Nggak mau tahu, pokoknya mau mewek aja 😭
Aku kira, antologi ini akan berat banget sama kekentalan kebudayaan Indonesia Timur, ternyata nggak sama sekali. Unsur ketimurannya diselipkan dengan anggun, tidak merusak keindahan tata bahasa dalam puisi dan alur cerpen yang ditulis, entah yang dipakai itu adat semacam adat perkawinan maupun identitas lain seperti kepercayaan dan sejarahnya. (Sebagai perbandingan, aku pernah membaca novel yang berlatar budaya Timur, tapi novel itu cenderung berfokus dengan penggambaran budayanya hingga "melupakan" ceritanya)
Nuansa kesedihan yang dibawa dalam antologi ini mengena banget buat aku, terlebih secara personal. Puisi "Di Tepi Sungai Douro" menjadi puisi favoritku karenanya, meski setelah kucari-cari, itu bukan nama sungai di daerah Indonesia Timur. Malahan, ada beberapa puisi lain yang justru menyeret Braga dan Sindoro ke dalamnya. Jadi, kalau disebut 100% membawa "sesuatu" dari Timur, tidak bisa juga. Jadi, lebih amannya diartikan saja "Dari Timur" ini sebagai "karya-karya dari orang Indonesia Timur", biar nggak terlalu kecewa.
Penilaianku untuk puisi, kesannya dapat--maksudnya, aku bisa tahu puisi ini hawanya bagaimana dengan 2-3 kali membaca singkat. Cuma, karena memang itu karya sastra yang "berbeda" dari yang lain, jadi harus diselami lebih dalam untuk bisa 'ngeh' dengan maksud puisinya. Untuk cerpen, nggak terlalu ada masalah. Kriteria "satu konflik/ masalah sederhana" sebagai persyaratan sebuah cerpen--dalam kamus pengetahuanku--sudah dipenuhi. Penokohan juga oke banget. Masalahku cuma ketika pindah adegan, harus lebih memahami siapa saja yang sedang berbicara, soalnya beberapa cerpen pas ganti adegan, ikut ganti POV juga, padahal kebanyakan cerpen pakai sudut pandang orang pertama. Gampangannya, si "aku" dan "kamu"-nya ikut ganti.
Hoho, itu aja, sih. Intinya bagus, nggak mengecewakan. Malahan bikin tambah kepo sama volume lanjutannya.