Berbagai usaha Cherry lakukan untuk menaklukkan hati Nico, sang Ice Prince. Mulai dari memberikan bekal makanan, jadi pemandu sorak dadakan di setiap kegiatan ekskul Nico, sampai berusaha menarik perhatian cowok itu lewat media sosial.
Sementara hati Nico masih sulit dicairkan, ada Dika, sahabat yang selalu mewarnai hari-hari Cherry. Bad boy eksis itu diam-diam berusaha merebut hati Cherry. Kisah ini jadi semakin rumit karena Dika juga sahabat baik Nico.
Sepertinya panah cinta cupid akan terus berputar hingga mengarah ke pasangan yang tepat. Siapa, ya, yang berhak bahagia di akhir cerita?
Jujur, yang pertama terlintas di benak saya saat membaca judulnya bukan tentang es. Dilihat dari font-nya, ditambah desain sampul yang mengambil palet warna kuning, lalu diberi ilustrasi bekal, kayaknya bukan saya saja yang bakal kepikiran keju mozzarella. Melted as in cheese, yum 😅
Saya baru ngeh kata 'Melted' itu berhubungan dengan mencairnya sikap dingin pada bab ketiga, kalau tidak salah. Trope cowok dingin yang takluk dengan cewek ceria memang banyak penggemarnya dan fun untuk diikuti (Chiaki, everyone?). Cherry dan Nico bisa langsung terlihat kepribadiannya, begitu juga dengan tokoh-tokoh pendamping. Dan tentu saja ada pihak ketiga, Dika, sebagai pihak yang di-sahabat-zoned. Formula seperti ini menenangkan bagi sebagian pembaca, terutama penggemar romance teenfic, asal eksekusinya baik.
It's a decent story. Jalinan kalimatnya rapi, maksudnya tersampaikan dengan jelas. Dibawakan lewat mata orang ketiga, pembaca jadi bisa mengetahui isi hati tokoh yang mau disorot (mainly tiga tokoh utama). Sayangnya, kelebihan ini tidak dimanfaatkan menjelang akhir cerita. Yang tadinya Nico mundur, terus tahu-tahu maju lagi, terus hubungan Cherry dan Dika membaik begitu saja. Padahal bisa diselipin dialog Nico dan Dika--mereka kan, sahabat. Bisa saja kan, ngobrol dulu enaknya gimana? Cherry bakal pilih siapa? Ikhlas, nggak?--dan penjelasan lebih dari pihak Cherry, kalau dia tegas dengan pilihannya. Jadi tidak terkesan buru-buru selesai.
Oh, saya baru ingat ada semacam extra part di akhir cerita, ringkasan dari awal tapi lewat perspektif Nico. Ketimbang dijadikan bagian ekstra, kenapa nggak sekalian disisipi aja yang penting-pentingnya, nggak usah semua? Biar alurnya juga jadi nggak terlalu lambat. Hmmm, mungkin itu kali ya, pertimbangannya kenapa ada EP, selain mempertahankan format saat di Wattpad dengan bab yang pendek-pendek agar page turning (jadi jawab sendiri 😂).
Penokohan Cherry jadi yang paling kuat di sini. Kelihatan orangnya ekspresif, bahkan jika narasi 'Cherry memang ekspresif' tidak dicantumkan. Caranya meluluhkan Nico juga tidak annoying. I don't think I liked Nico. Meski dibilang ganteng, cool, dsb, saya biasa saja hehe. Tapi bukan berarti benci juga. Dika juga biasa aja, sih. Untungnya Cherry ngaku dia suka Nico, jadi Dika bisa nyiapin hati. Bagusnya sih, di situ. Cuma jadi penasaran, gimana pertemanan Dika-Nico selanjutnya, ya? Apa mereka tetap sahabatan atau lama-lama diam-diaman?
Juga, saya menyayangkan banyaknya adegan jam kosong dan guru yang mangkir demi menggerakkan cerita. Bukan kali pertama saya temui, tapi justru di situ poinnya. Di dunia nyata, banyak juga kok kisah cinta menarik yang terjadi di jam sekolah biasa yang teratur. Hehe.
Cerita ini cocok untuk penikmat romansa dengan alur rapi, yang pengin mengenang manisnya cerita cinta SMA, atau penyuka cool boy. Unsur persahabatan cowok-cowoknya juga bisa jadi daya tarik yang beda, karena bukan geng-geng-an atau bad boy banyak ulah. Temenan akrab aja, tapi saling peduli dan menjaga, dan nggak perlu kekuasaan untuk menegaskan eksistensinya.
Ih, apaan sih kok kaya disinetron-sinetron aja — Cherry.
Wkwk, ku ga ngerti nih ya kenapa si tokoh utama sering banget menyamakan kondisi mereka dengan cerita kamps ala sinet. Padahal nih ya ceritanya emang gitu sih, I mean agak common sekali dan mainstream, yaah dienakin aja gitu jadinya pas baca.
Intinya sih, cewe yang tidak pantang menyerah untuk dapetin hati si cowo es idola sejuta umat. Analoginya masuk akal sih, sekeras dan sedingin apapun es bakalan mencair dan leleh juga. Walhasil, berkat kegigihannya selama sekian bulan buat meyakinkan si koko ganteng. Pada akhirnya mereka bersatu, as an item, unch.
Alur dan jalan cerita yang mudah ditebak, serta ada rasa humor dari si Mahardika dalam cerita yang membuat situasi menjadi baik dan sifatnya yang tak diduga-duga.