“Aku 32 tahun. Punya dua adik perempuan dan sudah menikah, sudah punya rumah masing-masing pula. Sisa aku yang masih lajang. Soal pasangan, aku pemilih. Kupikir aku berhak melakukannya.”
—Rera.
“Apa tidak boleh wanita karier yang sudah berkeluarga berleha-leha sebentar di luar bersama teman-temannya tanpa harus memikirkan suami dan anak di rumah? Aku bukan tahanan! Aku berpikir, pernikahan bukan surga, melainkan penjara tak kasat mata.”
—Gina.
“Mereka tak henti-hentinya memberikan wejangan pada wanita yang belum bisa hamil agar melakukan ini dan itu. Sampai letih aku mendengarnya. Pernikahanku sudah masuk tahun ketiga, dan aku belum mendapatkan momongan.”
—Yumi.
•
•
Kamu lajang, dan sedang menunggu kedatangan jodoh? Atau.. Kamu sudah menikah, dan memiliki anak, tapi kamu jenuh dengan kehidupan rumah tanggamu? Atau.. Kamu sudah lama menikah, tapi belum juga dipercaya Tuhan untuk mendapat momongan? Coba kalian baca buku ini..!!
Well, ini kedua kalinya aku baca novel karya Seplia. Dan aku sukaak dengan ceritanya. Tema yang diangkat relate banget sama kehidupan. Bercerita tentang 3 perempuan bersaudara dengan segala permasalahan hidupnya masing-masing.
Ada Rera, si sulung yang belum menikah di umurnya yang sudah mencapai kepala tiga. Berkali-kali dia harus menerima perjodohan, yang selalu berujung dengan kegagalan. Dan Rera seringkali merasa terbebani dengan pertanyaan ‘kapan menikah’?
Ada Gina, si anak tengah, sudah menikah dan memiliki anak, dia sedang jenuh dan merasa capek dengan kehidupan rumah tangganya. Dia ingin kembali merasakan kebebasan seperti saat dia masih lajang.
Lalu ada Yumi, si bungsu yang juga sudah menikah, tapi belum juga mendapatkan momongan. Dia capek diberondong terus menerus oleh orang-orang dengan pertanyaan ‘kapan punya anak? Belum lagi dia harus menghadapi mertuanya yang terus menerus menerornya, karena Yumi belum juga memberikan cucu untuknya.
•
•
Cukup menarik bukan, novel ini? Membicarakan tentang jodoh, tentang pasangan yang dikira sudah menjadi belahan jiwa, dan tentang pernikahan yang katanya bak surga sekaligus penjara. Semua hal itu, bukankah akan terus membayangi semua orang sampai kapan pun, benar begitu kan?
Bisa jadi, sekarang, kalian adalah salah satu dari orang yang mengalami hal itu. Tidak terkecuali aku. Aku terpilih menjadi salah satu orang yang harus mengalami hal itu. Kalian bisa menebak nggak.. Aku diwakili Tokoh yang mana?? 😊
Melalui novel ini, penulis mencoba memberi gambaran, tentang fakta-fakta kehidupan perempuan yang belum, akan, dan sudah berumah tangga. Novel ini sangat mewakili kehidupan perempuan-perempuan jaman sekarang.
Banyak pesan dan pembelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Yang jika diambil kesimpulan, mungkin akan seperti ini; “Agar kita selalu bersyukur dengan keadaan kita saat ini, seperti apa pun keadaan tersebut. Sebab, keadaan yang kita pikir menjadi beban dalam hidup kita, bisa jadi sedang diidam-idamkan oleh orang lain.”
Iya.. Akan ada, di mana kita berada dalam fase capek, jenuh dengan keadaan kita saat ini. Kita merasa rapuh. Lalu, kita akan menangis dan mengeluh kenapa kita harus menerima keadaan seperti ini..
Tidak mengapa, kadang kita memang perlu melakukan hal itu untuk melepaskan beban. Bukan tidak bersyukur dengan keadaan. Hanya saja.. kita cuma sedang menjalankan peran menjadi manusia. Hal itu cukup lumrah. Kita hanya manusia biasa, yang harus merasakan up and down dalam kehidupan ini.
Tapi kita tidak boleh berlarut-larut juga. Bagaimana pun, hidup terus berjalan, dan kita harus melanjutkan perjalan tersebut. Akan selalu ada jalan dalam setiap permasalahan hidup. Dan, hal ini coba dibuktikan penulis dengan happy ending-nya kisah dalam novel ini.
Walau ya... Tidak semua kisah dalam kehidupan nyata selalu berujung happy ending. Tapi setidaknya, penulis mencoba memberikan suntikan semangat pada kita, bahwa semua akan indah pada waktunya. Dan, kalau pun tidak, kita harus tetap percaya, bahwa apa pun yang Tuhan berikan untuk kita.. Selalu ada bahagia di dalamnya dan itu adalah yang terbaik untuk kita.
Overall, novel ini bagus. Walau, hanya memiliki 225 lembar halaman, tapi novel ini mampu membuat pembaca merasa kenyang. Novel ini berhasil mengaduk-aduk perasaan pembacanya.
Ada bagian-bagian di mana akan membuat pembaca menangis, turut merasakan kesedihan yang dialami para Tokoh. Dan, ada juga bagian yang mebuat emosi pembaca membuncah. Rasanya, pingiiin banget buat nampar atau mencakar muka si Tokoh.. 😁.
Untuk karakter Tokohnya sendiri.. Penulis cukup baik menggambarkan tiap karakter. Masing-masing karakter dikembangkan dengan porsi yang seimbang. Antara kisah Rera, Gina, Yumi, tidak ada yang lebih dominan.
Alurnya juga bagus, penulis berhasil memaparkannya dengan menarik. Ya.. walau mungkin, pembaca lagsung bisa menebak akan berakhir seperti apa kisah ketiga Tokoh tersebut. Tapi yang terpenting, sebagai pembaca, aku bisa benar-benar menikmati prosesnya, bagaimana masing-masing Tokoh menyelesaikan permasalahan mereka.
Yang jelas, novel ini rekomended banget buat kalian baca, khususnya buat pencinta ‘Metropop’. Bacaan ringan, yang berbobot. 4.5/5 🌟 lah untuk novel ini.. 😊
Oke, selamat membaca..