Jump to ratings and reviews
Rate this book

Menemani Setiap Detik Rasa Sepi

Rate this book
Awalnya....
Dari ratusan orang yang kutemui setiap hari,
aku tetap sendirian.
Dari jutaan akun di media sosial,
aku tetap merasa kesepian.

Kemudian...
Dari miliaran manusia di bumi ini,
Tuhan mengirimkan kamu.
Dari banyaknya nama kukenal,
kamu hadir dengan tak terduga.

Akhirnya....
Dari setiap orang dalam hidupku,
kamu yang paling beda.
Dari sedikit yang kuizinkan singgah di hatiku,
kamu malah pergi begitu saja.

Awalnya aku tak menginginkan kamu di sini,
kemudian kamu menemani setiap detik rasa sepi,
akhirnya kenapa selalu harus ada ujung pertemuan?

342 pages, Paperback

First published July 1, 2017

2 people are currently reading
23 people want to read

About the author

Adrindia Ryandisza

16 books28 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (21%)
4 stars
3 (13%)
3 stars
11 (47%)
2 stars
3 (13%)
1 star
1 (4%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Nola Andriyani.
180 reviews
May 8, 2018
"Dari segala yang ada di dunia, apa sulitnya ngasih yang bisa nemenin tanpa keinginan menusuk dari belakang? Tinggal ngasih yang enggak akan biarin aku ngerasa sepi? Yang selalu siao ada di mana dan kapan pun yang aku mau?" (hlm. 21)
.
.
Kali pertama baca karya penulis aku cukup menikmati gaya tulisan yang mengalir dan dengan bahasa masa kini, jadi nggak sulit untuk memahami maksud penulis. Konfliknya cukup berat tentang persahabatan yang dikhianati hingga membawa trauma, sampai konflik keluarga yang bisa dibilang nggak seperti keluarga karena masing-masing sibuk dengan dunianya tanpa memikirkan yang lain, sehingga membawa beban batin yang cukup berat untuk Naomi. Kasian liat Naomi, dia punya segalanya kecuali perhatian dari orang terdekatnya. Hal itu yang buat Naomi sedikit bandel. Tapi pertemuannya dengan Rayhan sedikit demi sedikit merubah Naomi. Alurnya sedikit terlalu cepat menurutku. Dan untuk kehidupan anak sekolahan, prilaku Nicky di pesta dansa aku rasa berlebihan.
.
Menggunakan POV 3, aku dibuat ikut memerani tokoh Naomi. Gimana kesepian, kecewa, marah, dan muaknya dia terhadap hidupnya. Interaksi Naomi dan Rayhan juga lucu dan buat gemay. Si Rayhan suka mati kutu karena mulut judesnya Naomi. Tiap tokoh juga kuat dan konsisten. Nggak bisa nggak suka liat Naomi, dia begitu karena punya alasan. Untungnya disini Naomi itu nggak yang macem-macem. Dia masih bisa menyikapi kesepian dia dengan mencari kesibukan. Nggak sedikit Naomi diluaran sana memilih menjadi "nakal" sekalian.
Profile Image for Wardah.
952 reviews172 followers
December 24, 2017
Would love to give it 3 stars but I couldn't love Naomi.

Bererita tentang Naomi yang suatu hari melihat hantu cowok bernama Rayhan. Rayhan ini mengaku sebagai jodoh Naomi.

Naomi sendiri gadis populer yang nggak punya teman. Dia trauma karena ditusuk temannya semasa SMP dan berakhir memilih nggak mau berteman. Ya. Dia memilih nggak mau berteman

Semakin menyedihkan, kedua orang tuanya sangat sibuk sehingga nggak punya waktu untuknya.

Susah buat suka karakter Naomi. Karena dia sendiri nggak bisa bersimpati pada orang lain. Okelah dia banyak diomongin orang lain di belakang, tapi dia sendirinya juga nggak mau membuat perubahan. Dia terlalu menyalahkan dunia (meski sejujurnya wajar buat usia anak remaja gitu). Tapi saya nggak bisa simpati padanya.

Ditambah lagi, novel ini terasa panjaaaang banget. Saya nggak begitu cocok dengan gaya penulisannya pula hiks. Konflik Naomi-Nicky dimulai dan diakhiri dengan begitu saja. Motif di balik sikap Nicky dan kembarannya Nick, terasa kurang kuat. Terus konflik Naomi dan orang tuanya juga bukan sesuatu yang utama.

Ceritanya benar-benr fokus pada Naomi-Rayhan. Padahal punya banyak hal untuk dikenbangkan.

Ide hantu di sini juga sering saya temui di shoujo manga. Tapi baca manga dan novel itu feel-nya beda. :/

Yah tapi ini teenlit yang cukup asik buat dibaca. :)
Profile Image for LawyerApologist.
14 reviews
August 28, 2024
Before I delve in, I must emphasize that this marks my third encounter with this book. I recall enjoying it so much that I revisited it a few years back. This time, however, I aim to write a thorough review, hence my decision to give it a third read. Apologies for not writing this in my native tongue; expressing my thoughts feels more natural in English.

The initial chapter introduces us to both the protagonist and the antagonist. Let me be blunt: I utterly despise the main character, Naomi. She's crafted as this "cool girl" who brushes off others' opinions, but frankly, she's insufferable. Barely four pages in, I'm questioning how I enjoyed this book previously. My discontent began as early as the second page. THE SECOND PAGE.

"Semua pengulangan gerakan ini disebabkan oleh satu cewek junior kurang fokus. Padahal mereka harus fokus dan memegang prinsip kerja sama tim. Satu salah, yang menanggung sekampung."

Having been both a dancer and a gymnast, I empathize with the frustration of penalizing everyone for one person's slip-up. Trust me, I know the feeling all too well. But here's the thing: anyone can make a mistake, usually not intentionally. Everyone hits low points, and no one aims to drag everyone down, including themselves. Such moments are expected! In this scenario, the appropriate target for frustration is the COACH. If the training is truly grueling, to the point of someone fainting, the coach should bear the brunt of criticism, not this junior girl.

"Junior itu sama sekali tidak terlihat merasa bersalah, malah enak bergosip dengan temannya sesama junior."

Hold up. Aren't we in the 21st century, where we've moved beyond excessive respect for seniority? There seems to be an implication that being a junior is somehow wrong. Laughing and bonding with fellow juniors is frowned upon? And let's not forget the junior's situation — her ill mother affects her focus. Naomi's response?

"Ya, kenapa lo engga nemenin nyokap lo aja, sih? Daripada ngerepotin yang lain. Pelatih juga kan bilang kalau udah nginjak kaki di pelatihan urusan lain dilupain dulu."

Not a shred of empathy from Naomi. What the heck? Yes, one should leave personal matters out of training, but when it's as personal as an ill mother affecting focus, a good senior should show EMPATHY. That builds camaraderie and ensures focus in the future. This narrative of seniority complex is toxic. Also, implying that she can't have fun due to her mother's illness? So, she's expected to be in perpetual sorrow, attending to her mother 24/7? Ridiculous.

And we're only on the 7th page.

I'm not fond of the antagonist either, but when she called Naomi "lebay" (over the top), I wholeheartedly agreed. But that insult pales compared to the critique I've written so far. Then comes this dreadful line:

"Satu-satunya yang bisa dimenangkan Nicky dari Naomi adalah masalah ukuran dada."

...WHAT? This is shallow beyond belief. Implying that having a large chest size is the only commendable thing for the antagonist? Describing or judging someone's character based on their chest size is shallow and, in my opinion, misogynistic.

Speaking of which, there's this insinuation that girly activities and bonding after practice are somehow wrong? Okay, Naomi, we get it. You're not like other girls. It reeks of MISOGYNY.

Naomi is portrayed as this "cool, I-don't-care" type, but it's evident she's invested in what people think, trying to convince herself otherwise. Maybe she truly is indifferent, but in this chapter, she comes off as apathetic. That's not a positive trait - it's off-putting.

Onto the second chapter.

"Naomi heran kenapa mereka tidak memilih berbicara langsung kepadanya daripada cara picik seperti itu."

I'll tell you why, Naomi. You deflect criticism and never self-reflect. Why would anyone approach you directly?

"... tapi Naomi tidak ada niat untuk mengakrabkan dirinya dengan siapa pun."

And you wonder why you don't have friends.

"Sebenarnya bukan salahnya jika pernah disakiti oleh temannya sendiri."

Projection, Naomi. Get a therapist.

"Naomi berusaha membaca gerak bibir cewek-cewek yang sedang sibuk dengan kegiatan mereka."

So, do you care about other people's opinion or not? This inconsistency persists, especially in earlier chapters. Naomi's supposed to be likable, but it falls flat.

Is it surprising the junior throws shade at Naomi? The junior acknowledges her mistake, yet Naomi picks on her despite knowing about her ill mother.

"Dari segala yang ada di dunia, apa sulitnya ngasih yang bisa nemenin tanpa keinginan menusuk dari belakang? Tingal ngasih yang enggak akan biarin aku ngerasa sepi? Yang selalu ada di mana dan kapan pun yang aku mau?"

Naomi doesn't want a human friend; she wants an obedient, effortless worshipper. People say extreme things when pushed, but Naomi's unlikeable character makes it hard to sympathize.

...

You might be wondering why I settled on a 2-star rating (instead of 1-star) for this book despite my scathing critique of its opening chapters. Well, let me explain.

First and foremost, the male lead stole the show for me. He's the antithesis of our main character: optimistic, humorous, and unafraid to call out Naomi's problematic behavior. I love that the author crafted him this way, providing a much-needed balance to Naomi's despicable traits.

Secondly, the humor and heartbreak sprinkled throughout the book kept me engaged. Some lines had me laughing out loud, while certain scenes tugged at my heartstrings. The pacing, though sometimes too rapid for my taste, caters well to the target audience—young teenagers dipping their toes into reading.

The dialogue and dynamic between Rayhan and Naomi felt authentic, adding depth to their relationship and the story as a whole.

Despite these positives, a few issues prevented me from rating the book higher.

Repetition plagued the writing, with certain phrases and scenarios feeling overused. For example, when there was conflict between Naomi and Nicky (the antagonist), it was stated multiple times that "the observers wished they could have popcorn while watching them argue," and it became quite noticeable.

Naomi's wealth was depicted in a somewhat pretentious manner. While I understand the intention to highlight her family's neglect amid affluence, it occasionally bordered on the unrealistic, leaving some readers questioning its plausibility. For instance, Naomi's extravagant high school facilities is something you'd only see in international highschools, yet I never saw that being expressed in this story, and it might leave some impressionable teenagers questioning the realisticness of it. Demonstrating Naomi's wealth more subtly, such as implying her family's ownership of a car and hiring a personal driver for her (like the author did in the story), could have been a less conspicuous yet effective approach.

The conflict scenes felt over-the-top and cringeworthy, lacking subtlety and realism. Additionally, subtle misogynistic undertones pervaded the narrative, perpetuating harmful stereotypes and attitudes towards women. Examples include scenes where girls are depicted as fawning over basketball boys, contrasting Naomi's indifference, and the implication that dressing up for a dance party should be understated to avoid appearing like other girls who frequent salons.

You know, I was troubled by the implication of the ending. The narrative reveals a moment where Rayhan's parents almost decided to "pull the plug" on him, a scenario fraught with ethical and emotional complexity. The writing of this scene struck me as problematic, as it heavily implied that such an action would have been a grave mistake, potentially costing Rayhan his life. While this portrayal adds dramatic tension to the story, it raises questions about the broader impact of this narrative on real-world perceptions. In reality, there are parents who spend exorbitant amounts of money, often stretching into the millions or even billions of Rupiahs, in desperate attempts to keep their children alive. This book, however, fails to explore the complexity of such situations and lacks empathy towards the parents' perspective. Instead, it presents a simplistic narrative of "parents pulling the plug equals evil," without delving into the struggles and feelings that the parents may be experiencing. It would have been beneficial for the story to include a dialogue or perspective that clearly articulates the parents' side of the story, allowing readers to empathize with their difficult decisions. By providing a more balanced portrayal, the narrative could have fostered a deeper understanding of the ethical dilemmas faced by families in similar situations.

Lastly, Naomi's struggle with dieting teetered dangerously close to promoting or glorifying eating disorders, though thankfully, it didn't veer into that territory.

Overall, despite its flaws, I found the story satisfying. With some polishing and reworking of the initial chapters, it could have easily earned a higher rating. I wish the author well and look forward to their future works.
Profile Image for Fataya.
Author 3 books17 followers
February 9, 2018
Antara gemas dan sedih bercampur menjadi satu... :')
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
December 24, 2017
Buku yang asyik dibaca saat santai. Nggak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. So far, terlepas dari beberapa hal yang absurd (jatuh cinta sama hantu aja udah absurd, ya, hihihi), novel ini cukup menarik.
Profile Image for Melani Ivi.
55 reviews5 followers
February 25, 2018
“Naomi juga tidak begitu peduli tentang pandangan orang lain kepadanya. Hanya karena mereka melabeli Naomi dengan hal-hal yang jelek, dia tidak akan sakit-sakitan atau mati karenanya.” (hal. 11)

“Dari segala yang ada di dunia, apa sulitnya ngasih yang enggak akan biarin menusuk dari belakang? Tinggal ngasih yang enggak akan biarin aku ngerasa sepi? Yang selalu siap ada di mana dan kapan pun yang aku mau?” (hal. 21)

Membaca blurb novel di kover belakang, saya sempat mengira ini novel remaja dengan kemasan misteri horor. Sebuah tema yang tak biasa untuk bacaan remaja. Tapi ternyata penulis mengemas cerita dengan ringan, sehingga cerita tetap bernuansa teenlit yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari remaja, terutama di kota besar Indonesia. Sama sekali tidak menyeramkan ala novel horor. Penggambaran sosok hantu Rayhan pun justru ramah, baik, ceria, dan berwajah tampan. Ditambah rasa suka yang tumbuh di antara keduanya, membuat kisah menjadi asyik dengan teka-teki akan nasib cinta mereka. Kover pun menarik dan menggambarkan judul.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya. Ini bersifat subjektif, saya rasa. Bisa jadi, pembaca lain memiliki opini yang berbeda dari saya. Pertama, tentang pemilihan POV atau sudut pandang penceritaan. Menurut saya, akan lebih pas jika digunakan POV orang pertama (aku, Naomi) ketimbang POV orang ketiga. Karena, fokus cerita dari awal hingga akhir adalah Naomi, jadi feel akan lebih terasa jika pembaca diajak menelusuri kisah dari sudut emosi dan isi pemikiran Naomi. Selain itu, saya mendapati di beberapa bagian, terdapat pernyataan yang agak kurang meyakinkan tentang apa yang dipikirkan tokoh lain, padahal digunakan POV orang ketiga, yang menurut saya seharusnya berperan sebagai ‘dia’ yang maha tahu. Kedua, konflik keluarga antara Naomi dan orangtuanya, kurang dieksplor. Saya mengharapkan kemunculan adegan—sedikit sekalipun—yang melibatkan kehadiran orangtua Naomi dan membuat cerita lebih mengaduk-aduk emosi serta menegaskan kesepian yang dirasakan Naomi. Ketiga, terkait penyelesaian masing-masing konflik yang agak kurang menohok, terkesan terburu-buru. Baik itu konflik antara Naomi dengan Nicky – Nick, Naomi dengan orangtuanya, maupun Naomi dengan Rayhan.

Secara keseluruhan, teenlit yang satu ini menawarkan ide segar yang menarik dan menghibur. Fenomena merenggangnya hubungan antara anak-orangtua pun memang tak asing lagi di era sekarang dan layak diangkat. Juga persaingan tak sehat dan aksi yang menjurus ke arah bullying di kalangan remaja. Kisah Naomi ini bisa menjadi cerminan bagi pembaca remaja. Bahwa hal-hal buruk tak lantas dicontoh hanya demi dianggap populer atau diterima dalam lingkaran pertemanan.

Profile Image for Afrianti Pratiwi.
100 reviews28 followers
August 18, 2023
Enggak ada yang spesial dari buku ini. Novel teenlit dengan genre romantis dan sedikit misteri yang cocok dibaca saat sedang santai. Rasanya, saya sudah lama sekali nggak baca teenlit, tapi buku ini nggak juga bikin saya bisa menikmati teenlit dengan rasa senang. Buku ini cukup tebal, tapi yang bikin saya bisa menyelesaikannya dengan agak cepat adalah karena font-nya yang cukup nyaman di mata saya. Kayaknya emang saya udah agak susah baca novel dengan font yang kecil-kecil dan rapat.

Menemani Setiap Detik Rasa Sepi merupakan sebuah novel remaja dengan karakter utama bernama Naomi, seorang cheerleader andalan sekolah Cikal Bangsa. Entah apa yang membuat Naomi pada akhirnya memilih untuk tidak berteman dengan siapapun. Pada bab-bab awal, alasan itu tak diceritakan, tahu-tahu Naomi telah menjadi musuh setiap siswa di sekolahnya, terutama salah satu anggota cheerleader bernama Nicky.

Saat kesepian yang dirasakan Naomi sudah memuncak, ia lalu berdoa agar memiliki teman yang bisa menemaninya kapanpun dan dimanapun tanpa mengkhianati dirinya.

"Dari segala yang ada di dunia, apa sulitnya ngasih yang bisa nemenin tanpa keinginan menusuk dari belakang? Tinggal ngasih yang enggak akan biarin aku ngerasa sepi? Yang selalu siao ada di mana dan kapan pun yang aku mau?" (hlm. 21)

Setelah permintaannya tersebut, Tuhan mengabulkan permintaannya dengan memberikannya kemampuan dengan bisa melihat sesuatu yang tak kasat mata. Salah satunya bernama Rayhan, yang kemudian datang dan mengaku sebagai jodoh Naomi. Tapi, mana mungkin Naomi berjodoh dengan seorang... hantu? Merasa Tuhan tidak adil, Naomi justru marah karena doanya tak spesifik meminta seorang teman berupa manusia, bukan malah hantu.

Namun, dari sanalah petualangan Naomi dan Rayhan dimulai.

===

Saya sangat miris dengan kehidupan Naomi yang sama sekali tak memiliki teman, bahkan orangtuanya pun tampak tidak memedulikannya. Bahkan ketika Naomi terkena masalah di sekolah pun, orangtua Naomi tetap tidak bisa datang hanya karena alasan rapat di kantor. Tapi pada akhirnya Naomi menikmati waktu-waktunya bersama Rayhan, karena ia kini tak sendirian walaupun bukan bersama teman manusia.

Perseteruan dan persaingannya dengan Nicky untuk bisa mencapai posisi puncak di piramida cheerleader juga menambah bumbu-bumbu greget, hanya saja saya merasa penyelesaiannya agak kurang dieksekusi dengan baik. Permasalahan Naomi dengan kembaran Nicky, Nick, juga tampak hanya selewat dan diceritakan kalau Naomi pernah berpacaran dengan Nick sebentar saat Rayhan bertanya.

Jujur, novel ini sangat bisa dinikmati untuk anak-anak remaja, tapi buat saya pribadi sudah kurang relate. Misteri keberadaan Rayhan yang sesungguhnya juga tampak seperti film-film FTV atau anime-anime yang tiba-tiba Naomi menemukan informasi dengan sangat mudah. Rasanya agak kurang jika memang ingin memasukkan unsur misteri. Tapi yaah, sekali lagi, novel ini tetap bisa saya nikmati dan mudah dipahami.

Terakhir, ini pertama kalinya saya membaca karya Adrindia, jadi saya nggak punya pembanding apapun untuk buku-buku karyanya. So, happy reading!
Profile Image for Seffi Soffi.
490 reviews143 followers
December 8, 2017
3.5 🌟
.
.
Baca kisah ini sedih sekaligus ada lucuknya juga, sedih karena ada ya orang tua yang tega membiarkan anaknya berdiri sendiri tanpa bimbingan. Kesepian yang dialami Naomi, bikin nyesek. Mungkin sih diluaran sana banyak ya Naomi-Naomi lainnya, haduhh... Aku nggak bisa bayangin deh. Kadang ada kan ya anak yang kesepian dan dia melampiaskan ke hal-hal yang salah. Kejadian yang dialami Naomi membuat dia harus dewasa, dan untungnya juga nggak cari pengalihan yg aneh. Lucu nya interaksi Naomi sama Rayhan itu gemesin banget. Rayhan bisa aja mendebat Naomi. Dengan kehadiran Rayhan, kesepian itu terobati. Nah sosok Rayhan ini apa dan siapa sih? Masih penasaran nggak? Langsung deh baca buku nya. Karena aku nggak mau cerita banyak, nanti spoiler. Oh ya kalau mau beli, bisa langsung PO penulis nya. Kemarin aku liat lagi buka PO :)
.
Ini cerita pertama yang aku baca karya penulis, gaya cerita yang mengalir, asik dan detail. Menggunakan POV ketiga, dan membuat penasaran dengan twist-twist nya. Tokoh-tokoh yang cukup kuat. Konflik tentang keluarga dan pertemanan nya cukup apik. Tema yang diangkat penulis cukup unik, beda dari teenfiction biasanya. Praduga aku salah, aku cukup di buat kaget sama awal cerita nya. Tapi pas udah tau, aku menikmati sampe halaman habis. Overall novel nya bagus, dan aku suka. Ditunggu lagi karya baru nya ka...
Rekomen banget yang cari cerita teenfiction :)
Profile Image for Rizky.
1,067 reviews89 followers
December 27, 2017
Ini pertama kalinya aku membaca tulisan Kak Adrindia. Ide ceritanya seru dan menarik sekali. Jujur awalnya aku pikir ini bakalan jadi novel horor atau misteri hanya karena membaca blurbnya, nyatanya aku salah besar.

Novel ini benar-benar memotret kisah remaja masa kini yang orang tuanya sibuk bekerja. Jangankan bertemu, perhatian pun tak ada. Seperti Naomi yang memiliki segalanya, termasuk materi sayangnya orang tuanya lupa tidak hanya itu yang dibutuhkan seorang anak. Anak lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayang daripada sekedar materi yang banyak.

Untungnya Naomi bukannya melampiaskan ke hal-hal yang tidak benar. Dia hanya menjadi seorang pribadi yang ketus dan tidak mudah percaya dengan orang lain. Karena orang-orang terdekatnya malah mengkhianatinya. Aku merasakan simpati kepada Naomi, bagaimana pun dia remaja biasa yang haus akan perhatian orang tuanya.

Hidupnya yang menjadi berwarna sejak kehadiran sosok tak kasat mata, Rayhan. Kaget tentu saja. Namun, seiring berjalan waktu interaksi keduanya itu bikin senyum-senyum sendiri. Sifat mereka yang bertolak belakang membuatku sungguh terhibur dengan kisah mereka.

Aku sampai ketagihan membacanya dan ingin tahu apa akhir kisah mereka.
Profile Image for Novia.
115 reviews2 followers
January 7, 2018
So far so good. Aku suka tata bahasanya. Rapi, dan sesuai EYD. Meski ada beberapa kalimat tidak efektif dan berulang.

Untuk plotnya, karena aku pernah baca cerita dengan plot yang mirip aku jadi kurang sreg dan sudah bisa menebak penyelesaian masalah dan endingnya bagaimana. Tapi kalau mau bacaan ringan buku ini worth to try kok 😊
Profile Image for alineafajr.
27 reviews6 followers
December 20, 2017
Pembawaan cerita buku ini santai dengan alur maju, yang menjanjikan pembacanya tersenyum simpul ketika membacanya, cerita cinta yang 'remaja banget' dengan bumbu 'beda dunia' tentunya menarik untuk diikuti.

Konflik-konflik yang diangkat pun sangat cukup untuk kategori #TeenFict, terutama menjelang akhir cerita, puncak konflik yang menurut saya cukup menyentuh emosi pembacanya.

Saya suka moment ketika Naomi mulai menyadari keberadaan Rayhan, dibawakan dengan sweet dan bersahabat. Lalu, bagian mana yang paling saya sukai dari Novel ini? Tentu saja pertemuan Naomi dan Rayhan yang sebenar-benarnya untuk pertama kali.

Feel romansa remaja-nya yang manis, menyenangkan untuk dibaca, walaupun sejak awal saya sudah bisa menebak bagaimana akhir dari buku ini.

Saya masih menemukan beberapa typo dan kata yang tidak sesuai dengan KBBI, dan susunan kalimat yang rasanya kurang pas, tapi tidak mengganggu, karena masih bisa dimaklumi untuk saya pribadi.

Untuk pace-nya, di awal berjalan agak lambat dan santai, tapi ketika menuju akhir rasanya agak terburu-buru sehingga ada bagian yang menurut saya agak kurang masuk akal.

*Spoiler alert*
Saya sedikit kurang sreg dengan scene menuju ending bagaimana scene seseorang yang baru sadar dari koma setelah sekian lama bisa pulih dalam hitungan menit dan bisa mengobrol dengan santainya. Karena sepengetahuan saya, orang sadar dari koma tidak se'klise'itu, mungkin untuk penulis kedepannya ini bisa menjadi motivasi untuk mematangkan riset untuk mendukung suatu cerita agar lebih baik. Tapi saya juga memaklumi, mungkin karena keterbatasan halaman membuat scene tersebut kurang maksimal.

Lalu untuk penokohan, menurut saya pribadi tokoh Nick dan Nicky rasanya kurang tergali padahal mereka sangat berpotensi menciptakan konflik yang "lebih" lagi. Tadinya saya juga berharap kemunculan orangtua Naomi, barang sekali pun tak apa, tapi sepertinya penulis memberikan maksud lain yang ingin ia sampaikan pada pembaca, dan saya cukup puas dengan keputusan penulis mengenai peranan orangtua Naomi yang sampai di situ saja.

Mengesampingkan segala bentuk komentar saya mengenai buku ini, buku ini menyuguhkan cerita yang manis dengan moral cerita yang lumayan mengena, terutama mengenai hubungan orangtua dan anak, dan saya sangat merekomendasikan buku ini kepada pembaca yang butuh bacaan dengan jangkauan umur remaja, juga para orangtua di luar sana, karena pesan moral yang terkandung di dalamnya menurut saya sangat baik. ^^
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.