Bagi Rera, jodoh adalah hal krusial. Dia memiliki standar yang tinggi sehingga belum menikah di umurnya yang sudah matang.
Bagi Gina, menikah adalah penjara. Dia baru mengetahui hal itu setelah hidupnya dihabiskan dengan mengurus keluarganya.
Bagi Yumi, belum memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah adalah hal menyedihkan. Dia makin tertekan karena mertuanya gencar menanyakan hal tersebut.
Tiga saudari ini menginginkan kehidupan yang berbeda, bahkan rela melepas apa yang mereka miliki. Namun, mereka tak menyadari bahwa kehidupan mereka mungkin diinginkan oleh orang lain.
Rera, Gina dan Yumi adalah tiga bersaudara dengan nasib yang berbeda. Rera si sulung yang berusia 32 tahun, belum menikah dan terus mendapatkan wejangan agar tidak menjadi perawan tua. Apalagi kedua adiknya sudah berkeluarga. Gina, anak tengah yang juga wanita karir, sudah menikah dengan dua anak. Namun Gina merasa lelah dengan kehidupan rumah tangganya. Yumi, si bungsu, telah menikah selama tiga tahun namun belum juga mendapatkan momongan. Sementara ibu mertuanya tidak henti-hentinya meneror dengan pertanyaan 'sudah hamil?'
Setiap mereka diperhadapkan dengan persoalan masing-masing. Rera memilih untuk mengikuti saja semua perjodohan dan kencan buta yang ditawarkan padanya. Tapi tak satupun ada pria yang bisa memenuhi kriterianya. Sementara itu, dia harus menghadapi arsitek yang mengawasi pembangunan rumah barunya bernama Xian, yang terkadang suka seenaknya mampir dan numpang makan di rumahnya. Gina memilih untuk mencari kebebasan di luar rumah. Tawaran itu datang dalam sosok Frans, seorang kenalan yang dijumpainya di pub. Bersama Frans, Gina sejenak melupakan rumah yang selalu berantakan, anak-anak yang sulit diatur, dan suaminya yang juga sibuk dengan karirnya. Yumi memilih menjalani masa penantiannya dengan mencoba berbagai macam saran yang dilontarkan kepadanya. Dia bersyukur cinta Ozi, suaminya, yang sangat besar mampu membuatnya bertahan menghadapi ibu mertuanya. Tapi jika harga dirinya terus menerus disakiti, Yumi mencapai batas kesabarannya.
WOW. WOW. Sudah lama saya nggak sehepi ini baca #novelMetropop. Saya sesenggukan sekaligus ngakak at the same time. Good job. Sekilas mengingatkan pada Tiga Venus-nya Clara Ng.
Membaca buku ini ngebuat gw untuk bersyukur akan hidup gw.
3 orang saudara perempuan masing-masing bernama Rera, Gina dan Yumi. Ketiganya mempunyai masalah berbeda akan kehidupan berpasangannya.
Rera sebagai kakak tertua belum menikah dan sering kali merasa terbebani akan pertanyaan orang banyak mengapa belum menikah.
Gina yang terlihat hidupnya mapan, punya suami yang menyayanginya,karir yang bagus, punya 2 anak yang lucu ternyata ingin hidup bebas. Gina ingin kembali ke masa saat dya single dulu.
Yumi yang sudah menikah namun belum mempunyai anak. Seperti halnya orang Indonesia, Yumi diberondong pertanyaan kapan punya anak. Belum lagi sikap Ibu mertuanya yang menyebalkan.
Lalu gimana ending ketiga saudara itu?
Hidup terkadang tidak akan berjalan sesuai yang kita mau, jadi mending syukuri aja lah hidup yang sudah kita dapat sekarang. Manusia gak akan bisa puas. Disisi kita mungkin kita mengira hidup kita paling kasian, namun disisi lain ternyata banyak orang yang berharap punya hidup seperti kita namun tidak bisa.
Hal lain yang perlu diingat saat membaca cerita ini, stop judges each other. Mau orang lain belum nikah, belum punya anak,ya biar saja. Toh hidup mereka.
Semakin di judges gak akan membuat hidup mereka lebih baik.
Ada suatu dorongan dan kerinduan akan jatuh cinta terhadap tokoh fiksi yang bukan berasal dari cerita young adult. Tidak, kali ini ingin membaca sesuatu yang rasanya cukup berhubungan dengan kehidupan dipertengahan usia 20an. Berujunglah pada novel Three Sisters dengan premis yang cukup menarik. Ditambah pula dengan membaca ulasan milik Raafi yang sepertinya menjanjikan.
Premisnya tidak rumit. Tiga bersaudara perempuan semua. Yang paling tua malah yang belum menikah. Dan yang paling bungsu, tidak kunjung dikaruniai anak. Satu sama lain melihat bahwa hidup mereka menyenangkan. Rera melihat adik-adiknya bahagia dengan pasangan. Gina melihat Rera yang masih melajang sebagai sebuah keberuntungan karena tidak terbebani oleh tanggung jawab sebagai istri dan ibu. Yumi, yang paling kecil, melihat Gina sudah memiliki semuanya. Bagi Yumi, hidup Gina sempurna.
Sayangnya, masing-masing memiliki persepsi sendiri-sendiri akan hidup dewasa. Apalagi hidup berkeluarga dan memiliki anak. Itulah yang menjadi konflik dalam buku ini. Sebuah konflik yang rasanya pasti dialami oleh hampir semua orang. Sederhana, tetapi dibungkus dengan rapi.
Masing-masing karakter dikembangkan dengan baik. Penulis, Seplia, tidak terlihat terburu-buru dalam menyelesaikan cerita ini. Setiap tokoh utama: Rera, Gina, dan Yumi, memiliki porsi masalahnya sendiri-sendiri. Begitu pula dengan tokoh utama laki-laki: Xian, Gale, dan Ozi. Meskipun hanya tokoh pendukung, tetapi karakter mereka membantu karakter utama untuk berkembang.
Sayangnya, ceritanya mudah tertebak...sejak bagian awal. Tokoh utama laki-lakinya juga setipe: laki baik-baik yang mengabdi pada keluarga. Malah terkadang, suka tertukar antara Gale dan Ozi meskipun keduanya menghadapi masalah yang berbeda.
Tetapi secara keseluruhan, buku ini menghibur. Sebuah bacaan ringan yang bisa dihabiskan dalam sekejap.
A very predictable, Hollywood chickflick-y kinda story, the one we know where it's heading yet we still enjoy the journey to get there. Seriously, no twist at all, very clean and light, and tbh the dialogs are kinda awkward (semi EYD and all, please no one speak that way not Jakartans), but I didn't mind. I could accept that some stories are okay to be written this way.
There's one chronological error and typos happened, tho. Need a quick check if it got reprinted.
Anda bosan dengan satu alur cerita pada sebuah buku? Bagaimana kalau kami berikan tiga cerita dalam satu buku? Anda akan dibuat campur aduk merasakan konflik batin dalam keseharian tiga tokoh dengan tiga alur cerita yang berbeda.
Lalu Anda bertanya: bagaimana bisa? Bacalah kisah tiga saudari perempuan ini dan Anda akan merasakan pengalaman baru dalam membaca kisah romance lokal dan segala problematika kehidupan mayoritas wanita urban. Sebuah novel Metropop 3 in 1!
Bagus! Gue suka gimana tipisnya buku ini tapi isinya padat gizi (re: pelajaran hidup), khususnya untuk para perempuan yg belum menikah dan sedang cari jodoh yg terbaik, mereka yg sudah menikah tapi dilanda kejenuhan, maupun pasangan yg belum dikaruniai anak setelah lama menikah.
Gaya cerita yang menarik, ngalir juga. Sukaa sama kisah ketiga sodara ini. Apalagi mereka punya masalah masing-masing yang cukup rumit. Tapi akhirnya, mereka punya penyelesaian sendiri. Keren aja sih...
"Kadang beberapa orang itu lucu. Tidak menyadari bahwa apa yang mereka miliki saat ini, mungkin sedang diidam-idamkan oleh orang lain. Lantas kenapa mereka malah memilih melepaskan sesuatu yang telah mereka genggam, yang mana orang lain tak punya?" - hal. 224
Three Sisters bercerita tentang 3 saudara kandung dengan masalahnya masing².
Rera, anak pertama yang belum bertemu jodohnya di usia yang sudah matang. Gina, anak kedua yang sudah menikah dan mempunyai 2 anak tapi ingin kembali lajang agar bebas. Sedangkan Yumi, anak terakhir yang sudah menikah 3 tahun tapi tak kunjung diberi momongan.
Complicated tapi banyak pelajaran yang bisa dipetik dari buku ini, khususnya untuk pasangan suami istri. Buku ini bagus.
Beberapa tahun terakhir ini saya tidak banyak membaca novel metropop ataupun chick lit. Yah, jujur saja, sepertinya I grew out of the genre hehehe. Jadi ketika mengunjungi toko buku, saya tidak banyak melirik novel-novel macam ini. Untuk alasan yang saya sendiri sebenarnya tidak terlalu ingat, ketika melihat Three Sisters di toko buku, saya iseng melihat reviewnya di Goodreads, dan karena ratingnya yang cukup bagus, juga melihat blurb di cover belakang buku (kebetulan saya juga punya dua saudara perempuan xD), buku ini saya bawa ke kasir. And I did not regret that decision at all.
Plot yang menceritakan kehidupan tiga perempuan bersaudara yang tentu saja saling berkelindan, terasa begitu ringkas namun padat dan sarat isi. Masing-masing karakter dihadapkan pada berbagai masalah pribadi, dan melalui perjalanan yang sedemikian rupa sehingga akhirnya sampai pada penyelesaian masalah-masalah tersebut. Saya suka penggambaran perjalanan masing-masing karakter dalam menghadapi permasalahannya. I really enjoyed their thought process. Satu-satunya yang membuat saya mengerutkan dahi adalah beberapa typo dan kesalahan dalam kalimat, but I guess that's on the editor lol. All in all, bacaan yang compact dan highly enjoyable. Kudos untuk Mbak Seplia!
Tentang Rera yang tak kunjung menikah padahal usianya sudah 30-an, sementara dua adiknya sudah memiliki keluarga.
Tentang Gina yang merasa terkungkung oleh pekerjaan dan kesibukan mengurus rumah tangga, sementara dia iri dengan kakaknya yang bebas dan masih lajang.
Tentang Yumi yang tertekan karena tak kunjung memiliki momongan, sementara kakaknya sudah memiliki dua buah hati yang lucu dan menggemaskan.
Tiga saudari ini menghadapi perangnya masing-masing, lalu akhirnya berusaha untuk lepas dari itu semua.
AAAAAH suka banget. Berhasil bikin mata saya berkaca-kaca wqwqwq
Sebenernya saya nggak terlalu suka gaya bahasa yang dipakai. Kaku, tapi nggak kaku juga. Jadi kayak nanggung gitu. Dan saya juga udah bisa nebak, endingnya bakal kayak gimana. Bahkan saya udah nebak adegan apa yang bakal ada di epilog. Dan tebakan saya bener.
Mungkin siapa pun yang baca bisa langsung tau ketiga tokoh ini bakal berakhir kayak gimana. Tapi, saya bener-bener nikmatin prosesnya. Gimana satu per satu, ketiga kakak beradik ini nyelesain masalah mereka. Dan menurut saya, ide novel ini juga unik.
Secara keseluruhan, saya suka banget. 4 bintang buat Xu Yi Man wkwkwk
Saya suka novel ini! Ceritanya menarik buat diikuti, dan bukunya pun enggak tebal, jadi sehari baca juga selesai.
Selain itu, di dalamnya juga banyak banget pelajaran-pelajaran yang bisa diambil. Aaah, sukaa! Dan oh ya, nilai plus lainnya adalah, cover-nya yang bagus, hehe.
--
Walaupun begitu, saya masih ngerasa kalau bahasa yang digunakan agak kaku, apalagi di bagian dialognya. Selain itu, ada beberapa hal di dalam buku ini yang bikin saya bingung.
Aku marah pada orang-orang yang meninggalkan sesuatu yang Tuhan berikan kepadanya, sementara aku tak dapat apa-apa." (hlm. 126) 💝 Rera, si sulung, yang sampai usia ke-32 tahun belum menikah. Ingin segera menikah, namun selalu ada saja yang membuat dirinya ilfeel dengan laki-laki yang sedang dekat dengannya. Bahkan, dia membuat kriteria yang tinggi untuk calon suaminya. * Gina, anak kedua, sudah mempunyai keluarga yang lengkap. Namun, dirinya merasa bosan dengan statusnya sebagai istri dan ibu dari kedua anaknya. Dia ingin bebas. * Yumi, si bungsu, sudah menikah selama 3 tahun, namun belum dikarunia anak. Masalah muncuk ketiga dirinya merasa tertekan dengan ibu mertuanya yang selalu meneror dan menganggapnya tak berguna sebagai seorang isteri. 💝 Buku ketiga karya seplia yang aku baca. Aku selalu kagum dengan ide cerita dan gaya penulisannya. Tema ceritanya selalu mengangkat masalah yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Kali ini, penulis mengangkat tema tentang masalah yang dialami oleh perempuan di usia 25 tahun ke atas. Uniknya semua masalah itu diwakili oleh ketiga kakak beradik yang menjadi tokoh utama di buku ini. Bagaimana mereka semua tidak menyadari bahwa kehidupan mereka, yang mereka pandang sebagai masalah, kadang menjadi impian wanita lain. 💝 Ya ampuunn.. Aku suka sekali tokoh cowok-cowoknya, Gale & Ozi 😚 Benar-benar tipe suami ideal banget. Mereka gak egois dan rela mempertahankan pernikahan mereka walau badai menghadang (ehh.. jadi nyanyi 😆) Aku cuma sebel sama Xian, tuh cowok emang bikin ilfeel banget sih. Ngelamar juga gak ada romantis2nya 😂😂 haha... Tokoh yang paling aku benci adalah ibu mertuanya Yumi, bener2 nenek sihir 😜 Aku berdoa semoga nanti gak punya ibu mertua seperti itu 😌 Amin.
“Aku 32 tahun. Punya dua adik perempuan dan sudah menikah, sudah punya rumah masing-masing pula. Sisa aku yang masih lajang. Soal pasangan, aku pemilih. Kupikir aku berhak melakukannya.” —Rera.
“Apa tidak boleh wanita karier yang sudah berkeluarga berleha-leha sebentar di luar bersama teman-temannya tanpa harus memikirkan suami dan anak di rumah? Aku bukan tahanan! Aku berpikir, pernikahan bukan surga, melainkan penjara tak kasat mata.” —Gina.
“Mereka tak henti-hentinya memberikan wejangan pada wanita yang belum bisa hamil agar melakukan ini dan itu. Sampai letih aku mendengarnya. Pernikahanku sudah masuk tahun ketiga, dan aku belum mendapatkan momongan.” —Yumi. • • Kamu lajang, dan sedang menunggu kedatangan jodoh? Atau.. Kamu sudah menikah, dan memiliki anak, tapi kamu jenuh dengan kehidupan rumah tanggamu? Atau.. Kamu sudah lama menikah, tapi belum juga dipercaya Tuhan untuk mendapat momongan? Coba kalian baca buku ini..!!
Well, ini kedua kalinya aku baca novel karya Seplia. Dan aku sukaak dengan ceritanya. Tema yang diangkat relate banget sama kehidupan. Bercerita tentang 3 perempuan bersaudara dengan segala permasalahan hidupnya masing-masing.
Ada Rera, si sulung yang belum menikah di umurnya yang sudah mencapai kepala tiga. Berkali-kali dia harus menerima perjodohan, yang selalu berujung dengan kegagalan. Dan Rera seringkali merasa terbebani dengan pertanyaan ‘kapan menikah’?
Ada Gina, si anak tengah, sudah menikah dan memiliki anak, dia sedang jenuh dan merasa capek dengan kehidupan rumah tangganya. Dia ingin kembali merasakan kebebasan seperti saat dia masih lajang.
Lalu ada Yumi, si bungsu yang juga sudah menikah, tapi belum juga mendapatkan momongan. Dia capek diberondong terus menerus oleh orang-orang dengan pertanyaan ‘kapan punya anak? Belum lagi dia harus menghadapi mertuanya yang terus menerus menerornya, karena Yumi belum juga memberikan cucu untuknya. • • Cukup menarik bukan, novel ini? Membicarakan tentang jodoh, tentang pasangan yang dikira sudah menjadi belahan jiwa, dan tentang pernikahan yang katanya bak surga sekaligus penjara. Semua hal itu, bukankah akan terus membayangi semua orang sampai kapan pun, benar begitu kan?
Bisa jadi, sekarang, kalian adalah salah satu dari orang yang mengalami hal itu. Tidak terkecuali aku. Aku terpilih menjadi salah satu orang yang harus mengalami hal itu. Kalian bisa menebak nggak.. Aku diwakili Tokoh yang mana?? 😊
Melalui novel ini, penulis mencoba memberi gambaran, tentang fakta-fakta kehidupan perempuan yang belum, akan, dan sudah berumah tangga. Novel ini sangat mewakili kehidupan perempuan-perempuan jaman sekarang.
Banyak pesan dan pembelajaran yang bisa diambil dari novel ini. Yang jika diambil kesimpulan, mungkin akan seperti ini; “Agar kita selalu bersyukur dengan keadaan kita saat ini, seperti apa pun keadaan tersebut. Sebab, keadaan yang kita pikir menjadi beban dalam hidup kita, bisa jadi sedang diidam-idamkan oleh orang lain.”
Iya.. Akan ada, di mana kita berada dalam fase capek, jenuh dengan keadaan kita saat ini. Kita merasa rapuh. Lalu, kita akan menangis dan mengeluh kenapa kita harus menerima keadaan seperti ini..
Tidak mengapa, kadang kita memang perlu melakukan hal itu untuk melepaskan beban. Bukan tidak bersyukur dengan keadaan. Hanya saja.. kita cuma sedang menjalankan peran menjadi manusia. Hal itu cukup lumrah. Kita hanya manusia biasa, yang harus merasakan up and down dalam kehidupan ini.
Tapi kita tidak boleh berlarut-larut juga. Bagaimana pun, hidup terus berjalan, dan kita harus melanjutkan perjalan tersebut. Akan selalu ada jalan dalam setiap permasalahan hidup. Dan, hal ini coba dibuktikan penulis dengan happy ending-nya kisah dalam novel ini.
Walau ya... Tidak semua kisah dalam kehidupan nyata selalu berujung happy ending. Tapi setidaknya, penulis mencoba memberikan suntikan semangat pada kita, bahwa semua akan indah pada waktunya. Dan, kalau pun tidak, kita harus tetap percaya, bahwa apa pun yang Tuhan berikan untuk kita.. Selalu ada bahagia di dalamnya dan itu adalah yang terbaik untuk kita.
Overall, novel ini bagus. Walau, hanya memiliki 225 lembar halaman, tapi novel ini mampu membuat pembaca merasa kenyang. Novel ini berhasil mengaduk-aduk perasaan pembacanya.
Ada bagian-bagian di mana akan membuat pembaca menangis, turut merasakan kesedihan yang dialami para Tokoh. Dan, ada juga bagian yang mebuat emosi pembaca membuncah. Rasanya, pingiiin banget buat nampar atau mencakar muka si Tokoh.. 😁.
Untuk karakter Tokohnya sendiri.. Penulis cukup baik menggambarkan tiap karakter. Masing-masing karakter dikembangkan dengan porsi yang seimbang. Antara kisah Rera, Gina, Yumi, tidak ada yang lebih dominan.
Alurnya juga bagus, penulis berhasil memaparkannya dengan menarik. Ya.. walau mungkin, pembaca lagsung bisa menebak akan berakhir seperti apa kisah ketiga Tokoh tersebut. Tapi yang terpenting, sebagai pembaca, aku bisa benar-benar menikmati prosesnya, bagaimana masing-masing Tokoh menyelesaikan permasalahan mereka.
Yang jelas, novel ini rekomended banget buat kalian baca, khususnya buat pencinta ‘Metropop’. Bacaan ringan, yang berbobot. 4.5/5 🌟 lah untuk novel ini.. 😊 Oke, selamat membaca..
3.6 bintang :) . Three Sisters nyeritain tentang tiga saudari dengan penderitaan mereka masing-masing. Pertama ada Rera, Rera ini belum nikah padahal umurnya udah 32 tahun. Padahal dia udah berkali-kali dijodohin dan nggak ada yang cocok, Kedua ada Gina, nah Gina ini wanita karir yang udah nikah dan punya anak. Tapi, dia ngerasa kalo bagi dia pernikahan itu kayak di penjara, ngebosenin karna harus jaga anak melulu jadi dia malah pengen balik lagi jadi single. Ketiga ada Yumi, pernikahan Yumi ini adem ayem aja padahal dia punya suami yang cinta sama dia. Tapi, masalahnya mereka belum punya anak juga walaupun udah tiga tahun nikah, ditambah lagi mertua mereka berisik banget nanyain Yumi kapan hamil terus. . Well, tbh ini novel Seplia pertama yang saya baca. Padahal, Replay sama Insecure udah jadi wishlist saya dari lama, tapi malah yang saya beli Three Sisters duluan haha daan ternyata saya suka dan jadi pengen baca karyanya yang lain. . Gaya penulisannya oke, karakter-karakternya apalagi. Porsi buat tiga bersaudari ini pas ngga ada yang dominan banget begitu juga konflik ketiganya yang sama-sama seru. Alurnya juga bagus. Pokoknya saya suka. . Tapi, ternyata masih lumayan banyak typo huhu dan buat karakter Gale sama Ozi masih kurang didalemin *nahloh* ya pokoknya gitu kan kalo Xian keliatan tuh dia kocak, suka ngelawak, tukang makan, dll. Tapi, kalo Gale sama Ozi karakternya kurang jelas aja selain mereka itu suami-able banget. . Dah sekian cuap-cuapnya. Overall, novel ini bagus, banyak pesan moralnya, terutama tentang bersyukur sama kehidupan yang kita punya, yang bahkan orang lain inginkan.
Bercerita tentang 3 orang saudara, Rera-Gina-Yumi. Rera masih melajang, Gina sudah menikah dan punya momongan, dan Yumi yang sudah menikah tapi belum mendapat momongan.
Di sini diceritakan masalah yang hinggap pada mereka. Mulai dari Rera yang pengen nikah, Gina yang sumpek sama kehidupannya, juga Yumi yang dirongrong sama mertuanya.
Cerita Yumi ini mengingatkan saya sama drakor 'Fight for My Way', mirip si, bedanya kalo yang ini belum punya momongan, kalo drakor gara" miskin (orang tuanya nggak punya restoran). Apalagi waktu adegan suaminya marah" karena Yumi disuruh nyuci piring" di dapur. Mirip sekaleee
Saya juga suka sama cerita tentang Gina, banyak pesan moral yang dapat diambil. Seperti nanti kita siap nikah atau nggak. Bukan cuma materi aja yang disiapkan, tapi juga mental. Bagus, baguss
Trus kalo Rera itu, saya ngutip dari guru pkn saya tadi wqwq intinya 'Babah sugih, babah ngganteng. Tapi lak ancen ati iki ora sreg kudu yoopo?' Trans : biarkan kaya, biarkan tampan. Tapi kalo hati ini nggak cocok harus gimana?
Sekian review absurd ini, terima kasih 💋
This entire review has been hidden because of spoilers.
Setelah novel terakhir yang saya baca plotnya dragging abis, membaca buku ini sungguh menyegarkan jiwa raga. Ini pertama kalinya saya membaca karya Seplia, dan saya langsung menyukai tulisannya yang to the point, berisi, dan beralur cepat. Dan, surprise-surprise, saya sama sekali tidak komplain soal karakternya. Rera, Gina, dan Yumi digambarkan dengan ringkas namun riil. Karakternya memikat dan bukanya tipikal mbak-mbak sinetron yang pasrah!
Yang saya suka pula, ketiga saudari ini mendapatkan porsi sama rata. Adil dan tidak memihak. Ini adalah salah satu buku dengan plot banyak, dengan plot yang sebetulnya terbilang 'biasa', namun penulis berhasil memaparkannya dengan menarik.
Sedikit saya sayangkan, lumayan banyak salah ketik nama. Dan adegan dimana Rera bertemu Egi menurut saya lumayan aneh karena tidak ada dokter yang ke restoran memakai jas dokter.
Overall, buku ini saya rekomendasikan bagi para pecinta metropop yang 'berisi'!
Rasanya agak terburu buru dan terbirit! Aku ngerti sih, ini mengisahkan cerita 3 saudara ya jadi fokus harus dibagi ke ketiganya. Untungnya aku bisa merasakan emosi yang berbeda beda ketika membaca cerita 3 saudara ini. Khususnya Yumi, yang benar benar gaada niatan apa apa cuma ingin punya anak 🥹
Dan aku juga sulit berempati sama si kakak nomor 2, Gina, yang rasanya mbok ya kufur nikmat euy. Tapi yah, rasanya wajar juga kalau kita iri sama rumput tetangga tapi sama saudara sendiri itu... ummm... baiklah tetap manusiawi.
Aku suka ceritanya humanis, dekat dengan kita juga.
ternyata ini udah gw baca, thn kemarin mungkin... udah gw bawa2 buat dibaca pas nemenin yg pd berenang eh pas baca halaman2 awalnya baru engeh 😂😂 bukunya ga tebal tp isinya nyeritain ttg 3 saudara, yang 1 ditanyain melulu kapan nikah, yg 1 ditanyain melulu kapan punya anak, yg 1 udah punya suami udah punya anak tapi.... jalan hidup manusia itu beda2, kebahagiaan orang juga emang beda2, cocok di satu orang belum tentu cocok buat orang lain... tp ketika kita udah ngambil pilihan, ya jalanin, tanggung jawab sama pililihan kita... jangan nyalahin orang atau keadaan, ga guna...
Kisah 3 bersaudari dengan cerita kehidupannya masing masing. Si sulung Rera seorang fashion designer yang sdah cukup umur tapi masih melajang namun tidak pernah menolak bila diatur untuk kencan buta tapi karena dia seorang yg pemilih maka hampor semua kencannya tidak berhasil sampai akhirnya dia menemukan seseorang yg bisa menutup mata terhadap standarnya sendiri. Gina si tengah adalah wanita karier dan seorang ibu 2 anak yang sdg mengalami kebosanan dlm pernikahan dan rutinitas dalam mengurus keluarga dan anak, yang hampir saja mengambil keputusan yang salah. Dan Yumi si bungsu yang merasa tertekan oleh ibu mertuanya karena blm hadirnya buah hati setelah 3 thn pernikahan.
Buku ini menggunakan PoV ketiga tokoh diatas. Masing2 menceritakan beban hidup masing2 dan akhirnya menemukan jalan keluarnya. Tokoh pria pendamping mereka pun sangat loveable. Walaupun hanya 200an halaman konfliknya cukup padat
Buku tipis yang bikin kenyang. Di awal-awal emang kaku, tapi makin ke tengah makin mengharukan. Pesannya dalam banget. Tentang tiga masalah pernikahan: jodoh tak kunjung datang, bosan dengan pernikahan, dan belum punya anak padahal sudah lama menikah. Ketiga masalah itu dihubungkan dalam kehidupan tiga saudari.
cover-nya gemay sekali. Yang saya suka dari novel ini adalah, biarpun ada tiga tokoh utama (yang menjadi 6 bersama pasangan mereka), penulis bisa memberikan porsi yang sama dan seimbang. Masalah lajang, menikah ingin melajang lagi, dan bayi yang tak kunjung datang pun cukup dikupas dalam dengan penyelesaian yang nggak buru-buru. Sukses untuk penulis
Premis yang sederhana dan konflik yang begitu dekat membuat buku ini nikmat dibaca di kala libur lebaran. Momen lebaran atau hari besar lainnya, terkadang menjadi sangat menyeramkan untuk sebagian orang, tak terkecuali tokoh pada buku ini, Rera & Yumi.
Rera, anak pertama yang belum juga menemukan jodohnya di usia 32. Rera yang selalu menerima tawaran sang mami untuk bertemu dengan pria teman maminya, mulai jengah merasa dikenalkan pria asing. Rera adalah wakil dari orang-orang yang ditanya terus “Kapan Nikah?” ketika datang di acara keluarga.
Sedangkan, Yumi adalah wakil dari orang-orang yang sudah lama menikah tetapi belum juga dianugerahi buah hati. Biasanya kalau di acara keluarga, tante-tante sering tanya “Udah Hamil Belum?” selanjutnya akan diteruskan oleh wejangan cara mengatur pola hidup yang sehat, makanan sehat dan saran untuk mencoba posisi bercinta yang lain agar tidak bosan dan makin bergairah. Tak sedikit juga yang menyarankan untuk pergi ke orang pintar, seperti yang ditulis penulis, Seplia pada buku ini.
Karakter lainnya Gina, yang sudah memiliki 2 buah hati. Tentu saja permasalahannya rumit, orang yang sudah menikah dan memiliki buah hati belum tentu bahagia, kadang mengeluh menghadapi anak yang tak bisa diatur atau suami yang sukar diajang bekerja sama merawat rumah.
Ketiga karakter itu mewakili perasaan-perasaan orang2 yang berusia di atas 27tahun.
Walau ceritanya begitu real, namun memang mudah ditebak. Bahkan beberapa kali nampaknya ada adegan yang membuat saya mengernyitkan dahi, seperti saat Rera ingin bertemu kenalannya di sebuah restoran yang ternyata di restoran itu juga ada Xian, arsitek rumah barunya sekaligus orang yang buat dia kesemsem. Saat itu Xian sedang meeting menemui kliennya, lalu Penulis membuat adegan Rera menyambangi Xian dan duduk di sampingnya. Sedangkan Xian masih meeting bersama kliennya. Kejadian yang agak sulit terjadi, terlebih Xian seorang arsitek yang mana agak kurang mungkin klien nya se-chill itu membiarkan orang lain nimbrung meeting mereka.
Adegan yang selanjutnya membuat bingung, ketika kenalannya sudah datang dan ada percakapan bahwa Xian langsung tahu bahwa kenalan Rera yang baru datang itu adalah dokter, lalu saya bertanya-tanya “Darimana dia tahu? Apa orang itu pakai Jas Putih dokter? Atau orang itu bawa stetoskop di lehernya?”, Saya belum pernah melihat dokter makan di restoran yang bukan di Rumah Sakit pakai jas putih dokternya. Nampaknya penulis agak bingung memberitahu pembaca bahwa kenalan Rera itu adalah seorang dokter. Atau mungkin saya saja yang bingung ya hehe.
Belum lagi saat Yumi berkata “Bude Ina, kenalan Gina dan Rera”, Yumi memang pernah ke toko kue Bude Ina ketika menjemput Gina. Tetapi, tidak ada dialog antara Bude Ina dan Yumi atau Gina dan Yumi yang memberi tahu bahwa Bude Ina kenal Rera juga.
Terlepas dari hal-hal yang mengernyitkan dahi itu, buku ini banyak hal yang bisa dipetik bagi kamu yang belum mendapatkan jodoh di usia matang, atau bagi kamu yang sudah menikah namun belum dianugerahi anak atau bahkan kamu yang sudah punya segalanya namun lupa itu bersyukur.
Novel MetroPop yang menyajikan cerita tentang tiga saudari: Rera, Gina dan Yumi. 3 wanita, 3 cerita berbeda, dengan permasalahan mereka masing-masing.
Rera, si sulung 32 tahun yang belum juga menikah. Karena desakan dari berbagai pihak, dia sering menerima kencan buta yang ditawarkan padanya, tapi ujung-ujungnya tidak ada yang cocok.
Gina, si anak tengah. Working mom dengan 2 anak yang sedang aktif-aktifnya. Dia merasakan beban dan kejenuhan dalam menjalani kehidupannya yang sibuk dan berharap bisa kembali seperti saat dia masih lajang.
Yumi, si bungsu yang tak kunjung hamil selama 3 tahun pernikahan. Mendapat tekanan dari keluarga suami, terutama dari ibu mertuanya, membuatnya frustasi.
Penyajian cerita yang menarik Setiap bab berisi 3 alur cerita berbeda dari ketiga tokoh utama bersaudari ini menggunakan sudut pandang orang ketiga. Dimulai dari Rera, Gina, lalu Yumi. Mereka mendapat porsi cerita yang sama, tidak ada yang lebih dominan.
Alur Alur ceritamya maju jadi ringan dan gampang aja diikutin. Walau agak fast-paced menurutku, karena banyak kejadian yang dialami para tokoh yang terjadi secara tiba-tiba, dan berakhirnya pun cepat. Mungkin karena halaman buku ini tidak begitu banyak ya dan harus menceritakan 3 kisah sekaligus.
Kisah yang emosional Membaca ketiga kisah mereka secara bergantian sangat menguras emosiku😂 apalagi saat mereka secara bersamaan berada pada titik terpuruk. Kasihan, bercampur emosi, campur sedih. Pokoknya campur aduk😭
Ending Sebenarnya konflik atau klimaks dari cerita mereka sudah bisa ditebak, tapi sangat banyak amanat tentang pernikahan yang bisa kita dapat dari cerita mereka.
----
Gimana perasaan kita jika didesak menikah? Atau dipandang sebelah mata karena belum punya momongan? Atau mungkin merasa depresi karena bekerja sambil mengurus anak?
Aku sendiri pernah merasakan di posisi Yumi, bahkan lebih lama dari dia. Aku pun sekarang juga ada di posisi yang sama dengan Gina. Tapi yang aku syukuri, aku tidak mengalami konflik batin seperti mereka karena aku dapat banyak dukungan. Di sini aku mengerti kalau support system dari berbagai pihak itu sangat diperlukan pada saat-saat terburuk kita.
“Apa pun yang terjadi, kembalilah pulang pada pasanganmu, pada orangtuamu, saudaramu, anak-anakmu. Jangan pedulikan omongan sampah orang yang berpotensi ninggalin kamu saat kamu nggak lagi cantik, nggak lagi bekerja, nggak lagi sehat. Jangan.”