Sepuluh orang berjanji mengadakan perjalanan jauh, tak seperti pendakwah atau serdadu. Mereka berangkat dari Solo ke Jakarta, 24 November 2016. Mereka mendatangi kota sejuta perkara. Keramaian kota dihilangkan dari imajinasi demi mengadakan peristiwa belanja buku. Jakarta itu kios buku.
Belanja buku (agak) berarti pemenuhan nafsu. Perbuatan itu "melanggar" undang-undang perkaleman hidup. Orang berani mengeluarkan uang demi setumpuk atau sekardus buku mungkin sudah bosan dengan kekerasan. Penentuan diri sebagai pembeli-pemilik-pembaca buku berjarak seribu meter dari girang pada busana, makanan, kosmetik, dan mainan.
Kisah reportase bagaimana para penggila buku, para essais muda yang tergabung dalam komunitas Bilik Literasi - Solo ketika berburu buku di Blok M Jakarta tertuang dalam buku ini. Masing-masing menulis dengan gaya dan sudut pandangnya masing-masing bagaimana pengorbanan mereka dan bagaima keseruan mereka saling adu cepat berebut buku ketika mereka berada di lapak buku yang sama.
Buku-buku yang mereka buru bukanlah buku-buku baru melainkan buku-buku lawas yang mungkin sudah lama disingkirkan dari display toko-toko buku besar. Tidak heran perburuan buku yang mereka alami adalah perburuan yang menegangkan karena untuk satu judul jumlahnya sangat terbatas atau bahkan mungkin hanya ada satu ekslempar saja. Untuk itu harus saling berlomba cepat untuk mengambil sebuah buku yang sama-sama menjadi incaran mereka.
Kesepuluh essais yg berburu buku di Blok M ini bukanlah orang-orang yang berkelebihan secara materi, mereka harus mengatur anggaran sehari-hari agar dapat menyisihkan sejumlah uang untuk membeli buku. Bahkan ada yang hanya bermodalkan 50 ribu ruipah saja. Namun hal ini tidak menghalangi antusiasme mereka untuk berbelanja buku karena bagi mereka buku adalah sebuah kebutuhan utama agar mereka bisa menulis essai di koran atau majalah.
Karena dikisahkan secara personal, jujur, dan apa adanya maka kesepuluh kisah dalam buku ini menjadi begitu bersahaja dan menarik bahkan menginsporasi karena tak jarang beberapa quote menarik terselip di dalam keseruan pengalaman mereka berburu
Selain kisah berburu buku, masing-masing penulis juga dengan bangga melaporkan buku-buku apa saja yang mereka peroleh beserta beberapa foto cover buku dan sedikit ulasan atau pertanggungjawaban mengapa mereka membeli buku-buku tersebut. Hal ini membut buku ini menjadi semakin bermanfaat bagi para pembaca buku karena sangat mungkin beberapa buku yang mereka beli adalah buku yang sedang kita butuhkan. Walau semua yang dibeli adalah buku-buku lawas beberapa diantaranya mungkin saja baru kita ketahui atau sudah kita lupakan karena derasnya buku-buku baru bermunculan di toko-toko buku.
Sebenarnya buku ini sudah saya baca pada tahun 2017 yang lalu, cuman ternyata belum mampir ke sini. Baru sadar ketika menemukan buku ini di timbunan. Iseng baca ulang.
Sebenarnya pertanyaan utama saya, adalah mengapa Blok M yang dipilih? Apakah karena ada salah satu peserta yang memiliki toko langganan di sana? ataukah karena alasan kedekatan? Coba mereka mampir ke kantor saya, pasti seru melihat aneka buku lawas yang bersanding dengan buku-buku baru di rak.