Jump to ratings and reviews
Rate this book

Irish: Memandang Langit yang Cerah dengan Tangan Saling Menggenggam

Rate this book
Klub musik sekolah terancam dibubarkan kalau Irish tak bisa menunjukkan bahwa klub itu punya prestasi. Irish pusing. Lebih pusing lagi ketika Bu Dewi memintanya untuk mengajak Alvaro bergabung.

Alvaro itu cowok belagu, trouble maker, suka bolos dan tidur di bawah pohon belakang sekolah.

Tapi… kata Bu Dewi, Alvaro bisa menyelamatkan klub musik.
Irish mengalah dan menuruti saran Bu Dewi.

Lalu, diiringi denting piano, petikan gitar, dan harmoni nada alat musik, sekelompok anak SMA berjuang demi klub yang mereka cintai.

220 pages, Paperback

First published May 1, 2017

Loading...
Loading...

About the author

Kamal Agusta

7 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (28%)
4 stars
1 (14%)
3 stars
4 (57%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews304 followers
May 30, 2017
Review lengkap + giveaway http://www.kubikelromance.com/2017/05...

Demi penghematan dana pengeluaran, Kepala Sekolah berencana melakukan pemangkasan ekskul yang tidak berprestasi. Irish sangat mencintai musik, dia tidak ingin ekskul yang diikutinya bubar, walau belum pernah menghasilkan prestasi apapun, dia beserta anggota yang lain ingin mempertahankan. Bahkan, Naufal, sahabat Irish sekaligus ketua OSIS tidak bisa membantu. Bu Dewi, pembina klub musik memberikan usul untuk mengajak Alvaro, dia diyakini akan sanggup mempertahankan klub musik.

Tentu saja tidak mudah bagi Irish untuk mengajak Alvaro bergabung, cowok tersebut adalah murid pindahan dan langsung menjadi troublemaker, tidak memiliki teman, suka menyendiri dan suka membolos. Namun, demi klub kesayangannya, Irish tidak pernah menyerah dan selalu membuntuti Alvaro.

Alvaro sangat membenci ayahnya, gara-gara dia, orang yang paling Alvaro sayangi pergi meninggalkan dirinya. Semenjak itu dia menjadi pembangkang dan berkalui-kali pindah sekolah. Bahkan, dia rela meninggalkan bakat yang diwariskan ibunya. Kehadiran Irish membuka mata Alvaro, terlebih ketika gadis tersebut membawanya ke bangsal anak pengidap kanker, bahwa ada yang lebih menderita daripada dirinya, bahwa Alvaro masih lebih beruntung daripada orang lain.

Saya cukup menikmati membaca Irish, tentang dunia remaja yang tidak melulu tentang cinta, lebih menekankan akan impian dan relasi dengan keluarga, dalam kasus ini relasi antara Alvaro dengan ayahnya. Konfliknya memang tergolong ringan, pun dengan penyelesaian yang tidak berbelit-belit, didukung dengan gaya bercerita yang tidak terlalu baku sehingga nyaman untuk diikuti. Plotnya juga rapi dengan sudut pandang orang ketiga sebagai pencerita.

Karakter kedua tokoh utamanya cukup kuat, saya suka Irish, dia tipe gadis yang punya passion dan ingin mengembangkannya, dia ingin apa yang dicintainya tidak mudah lepas begitu saja, misalkan saja mempertahankan klub musik yang hanya beranggotakan beberapa orang dan belum memiliki prestasi cemerlang. Lepas dari itu, kehidupannya juga cukup bahagia, memiliki adik yang walau sering usil, keduanya tergambar saling menyayangi, mereka berdua juga sering menghibur anak penderita kanker, pasien ibu mereka di rumah sakit.

Berbeda dengan Irish, Alvaro kehilangan ibunya ketika masih kecil, hal tersebut sangat membuatnya terpukul, membuatnya menjadi pribadi yang sinis. Dia juga menyalahkan ayahnya yang selalu sibuk dengan pekerjaan, ditambah Alvaro akan diperkenalkan dengan perempuan yang akan menjadi pendamping ayahnya. Walau terlihat kurang harmonis, sangat terlihat sebenarnya ayah Alvaro sangat menyayangi dan memperhatikan anaknya tersebut, pun sebaliknya.

Ada bagian yang membuat saya cukup terharu, ketika Alvaro pertama kali akan dikenalkan dengan seorang perempuan. Alvaro langsung meninggalkan restoran dengan kondisi perut kosong, dia memilih menunggu di mobil dan tidak ingin menyentuh makanan yang selepas itu dibungkuskan untuknya. Tidak ingin kelaparan, ayahnya kemudian memasak telor ceplok dan meletakkannya di depan pintu. Dan ketika ayahnya sedang sakit, Alvaro dengan nada sinisnya menyuruh untuk pergi ke dokter dan kemudian meletakkan obat sama seperti ketika ayahnya meletakkan makanan untuknya.

Buku ini cukup ringan dengan konflik serta pesan yang cukup menyentuh. Saya rekomendasikan bagi siapa saja yang menyukai kisah remaja.

3.5 sayap Irish dan Alvaro.
Profile Image for Sylvia.
Author 10 books72 followers
May 22, 2017
Irish bingung. Nasib klub musik sekolah ada di tangannya. Teman-temannya mengharapkan dia bis amencarikan solusi untuk menghindarkan klub musik dari kehancuran. Kepala sekolah telah mengumumkan bahwa klub eskul yang tidak berprestasi akan dibubarkan. Dan klub musik masuk ke dalam kategori tersebut.

Meski Naufal sahabatnya itu adalah ketua OSIS, tetap Irish harus memutar otak agar bisa mendapat ide cemerlang. Hingga suatu hari Bu Dewi, guru pembimbing klub musik, menyuruhnya untuk merekrut Alvaro. Anak baru yang Irish tahu songong, anti sosial dan sering bolos dari kelas itu, akan bisa membantu bangkitnya klub musik? Irish sangat meragukannya. Namun karena Bu Dewi sangat memaksa, seolah tahu apa yang Irish tidak tahu, akhirnya Irish pun mendekatinya.

Menjinakkan Alvaro ternyata tidak semudah yang Irish bayangkan. Anak itu kerjanya hanya tidur di lapangan belakang sekolah, tidak pernah belajar, seolah kalau dikeluarkan dari sekolah pun dia tidak peduli. Irish yang tadinya kesal setengah mati, jadi malah penasaran, dan sedikit demi sedikit dia pun mencoba mengerti Alvaro. Meski itu bukan hal yang mudah.

Saya suka perkembangan karakternya, mulai dari ngeselin sampai nge-gemesin. Interaksi mereka cukup natural dan enak diikutinya. Memang pada dasarnya saya suka cerita-cerita young adult macam ini. Kisah SMA itu selalu menarik untuk dibaca. Mengingatkan pada masa lalu.

Saya sempat menangis saat adegan Irish dan adiknya voluntir ke bangsal perawatan anak-anak kanker. Karena saya tahu benar, betapa anak-anak penderita kanker di rumah sakit sangat mengapresiasi sukarelawan-sukarelawan yang datang menghibur mereka. I know, because my daughter once a cancer patient.

Complete review **AND GIVEAWAY** on My BLOG: Syl's Reading Corner
Displaying 1 - 3 of 3 reviews