Tentunya buku ini memberikan pemahaman mengenai apakah CBT sebetulnya. CBT tidak berarti meniadakan trauma masa kecil, tidak juga menganggap emosi atau pikiran negatif itu buruk sama sekali. Buku ini tidak mengarahkan pada kondisi "ekstrem", yang berkebalikan 180 derajat dengan problem apa pun yang kita alami. Misalkan, kita berpikir bahwa "saya bukanlah orang yang baik". Buku ini tidak hendak mengubah pikiran itu menjadi "saya adalah orang yang baik". Alih-alih, pikiran yang realistis adalah "saya punya sisi baik dan juga punya sisi buruk". Menuju yang pertengahan, begitulah.
Beberapa bab dalam buku ini memang relevan dengan persoalan yang saya rasakan, misalnya tentang mengatasi depresi dan kemarahan serta menerima diri sendiri. Di samping itu, ada juga macam-macam thinking errors yang sepertinya patut untuk dihafalkan supaya mudah mengidentifikasinya untuk kemudian "berkonsultasi" kepada buku ini mengenai cara-cara memperbaikinya. Buku ini menyediakan berbagai alat bantu dalam bentuk form, sheet, dan sebagainya (dikumpulkan di "Appendix B").
Maka buku ini layak untuk dimiliki sebagai referensi atau panduan untuk mengatasi sesat pikir dan emosi. Membacanya secara tuntas kali pertama untuk meninjau isinya ada apa saja, selanjutnya buku ini dapat dibuka-buka lagi kapan saja sesuai dengan keperluan.
Saya juga coba mengaitkan petunjuk dalam buku ini dengan ajaran Islam, khususnya tentang tazkiyatun nafs atau mengobati penyakit hati/membersihkan jiwa. Yap, saya duga mental problem hanyalah istilah sekuler yang kalau dalam Islam disebut sebagai "penyakit hati". Dan, menderita berbagai penyakit hati itu sangatlah manusiawi seperti yang baru-baru ini saya dengar dari suatu kajian Syafiq Riza Basalamah di YouTube. Malah Alquran kerap me-roasting manusia atas berbagai sifat buruknya itu: zalim, bodoh, tidak tahu bersyukur, suka tergesa-gesa, dan seterusnya.
Setelah menuntaskan buku petunjuk praktis semacam ini, biasanya ada perasaan seperti mendapat PR. "PR" yang diberikan buku ini bagi saya adalah journaling yang setidaknya dilakukan secara mingguan, untuk meninjau keadaan mental belakangan, mengidentifikasi adakah problem, yang jikalau ada, mencoba-gunakan cara-cara yang ditawarkan dalam buku ini. Katakanlah itu sebagai suatu bentuk "perawatan jiwa". Cara begini lebih affordable lah, ya, ketimbang membiarkan problem-problem--baik yang disadari maupun yang tidak--menumpuk, membusuk dengan mengeluarkan gas-gas yang nantinya menimbulkan ledakan, dan ujung-ujungnya mesti membayar tenaga profesional :P Anyway, kalau terlalu malas untuk mempraktikkan isinya secara "mandiri", buku ini menyarankan untuk meminta dorongan dari tenaga profesional. Buku ini sekalian memberikan gambaran yang cukup mendetail (khususnya di UK) mengenai tenaga profesional macam apa saja yang tersedia.
"PR" lainnya adalah belajar berkebun, sebagaimana judul pada bab 18 yaitu "Psychological Gardening: Maintaining Your CBT Gains". Bab ini mengumpamakan perawatan jiwa dengan perawatan tanaman. Yah, berkebun secara fisik saja saya enggak telaten apalagi berkebun secara mental spiritual?! Anyway, perumpamaan itu mengilhamkan saya agar dapat merefleksikan atau menerapkan pelajaran dari kegiatan yang satu (yang bersifat fisik) ke kegiatan yang lain (yang bersifat mental spiritual). Menjadi manusia yang berintegritas, begitu lo. Maka itu saya berpikir aktivitas cleaning & gardening adalah kunci.