Jump to ratings and reviews
Rate this book

Layla: Seribu Malam Tanpamu

Rate this book
Hidup Wallaili Wannahar berubah ketika diterima sebagai murid oleh Abah Suradira, seorang mursyid yang mengajarkannya ilmu tasawuf. Jalan tasawuf yang ditempuh Lail—begitu pemuda itu biasa dipanggil—hanya memiliki Allah di ujungnya. “Sebelum ada apa-apa, sebelum apa-apa ada, sebelum ada itu ada, ada Allah.” Begitulah yang selalu diingatkan oleh Abah Suradira.

Di tengah-tengah proses belajarnya, Lail menghadapi dilema ketika dijodohkan orang tuanya dengan Kinasih, teman masa kecilnya. Hati Lail bimbang karena ia merasa belum siap untuk menikah. Lebih-lebih, Lail justru jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Layla. Meski belum kenal betul, entah kenapa Lail merasa bahwa Layla adalah belahan jiwanya.
Akan tetapi, benarkah demikian?



Tentang Penulis:

Candra Malik adalah seorang penulis, seniman, dan budayawan. Ia telah melahirkan dua album religi, satu extended play dalam Bahasa Inggris, sejumlah single, video klip, serta soundtrack film bioskop dan televisi, juga memenangi Piala Vidia untuk Kategori Penata Musik Terbaik dalam FFI 2014.

Sebagai penulis, Candra Malik telah menerbitkan sembilan buku. Satu di antaranya bertema sosial budaya, yaitu Sekumpulan Esai Republik Ken Arok. Empat judul bertemakan Tasawuf: Makrifat Cinta, Menyambut Kematian, Ikhlaskanlah Allah, dan Meditasi, Mengenal Diri. Dan empat lainnya adalah karya sastra: Antologi #FatwaRindu Cinta 1001 Rindu, novel Mustika Naga, kumpulan cerpen Mawar Hitam (Bentang Pustaka, 2015), sekumpulan puisi Asal Muasal Pelukan (2016), serta novel Layla (2017).

272 pages, Paperback

First published April 1, 2017

9 people are currently reading
157 people want to read

About the author

Candra Malik

12 books48 followers
Lahir di Solo, 25 Maret 1978. Sosok seniman serba bisa. Telah melahirkan album religi Kidung Sufi berkolaborasi dengan para maestro, berkeliling dengan tur konser bersama legenda, melintas batas genre, mewarnai film nasional dengan soundtrack dan scoring, dan meraih Piala Vidia FFI 2014 untuk FTV.

Sufi, penulis lagu dan penyanyi, penulis buku, esai, kolom, dan cerita pendek di media cetak dan online; jurnalis, penyair, pembicara, pemeran, dan pengasuh pesantren. Belajar Tasawuf kepada delapan mursyid dan kini belajar kepada sufi penyair Umbu Landu Paranggi di Bali.

Delapan tahun bekerja sebagai wartawan Jawa Pos; posisi terakhir Koordinator Liputan Jakarta. Lalu, dua tahun silih berganti sebagai kontributor Majalah Art Indonesia, Tabloid Nyata, Travel Lounge Magz, dan dua tahun penuh sebagai kontributor The Jakarta Globe.

Sejak 2012, Candra Malik menjadi Kepala Biro Sastra dan Budaya Pengurus Pusat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, namun tidak aktif lagi menulis laporan jurnalistik sejak memilih berkesenian dan berdakwah. Masih menulis buku serta esai dan kolom di sejumlah media.

Candra Malik meraih Piala Vidia sebagai Penata Musik Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2014 di Palembang untuk Film Televisi (FTV). Mengembangkan Tausiakustik (Tausiah & Akustik), kini ia memperkenalkan DialoQustik (Dialog & Akustik) dan terus berkeliling daerah. Mengasuh Kelas Sufi dan dua tahun ini menyelenggarakan Santri Bernyanyi ke pesantren-pesantren.

Dalam setiap penampilannya bermusik, Candra Malik diiiringi oleh Minladunka Band dan Whirling Dervishes atau Penari Sufi Berputar.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
42 (58%)
4 stars
21 (29%)
3 stars
5 (6%)
2 stars
4 (5%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Kevin.
8 reviews
March 31, 2019
Salah satu novel terbaik yang pernah saya baca. Pertama kali membaca karyanya Gus Can ini menjadi batu loncatan untuk membaca karya-karya yang lainnya. Pemikiran-pemikiran pengarang tertuang dalam karyanya ini.

Bercerita tentang Lail seorang laki-laki yang belajar ilmu tasawuf, lalu bertemu dengan guru-guru spiritualnya dan kemudian ia bertemu dengan kekasihnya yang di dalam mimpinya disebutkan namanya adalah Layla. Pencarian dengan Layla di dunia nyata tidaklah mudah karena ia tidak menemukan jejaknya lagi setelah melihatnya di sebuah pengajian.

Novel ini menyajikan kisah percintaan yang tak hanya sekadar mencari seorang kekasih namun juga mencari arti dari kehidupan yang dijalani. Meskipun fiksi, namun latar dan tokoh-tokoh besar merupakan tokoh asli, contohnya Syeh Subakir. Alur cerita yang pada awalnya membosankan, lambat laun semakin intens karena konflik yang dirasakan tokoh utama, Lail semakin penasaran dengan pencariannya. Novel ini membuka cakrawala baru dalam novel fiksi tasawuf yang dicerna dengan mudah oleh pembaca.
Profile Image for Rizki Putra.
2 reviews1 follower
April 22, 2019
Bisa mengenal dunia tasawuf lewat buku ini. Tak hanya menonjolkan kisah cintanya, buku ini mengenalkan juga arti kehidupan dan mengenal Tuhan. Cerita percintaannya anti mainstream dari kebanyakan buku lain membuat selalu bertanya-tanya bagaimana kelanjutannya.
Profile Image for Hib.
48 reviews6 followers
July 11, 2023
Sejujurnya ini novel tasawuf pertama yang saya baca dan sungguh sangat memukau hati. Untuk saya memang tumbuh dan berkembang di lingkungan yang sarat akan kejawen dan keislamannya, membaca buku ini serasa membawa saya kembali ke kampung halaman. Namun tentu pengetahuan saya sangat tidak ada apa-apanya, hanya sekadar tahu sedikit tentang tingkatan-tingkatan tasawuf. Dengan buku inilah saya serasa duduk di langgar seraya mendengarkan kisah-kisah pengembaraan para sufi, berguru pada satu mursyid ke mursyid yang lain.

Buku ini mengenalkan pada saya nama-nama yang mungkin tidak tertulis ketika saya menuliskannya di laman pencarian, namun namanya sungguh masyhur dari mulut ke mulut terutama untuk mereka yang menggemari dunia tasawuf. Matur sembah nuwun sampun dikenalkan kalian Abah Suradira, Syekh Subakir, Kiai Sirrullah, Kiai Sapa Nyana (Prabu Brawijaya V), Kiai Haji Hasan Asy'ari Mbah Mangli, Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom), Maulana Syekh Hisayam Al-Kabbani, Lora Lilur Bangkalan, Kiai Tjokro, KH. Ja'far Shodiq Aqil Siroj, juga Umbu Landu Paranggi sang penyair Malioboro.

"Tasawuf memang bukan untuk diperdebatkan. Bertanya saja tidak boleh, apalagi mempertanyakan."

"Ilmu tasawuf hanya akan merasuk jika seseorang berani mengakui kebodohannya. Kesadaran atas kekurangan, kelemahan, keterbatasan, dan kealpaan itu bekal terbaik untuk suluk atau bertirakat dalam tasawuf."

"Jika ketiadaan itu tiada, mengapa ia disebut? Jikapun ada, mengapa disebut tiada?"

"Sebelum ada apa-apa, sebelum apa-apa ada, sebelum ada itu ada, ada Allah."

"Laa ilaaha illallaah itu telanjang, Muhammadur rasulullah itu pakaiannya. Sebaiknya tidak membicarakan Allah tanpa membicarakan Rasulullah."

"Ilmu itu bercahaya, dengan atau tanpa manusia sebagai pemegangnya, ilmu tetaplah cahaya yang menerangi siapa pun. Nah, jika bisa memanfaatkan waktu niscaya memperoleh ilmu dan menjadi pelita kehidupan."

"Namun, siapa pula orang yang bukan pembelajar? Di bawah matahari terbit, setiap manusia adalah pemula."

"Makrifat itu rasa puas atau lega, atau bahkan bahagia, memakan ketan juruh. Hakikat itu ibarat kudapan ini. Artinya, lidah sudah merasakan kenikmatan. Sudah mengalami dan merasakan sendiri apa yang disebut ketan juruh. Tarekat semacam proses penyatuan antara beras ketan, parutan kelapa, dan lumeran gula merah yang sudah dimasak. Sedangkan syariat adalah perjalanan beras ketan, kelapa, gula merah, bahkan ketika masih dari asalnya masing-masing hingga akhirnya bertemu di dapur simbok itu."

"Itulah beda antara zikir dan pikir. Keduanya dapat saja bertemu, dan memang sebaiknya begitu, tapi membutuhkan perekat atau pelengket berupa hadir. Tanpa hadir, zikir dan pikir menjadi mubazir belaka."
Profile Image for Andi Lintang.
225 reviews17 followers
April 7, 2023
Pembahasan ilmu tasawuf dibingkai kisah fiksi romansa

Jika menilik sinopsisnya, sekilas buku ini kayak novel romance. Tapi ga sesimpel itu. Novel islami ini lebih kepada buku nonfiksi tentang ilmu tarekat dan tasawuf, dan dimasukkan ke dalam kisah fiksi seorang pemuda bernama Lail (baca sinopsis).

🌕
✨ Bagi yang udah baca Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, buku ini punya skema yang mirip. Jika Dunia Sophie mengupas tuntas ilmu filsafat beserta tokoh2 filsufnya, novel Layla ini menerapkan konsep yang sama, namun dalam bidang ilmu tarekat dan tasawuf.
✨ Menjelaskan secara eksplisit dalam dialog tentang pengetahuan dasar saat seseorang sudah memilih untuk mendalami jalan tarekat, mulai dari baiat sampai penerimaan talqin.
✨ Bukan hanya itu, dalam dialog para tokohnya juga mengkaji beberapa fondasi ilmu tasawuf; penjernihan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
✨ Buku ini banyak menelaah biografi singkat para tokoh sufi pemegang tarekat beserta amalan yang beliau-beliau jalankan, seperti zikir dan wiridnya. Selain itu, ada juga lho sejarah para Wali Songo dan kiai-kiai terkenal lainnya yang ada di Indonesia.
✨ Untuk fiksinya sendiri, aku cukup menikmati cerita si Lail yang galau bin bucin ini😂 aku juga ga nyangka ada plot-twist yang mencengangkan di akhir.

🌑
✨ Sayangnya, alur cerita yang maju-mundur membuatku bingung dalam menyelami kisah fiksi si Lail ini.
✨ Aku juga kurang puas sama endingnya. Kayak masih ada yang kurang gitu😆

Aku merekomendasikan buku ini buat yang ingin mendalami apa itu tarekat dan ilmu tasawuf yang disisipi kisah romansa yang menarik. Tapi, aku sarankan kalian punya pengetahuan dasar dulu dan mahfum kalau ada perbedaan pendapat ya.. karena aku juga banyak berdiskusi tentang buku ini sama seseorang yang punya pengetahuan lebih akan tarekat😁
Profile Image for Indah Khairunnisa.
17 reviews12 followers
June 28, 2020
Satu kata: adem. Nuansa tasawufnya kental banget di awal-awal. Terus di akhir-akhir? Masih ada, tapi nggak sekental di awal, menurutku.

Aku setuju sama Hanung Bramantyo, kalau difilmkan, sepertinya akan memberi nuansa baru dalam jajaran film religi kita. Iya, religi. Tapi nggak sereligi itu kok. Hmm, gimana jelasinnya ya? Haha. Nilai religiusnya ada di novel ini dan nuansa yang dibangun itu jauh dari terkesan menggurui, tapi lebih ke mengajak ikut mencari dan mendalami. Makanya aku bilang adem.

Dan, kalau difilmkan nih, aku sih kebayangnya ada angle yang cukup besar porsinya untuk Layla, tokoh yang sangat berperan dalam cerita ini, selain Lail, tentunya. Kalau porsi cerita Layla diperbesar lagi aja, dengan teknik pengembangan ide cerita sedemikian rupa, sepertinya bisa mengajak pembaca (calon penonton -red) untuk ikut menebak resolusi konfliknya. Jadi, semacam mengajak audiens untuk berspekulasi tentang "siapa" itu Lail, "siapa" itu Layla, dan "siapa" mereka berdua.
Profile Image for Mokhamad Rofi'Udin.
2 reviews1 follower
March 2, 2018
Jika Anda ingin mengenal cinta dan konsekuensinya. Isi buku sarat dengan makna dan istilah di dunia tasawuf. Para sufi mengajarkan cinta untuk mengenal Tuhan.. Buku ini bisa menjadi sedikit jendela untuk mengintip dunia tasawuf itu seperti apa.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.