Jump to ratings and reviews
Rate this book

Demokrasi Kita: Pikiran-pikiran Tentang Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat

Rate this book
"Demokrasi Kita, ini ditulis pada tahun 1960 dan dimuat di majalah Islam yang saya pimpin, Pandji Masjarakat. Penilaian politik yang dikemukakan Bung Hatta ini mendapatkan perhatian penuh dari peminat-peminat, baik di dalam maupun di luar negeri. Tetapi apa yang dibayangkan Bung Hatta dalam buku itu, bahwa demokrasi kita sejak waktu itu mulai terancam, telah membuat majalah Pandji Masjarakat dilarang terbit, dan keluar pula larangan membaca, menyiarkan, bahkan menyimpan buku itu.

Satu buah pikir brilian dari salah seorang Proklamator Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, dilarang keras dibaca, siapa pun yang menyimpannya diancam hukuman. Sekarang keadaan sudah berubah, angkatan ’66 yang menuntut keadilan dan menentang kezaliman telah bangkit, angin baru telah bertiup. Buku ini diterbitkan kembali dengan izin khusus dari penulisnya sendiri."

162 pages, Paperback

Published January 1, 2009

1 person is currently reading
19 people want to read

About the author

Mohammad Hatta

84 books181 followers

Latar Belakang dan Pendidikan
Dr.(H.C.) Drs. H. Mohammad Hatta (populer sebagai Bung Hatta, lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12 Agustus 1902 – wafat di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasanya sebagai salah seorang proklamator kemerdekaan Indonesia.

Nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika dilahirkan adalah Muhammad Athar. Anak perempuannya bernama Meutia Hatta menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dalam Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.

Perjuangan
Saat berusia 15 tahun, Hatta merintis karir sebagai aktivis organisasi, sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond (JSB) Cabang Padang. Di kota ini Hatta mulai menimbun pengetahuan perihal perkembangan masyarakat dan politik, salah satunya lewat membaca berbagai koran, bukan saja koran terbitan Padang tetapi juga Batavia. Lewat itulah Hatta mengenal pemikiran Tjokroaminoto dalam surat kabar Utusan Hindia, dan Agus Salim dalam Neratja.

Kesadaran politik Hatta makin berkembang karena kebiasaannya menghadiri ceramah-ceramah atau pertemuan-pertemuan politik. Salah seorang tokoh politik yang menjadi idola Hatta ketika itu ialah Abdul Moeis. “Aku kagum melihat cara Abdul Moeis berpidato, aku asyik mendengarkan suaranya yang merdu setengah parau, terpesona oleh ayun katanya. Sampai saat itu aku belum pernah mendengarkan pidato yang begitu hebat menarik perhatian dan membakar semangat,” aku Hatta dalam Memoir-nya. Itulah Abdul Moeis: pengarang roman Salah Asuhan; aktivis partai Sarekat Islam; anggota Volksraad; dan pegiat dalam majalah Hindia Sarekat, koran Kaoem Moeda, Neratja, Hindia Baroe, serta Utusan Melayu dan Peroebahan.

Pada usia 17 tahun, Hatta lulus dari sekolah tingkat menengah (MULO). Lantas ia bertolak ke Batavia untuk melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School. Di sini, Hatta mulai aktif menulis. Karangannya dimuat dalam majalah Jong Sumatera, “Namaku Hindania!” begitulah judulnya. Berkisah perihal janda cantik dan kaya yang terbujuk kawin lagi. Setelah ditinggal mati suaminya, Brahmana dari Hindustan, datanglah musafir dari Barat bernama Wolandia, yang kemudian meminangnya. “Tapi Wolandia terlalu miskin sehingga lebih mencintai hartaku daripada diriku dan menyia-nyiakan anak-anakku,” rutuk Hatta lewat Hindania.

Pemuda Hatta makin tajam pemikirannya karena diasah dengan beragam bacaan, pengalaman sebagai Bendahara JSB Pusat, perbincangan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau yang mukim di Batavia, serta diskusi dengan temannya sesama anggota JSB: Bahder Djohan. Saban Sabtu, ia dan Bahder Djohan punya kebiasaan keliling kota. Selama berkeliling kota, mereka bertukar pikiran tentang berbagai hal mengenai tanah air. Pokok soal yang kerap pula mereka perbincangkan ialah perihal memajukan bahasa Melayu. Untuk itu, menurut Bahder Djohan perlu diadakan suatu majalah. Majalah dalam rencana Bahder Djohan itupun sudah ia beri nama Malaya. Antara mereka berdua sempat ada pembagian pekerjaan. Bahder Djohan akan mengutamakan perhatiannya pada persiapan redaksi majalah, sedangkan Hatta pada soal organisasi dan pembiayaan penerbitan. Namun, “Karena berbagai hal cita-cita kami itu tak dapat diteruskan,” kenang Hatta lagi dalam Memoir-nya.

Selama menjabat Bendahara JSB Pusat, Hatta menjalin kerjasama dengan percetakan surat kabar Neratja. Hubungan itu terus berlanjut meski Hatta berada di Rotterdam, ia dipercaya sebagai koresponden. Suatu ketika pada medio tahun 1922, terjadi peristiwa yang mengemparkan Eropa, Turki yang dipandang sebagai kerajaan yang sedang runtuh (the sick man of Europe) memukul mundur

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (59%)
4 stars
9 (33%)
3 stars
2 (7%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 8 of 8 reviews
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,091 reviews17 followers
July 20, 2021
Berisi pemikiran-pemikiran Wakil Presiden Pertama, Mohammad Hatta, tentang bagaimana seharusnya pemerintahan dilaksanakan. Ia menjelaskan bahwa Indonesia seharusnya tidak hanya melaksanakan demokrasi politik, melainkan juga demokrasi ekonomi. Demokrasi politik adalah rakyat yang memegang kendali penuh atas jalannya pemerintahan dengan mengutus perwakilannya. Sedangkan, demokrasi ekonomi maksudnya adalah masyarakat bisa mencukupi kebutuhannya dengan kegiatan ekonomi dari rakyat untuk rakyat, bukan dari para kapitalis kepada para buruh.

Ketika membaca ini, saya takjub dengan pemikiran Bung Hatta. Andai saja para pejabat Indonesia bisa mempraktikkan pemikiran-pemikirannya, saya merasa kehidupan bernegara dan bermasyarakat bisa berjalan dengan baik. Selain itu, di buku ini ada kumpulan surat yang ditujukan kepada Sukarno. Ia mengkritik kebijakan Sukarno yang sudah melenceng dari rencana awal atau tidak sesuai dengan kesejahteraan rakyat.
Profile Image for Roffi Ardinata.
30 reviews2 followers
August 21, 2018
Sebuah tulisan Bung Hatta yang mengambarkan sebuah kesederhanaan dalam mencintai rakyat dalam negara yang ikut diperjuangkannya. Meskipun sudah berada dalam masa pensiunan atau tidak lagi memiliki kekuasaan di dalam pemerintahan, beliau tetap berbuat dengan memberi nasehat pemikiran bagi sahabatnya yang dianggap menyimpang dalam pelaksanaan beberapa tindakan dalam pemerintahan yang dianggap dapat merugikan rakyat. Penyampaian pemikiran dengan niat ikhlas dan kecintaan yang tulus kepada rakyatnya. Pemikiran-pemikiran yang sampai saat ini-pun masih relevan untuk kita teladani sebagai dasar hidup berbangsa dan bernegara di Indonesia tercinta.

Walau dipertemukan dalam pertentangan pendapat dan jalan dengan sang sahabatnya (Soekarno), sehingga menyebabkan Ia mengalah dan meletakkan jabatannya sebagai pendamping Soekarno dalam Pemerintahan, Namun ia tetap menjadi sahabat sejati yang selalu mengingatkan dan menasehati sahabatnya (Soekarno) ketika sedang khilaf melalui bahasa yang baik dan niat yang sangat tulus.
Profile Image for Smita.
24 reviews
February 5, 2019
Sebagai orang yang awam soal politik dan sejarah, tulisan Bung Hatta ini agak sulit untuk dicerna karena banyak referensi yang kedengaran asing.

Tapi, saya berpendapat bahwa di satu titik, kadang kita perlu untuk balik lagi ke awal untuk mencoba memahami sesuatu. Untuk Indonesia, ada baiknya kita balik lagi ke pemikiran founding fathers kita -- salah satunya, Bung Hatta.

Untuk orang yang terbiasa dengan tontonan politik pragmatis, akan mudah mendiskreditkan pemikiran beliau sebagai terlalu idealis. Namun bukankah ini yang sulit ditemukan di politik kita hari ini? Kesetiaan terhadap nilai, disiplin terhadap ideologi dan bukan tokoh, dan yang terpenting, integritas moral yang jernih atas pemikirannya.
Profile Image for Melki Sedek Huang.
1 review
May 11, 2024
Buku ini menjawab kegelisahan semua orang tentang mengapa demokrasi kita yang hari ini jadi berantakan wajib diperjuangkan dan disusun ulang. Hatta membahas konsep demi konsep demokrasi (yang menurutnya asli Indonesia) dengan struktur demokrasi terbarukan kita pada zamannya. Semua lembaga negara dan perjuangan kedaulatan penuh rakyat hari-hari ini berutang besar pada buku ini.
Profile Image for Vira W.
3 reviews
April 19, 2024
the book started off being interested & successfully reminded me of the state science or staatsleer curriculum i took back then :)
Profile Image for J Permana.
16 reviews
July 28, 2025
Sebagai seorang negarawan.. pandangan yang beliau sampaikan masih relevan hingga usia kemerdekaan yang ke 80 Indonesia.
Profile Image for Fina.
421 reviews9 followers
September 28, 2025
Jadi mulai aga paham pemikiran bung Hatta pas bagian surat2 Bung Hatta ke Presiden Soekarno
Displaying 1 - 8 of 8 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.