Saya biasanya selalu kasih lima bintang buat buku-bukunya Kak Windhy. Saya suka dengan gaya menulis beliau dan tema-tema yang beliau angkat. Serial Touche adalah salah satu cerita yang selalu saya tunggu kelajutannya, tapi Touche Rosetta ini kayaknya membuat saya sedikit kecewa. Ya, akhirnya saya hanya bisa memberi tiga bintang saja atas kerja keras Kak Windhy, maaf ya Kak.
Ada banyak hal dalam kisah ini yang menuruta saya harus digaris bawahi. Ide ceritanya sendiri bagus dan sangat menarik, tokoh cowoknya, Edward Kim juga cukup unik. Untuk tokoh ceweknya hm... saya rasa hampir semua tokoh cewek di novel karya Kak Windhy setipe. Tokoh cewek di sini ... (saya lupa namanya, serasa tak membekas di hati) mirip-mirip dengan Riska di Touche 1, Karin di touche 2, bahkan Sisca di Incognito. Iya nggak sih? Apa ini cuman perasaan saya?
Petualang Edward diawali dengan sebuah kasus kematian yang disebabkan oleh sebuah buku diary yang ditulis dalam bahasa kuno. Edward yang menerjamahkan isi buku tersebut. Yang membuat saya bertanya-tanya, kenapa mereka nggak mencari bukti dan siapa pelaku pembunuhan Profesornya dulu? Katanya nggak ada bukti yang ditinggalkan? Tapi mereka, kan, kaum Touche. Mestinya mereka bisa berbuat lebih. Kalau saya jadi kak Windhy, saya akan lebih fokus pada kasus pembunuhannya bukan buku diary itu.
Setengah halaman dari Touche Rosetta isinya hanya tentang bagaimana mengunggkap rahasia di balik buku diary itu. Karena saya kurang memahami arkeologi, halaman-halaman itu jadi kurang menarik. Pada akhirnya, isi diary sama sekali nggak berhubungan sama kasus pembunuhan Profesor. Jadi apa gunanya mengungkap isi Diary tersebut? Saya rasa Kak Windhy menyimpan hal ini untuk buku selanjutnya. Buku ini emang rasanya belum selesai. Hanya potongan dari satu kasus yang besar, nggak kayak dua seri sebelumnya yang walaupun tidak ada lanjutannya tidak masalah. Saya menunggu untuk seri selanjutnya dari Touche.
Untuk pecinta buku seri petualangan buku ini menarik, tetapi untuk pecinta misteri saya tidak menyarankannya.