-kadang suka pindah dari bagiannya Carisa dan Kiana, tapi saya enggak pernah bingung karena perbedaan mereka terasa banget.
"Karena bukan hanya kata yang menjadikan cinta tetap ada, tetapi dengan tindakan yang akan membuat cinta melekat selamanya."-hlm.197 . Carisa aktif berorganisasi, populer, lebih menyukai dunia luar dan jangan lupakan kepiawaiannya dalam bermain musik. Kiana aktif dalam olimpiade, ketua ekskul KIR dan lebih pendiam. Keduanya disatukan dalam sebuah takdir tentang keluarga mereka yang lumayan rumit dan mau tidak mau mereka harus menerima takdir itu. Berbeda dengan kepribadian mereka yang bertolak belakang, kisah cinta mereka sama. Mereka sama-sama menyukai Rama. . Novel ber-genre teenlit ini sudah pasti mengangkat tema sekolah yang kental. Namun, Carisa dan Kiana juga menceritakan tentang keluarga. Novel Carisa dan Kiana memuat banyak konflik di dalamnya, tetapi ada beberapa konflik yang penyelesaiannya kurang greget dan masih ada yang bolong menurut saya. Awalnya saya kira novel ini juga menceritakan perseteruan antara Carisa dan Stella, ternyata tokoh Stella hanya sebagai penghubung. . Overall, saya suka dengan cara penulis bercerita yang membuat karakter dan konflik yang dialaminya terasa 'hidup'. Novel ini tidak bicara soal cinta melulu karna menyelipkan pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca. Saya suka bagian tanya jawab lima antara Carisa dan Kiana, dan bagian Carisa dan Rico pastinya. Ditunggu karya selanjutnya kak Nisa.
Menarik. Premisnya pun menarik, meski ada rasa-rasa sinetron gitu. Saya suka cerita soal pemilihan ketua OSIS dan bagaimana penulis menggambarkan musikalisasi puisi. Saya juga suka konflik yang cukup rumit dalam novel ini.
Sayangnya hanya eksekusinya kurang memuaskan. Kania kurang terasa terbebani ketika dia tahu fakta kedua soal Carissa. Selain itu, hubungan Carissa, Rama, Rico, Kania sendiri juga terlalu ... cepat gitu. Seandainya lebih pelan-pelan mungkin saya bakal lebih puas.
Secara keseluruhan novel ini asik. Ringan tapi menyentuh tema-tema yang cukup rumit dan berat.
Awalnya aku agak sedikit bingung sih di bab pertama dan kedua, dimana cerita langsung disajikan tentang perseteruan antara Carisa dan Stella. Tapi, kenapa judulnya bukan Carisa dan Stella? 😅 Namun ternyata aku salah, ternyata Stella itu hanya sebagai penyebab permasalahan yg lain, yaitu antara Carisa dan Kiana. Semakin dibaca, penulis menjabarkan semua permasalahan satu demi satu, yang berakhir ke satu rahasia antara Carisa dan Kiana. Sebenarnya sudah ketebak sih rahasianya saat orang tua mereka berdua dipanggil ke sekolah. Sejujurnya, akhir2 ini aku selalu agak sensitif bila membaca buku yg bertemakan tentang hubungan antara ayah dan anak perempuannya. Tak heran bila aku sedikit mewek (kadang suka malu kalo baca buku sambil nangis. Hehe) saat Papa menunjukan semua hadiah dan kartu uacapan yang ditulisnya setiap tahun untuk Carisa. Apalagi kartu untuk tahun pertama. Whoaa... so sad. Yg aku suka, penulis menyisipkan kata-kata dan teori yang berhubungan dengan pelajaran, terutama IPA. Secara tak langsung, yg membaca buku ini (targetnya anak sekolahan /teen) bisa sedikit mendapatkan ilmu. Sayangnya aku agak menskip bagian performance lomba puisi (maklum aku paling antipati/gak begitu suka puisi. Ini sih karna otakku tak sampai untuk puisi. Hehe) Oh ya, ada sedikit kejutan yg diberikan penulis di bab menuju akhir. Aku gak menyangka alasan dibalik rasa bencinya Carisa ke Bapaknya. Overall, aku suka sekali dengan buku pertama dari penulis ini. Bagus banget menurutku. Gak terlalu banyak drama seperti novel teenlit lainnya. Disini penulis juga menunjukan walaupun kamu dari keluarga yg broken home, tapi kamu bisa berprestasi loh di sekolah.
3.4 untuk novel ini. Dulu sempet baca satu bab, terus lupa kenapa nggak diterusin. Akhirnya kemarin mulai baca lagi dan beres hari ini. Dua hari doang, alhamdulillah. Kayaknya kalau kemarin bacanya dari pagi sih sehari beres. 🙈
Karena saya udah baca Arial vs Helvetica, pas baca ini saya bisa melihat bagaimana perkembangan tulisan Kak Nisa. Di novel ini, saya menemukan paragraf yang kurang luwes. Tapi untuk debut saya anggap oke.
Konfliknya padat. Tentang keluarga, tentang sekolah. Saya merasa bagian keluarga Carisa agak kurang digali.
Tokoh yang saya suka di sini adalah Carisa dan Rico, karena mereka begitu menghidupkan cerita. :)
2 bab pertama agak pusing ya. apaan sih pembukanya kok langsung begini????
gak dijelasin dulu siapa carisa dan kiana. trus tiba2 ada tokoh stella. puyeng sendiri hh
tapi semakin bertambahnya halaman akhirnya mulai mengerti dan cukup menikmati. ceritanya lumayan asyik dan carisa sklebat mirip saya.
tapi ceritanya kurang begitu membekas. mungkin karena pas baca gak berharap yang macem2 dan di pertengahan halaman smepat iseng nebak ''oh, endingnya bakal gini'' dan ternyata bener jadi ya pas dah selesai ''hoo gitu'' doang.
jarang2 lho saya bisa nebak ending cerita dengan benar wqwq
cukup suka tapi kalau diminta baca ulang kayaknya nggak tertarik.
qotd: bukan hanya kata yang menjadikan cinta tetap ada, tetapi dengan tindakan yang akan membuat cinta melekat selamanya.
sedikit mirip motto hidup saya untuk membuktikan semuanya melalui aksi nyata, bukan hanya sekedar janji
saya suka dengan komposisi Carisa dan Kiana, dimana teenlit ini cerdas dengan gaya bahasa yang mengarahkan, namun tidak menggurui,
kapan lagi pembaca menemukan cerita remaja yang benar-benar remaja tanpa harus berlebihan soal cinta-cintaan yang tidak jelas?
yups saya sangat merekomendasikan Carisa dan Kiana kepada penikmat teenlit diluar sana,
Carisa dan Kiana adalah satu dari sekian teenlit yang memegang teguh kaidah penulisan teenlit(?) ya, benar-benar cerita masa remaja yang sebenarnya remaja
Pertama aku mau ngucapin "Congratulation" buat debut pertama Nisa. Untuk pertama kalinya, saya baca ebook di scoop, langsung selesai satu novel, biasanya berhari hari atau malah kadang terlupa, hingga jadi timbunan.
novel Carisa dan Kiana, mampu membuat mataku bertahan dari awal sampai akhir, kurang lebih dua jam, biasanya mataku cepat lelah.
Meskipun awalnya agak pesimis membaca genre teenlit di depan nya, secara aku udah emak- emak he..he..
Tetapi kisah carisa dan kiana, bukan semata persoalan khas anak remaja, seperti kisah cinta atau persahabatan saja. Tapi lebih dari itu, dan kayanya novel ini juga relevan untuk pembaca yang sudah bukan teenlit lagi seperti saya.
Saya tipe pembaca yang menyukai alur cepat, tapi jangan terkesan buru-buru juga sih. Jadi seolah ada bagian yang mungkin bisa dieksplore lebih jauh, seperti proses carisa yang menurutku lumayan cepat menerima takdir keluarganya yang tiba-tiba berubah.
Tema tentang keluarga, memang selalu membuatku baper
Saya suka novel ini..sekali lagi selamat buat karya perdananya..
Ini sebenernya karena saya kenal Nisa as penulis RP, beberapa kali ketemu Benjamin Rainfox, jadi pas baca tulisannya, "Bener ini Nisa?"
Wqwqwq.
Mungkin karena agak ditonedown jadi tema Teenlit jadi bahasanya ringan banget. Ceritanya juga anget ga sekedar cinta menye-menye gitu, ringan. Menyenangkan. Aku curiga banyak disuruh edit sana-sini ma editornya XD Cuman ada beberapa kata khas RP-er Indohogwarts, 'imajiner'. Banget lah ini anak NIH pisan #woi
Tapi oke Nis, aku kepengen Nisa nulis dengan genre yang laen. Ditunggu.
❝Sebenarnya, orangtua sedang belajar bagaimana cara menjadi orangtua yang baik. Banyak yang berhasil dan tak sedikit yang gagal. Namun tidak ada yang namanya gagal kalau mereka terus belajar dan memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan.❞ — [Hlm. 185] . . Bacaanku masih tidak jauh-jauh dari dunia remaja. Carisa & Kiana. Salah satu teenlit terbitan GPU jebolan GWP (Gramedia Writing Project).
Cerita yang menarik. Konflik yang disuguhkan juga tidak jauh-jauh dari kehidupan remaja. Persaingan meraih kedudukan dewan siswa di sekolah yaitu Osis. Permasalahan hati antara sahabat juga ada dalam buku ini. Sedikit tidak biasa karena teenlit ini menyelipkan sedikit konflik yang cukup marak terjadi di real life yaitu pelecehan anak di bawah umur yang dilakukan oleh orangtua anak itu sendiri.
Di awal aku sempat bertanya, kenapa tokoh yang disebut 'bapak' ini dihindari oleh Carisa. Ternyata... Ok! Selain permasalahan remaja, keluarga juga masih menjadi salah satu konflik dari novel ini. Romancenya tidak terlalu kuat tapi cukup terasa (Aku suka spontanitas Rico!)
Sadly, aku merasa kurang penjelasan untuk beberapa bagian di novel ini. Apa yang seharusnya mungkin masih butuh penjelasan, tapi terpotong begitu saja. Entah mungkin dari awal seperti itu, atau memang ada bagian yang di-cut tapi tidak pada tempat yang tepat.
Senangnya, karena aku tidak kehilangan 'rasa' teenlit khas GPU di buku ini. Agak sulit menjelaskan 'rasa' yang aku maksud di sini. Tapi entah kenapa setiap baca Teenlit terbitan GPU, mereka punya taste sendiri yang bisa dirasakan pembaca. Itu menurutku ya, tidak tau kalau pembaca yang lain. Dan aku masih mendapatkan itu di Carisa & Kiana.
Novel debut pertama yang cukup oke! 3 untuk ceritanya, 1 untuk covernya yang manis! Sukses selalu Kak Nisa! Aku menanti novel-novel selanjutnya 😗
Dulu, saya tertarik pertanyaan salah satu host blogtour novel ini, langsung penasaran pengen baca novel ini kapan-kapan. Pertanyaan si host blogtour kurang lebih begini (sorry kalau salah), "Kalau kalian kembali di masa SMA, apa yg ingin kalian pilih: aktif berorganisasi atau menjadi juara olimpiade?"
Jujur pertanyaannya menjebak. Ehe. Maunya jawab pengen jadi bintang olimpiade, apadaya diri ini sadar diri kalau kemampuan akademik pas-pasan. Jadinya ya dadah-dadah aja sama yg berangkat lomba. XD
Nah kembali ke teenlit, ternyata teenlit yg kebanyakan ala drama 'kejar cowok sana atau jambak cewek sini'ga ada dalam novel ini. Taksir menaksir, cowok cewek populer nya ya masih ada..tapi masalah keluarganya cukup membuat anak SMA hanya bisa berujar "Trus aku harus bagaimana???".
Ada hal2 yg berbau sains juga yang menghiasi novel ini..seperti 'lakrimalis', 'lobus frontal' dan tentu kegiatan percobaan yg belum pernah saya tonton saat berada di FMIPA dulu. Kok kayaknya asik ya percobaannya. Maklum, mungkin dulu saya keseringan bermainnya di sekitar area "M" saja daripada "IPA" hehe.. Mungkin juga karena fisika dasar dulu juga ga jauh-jauh dari statif dan cermin. Jadi kesan 'ngepoin' kelas fisika juga ga besar-besar amat selepas semester 2. XD
Selanjutnya..saya suka bagian pergolakan antar dua saudara tiri saat menyadari kehadiran satu sama lain. Apalagi saat Kiana mau tampil di luar 'zona aman'-nya demi menunjukkan rasa maaf atas perilakunya terhadap Carisa. Cuman.. saya juga masih agak ga percaya dengan kecepatan Carisa dalam memaafkan ayahnya lewat barang-barang yg bersifat sentimentil, atau keengganan 'talk back' Kiana dan Carisa terhadap orangtua mereka saat menuntut penjelasan yang detil.
Terakhir, saya nemu kutipan cantik di novel ini:
Penerimaan terhadap takdir yang rumit adalah langkah kecil untuk berdamai dengan diri sendiri. - hal.96
Huaaaaa, aku bacanya ini malem2 dan bikin mewek banget.
Gak nyangka kisah Carisa itu begitu, pantesan ya pas diajakin kakak Rama dia mau. Mungkin emang butuh orang lain buat diajak ngobrol. Nyeseekk banget ya, kasian pulak. Kadang kan kita gak bisa minta dilahiran dari orang tua mana, tapi kalau orang tua nya cuek begini. Duuuhhh, sebel.
Aku suka konfliknya. Ngena buat aku, aku sebel banget sama bapaknya Carisa. Berengsek banget deh dia! 🤬🤬🤬🤬
Kisah remaja pun mengalir, aku suka sosok Carisa yang kuat, remaja seumuran dia dikasih banyak banget beban. Duhh 😭😭😭😭
Aku suka obrolan Carisa sama Rico.
"Segala sesuatu nggak ada yang sia-sia. Bahkan daun berguguran pun ada sebabnya. Gue lahir ke dunia pun pasti ada maksudnya. Mungkin kehadiran gue suatu saat nanti bisa membuat orang lain tersenyum." - Hal. 135
Awalnya sempat ragu dan mengira ini kisah dua bersaudara yang saling iri, tapi salah besar! Fakta mereka saudara sedarah memang benar, tetapi keduanya punya hubungan yang lebih rumit daripada rumus algoritma, haha.
Hm, sebenarnya nggak bisa dibilang suka atau enggak, 50:50 deh. Di satu sisi suka sama karakter Carisa, tapi di sisi lain juga nggak sreg, begitu juga dengan karakter Kiana.
Life value di buku iki oke banget, so mau kasih rating 3.8, hihi. Oh iya, ini buku tipis banget, nggak sampai 200 (199 kembali 1 rupiah, haha). Bisa dibaca sekali duduk (kalo lagi senggang sih xD).
Pertama-tama saya ucapkan selamat bahwa novel ini salah satu debut pertama novel yang sukses dan keren. Membaca teenlit ini tanpa terasa tahu-tahu sudah halaman 100, eh tahu-tahu sudah selesai aja bacanya. Sebuah bacaan ringan, tapi dalem banget. Plot Twistnya keren. Jarang ada teenlit yang seperti novel Carisa dan Kiana.
"Karena bukan hanya kata yang menjadikan cinta tetap ada, tetapi dengan tindakan yang akan membuat cinta melekat selamanya" hal 197. - - Carisa adalah seorang yang sering masuk dalam ke sebuah organisasi. Ia masuk dalam anggota OSIS, menjadi panitia konser amal di sekolahnya itu. Bahkan, ia sekarang menjadi tim suksesnya Rama untuk menjadi ketua OSIS.
Kiana adalah teman dari Stella. Stellah sendiri termasuk kedalam golongan cewek terpopuler. Kiana sendiri sangat dekat dengan papanya. Dan juga ia adalah anggota dari KIR dan suka ikut olimpiade. - - Novel ini bergenre teenlit. Aku suka sekali dengan bacaan teenlit💕 dan udh lama banget ga baca teenlit rasanya kangen. Rasa kangenku terobati setelah membaca Carisa & Kiana. Banyak yang bisa diambil dari novel ini, bukan hanya tentang cinta-cintaan semata yang bisa diambil tapi kita bisa ambil pelajaran tentang kehidupan, tentang kekeluargaan & juga tentang persahabatan. - - Really recommended!!
Nice debut~ Maaf baru dibaca sekarang padahal udah dibuntelin dari pas terbit kwkwwk... Suka sama plotnya. Awal2 terasa kurang smooth tapi ke belakang makin enak dan ngalir. Aku suka banget musikalisasi puisinya, deh. Berasa kayak lagi nonton langsung padahal cuma lewat kata-kata doang. Good job, Nis!
Btw ini ultah Rama sama kayak kamu, ultah Kiana sama kayak aku... hmmm... jangan-jangan....? #apa
congratulation untuk buku perdananyaa. keren euy..
saya suka bahasa yg digunakan. ga gaul sekali seperti novel yg saya suka biasanya (haha), tapi ga baku juga. aneh deh ya kalo teenlit bahasanya baku.
sayangnya alur ceritanya cepat sekali. endingnya seperti diburu-buru. padahal idenya bagus loh. tapi, keseluruhan bagus kok. bagus banget. semoga ada buku selanjutnya..
Sadar ataupun tidak, penulis mampu membuatku terhanyut dalam dunia SMA, yah karna memang cerita ini bergenre teenfiction.
Carisa dan Kiana seolah-olah membuatku sadar, bahwa bukan hanya dengan perkataan yang mampu mebuat rasa cinta terungkapkan. Tapi, dengan segala perbuatan dan keikhlasan juga penerimaan cinta lebih indah untuk dirasakan.
Hanya sayangnya, menurutku ada beberapa detail yg penulis kurang mendalami. Membuatku masih merasa ganjil dengan apa-apa yang sengaja penulis tak ungkapakan. Padahal sudut pandang yang dipakai itu sudut pandang penulis sendiri.
Tapi dari keseluruhan membaca Carisa Dan Kiana memang sangat nyaman.
Dan buat kamu, yang mencari buku bacaan ringan, menyenangkan dan menghibur tapi punya kisah yg menakjubkan Carisa Dan Kiana cocok buat kamu cemil deh. Hehehe...
Saya suka alur cerita ini, khas remaja; ringan dan mudah dipahami.
Konfliknya pas, karakternya saya juga suka. Bahasa rapi dan manis.
Hanya, saya kira pemilihan OSIS itu bakal menjadi klimaks cerita ternyata cuma pemicu doang. Padahal saya udah excited kalau ternyata jalan menuju pemilihan OSIS bisa diceritakan detail
Terus masalah sahabatnya Kiana yang cuma diceritain seuprit dan tiba2 ngilang terasa janggal aja. Saya penasaran kenapa dia sama Carisa jadi musuhan gitu.
Beberapa part terasa terlalu cepat. Tapi, overall saya suka novel ini ^^
Membaca novel ini berpikir ini kisah tentang cinta segitiga atau persahabatan antara 2 orang remaja. Namun, ternyata salah besar. Kisah di novel ini benar-benar bisa dibilang complicated yaa. Karena ada permasalahan keluarga yang terlibat di dalamnya dan cukup sulit untuk diterima oleh remaja seusia mereka berdua . . Paham kenapa antara Carisa dan Kiana agak sulit untuk menerima rahasia yang terbongkar setelah sekian lama. Terlebih hubungan mereka tak juga membaik setelah permasalahan yang terjadi antara Carisa dan Stella. Suka dengan cara penyelesaian permasalahan yang akhirnya bisa diselesaikan dengan cukup baik dan tanpa ada permasalahan baru yang timbul. Suka dengan cara mereka akhirnya berbaikan. Unik banget. Jarang-jarang lho baikan pakai cara seperti itu. Kisah ini pure kisah remaja, ada cinta, keluarga, dan tentang berdamai dengan masa lalu serta cara memaafkan sebuah kesalahan. Recomended banget buat kamu baca
“Mereka bagai dua bintang yang bersinar paling terang di antara murid-murid SMA Pelita Bangsa. “ (Hlm 27)
Carisa menjadi tim sukses kemenangan Rama dalam pemilihan OSIS SMA Pelita Bangsa. Carisa adalah cewek pintar berorganisasi, pantas saja dia menjadi tim sukses dari sahabatnya sendiri, Rama. Carisa juga pandai bermain musik. Carisa sangat dekat dengan Rama, bahkan Carissa juga dekat dengan keluarga Rama. Carisa yang memang dari keluarga yang berantakan, Ibunya yang sibuk bekerja dan Ayahnya sama sekali tidak peduli dengannya. Rama adalah seorang sahabat yang bisa membuat dia lupa akan segala macam masalah yang ada padanya. Hingga Carisa diam-diam mulai menaruh hati pada Rama. Di SMA Pelita Bangsa, jalan yang harus di tempuh Carisa dalam memenangkan Rama tidak mulus. Stella, cewek yang tidak kalah populer darinya menjadi tim kemenangan Rico. Saingan dan lawan bertanding Rama dalam pemilihan OSIS. Tapi, strategi kampanye yang dilakukan oleh Carisa lebih berhasil dari pada Stella. Hingga Stella melakukan berbagai macam cara untuk membuat nama baik Carisa tercemar. Salah satunya dengan membuat gosip murahan yang membuat Carisa naik pitam.
Carisa melabrak Stella, namun saat itu Stella tidak ada, hanya ada Kiana. Cewek pendiam teman baik Stella. Cewek yang lebih suka ikut olimpiade sains dari pada menjadi tim kemenangan OSIS, cewek pintar ketua ekskul KIR. Tanpa sengaja Carisa mendorong Kiana hingga, sesuatu terjadi pad Kiana. Carisa dan Kiana meskipun satu sekolah mereka tak saling mengenal. Memiliki karakter yang memang berbeda. Akhirnya orangtua mereka dipanggil. Dan dari sini sebuah rahasia terkuak. Sebuah rahasia keluarga yang membuat Kiana bimbang, dia belum siap menerima semuanya. Sebuah takdir yang mungkin tidak pernah mereka duga sebelumnya. Rama di diskualifikasi dari pemilihan OSIS karena ulah Carisa. Dan Carisa harus di skors beberapa hari. Hubungan Carisa dan Rama sedikit merengang, terlebih lagi saat dia tahu bahwa Rama diam-diam menjalin sebuah hubungan rahasia dengan Kiana. Dengan kegagalan Rama sebagai ketua OSIS maka Rico yang menjadi ketua OSIS SMA Pelita Bangsa.
Kiana sangat menyayangi Papanya, dia tak bisa menerima jika Papanya punya seorang anak dari perempuan lain. Terlebih lagi itu adalah Carisa, teman satu sekolah yang pernah berbuat kasar padanya. Tapi Kiana tidak bisa berbuat apa-apa, rasa sayang terhadap papanya lebih besar.
Sementara Carisa, yang memang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah, setelah mengetahui bahwa Papa Kiana adalah ayahnya. Pelan-pelan Carisa dapat menerima kenyataan itu.
“Setiap orang punya masalah. Cara menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapinya, bukan dengan menghindarinya lalu memutuskan untuk mengakhiri nyawa. “ (Hlm 135)
Sebelum aku membahas buku ini, aku ingin bercerita singkat bagaimana aku bisa membaca dan menikmati buku ini. Aku mendapatkan buku ini langsung dari penulisnya. Hehehe, si penulis mengadakan sebuah Giveaway di media sosial Instagram. Dan aku menjadi salah satu pemenangnya, alhasil aku bisa membaca buku ini. Tantangan yang harus aku lakukan tidak terlalu sulit dan dibawah ini adalah perjuanganku untuk mendapatkan buku ini.
Sketsa kover Novel Carisa dan Kiana yang aku buat untuk memenuhi tantangan dari Penulis
Aku sangat tertarik dan ingin membacanya. Dan Alhamdulillah aku bisa mencium harum kertas dan memeluknya dengan lembut. Hehehe,.. sedikit alay... wkwkwkw Buku ini juga menjadi buku pertama dengan genre Teenlit yang aku baca. Sebelumnya aku belum pernah sekalipun membaca buku Teenlit. Mungkin karena usiaku yang memang tidak muda lagi. Hehehe, saat aku masih remaja, bacaanku adalah komik atau buku-buku bergenre Fantasi. Meskipun ini adalah buku Teenlit pertama yang aku baca, juga menjadi buku pertama dari si Penulis. Aku tidak merasa kesulitan dalam menghabiskan buku ini. Bahkan buku ini aku langsung suka dengan kisahnya yang memang sangat remaja. Segala macam masalah yang terjadi, dan juga pernak-pernik yang ada di dalamnya membawaku kembali kemasa-masa remaja yang sudah aku tinggalkan beberapa tahun yang lalu. Alurnya yang cukup ringan dan halus. Mengalir begitu saja. Tidak hanya bercerita tentang kisah cinta remaja, juga dibalut konflik keluarga. Meskipun sangat ringan, tapi cukup menyenangkan. Aku rasa pemilihan kata dari setiap kalimat juga sangat pas. Pen-deskripsi-an cerita yang sangat rapi, juga pengambaran karakter setiap tokoh yang tidak bertele-tele menjadi kelebihan buku ini.
Meskipun tema yang di usung bukan hal baru, persingan siswa dalam pemilihan OSIS sekolah, cinta diam-diam dan saling memendam rasa, siswa yang broken home juga cerita klasik yang baik pasti akan mengalahkan tokoh yang jahat. Namun penulis berhasil meramu cerita itu menjadi suatu cerita yang sangat layak untuk dinikmati, bahkan untuk orang yang sudah tidak remaja lagi – Seperti aku –. Hehehe,.. Hanya saja, menurutku terdapat sebuah lubang yang perlu untuk ditambal. Konflik yang dihadirkan masih belum terselesaikan dengan baik. Seperti ada sesuatu yang kurang. Mungkin karena terbatasnya halaman, atau memang ditujukan untuk remaja, sehingga konflik yang terjadi dibuat seringan mungkin. Contoh dalam hal ini adalah konflik yang terjadi antara Carisa dan Ayah tirinya. Di buku ini tidak terlalu di jelaskan bagaimana awal mulanya, dan terjadi begitu saja. Aku rasa jika memang tidak terlalu baik, mending di ganti dengan konflik yang lebih tepat. Dan bagaimana keadaan Stella setelah semua kelakuan yang dia lakukan, tidak pernah di selesaikan. Apakah pembaca dituntut untuk menjelesaikannya sendiri? Tentu tidak bukan. Akhir cerita yang seperti dikejar-kejar oleh waktu, berakhir begitu saja. Meskipun berakhir sangat manis, tapi bagiku masih belum bisa menerima kalau cerita ini selesai. Apakah akan ada kelanjutan dari cerita Carisa dan Kiana? Apakah hanya sampai di sini saja? Tapi bagiku buku ini sangat menarik, terutama tentang beberapa pelajaran sains yang diceritakan dalam buku ini, juga tentang musikalisasi puisi. Aku merasa bahwa si penulis memang ahli di bidang ini, si penulis juga sangat dekat dengan dunia remaja. Menurut informasi yang aku dapat si penulis juga berprofesi sebagai seorang Guru. Pantas saja, pengambaran ceritanya sangat dekat dengan remaja. Karena memang dunia yang digeluti juga tidak jauh dari tema yang di angkat dalam buku ini. Pesan moral yang di sampaikan oleh penulis juga sangat pas. Sangat relevan dengan dunia remaja sekarang. Tidak ada kesan untuk mengurui, tapi memang di samarkan. Jika pembaca tidak begitu jeli maka tak akan tahu dimana letak pesan itu. Hehehe,.. Seperti di bagian berikut ini ...
“Ketika seorang anak belajar apa pun dalam kehidupannya, sebenarnya orangtua sedang belajar bagaimana cara menjadi orangtua yang baik. Banyak yang berhasil dan tak sedikit yang gagal. Namun, tidak ada yang namanya gagal kalau mereka terus belajar dan memperbaiki diri setelah melakukan kesalahan.“ (Hlm 185)
Dalam kalimat ini jelas bahwa orangtua pun pasti belajar menjadi dewasa dengan anak-anaknya yang juga beranjak dewasa. Semakin dewasa sang anak maka orangtua juga ikut berkembang. Tidak mungkin orangtua membiarkan anaknya berkembang tanpa pernah mau mengerti akan perkembangan sang anak. Sangat manis bukan, tidak hanya menarik dari segi cerita tapi sarat makna. Meskipun tidak terlalu tebal, dengan cerita yang hampir padat. Kover buku ini sangat manis, sangat tepat mengambarkan dua saudara yang memiliki kepribadian berbeda. Punya jati diri yang mungkin butuh di cari. Karena di masa remaja mereka yang tidak berjalan dengan mudah. Jadi meskipun ini adalah Teenlit pertama yang aku baca – semoga aku bisa baca Teenlit-Teenlit lainya, aku sangat ketagihan setelah membaca Teenlit ini –. Aku sangat termotivasi dan sangat suka. Menurutku meskipun ini juga buku pertama dari si Penulis, penulis sangat lihai membawa kita merasakan masa remaja. Masa remaja yang manis, penuh tawa senyum dan problem yang akan menjadikan kita lebih dewasa dalam menghadapi setiap persoalan hidup yang butuh sebuah jawaban untuk menghadapinya. Aku tidak butuh banyak waktu untuk mengatakan Good Job dan buku ini sangat menarik. Di luar beberapa kesalahan penulisan dan beberapa kesalahpahaman kalimat. Aku tidak menuliskannya di sini, karena kesalahan-kesalahan kecil itu tidak terlalu fatal. Cukup ditutupi dengan cerita yang menarik, dan masalah itu terpecahkan. Mungkin dikemudian hari kesalahan-kesalahan itu tidak terulang lagi. Hehehe,.. berharap akan dibuat lanjutannya juga ya, karena aku merasa belum terlalu puas dengan kisah yang di selesaikan begitu saja, meskipun sudah cukup untuk ukuran genre Teenlit. Jika harus memberikan bintang untuk buku ini maka 4 bintang aku sematkan dari 5 bintang yang aku punya. Wkwkwkw, semoga aku bisa membaca buku-buku lain dari penulis yang sama dari buku ini. Aku benar-benar ketagihan Teenlit karena buku ini.
Kalau dipikir-pikir, ide cerita ini awalnya emang mudah ditebak, penggambaran di blurb seperti tertuang semua di bab-bab awal. Namun memasuki bab pertengahan, ceritanya jadi unpredictable walau di cover udah keliatan jelas. Hahah.
Halaman 137!!! Kejutaaan!!! Gila. Bikin deg! Udah berapa kali coba novel ini ngasih kejutan-kejutan gini. Di halaman ini salah satu pengangkatan isu sosial yang ngetren di Indonesia pada tahun 2015-2016
Jujur, saya nggak bisa membayangkan musikalisasi puisi dalam cerita ini soalnya saya emang belum pernah menonton musikalisasi puisi. Yang terbayang di pikiran saya malah salah satu cerita Upin-Ipin yang serigala-serigala itu. Padahal itu kan drama. Kabar baiknya, saya pun mencari video musikalisasi puisi. Ada referensinya nggak sih, Kak Nisa?
Novel ini emang teenlit tapi sisi romance-nya dikalahkan oleh drama keluarga yang sangat kental. Nggak lebay. Bahasanya lancar, alami.
Pertanyaannya, kenapa sih di novel-novel banyak cerita yang mengusung prestasi anak IPA bukan anak IPS?*pertanyaan nggak bermutu* Padahal anak IPS bakal memimpin anak IPA di masa depan. Percaya deh!
Di novel ini ada cukup banyak selipan materi biologi SMP-ku seperti fungsi lobus frontal. Memang tidak vanyak namun cukup buat ngasih kesegaran buat pembaca biar nggak memulu terpaku pada cerita tapi juga mendapat referensi atau pengetahuan.
Aku baru sadar di pertengahan kalau cover ini bewarna merah dan biru. Eciee mirip sama blogku. Apa sih?
"Kalian kayak dua orang yang berlari menuju matahari, saling berlomba bayangan siapa yang paling besar dan lebih mendominasi. Parahnya, kalian tuh nggak bisa menjawab siapa yang lebih baik daripada yang lain, karena bayangan kalian ada di belakang."—hlm. 15
Carisa dan Kiana adalah sebuah kisah remaja yang memiliki konflik keluarga. Hidup keduanya memiliki satu benang merah tipis sebagai penghubungnya. Benang merah itu yang kemudian mengubah segalanya.
Mengenai kesan-kesan, aku senang mengikuti watak tokoh-tokoh di sini. Carisa yang keras, Kiana yang pemalu tapi tangguh. Porsi keduanya seimbang, nggak berat sebelah. Meski Carisa ada potensi mendominasi alur, tapi penulis bis meramunya dengan pas.
Lalu, membaca novel ini sampai akhir juga membuat imajinasiku benar-benar bermain. Deskripsinya bagus. Nggak berlebihan sampai membuat terganggu. Aku sukaaa ❤ apalagi waktu adegan musikalisasi puisi.
Tapi ada satu hal yang menurutku kurang. Apa kabar ibu Carisa dan Carisa? Ehehe.
Dan seperti konflik keluarga lainnya, ada satu adegan yang membuatku menangis di sini. Entah karena memang aku terlalu cengeng atau gimana hehe. Padahal adegannya nggak berlebihan. Sederhana, bahkan. Tapi aku bisa nangis saking terharunya :"
Carisa dan Kiana bisa kamu pilih sebagai bacaan untuk membuatmu belajar memaafkan dan berdamai dengan masa lalu. Juga bagaimana memandang kehidupan dari segala sisi.
"Bukan hanya kata yang menjadikan cinta tetap ada, tetapi dengan tindakan yang akan membuat cinta melekat selamanya."—hlm. 197
Setelah membaca blurb-nya, saya kira ceritanya akan sedangkal perebutan kekuasaan dan perebutan cowok, tapi ternyata itunya cuma sedikit saja. Banyak sisi lain para tokoh yang tak terduga yang menjadikan ceritanya menarik, penuh emosi, sekaligus hangat.
So, menurutku, novel ini menarik. Meskipun mungkin banyak novel di luar sana yang bercerita tentang hal yang sama, tapi buatku novel ini tetep menarik. Bagaimana seorang anak SMA yang tidak tahu saudara tirinya, kemudian dipertemukan, dan pada akhirnya mereka bisa akur. Perjuangan untuk sampai ke sana tidaklah mudah. Apalagi bagi seorang Kiana. Meskipun dia kelihatan baik-baik aja dari luar, tentu aja dalemnya nggak baik-baik aja. Nggak ada yang bisa pahamin dia. Dia cuma berusaha buat nerima kabar yang ngagetin dia dengan caranya sendiri. Untungnya, dia nggak ngedrama kayak di sinetron gitu. Untungnya.
Entah kenapa 2 hari ini belakangan ini saya baca novel teenlit/YA yang konflik tokoh utama perempuannya lumayan mirip. Dan topiknya bener-bener bikin emosi! Ngomong2 narasi di buku ini lumayan ngalir, tapi ada juga beberapa kalimat yang menurut saya terlalu muter-muter meskipun yang dimaksud penulis itu cukup simpel dan itu bikin saya harus mikir banget entah karena saya yang bodoh atau apa haha! Saya juga nemu typo beberapa kali tapi masih bisa memakluminya.
Oh ya, ada hal yang diucapin Carisa yang menggaggu saya, waktu dia ngomongin Stella sama Rico di mobil, intinya seakan mereka memandang sebelah mata si Stella. Padahal Stella ini diceritakan ngancem bunuh diri dan Carisa malah nanggepin dengan bilang kalau Stella mungkin cari perhatian dan menyedihkan. Padahal Carisa nggak tau alasan Stella melalukan itu dan latar belakang permasalahan internal Stella. Terus Carisa juga ngeluarin peryataan yang menurut saya agak arogan saat membahas orang yang bunuh diri. Saya juga nggak setuju dengan orang yang milih bunuh diri, tapi saya pikir nggak seharusnya kita menyalahkan orang itu. Saya rasa kita seharusnya menghormati keputusan orang tersebut, karena kita mungkin nggak bakal bisa mengerti alasan atas pilihan itu. Dan disini menurut saya, pernyataan Carisa agak mengganggu.