Karena berkelahi dengan anak orang terpandang, Nathan mendapat tugas ke pelosok Halmahera Selatan. Di tengah kerinduan akan keluarganya di Sirimau, bintara yang baru saja menyelesaikan pendidikan itu jatuh hati pada Puan, gadis cantik dengan raut wajah sedih.
Tidak seperti penduduk Maluku Utara umumnya, Puan membenci laut. Bukan hanya tidak mau berenang dan menjejakkan kaki ke air laut, bahkan memandang indahnya refleksi senja di laut pun Puan tak sanggup. Gadis itu trauma akan sesuatu di masa lalu.
Mengalahkan trauma Puan akan laut bukanlah satu-satunya tantangan bagi Nathan.
Prinsip dan keyakinan Puan dan Nathan yang berbeda pun ikut membuat kisah mereka pasang surut.
Akankah 33 senja di Halmahera yang mereka lalui bersama dapat mengubah cara mereka menyikapi hidup dan asmara yang bergejolak?
Halmahera sebagai latar yang tidak menjadi tulang punggung cerita. Kebiasaan penduduk dan interaksinya hanya sebagai asesoris agar menarik. Apakah ini bentuk eksploitasi erotisme budaya?
Menceritakan sedikit peristiwa kerusuhan 1998 yang terjadi di Maluku Utara cukup apik ditulis. Banyak warga Maluku Utara yang menjadi saksi hidup saat peristiwa tersebut, upaya mencatatkannya perlu diberi apresiasi. Sayangnya banyak detail asal mula yang tidak diceritakan, si penulis menyederhanakannya menjadi perang antar agama. Apakah sentimen ini perlu diangkat? Tampaknya dibanding menjernihkan air, si penulis lebih memilih tetap mengkeruhkan air.
Hal yang membuat kekesalan lainnya adalah ketika si tokoh tentara melakukan pelanggaran yang berakibat ia dipindah tugas di Halmahera. Peristiwa ini seakan-akan melanggengkan narasi bahwa Indonesia Timur adalah tempat pembuangan, tempat terbelakang, tempat yang tidak diinginkan. Terima kasih kepada penulis untuk terus mempromosikan ide ini.
Baru kali ini pula mengetahui bahwa kesibukan anggota adalah tidak ada sama sekali selain menggoda perempuan. Entah pasukannya yang lain sibuk mengerjakan apa, tapi anggota yang satu ini sepertinya perlu merenungi kembali apa itu abdi negara.
Seksualisasi tubuh juga tidak absen di romansa ini. Bukan pada perempuan sebagai objeknya tapi laki-laki. Jika tidak ada yang menyatakannya, ulasan inilah salah satunya. Tidak ada yang selamat dari objektifikasi.
Cukup melelahkan untuk menyelesaikan bacaan ini. Isu, budaya, dan sejarah dijadikan sebatas alat untuk memuluskan cerita cinta tak sampai ini. Jika keterwakilan suara dari Timur diperlukan, novel ini bukan salah satunya.
Sebenarnya, premis yang dibawakan dalam novel ini sangat sederhana: seorang tentara Nasrani dan gadis pantai Muslim yang saling jatuh cinta. Khas remaja sekali. Yang membedakannya hanyalah konsep yang dibawakan: pesisir pantai Gane di Halmahera, kasus perang saudara, dan seputar kehidupan masyarakat di pelosok Maluku. Sayangnya, novel ini kurang dieksplor lebih mendalam, sehingga cerita jadi terkesan biasa, klise, dan kurang "bersinar". Ibarat masakan, bisa dinikmati namun kurang mantap rasanya. Kalau bisa dikembangkan lagi, aku yakin novel ini akan lebih bagus dan berkesan.
Maka dari itu, sepanjang membaca, aku sama sekali enggak bisa berkomentar apapun tentang keunggulan buku ini. Malahan, aku mengumpulkan banyak poin yang kuharap bisa jadi masukan penulis untuk karya selanjutnya.
Pertama, gaya penceritaan masih cenderung memberitahu/ tell daripada menunjukkan/ show. Misalnya, untuk menceritakan pelabuhan yang sepi, penulis bisa menjelaskan dengan tidak adanya orang berjualan alih-alih menuliskan "tempat yang sepi." Lalu, terkait perasaan "jatuh cinta" yang dirasakan Nathan dan Puan, ada baiknya lebih dikembangkan lagi, tidak hanya berputar pada frasa "perasaan aneh" yang beberapa kali digunakan.
Perasaan yang dialami kedua tokoh ada hubungannya dengan masukan kedua dariku. Ciri khas baik kedua tokoh maupun tokoh-tokoh yang lain masih belum terlalu menonjol. Sosok Papa Puan, misalnya, menurutku bisa didukung dengan perawakan yang menggambarkan bahwa dia memang tokoh yang tegas dan dihormati orang-orang desanya. Badan kekar, berkumis tebal, alisnya tegak, dan mata lebar bisa menjadi beberapa contoh yang sepengetahuanku bisa cocok dengan sifatnya.
Poin lain yang cukup menggangguku ketika membaca adalah tentang rumah panggung yang sulit sekali kubayangkan visualnya. Apakah ini rumah panggung seperti serial kartun Upin-Ipin, atau malah seperti rumah pohon--mengacu pada Puan yang turun tangga dari sana kala senja dan Mama Puan yang meneriakinya turun untuk makan?
Mengambil latar Halmahera, novel ini dikemas dengan cukup menarik dan memikat. Andaru Intan mencoba mengenalkan adat, budaya, juga pesona Halmahera lewat kisah yang dia paparkan. Selain itu dia juga mengangkat jejak-jejak konflik Maluku, sebagai pengingat bahwa kita harus saling menghormati antar agama. Tidak boleh saling menghakimi dan menyakiti.
Memang novel ini tetap tidak jauh-jauh dari kisah cinta. Namun dengan apik, penulis tetap menghadirkan nilai-nilai luhur yang bisa diambil pembelajaran dan perenungan. Khususnya bagamaimana menyikapi perbedaan agama di mana pun kita berada. Bahwa kita tidak bisa memaksa seseorang untuk memeluk agama yang kita yakini.
“Satu-satunya jalan agar kita bisa bersama adalah aku ikut denganmu atau kau ikut denganku. Kau tahu, aku tidak bisa meninggalkan jalanku. Dan aku juga tidak akan pernah memaksamu meninggalkan jalanmu. Tak ada gunanya kita membangun sesuatu dengan sekuat tenaga, sementara kita tahu hal itu akan hancur esok harinya.” (hal 162–163).
Mengisahkan tentang Nathan—seorang tentara yang mendapat tugas ke daerah pelosok Halmahera Selatan, tepatnya berada di Sofifi, Maluku Utara. Sebuah tempat yang jauh tertinggal dari peradaban. (hal 10). Nathan bersama teman-temannya ditugaskan untuk menjaga Halmahera pasca terjadinya konflik Maluku—yaitu perang saudara antara umat Islam dan Kristen. Ada sebagian tentara yang menjaga proses pembangunan kembali masjid dan ada yag menjaga proses pembangunan kembali gereja.
Di masa tugasnya itulah, Nathan mengenal seorang gadis asli Sofifi bernama Puan, yang merupakan seorang guru. Sejak awal Nathan langsung menunjukkan rasa tertarik pada Puan. Puan gadis yang berbeda. Puan meski tinggal di pesisir pantai, tapi takut laut. Puan adalah gadis yang sangat menjaga kerhomatannya. Puan juga sangat pandai dalam berburu sabeta—ulat sagu, yang nantinya akan dimasak sebagai sate lezat—makanan khas Halmahera. Maka Nathan pun mencoba mendekati Puan dengan berbagai cara. Memang tidak mudah, tapi akhirnya Nathan berhasil membuat Puan yang jarang berbicara, mau berbicara bahkan tersenyum padanya.
Tidak menunggu lama, kisah cinta mereka pun akhirnya dimulai. Kegigihan Nathan berhasil membuat Puan bersimpati. Tapi kebahagiaan yang dirasakan Puan hanya sekejap. Puan akhirnya tahu kalau Nathan tidak memiliki kepercayaan yang sama dengan dirinya. “Barangkali kita bisa bicara lagi lain waktu, ini saatnya pulang. Aku harus ke gereja.” (hal 97). Puan sungguh binggung. Di satu sisi dia tahu hubungan mereka tidak akan mungkin berjalan lancar, jika mereka memiliki kepercayaan yang berbeda. Tapi di sisi lain, Puan tidak bisa menghilangkan bayang-bayang Nathan dari pikirannya.
Sejatinya saya bukan tipe orang yang meminta buku kepada penulis. Namun suatu sabtu siang, masuk pesan dari teman saya bernama U, bahwa ada penulis novel yang kalau saya berkehendak akan memberi satu eksemplar novel terbarunya. Saya tentu paham, tidak ada makan siang gratis, saya tanya apa yang kudu saya lakukan untuk buku itu kelak. Teman saya U itu menjelaskan, dan saya rasa itu sebuah tantangan. Apalagi menjelang liburan lebaran ini pasti agenda membaca bukan lagi prioritas, juga banyak buku yang ingin segera saya baca. Tapi tak apalah, saya juga belum pernah berkenalan dengan karya Intan Andaru. Jadilah, buku ini sampai di meja saya.
Kalau saya boleh berkomentar, mungkin ini juga bisa jadi masukan untuk penulis, bahwa banyak hal yang kurang dieksplor dari novel ini. Misal, saya belum menemukan kekuatan emosi Puan dan Nathan. Kalau dalam makanan, renyah saja. Tapi tidak memberi bekas di dalam mulut. Kurang mendalam. Intan terlalu banyak menuliskan secara datar. Misalkan, awalan novel ini sungguh menarik. Intan memulai membuka dengan adegan para tentara di mobil tentara. Adegan yang unik, tapi kemudian tiba-tiba di bagian lain Intan menjelaskan Sofifi itu bagaimana, keadaan lautnya bagaimana, panen sagu itu bagaimana, dan macam-macam. Jadi sepertinya penulis lebih ingin menjelaskan 'pengalaman atau hasil riset' Halmahera-nya, ketimbang menjelaskan dengan apik kepada pembaca. Kalau saya boleh meminjam kalimat Sulak, ini terlalu telling.
Kemudian konflik, soal beda agama menurutku tema yang seksi. Tapi sekali lagi Andaru kurang mendalam dalam mengulik. Meski sudah dikaitkan dengan koflik agama di Maluku. Tapi masih kurang. Dan fyi, karakter Nathan dan Puan terlalu obsessed to be good. Mengapa keduanya sama-sama orang baik. Konfliknya kurang kontras. Kalau saya boleh saran, justru sosok Daud menarik untuk dijadikan tokoh utama. Dia tentara tapi player, tapi di sisi lain juga romantis. Kalau Nathan terlalu kind.
Terus penyelesaian Puan yang ternyata punya trauma akan konflik antar agama. Puan yang takut ke pantai disebabkan karena Puan menyaksikan keluarganya dibantai dan dibunuh di pinggir pantai.
Kalau masukan saya atas novel ini, narasi dan karakternya kudu lebih tajam nih. Padahal Andaru sudah riset soal budaya Halmahera cukup dalam. Kemudian temanya juga bagus, sayang cuma disinggung sekilas dan di akhir-akhir saja. Penyelesaian untuk cinta beda agama ini juga sebenarnya tak memihak, jadi cukup aman. Tapi yaaa itu saya kurang terbawa emosi ketika membaca. Hanya lebih suka menikmati penjelasan budaya dalam buku ini.
33 senja di Halmahera. Novel ini berkisah tentang seorang laki-laki yang ingin melupakan kenangan mantan kekasihnya dan peristiwa buruk yang ia alami di kampung halaman. Peristiwa buruk yang membuatnya ditugaskan membangun desa di mana Puan berada. Di sanalah ia jatuh cinta pada Puan, bunga desa yang membenci lautan. Saya tertarik dengan latar belakang sang tokoh utama yaitu Puan yang merupakan gadis dari keluarga nasrani dan korban konflik di Maluku, namun kemudian diangkat oleh keluarga muslim. setelah membaca sampai tuntas, menurut saya penulis kurang mampu menggambarkan secara detail suasana pedesaan di pesisir Halmahera. Sulit bagi saya membayangkan keindahan pantainya, suasana pedesaannya, tradisi dalam komunitas warga di sana, dan sebagainya. Walaupun sudah banyak objek dan kebiasaan warga yang ditulis, tapi sayang bagi saya penulisannya kurang mendalam. Selain itu, konflik yang disajikan oleh kisah cinta beda agama dalam novel ini juga terlalu sederhana (jika dibandingkan dengan ekspektasi saya yang tinggi terhadap novel ini). Padahal masa lalu si tokoh telah diceritakan dengan cukup baik dan kuat untuk mendukung konlik yang lebih menarik antara Puan dengan Nathan. Sayang penyajiannya terkesan datar-datar saja. Tapi, novel ini tetap menjadi novel yang enak dibaca, ringan, dan menyisakan kesan yang cukup kuat terhadap karakter Puan yang misterius dan Nathan yang kalem nan gagah. setidaknya, novel ini berhasil menambah khazanah dan pengetahuan saya tentang pedesaan dan kebiasaan warga di Halmahera.
⚠️ Content Warning and Trigger Warning: alcohol drinking , fight , murder , civil war , religious abuse , blood , traumatic memories , bullying , thalassophobia
KELEBIHAN dan KEKURANGAN: 33 Senja di Halmahera merupakan salah satu novel ringan yang bisa diselesaikan dalam sekali duduk. Berlatar Indonesia bagian timur, tepatnya Halmahera, novel ini menyuguhkan premis berupa rasa kasih dua tokoh yang berbeda agama. Meski dibumbui dengan kisah masa lalu kelam, penulis tak luput menjajakan diksi dalam melukis indah pantai wilayah Halmahera serta ragam adat istiadat yang masih lestari.
Selain hal tersebut, penulis juga menambahkan beberapa catatan kaki untuk kata atau kalimat yang kurang umum dipahami, seperti terjemah kata tertentu dari bahasa daerah Maluku. Sudah pasti, hal ini merupakan poin plus karena memudahkan pembaca menyelami isi keseluruhan novel.
Sayangnya, menurut saya, untuk bagian awal masih terkesan membosankan karena lebih banyak mendeskripsikan latar belakang kedua tokoh utama, yaitu Nathan dan Puan, sehingga alurnya terkesan lamban.
Karakter Nathan dan Puan juga terasa to good to be true, hingga sepanjang alur tidak terjadi adanya perubahan perangai yang berarti. Saya pribadi kurang dapat memahami emosi kedua tokoh, sehingga tidak bisa sepenuhnya menyelami gejolak dalam novel.
Meskipun begitu, saya tetap (dan sangat) menghargai ending yang dipilih penulis karena sangat realistis; mengajarkan bahwa sebanyak apapun manusia berencana, Tuhan lah yang memiliki kuasa atas kehendak mutlak.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel dengan latar Indonesia bagian Tengah dan Timur selalu memantik rasa penasaran saya, mungkin disebabkan karena saya yang tinggal di bagian Barat. Maka alasan saat memutuskan untuk memilih judul ini diantara judul2 lain di koleksi Gramedia Digital saya tidak lain adalah karena saya rindu berimajinasi dengan keindahan Indonesia bagian Timur. Ditambah lagi dengan jumlah halaman yang tidak terlalu banyak, saya rasa pas untuk menemani perjalanan saya kali ini.
Pada bagian awal novel, deskripsi lokasi hampir sama dengan yang selama ini digambarkan. Kondisi jalanan tanah berbatu, gersang, udara panas, tidak ada sinyal, kemudian memasuki deskripsi keadaan pemukiman penduduk di pesisir pantai yang sangat memperkaya imajinasi.
Tapi deskripsi lokasi yang cukup baik ini kemudian menjadi tidak klop karena dialog antar tokoh yang tidak mencerminkan Indonesia bagian Timur :( yah sayang sekali. Tema yang diangkat juga cukup standar. Jadi saya bisa simpulkan bahwa yang menarik dari novel ini adalah judulnya yang berlatar di daerah Halmahera.
Novel ini mengajak kita untuk menilik pesona Halmahera Selatan. Meski porsinya kecil, penulis berusaha mengenalkan alam, budaya, masyarakat, dan banyak hal menarik di sana. Gaya bertutur penulis mengedepankan kesederhanaan. Diksi yang digunakan sangat keseharian. Namun karena ditata teramat rapi, jadinya sungguh memikat. Ibarat kerikil yang ditata dalam formasi tertentu hingga keindahannya mampu mengalahkan batu permata.
Novel ini menyentuh banyak sisi kehidupan. Tentang perjuangan seorang ibu menyekolahkan anaknya, hubungan hamba dan Sang Pencipta, juga manusia dengan alam. Di bagian-bagian tertentu, saya sungguh larut di kenikmatan membaca. Ada pesan-pesan moral yang meresap ke hati. Setiap kalimat seolah mengandung magnet. Entah berasal dari mana kekuatan novel ini, susah dibahasakan. Intinya, saya sangat menikmatinya.
Novelnya mengambil latar tempat di Maluku Utara, khususnya Halmahera. Di dalam ini ada banyak istilah-istilah dengan bahasa daerah sana, sehingga bisa jadi tambahan pengetahuan budaya.
Untuk proses ceritanya sendiri, aku pribadi merasa proses pindah dari satu konflik ke konflik lainnya itu ritmenya lambat tapi tidak mendalam (dan konflik menjelang konflik utama itu ga banyak). Karakter Puan sama Nathan sebagai tokoh utama juga ga sekuat yang aku harapkan.
Mungkin ceritanya bisa dibilang tergolong cerita romance ringan jadinya, krn konflik-konflik pengantar yg kurang apik menurutku, tidak se-rumit yang aku harapkan. But,after all, reading this book gave me insight kalau seseorang sudah semestinya memilih pilihan hidupnya, karena keinginan dan pilihan sendiri, bukan karena segan akan jadi beban org atau hal lainnya.
Cerita ini sebenarnya menarik, namun kurang dieksplor lebih dalam akibat tipisnya jumlah halaman. Dalam waktu hanya sebulan lebih 3 hari kita dipaksa mengenal Nathan dan Puan secara kilat di sebuah pulau nun jauh di Halmahera.
Selama itu pula benang cinta dirajut Nathan demi meraih perhatian Puan. Menarik dan menjanjikan bukan? Sayangnya yang saya temui adalah justru kisah yang tanggung dengan eksekusi yang lebih memilih jalan tengah. Tak ada emosi atau tingkah yang diumbar, apalagi soal beda agama yang hanya di permukaan saja. Namun begitu, eksplorasi budayanya lebih menonjol. Secara keseluruhan novel ini apik karena memperkenalkan sisi pulau yang terisolir dengan segala keragaman kebiasaan dan budayanya, salah satunya yang menarik adalah berburu sabeta (ulat sagu).
Pertama kali tertarik buku ini karena melihat judulnya. Berharap mungkin dapat bernostalgia dengan Halmahera. Benar saja, di sela cerita inti tentang kisah cinta Puan dan Nathan, Mbak Andaru Intan banyak menggunakan istilah bahasa lokal yang lebih menarik buat saya ketimbang kisah cinta nya itu sendiri. Saya menikmati sekali deskripsi latas kisah berlangsung, seolah olah memang saya dapat menggambarkanya dengan baik. Suasana, alur perjalanan antar daerah, orang-orangnya, bahasa daerah, rasa makananya, bahkan aroma nya 😆. Sungguh semuanya memang mirip dan benar ada di Halsel. Buku ini cukup membuat nostalgia dan serasa kembali ke Halsel pada masa itu.
mungkin saya yang berharap terlalu tinggi. Harapan saya melambung tinggi setelah membaca Puya ke Puya, berharap ini juga kisah tentang kekayaan sejarah budaya suatu daerah.
Apalagi disebut-sebut mengambil latar konflik yang pernah terjadi disana, ternyata ini hanya kisah cinta. Bukan berarti kisah cinta itu tidak indah, tetapi rasanya seperti membaca script FTV dengan latar daerah yang secantik Maluku.
Kalaupun lokasi latar cerita dipindah bukan Halmaherapun tidak akan mengubah esensi cerita rasanya.
Aku cukup menghabiskan waktu lama untuk membaca buku ini. Bukan karena aku bosan, melainkan karena aku tidak ingin terlalu cepat mengetahui akhir cerita. Kisah Puan & Nathan yang sudah membawaku hanyut ke dalam cerita; seakan ingin membuat mereka bersatz bagaimanapun caranya. Suasana Maluku, aku rindu— manisnya daun papaya dimasak oleh Mama untukku yang baru saja melakukan perjalanan jauh. Terima kasih, saat membaca kisah ini, aku seperti merasakan hangatnya senja di Halmahera dan bau ombak yang semerbak.
I actually enjoyed this book so much! I can relate on the crossing interfaith relationship, how it has to end and how hurtful it is. Tapi yang paling buat saya senang adalah saya seperti diajak berjalan-jalan ke Halmahera! Karena lumayan mahal, jadi jalan lewat novel dulu, deh. Dan jadi ingin sekali ke sanaaa!
Terima kasih sudah menuliskan sepotong kisah di Halmahera.
Buku ini cukup bagus penceritaan latarnya, membuat saya merasa seolah berada di kampung Gane. Tapi secara alur terasa biasa aja. Secara pribadi entah kenapa terasa mudah banget ketebak alurnya. Kalau penulis membaca ini, Sukses terus dan Terimakasih :)
Buku yang melihatkan sudut pandang kebahagian dari sisi yang berbeda.
Sedih bukan berarti sad ending, buku ini diracik dengan konflik yang sederhana tetapi membekas, seperti judul nya 33 senja di Halmahera tidak banyak tapi cukup membuat Kita melihat indah nya Halmahera.
Setelah selesai baca buku ini sangat penasaran sama Pulau huruf K baik dari segi sejarah nya yang ternyata kejadian tersebut pernah terjadi, atau dengan keindahan Alam nya, bukan Hanya di laut dengan bia Dan ikan duriannya, tetapi didanau dengan buaya buaya seperti kayu yang terbawa arus dengan bersahabat nya atau dengan sabito pada sagu yang membusuk.
Puan tokoh yang akan membuat kalian terakhir Dan penasaran.
setelah lewat dari dua minggu, saya baru menyelesaikan novel ini. bukan cerita yang bisa dinikmati sekali duduk. temponya cenderung lambat. jadi harus santai.
ini kisah cinta beda keyakinan yang berbeda. bedanya karena dilatari dengan keindahan halmahera dan tragedi di baliknya. Puan dan Nathan sama-sama membawa luka ketika mereka saling bertemu. tapi di situlah bagaimana mereka berdamai dengan masa lalu.
well done, untuk sebuah novel dengan lokalitas yang kental. terima kasih, Dokter Intan...
Sangat enjoy dengan cerita ini, sampai tidak terasa sudah di halaman terakhir. Sejujurnya, cerita ini ringan sekali sampai sudah mencium endingnya seperti apa.
Namun, kepolosan dan cinta murni kedua tokoh tersebut terasa amat intim dan membahagiakan. Puan, seorang guru desa dan seorang anak dari Pak Haji yang terpandang di daerahnya. Ia jatuh cinta kepada Nathan, seorang tentara beragama Nasrani yang ditugaskan selama 33 hari di wilayah tempat tinggal Puan. Cinta pandang pertama dan melawan "restu" dihadirkan disini.
This entire review has been hidden because of spoilers.