Aku dititipi perjuangan bersama engkau semua, anak-anak dan cucu-cucuku. Perjuangan yang meskipun engkau dikepung oleh kegelapan, tapi engkau tetap sanggup menerbitkan cahaya dari dalam dirimu. Meskipun terbata-bata di jalanan yang sangat terjal, engkau tetap mampu menata kuda-kuda langkahmu sehingga keterjalan jalan itu bergabung ke dalam harmoni tangguhnya langkah-langkahmu.
Bahkan, sekalipun engkau ditimpa, ditindih, dihajar, dan seakan-akan dihancurkan oleh beribu beban dan permasalahan, engkau justru menjadi anak-anak cucu-cucuku yang mengubah jalanan itu menjadi rata bagi semua orang.
Melalui buku ini, kutitipkan hutan belantara pemikiranku kepadamu.
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.
Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.
Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.
Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.
Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.
Menggunakan Google Play Book, saya bisa menandai bagian-bagian mana buku Cak Nun ini tanpa merusak seperti di buku cetak, karena banyak sekali bagian yg mau saya tandai. Jika tidak, hilang sudah pelajaran yang saya ambil, seperti ketika membaca buku-buku Cak Nun sebelumnya, mungkin karena saya pelupa. Berikut beberapa bagian yang saya cantumkan di sini:
Sains:
Selesai membaca Black Hole War, saya jadi teringat bagian ini. Saya pikir, bagaimana bisa Cak Nun memaparkan seperti ini:
“..Misalnya engkau masih muda, jalan ke masa depan masih jauh, dan kau melihat banyak matahari berjajar di cakrawala. Namun, keadaan di sekitarmu rusak binasa tak terkira, penuh penyakit akut, bertaburan racun, dan segala macam zat negatif yang membunuh akal, batin, mental, dan bahkan jasadmu..
..Engkau masih muda belia atau sudah tua renta terkurung oleh posisi di mana engkau tak bisa berbuat apa-apa atas situasi-situasi di sekelilingmu. Keadaan yang jauh lebih rusak daripada yang pernah engkau pelajari atau bayangkan tentang kerusakan. Situasi gila yang lebih gila daripada segala kegilaan yang pernah engkau saksikan dan pahami..”
Anak Asuh Bernama Indonesia
“..Daripada engkau menggenggam dunia tanpa cakrawala, kelak engkau akan tahu bahwa yang lebih nyata adalah meraih cakrawala, meskipun tak mendapatkan dunia.Akal yang paling minimal pun mengerti, atau sekurang-kurangnya memiliki naluri untuk peka, bahwa sudah pasti dunia ini akan meninggalkanmu dan engkau sendiri pasti meninggalkannya. Untuk pergi atau pindah ke mana?Ke suatu wilayah yang untuk sementara kita sebut cakrawala.”
Mempelajari Cinta dan Belajar Mencintai
Lanjut dengan matematika..
“Dari mana engkau tahu? Dari siapa engkau berubah dari tidak tahu menjadi tahu? Apakah benar kau bisa percaya siapa pun atau apa pun yang memberimu tahu? Apakah kau tahu tentang yang memberimu tahu sehingga kau yakini tahumu itu sebagai sungguh-sungguh tahu? Bagaimana kalau tahumu itu hasil dari kebohongan orang yang tahu tidak sebagaimana yang kau tahu? Atau tahumu itu produk dari dusta orang yang memberimu tahu?
Anak-cucuku dan para jm, pertanyaan ini bisa berkembang secara deret hitung dan bisa membengkak secara deret ukur. Tahukah engkau bahwa tahumu bisa jadi merupakan bagian yang paling rendah dan rentan dari tidak tahumu”
Al-Browsingul Karim
Pelajaran Hidup:
“Maka, secara irama dan tahap, ta’dib dibangun dan dijalani melalui tahap ta’lim, dari tidak atau belum tahu menjadi tahu. Tafhim, dari belum paham menjadi paham. Ta’rif, tahu, paham tetapi belum benar-benar mengerti, sehingga memerlukan tahap ini. Kemudian ta’mil atau taf‘il, banyak orang tahu dan paham, bahkan berhasil mengerti, tetapi belum tentu bisa atau mampu melakukannya. Dan puncaknya takhlis, tahu, paham, mengerti, dan bisa, tetapi tidak ikhlas mengerjakannya.”
Ta`dib dan Kepala Dinas Tipu Daya
“Jika anak-cucuku dan para jm dikepung oleh kegelapan, engkau harus berlatih membangkitkan cahaya dari dirimu sendiri. Jika ditindih oleh kepalsuan, engkau tak berhenti mendekatkan diri agar disahabati oleh Yang Sejati. Jika terbuntu langkah dan tak berdaya, engkau tidak pernah memisahkan diri dari Yang Maha Pembuka dan Maha Berdaya”
Al-Browsingul Karim
“Misalnya, bahwa manusia tidak boleh merendahkan orang bodoh. Karena sebodoh apa pun, seseorang akan berangkat ke masa depan dengan nasibnya. Dan, yang disebut nasib ini tidak memiliki kewajiban untuk setia atau menuruti pemikiran dan rancangan manusia. Nasib adalah sebuah rahasia yang asal-usulnya dari langit.
Oleh penguasa langit, kebodohan manusia bisa dikawinkan dengan nasib yang indah. Sementara, orang pandai bisa saja dikawinkan justru dengan nasib yang buruk dan berat. Para pendongeng atau penutur kisah biasanya menyimpulkan bahwa jarak antara nasib dan kepandaian sangat jauh dibanding jarak antara nasib dan kejujuran.”
Mr. VVVVVIP, Muhammad Saw
Tasawuf:
“Nanti, di tengah-tengah istirahat dari gegap gempita perjuangan duniamu, di tengah riuh rendah peperangan melawan masalah-masalahmu, engkau duduk, bahkan tergeletak, dengan napas terengah-engah.Tiba-tiba, semoga, engkau disapa oleh “cinta ilahiah”.. ..tempat segala fakta pemuaian, pertumbuhan, harmoni, pernikahan-pernikahan pada inti universalitasnya, dan apa saja indikator persatuan, penyatuan, kebersatuan, kemenyatuan, manunggal, nyawiji, dan apa saja kumpulan huruf-huruf yang dibangun dan disusun untuk nilai dan makna datang mendaftarkan diri mereka masing-masing, satu per satu dan bersama-sama, kepada ilmu dan pengetahuanmu.”
Mempelajari Cinta dan Belajar Mencintai
“Para pengikut Muhammad tidak cukup hanya makan mangga, atau seratnya, atau ternyata kulitnya, tanpa menghayati asal-usul mangga. Tidak bisa makan nasi tanpa ingat para petani yang menanam padi. Tidak bisa makan buah apa pun tanpa mengapresiasi tukang-tukang kebun.”
Ajaran Kulit Mangga
“Anak-cucuku dan para jm menagih kalimatku “sederas-deras air hujan, sela-sela kosong di antara titik-titik hujan masih lebih luas dibanding jumlah volume seluruh air guyuran hujan”. Anak-cucuku dan para jm mempertanyakan, mana mungkin berjalan di bawah derasnya hujan bisa tidak basah kuyup?”
Hujan Deras Tidak Basah Kuyup
“Kalau tidak ada yang seolah tak ada, kalau segala sesuatu indikator kenyataannya hanya pancaindra, kalau yang bisa dilihat, didengar, dan diraba adalah satu-satunya fakta, kalau yang tak terlihat, tak terdengar, tak teraba volume atau jumlahnya atau ranahnya hanya sangat sedikit dibanding yang terlihat, terdengar, teraba, dan bukan sebaliknya, maka hujan deras harus mengakibatkan basah kuyup.
Alhamdulillahnya, tanpa bicara apa pun, hujan tidak pernah menghalangi hadirin untuk tetap bersama Rombongan Alkisah itu dan tidak membuat mereka pergi dari acara.
Puncak pencapaian diskusi di bawah guyuran hujan biasanya adalah keikhlasan menerima hujan. Kemudian, kesadaran baru bahwa hujan punya banyak fungsi. Misalnya, menyaring siapa saja yang niat-niat baiknya sedemikian mendasar dan besar sehingga tidak bisa dibatalkan atau dihalangi oleh hujan. Bahwa hujan menjadi cermin bagi ketangguhan atau kerapuhan badan dan mentalnya. Bahwa hujan membuat mereka lebih kuat mentalnya, lebih meningkat daya berpikirnya, lebih sublim rohaninya, serta sangat jelas mengikis kecengengan hatinya.”
Persaudaraan dengan Hujan
“Kita sangat percaya, yakin, dan merasa nikmat kepada Tuhan. Bukan kita sangat percaya, yakin merasa nikmat kepada surga. Tuhan berakibat surga, bukan surga berakibat Tuhan. Tuhan mencintai hamba-Nya yang mencintai-Nya maka ditempatkan si hamba itu di surga. Tidak ada peristiwa hamba Tuhan mencintai surga maka surga menempatkannya di Tuhan. Tuhan menciptakan triliunan matahari dan benda planet bulat-bulat, tetapi tidak diberi akal. Tuhan menciptakan batu-batu dan gunung, pepohonan dan binatang, tanpa anugerah akal. Hanya manusia, maka mereka dikhalifahkan oleh-Nya di bumi dengan terlebih dahulu ditanam “chip” kepada dirinya berupa akal.”
Bukan Surga Berakibat Tuhan
“Temukan dirimu dalam bukaan dua halaman yang kau peroleh di Al-Quran itu. Cerdasi perlambang-perlambangnya, peka terhadap adamu padanya, beban masalahmu dan jalan keluarnya. Atau masukilah pakai cara apa pun asalkan sopan pada Al-Quran, berterima kasih kepada Rasulullah, dan berakhlak kepada Allah.”
41
“Yang perlu direnungi bukan keputusan Tuhan. Yang harus direnungi untuk diperbaiki adalah keputusan-keputusanmu sendiri. Atas keputusan Tuhan, jelas masalahnya: ikhlas menerima, kemarin, hari ini, atau besok.”
Apa yang Perlu Direnungi dari Nasib?
“Silakan memilih apa saja yang membuatmu bergerak mendekat ke Allah dan membuat Allah mendekat kepadamu asalkan engkau olah menjadi alat untuk mendekatkan jarak antara Tuhan dan dirimu.”
Apa yang Perlu Direnungi dari Nasib?
“Ada legenda tentang Ibu Maliàh yang dondom atau menjahit pakaian dengan jarum benang di dek sebuah kapal yang akan mengantarkan ratusan jemaah haji. Pak Kiai mengantarkan santri-santrinya sampai memasuki kapal. Dijumpainya si Ibu Maliàh sedang mengucapkan kalimat-kalimat wirid sembari dondom. Pak Kiai mengingatkan Maliàh bahwa makhraj dan tajwid ucapannya banyak yang salah. Maliàh langsung berhenti wiridan. Ketika Pak Kiai sudah kembali ke pelabuhan di pantai untuk nguntapke kapal melaju, tiba-tiba ada orang terjun dari kapal, berlari di atas air, menuju Pak Kiai. Orang itu langsung bertanya kepada Pak Kiai: Pak Kiai, Pak Kiai, Sampeyan tadi belum mengajari saya bagaimana wirid yang benar .…” “Ternyata orang itu adalah Maliàh. Pak Kiai langsung pingsan.”
Wali Negeri Khatulistiwa
“Siapa tahu ia termasuk yang Tuhan maksudkan di dalam rekomendasinya kepada umat manusia, bahwa tanda orang yang mendapatkan hidayah adalah yang mendengarkan perkataan-perkataan, kemudian memilih yang terbaik untuk diwujudkan menjadi lelaku.”
Tidak Tega kepada Nabi Isa
Sosial:
“Tidak usah merambah skala-skala besar rekayasa kapitalisme, sosialisme, dan Islam sebagai musuh baru. Tak usah dakwah demokrasi penguasaan kilang-kilang minyak di negeri-negeri kelas dua dan tiga. Tidak usah sampai ke Illuminati dan Freemason. Tidak usah sampai perjudian dan perbotohan pemilihan kepala pemerintahan, dengan segala domino-domino rahasia di balik program-program pembangunan. Cukup yang kecil saja, misalnya beduk dan ziarah kubur. Engkau mempertengkariku karena tak setuju pada dua hal itu. Padahal, pangkal mulanya dulu terbalik. Kiai panutanmu justru menganjurkannya, sementara kiaiku tidak mencenderunginya. Dan setiap hari kita bertengkar seolah-olah kita sedang mempertahankan nyawa dari maut seolah kita saling mempertahankan kekayaan sebuah benua”
Darurat Aurat (1)
“Karena kemalasan berpikir, meneliti, dan menganalisis, kumpulan-kumpulan manusia suatu hari bisa keluar rumah dengan senjata tajam dan acungan tangan serta teriakan pekikan menyebut nama Tuhan penuh kegagahan dan keperkasaan membakar sebuah patung. Mereka tidak belajar untuk mengetahui bahwa arca yang perlu dibakar sesungguhnya terletak di dalam mismanajemen berpikir mereka sendiri.”
Manajemen Ke-Adam-an dan Ke-Hawa-an
“Markesot pernah menjelaskan secara sangat teknologis metode menghentikan bocoran lumpur yang meluap-luap dari perut bumi menjadi danau. Namun, karena tidak ada yang meminta tolong kepadanya, bahkan tak ada yang sekadar bertanya kepadanya, ia diam saja.”
Ilmu Peta Diri
“Kenapa kesadaran tentang sejarah dan penghormatan kepada leluhur diupayakan agar semua orang, terutama generasi muda, meremehkannya? Karena hal itu penghalang besar bagi pola penjajahan yang sedang dijalankan. Kalaupun ada yang mendasar dan mendalam secara nilai dari masa silam bangsa Negeri Khatulistiwa, itu harus dirumuskan dengan istilah yang meremehkan, menyempitkan, dan membuat rendah diri, yakni kearifan lokal.
Kenapa wacana tentang kemunafikan tidak boleh dibiarkan menjadi trending topic pada suatu jangka waktu melebihi batas strategi kaum penjajah? Karena kesadaran, detail, dan komprehensi ilmu tentang kemunafikan akan membuka aib-aib besar para stakeholders kekuasaan, bisa merusak tatanan, membubarkan mekanisme yang sudah ditata secara saksama.”
Perhimpunan Njarem Nasional
“Ketika mulai dewasa Markesot menjelaskan bahwa direndahkannya dongeng itu merupakan salah satu cara untuk memisahkan bangsa kita dari sejarahnya, menghapus masa silamnya, mengubur peradaban yang pernah dicapai oleh para leluhur. Sehingga, bangsa kita menjadi kosong pengetahuan tentang diri mereka sendiri..
..Berikutnya bangsa kita menjadi tidak percaya diri. Dengan kata lain, bangsa kita menjadi tidak percaya bahwa ada sesuatu yaBangsa kita adalah bangsa yang tidak percaya diri, tetapi sombong dalam kerendahdiriannya, dan sangat bangga bahwa mereka rendah diri. Bangsa kita marah kalau ada yang bilang bahwa mereka hebat karena yang hebat haruslah bangsa-bangsa yang bukan mereka.ng bisa dibanggakan di dalam sejarah nenek moyangnya.”
Rendah Diri dan Sombong
“Di Patangpuluhan kita sejak dulu sudah sama-sama melihat bahwa hancurnya bangsa kita terutama tidak terletak pada gagalnya manajemen pengelolaan negara, bukan pada kekayaan bumi rahmat Tuhan menjadi azab bencana, tidak terletak pada budaya korupsi total, atau tidak pernah tercapainya harapan untuk masyarakat adil makmur. Itu semua hanya akibat. Karena, sebab utamanya manusia bangsa kita sudah tidak memiliki pagar yang jelas antara serius dan main-main, antara baik dan buruk, antara benar dan salah, antara mulia dan hina, antara malu dan bangga .…”
Markesot Mencari Kiai Sudrun
“Lho, siapa manusia di dunia ini yang menginginkan ada manusia berguna? Yang mereka maui adalah orang yang memberikan keuntungan kepada mereka, terutama keuntungan dunia, uang, harta, jabatan, akses, dan yang sejenis itu. Yang dimaksud guna atau manfaat sekarang ini adalah keuntungan dunia. Sangat memalukan. Jadi, saya tidak mau terlibat sedikit pun. Nol. Total.”
Kelas Sufi Bolot
Kritik Lainnya:
“Engkau yang melakukan perjalanan perdamaian di pelosok-pelosok, kini malah dikibarkan di altar sejarah sebagai tokoh eksklusivisme dan radikalisme, bahkan rasisme. Sementara aku yang tak pernah mendamaikan siapa-siapa, bahkan sering kali lingkungan yang kudatangi justru kemudian menjadi pecah dan bertengkar, kini diumumkan sebagai figur utama perdamaian antar umat manusia.Itu baru engkau dan aku. Sekali lagi, baru engkau dan aku. Engkau dan aku yang bukan siapa-siapa. Dunia tidak merasa kehilangan ketika kita mati dan dunia tidak merasa kita ada tatkala kita hidup. Baru engkau dan aku. Belum ribuan silang sengkarut lain dengan skala besar, nasional, dan global.”
Darurat Aurat (2)
“Dan, pengurus tertinggi negeri yang kuceritakan ini sangat berhati-hati membaca jodoh tak jodoh itu. Sangat waspada terhadap ketepatan, kelayakan, kepantasan. Misalnya, ketika semua teori komunikasi meyakini rumusan bahwa seorang petugas hubungan masyarakat adalah orang fasih berbicara, yang lancar mengemukakan sesuatu, yang mumpuni kadar kemampuannya untuk merangkum dan merangkai masalah-masalah, si pengurus tertinggi negeri ini melakukan yang sebaliknya. Ia memilih punggawa komunikasi yang agak gagap, sangat lamban bicaranya, ekspresi wajah dan sorot matanya tidak sedap dipandang, dan setiap tampil selalu menghabiskan waktu panjang untuk informasi yang sedikit dan pendek.”
Saya patut bersyukur karena Alhamdulillah, atas izin Allah SWT Emha Ainun Nadjib masih diberikan nikmat sehat dan Islam sehingga mampu menulis kembali. Adapun, tulisan beliau yang benar-benar baru senantiasa saya peroleh lewat laman www.caknun.com. Saya mengamati bahwa laman tersebut pelan-pelan mulai mengalami perubahan. Perubahan itu, setidaknya untuk saya pribadi, saya amati mulai dari rubrik-rubrik tambahan yang dihiasi catatan-catatan Cak Nun.
Begitupun dengan Daur. Saya sempat dibuat tidak paham maksudnya, namun hanya mampu turut memaknai pesan Cak Nun: "...untuk anak cucu..". Tulisan Cak Nun dalam Daur adalah sesuatu yang benar-benar baru tak terkecuali tokoh idola bernama Kiai Sudrun dan Cak Markesot.
Dilihat dari perspektif manfaat dan jariah ilmu, "Daur" sendiri adalah bentuk istikomah pemikiran, perenungan, dan analisis hingga formula-formula kultural lain dari Cak Nun yang mampu memberikan manfaat dalam konteks sosial.
"Daur" adalah sebuah bentuk tulisan Cak Nun yang sudah tidak lagi siap saji dan siap antap. Pembaca diajak untuk menelusuri pembelajaran hidup yang meningkat lagi levelnya. Bisa saja dari satu tulisan pembaca berhenti pada satu kesimpulan, namun tidak menutup kemungkinan bagi pembaca untuk menelusuri kembali ketersambungan dengan tulisan lainnya.
Dengan jumlah pembaca mencapai kurang lebih 1.100-an pembaca setiap hari (lihat halaman xiv) tentu saja "Daur" menjadi sebuah ruang bagi pembaca Cak Nun maupun Jamaah Maiyah untuk senantiasa rehat sejenak dan menemukan jawaban atas clue pemahaman hidup. Sebagaimana dapat dijumpai pada rubrik 'Tadabbur Daur'.
Bagi Cak Nun sendiri, tulisan-tulisan "Daur" adalah upaya untuk mengembalikan "mata" kita dari keterjeratan pada materialisme dimana materi menjadi variabel dan faktor utama. Akibatnya, kita semua hanya melihat berdasarkan materi dan transaksi sehingga melihat dan membayangkan Tuhan dengan cara berpikir materi.
Semoga dengan dibukukannya "Daur" edisi pembuka hingga edisi ke-65 kita dapat menemukan mata air yang mengalirkan ilmu kehidupan. Semoga terus berlahiran generasi-generasi baru yang mau belajar agar kehidupan dapat berlanjut secara berkesinambungan pada masa depan dengan nilai peradaban yang lebih tinggi. Semoga.
Lagi-lagi dibuat berdecak kagum dengan tulisan Cak Nun. Seperti saat membaca Kapal Nuh abad 21 alias buku ke empat dari seri Daur, serial pertama ini juga membuat pembaca kembali disuguhi hasil pemikiran atau renungan yang dalam; tentang banyak hal terutama keadaan Indonesia yang ternyata memang sangat mencemaskan, terlebih jika kita memakai kaca Markesot di sini.
Membaca buku ini seperti sedang menyimak pelajaran kehidupan di kelas atau mungkin universitas "patangpuluhan" yang menyenangkan dan bisa dinikmati siapa saja. Dan tentu saja akan memberi banyak sekali gagasan baru, yang ruwet namun mengasyikkan untuk dipelajari, ditafakkuri-bahkan.
Saya tidak tahu mereview dengan baik, jadi sebaiknya silakan baca sendiri! Haha
Banyak sekali kisah-kisah tersembunyi tentang kegamangan penulis dengan apa yang sedang terjadi di negeri Indonesia, yang akhirnya membuat pembaca - khususnya generasi berikutnya - perlu menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Selain itu, buku-buku Mbah Nun, dan salah satunya seri Daur ini, menurut saya wajib menjadi suplemen di keseharian, supaya tetep eling dan gak terseret arus gelombang.
Tentang apa yang saya dapat dari buku ini, biar saya simpan sendiri. Hahaha. Yang pasti, baca ini serasa diajak berekreasi secara intelektual, emosional, dan spiritual. Aseeek, bahasanya 😂 padahal kadang-kadang pusing juga kalau menebak-nebak ke mana arah isi tulisan di dalamnya. Tapi asik banget. Dahlah.