Dalam hidup, kau akan bertemu banyak orang, banyak hal. Mereka akan mengujimu, memberimu pelajaran. Mereka akan memberikan warna baru dalam setiap jejak yang kau tapaki.
Kutuliskan setiap perjumpaan itu. Petualangan yang kumulai dengan sisa hati yang sebagiannya telah remuk. Safari sakit hati yang menemukan kembali makna syukur di kota-kota nan memesona di Eropa. Aku tak bisa menjanjikan apa pun, kecuali barisan kata patah hati dengan sedikit latar romantis yang didamba banyak pemuja cinta. Akan ada air mata di Amsterdam, reuni kejutan di Paris, senyum pilu di Roma, dan tawa sendu di Berlin.
Jika kau tertarik untuk keluar dari hidupmu, atau mendamba petualangan cinta yang rumit dan penuh drama, maka kau bisa mulai membaca kisahku.
Ini kisahku, Diva Aliya Firansyah, yang bermuhasabah di benua biru.
Berangkat dari kisah nyata, buku ini menghadirkan banyak sudut pandang, sehingga bukan hanya kisah Diva saja sebagai fokusnya. Penulis menyajikan banyak kisah inspiratif melalui pertemuannya dengan berbagai macam narasumber di kota-kota negara benua biru.
Selain kisah inspiratif, buku ini juga "memperlihatkan" dibalik layar acara traveller saat bulan ramadhan tiba. Bagaimana mereka berjuang, bangun pagi buta agar tidak ketinggalan kereta, kesasar, bahasa yang menjadi kendala, dan sebagainya.
Gaya bahasa dan sudut pandang yang penulis gunakan pun tidak membuat cepat bosan sampai mengantuk. Penjelasan mengenai kota yang dikunjungi Diva berhasil membuat alam imajinasi saya bekerja ketika membacanya.
Pada hlm. 274, pertanyaan Stefano membuat saya tertegun sejenak. "Apa itu hidup?". Membuat saya terdiam dan berpikir sejenak.
Buku ini saya merokemendasikannya pada kamu yang menyukai novel islami, minim percintaan, namun penuh kisah-kisah inspiratif.
Rate : 4/5
🍁
This entire review has been hidden because of spoilers.
Awalnya sempat berhenti lama nggak baca lagi karena kurang begitu suka. Tapi setelah break trus baca lagi...Wah, kok ternyata dalem juga makna-nya! Kalo Stefano tanya aku, Hidup itu adalah penantian. Menuju kematian yang sudah pasti bakalan kita jelang. Yang beda mungkin cara manusia itu sendiri mengisi masa penantian tadi. Belajar, menikmati hidup, bermalas - malasan atau yang model-nya ingin serba cepat juga instan? It's all up to you! Tapi bener juga kalo aku jadi banyak bersyukur setelah baca buku ini. Kita yang dikasih kebebasan sebebas - bebasnya untuk beribadah aja masih ogah2an...coba tokoh minoritas yang ditemui Diva? Harus bertaruh nyawa. Subhanallah!
novel ini mirip dengan novel karya hanum salsabilah rais, 99 cahaya di langit eropa. Namun bedanya novel ini menghadirkan suasana cinta yang lebih lekat dari pada cerita jalan-jalannya. ceritanya pun agak kurang menggigit. tapi tetap seru untuk dibaca, kok...,hehe . grazie mbak Dini...,
Menceritakan bagaimana kehidupan muslim yang menjadi minoritas di Eropa. Akan banyak menambah wawasan dan pengetahuan terkait kondisi Muslim di sana yang sangat berbeda dengan di Indonesia yang mayoritas adalah muslim. Diramu dengan kisah patah hati, pelarian, dan sikap harus maju terus menghadapi segala yang terjadi di hidup ini.
Tapi bagian yang paling saya suka adalah bagian akhir. Di mana Diva sang tokoh utama bermimpi menerima surat wasiat dari ibunya yang telah berpulang. Ini hanya mimpi, tapi bagaimana jika itu sungguh terjadi? Sudah siapkah kita kehilangan orang terdekat kita dan kita tidak bisa mendampingi di sisinya pada saat-saat terakhir itu?
petualangan yang termotivasi karena kekecewaan, membawa diva melupakan semua impiannya. menatap masa depan, ia berusaha menghapus rasa sedih dengan berkenala mengenal islam di tanah eropa. ia bertemu banyak orang yang ternyata memiliki hidup yang tak kalah suram dengannya. ia harus bersyukur. ia harus beruntung. novel religi pembangkit motivasi serta kepercayaan hidup.
Buku ini aku recomended bagi yang suka dengan hal-hal berbau traveler. Karena didalam buku ini mengajak kita untuk berimajinasi tentang suasana yang ada di Eropa. Mulai dari kisah para Muallaf yang berbagi inspirasi dan motivasi dengan Diva dan kisah kehidupan Muslim di Eropa.
I knew this book because Asma was hunting the books she wanted to buy. The first thing that interest me to buy this book was the title and the cover. And then I read the synopsis, well just scanned it. It interest me more because the author will talk about Europe.
I just got htis book in the middle of October and just finished it.
When I started reading the prolog, I fell in love with the author beautiful words which I rarely found in the books I read these days. I usually find raalistic words, just realistic. But her words are realistic and beautiful at once. She added ‘sentuhan sastra’ in them.
To be honest I was a bit reluctant to read this book because I don’t like anything which linked to SARA (religion and etnic). It’s not because there’s some religion or etnic I don’t like, but because I kind of was a victim of racism. I am very sensitive to it.
This book mostly talked about Islam in Europe. How the Moslem live there, the history of Islam in Europe, Moslems problem with government policy and the locals because I’ve just know that Islam is kind of restricted in those countries. It is because they thought Islam is related to terrorism. It’s so sad to know it. I know in Indonesia Islam is the mayor religion. Most of the citizens are Moslem. They are free to go with their hijab and gamis. They are free to express themselves.
There’s a line catched my attention while I read this book, “Sebagai Muslim Indonesia aku tidak terlalu bangga dengan citra Indonesa sebagai negara yang mayoritasnya Muslim. Buat apa membanggakan sesuatu yang tidak sesuai kenyataannya. Banyak orang Indoensia yang mengaku Islam di Kartu-kartu identitas diri, tapi tidak menerapkan keislamannya..”
I compare that line to the stories of Mualafs Diva, the main character, met. They must hide their identity as a Moslem in their own country, their family against them and left them, and the mosques are not good as in Indonesia.. I can say that their suffer but they really mean to be a Moslem. I can’t say much about this because this is not my place. I am just a reader who took the informations and lessons from it.
But it didn’t just talked about Islam, but also the meaning and the journey of this life. You can find it in every story of the side character in this book and you can find it in the story of Diva herself. Lastly, this book is amazing and yeah you can use it to do self reflecion
*Hasil Bookswap IRF 2016 - Stand Blind Date with books* -------- ** Books 316 - 2016 **
3,8 dari 5 bintang!
Saya menyukai perjalanan Diva ke negara-negara Eropa seperti Jerman, Belanda, Perancis, Spanyol dan Barcelona dan bertemu dengan muallaf dan orang muslim yang minoritas tinggal disana.
Saya suka dengan pemaparan sejarah-sejarah islam yang dituliskan didalam buku ini. Tidak menampik buku ini mengingatkan saya akan buku Hanum Salsabiela Rais yang berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa tetapi saya suka sekali pendekatan mbak Dini terhadap muallaf dan bagaimana mereka bisa memilih agama islam sebagai keyakinannya.
Saya suka akan adanya unsur dakwah dan beberapa pesan yang selalu mengingatkan kita bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan semua ini hanya fatamorgana namun ada satu hal yang pasti kematian itu akan datang. Buat apa kita berlomba-lomba mencari kebahagiaan materi tetapi sebenarnya itu semua tidak ada artinya bagi Tuhan. Buku ini juga berhasil membuat saya merenungi apakah sebenarnya saya sebagai muslimah sudah benar-benar menjalankan Perintah-Nya?
Saya jadi kepengen untuk bermain-main ke Jerman, Spanyol dan Perancis jadinya! Ahhhh! Membaca buku ini sebenarnya juga membuat saya bersyukur bisa hidup di Indonesia negara yang tidak ada larangan untuk muslimah memakai niqab atau cadar dan bahkan memiliki masjid sendiri untuk bisa beribadah
Saya mendapatkan buku ini saat di stand Books Blind Date dan saya juga melakukan book swap dengan mendapatkan buku yang berjudul Bintang di Atas Alhambra by Ang Zen. Coba tebak? Saya tidak menyangka bahwa kedua buku ini sama-sama membahas tentang Alhambra Granada yang merupakan kawasan istana dan benteng yang terletak di Andalusia, Spanyol. Apakah semua ini suatu kebetulan? :O
Terimakasih IRF 2016 untuk stand Books Blind Datenya!
Scappa per Amore bukan hanya sebuah buku travel biasa yang menceritakan pelarian seorang wanita patah hati. Yang menjadi sorot buku ini justru adalah pengalaman rohani yang didapat Diva selama dia berkeliling Eropa. Patah hati Diva hanyalah sebuah intro yang menjadi alasan Diva pergi ke Eropa.
Kisah keislaman bule Eropa yang dijabarkan Dini cukup menohok hati muslim manapun (atau cuma aku) yang kondisi keimanannya begini - begini aja. Banyak bule mualaf yang kisahnya dijabarkan Dini. Ada Hakima yang diperkosa ayah tirinya berulang kali dan diusir dari rumah karena menjadi mualaf, ada Carla yang baru mengenal Islam karena menyukai seorang muslim, ada Vivi sahabat sekolah Diva yang memilih menjadi atheis, ada Karima yang harus main petak umpet dengan polisi karena memakai burqa yang telah dilarang di Perancis, dan masih banyak lagi.
Dari tiap kisah di atas, Dini seakan menyentil pembaca dengan bilang "Orang mualaf hitungan bulan dan tahun saja bisa seperti ituloh keislamannya, kenapa kita yang dari lahir sudah Islam justru tidak memahami esensi Islam seperti mereka?"
Penulis yang aslinya seorang presenter Jazirah Islam, tidak sembarang saja menulis buku ini. Scappa per Amore dia buat berdasarkan pengalamannya sendiri berkunjung ke benua Eropa tersebut. Makanya jangan heran kalau deskripsi Dini mengenai lima negara tersebut terasa sangat nyata.
Ending-nya yang terkesan menggantung aku sangat suka. Pembaca diberikan kebebasan untuk menentukan akhir ceritanya sendiri.
Buku ini cocok dibaca jika kamu pengen baca buku islami yang cukup santai dan sambil berkhayal mengunjungi benua Eropa.
Baru prolog udah disambut sajak Sendiri bla bla bla.
Di awal agak salah fokus malah lebih penasaran ke kisah pribadi tokoh utama ketimbang kisah perjalanannya. Dan ga terlalu antusias ngikutin kisah Diva karena udah pernah baca kisar serupa yang melibatkan kota yang sama di buku lain.
Review kali ini mau ngutip kalimat-kalimat penyemangatnya aja ya.
"Ini bukan soal berapa kali kita jatuh dan merasa bodoh, tapi seberapa.besar usaha kita untuk bangkit dan menyadari kesalahan, itu yang penting!" (108)
"Kehilangan itu hanya soal waktu, Diva. Allah selalu punya rencana yang lebih indah dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Meski kadang kita harus tertatih untun menggapainya. Percayalah." (175)
"Ya, aku setuju hidup itu adalah pencarian. Tapi, untuk apa mencari kalau akhirnya kita tidak pernah merasa puas? ~ Dulu, aku juga seorang pencari sejati. Pencapaian adalaha tujuanku, dan penaklukan adalah kepuasanku. Kini aku sadar semua itu tidak ada artinya jika pembuktian itu hanya ditujukan pada manusia. Jangan lupa, ada Tuhan yang melihat kiya di atas sana--lengkap dengan malaikatnya." (213-214)
"Berat ringannya masalah, adalah bumbu untuk mematangkan jiwa, bukan untuk melemahkan. Hanya kesabaran yang bisa menghadapi segala kemarahan, kebencian, dan kekecewaan. Pada akhirnya setiap masalah selalu akan berujung dengan penyelesaian. Entah dengan cara apa, tetapi selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa." (284)
Buku Scappa Per Amore ini secara covering menarik banget. Asumsi awalan saya adalah pasti seru,kisah perjalanan religi keliling Eropa dan gak membosankan.
Dilihat dari alur ceritanya,harusnya menarik dan memang menambah wawasan tentang kehidupan Mualaf di Eropa berdasarkan kisah mereka,tapi entah bagaimana saya kurang tertarik membacanya,terlalu monoton dan kurang greget dikonfliknya. sejarah Islamnya juga gak terlalu banyak (oke ini bukan 99Cahaya), walaupun bayangan saya "seharusnya cerita ini seseru kejadian sebenarnya" tapi saya sebagai pembaca kurang merasakan keseruan itu... hehe *maap..
tapi ada kata-katanya mba Dini Fitria yg saya suka dibuku ini "Pulang menjadi pasti jika telah memutuskan pergi" (hal.289)
Suka banget sama buku ini. Bahasanya ringan dan enak untuk diikuti, walaupun cerita ttg sejarah islamnya lebih sedikit, tapi dapet wawasan baru ttg banyaknya muallaf di Eropa, perjuangan mereka memertahankan islam, kehilangan keluarga dan orang2 yang disayang. Baca buku2 jenis ini selalu melambungkan mimpi2 pengen jalan2 ke Eropa, ingin merasakan sendiri apa yg ditulis si penulis :'') Oh iya, berhubung ternyata si penulis berasal dari Padang, saya merasakan byk kesamaan ttg kebiasaan, dan cara berpikir si penulis, jadi berasa lebih nyambung, hehe.. Tambah lagi ada sebuah kota di Jerman, Nuernberg yang katanya mirip sama Bukittinggi :D Jadi makin penasaran utk melihat langsung.
Similar dengan novel2 hanum salsabila rais. Bedanya, yg satu ini lebih berusaha fokus pada topik 'cinta'. Gaya penuturannya sangat mudah diikuti. Tapi seperti buku2 travel lainnya, memang agak annoy (mungkin menurut saya saja) ketika penulis mencoba menjelaskan setting, tapi jatuhnya terlalu sulit utk dibayangkan oleh pembaca yg nggak pernah tahu atau nggak pernah jalan2 kesana. But, over all, buku ini sangat menginspirasi. Menjelajahi sejarah dan kebudayaan Islam di negeri Eropa, dan perjalanan tokoh utama mencari makna cinta, bisa dipadukan dengan baik dalam satu buku ini. 3,5 / 5stars.
Sebenarnya pingin kasih 2,5 bintang buat novel ini. Agak lumayan lama juga baca, karena ditengah2nya bosan. Bagus sih, cerita tentang eropa dan islam yang nambah info baru. Tapi ya itu, penyampaian tulisan yang agak kurang ngena buat saya mungkin ya. Yang paling saya Bab 20 kebelakang. Ada hal-hal yang menginspirasi. Cuma abis itu bab 27 udah mulai bosan lagi, sampai ketiduran bacanya. But it was ok.
Dini fitria mrp penulis yg gigih, pantang menyerah, dan energik. Smangatnya ini membuatnya mampu menuangkan pengalaman2 spiritualnya selama mjd presenter Jazirah Islam ke dlm novel debutnya ini. Dgn lincah dan seru, kita diajak mengikuti Diva menyusuri Eropa dan memunguti serpihan hikmah di antara kisah hidup para muslim dan muslimah yang ditemuinya.
Dini Fitria, sebagai salah seorang reporter di sebuah stasiun TV berkesempatan mengunjungi komunistas muslim di berbagai negara dibelahan dunia. Ada begitu banyak hikmah yang ia dapatkan, bahkan untuk dirinya sendiri yang sedang dihadapkan permasalahan dalam hubungan cintanya dengan 'sang matahari'. Dia tak mau lagi Scappa per Amore-Lari dari cinta...
Tidak lengkap rasanya bagi muslim yang "demen" travelling kalau belum membaca buku ini. Pesona benua Eropa yang dikemas dengan cerita nan apik oleh Dini Fitria, membuat novel ini menjadi novel yang "well-written" dan tidak membosankan.
Tertarik banget dengan buku ini karena sosok Dini Fitria dan program Jazirah Islam-nya. Buku ini seperti novelisasi program tersebut dengan berfokus pada kisah individunya.
mencerahkan dan menginspirasi. :D membuat saya ingin berpetualang dan bertemu dengan orang-orang dalam novel ini. lebih dari sekedar kisah cinta biasa.
ini keren. aku jadi tahu banyak tentang islam di Eropa. dan buku ini banyak memberi pelajaran, bersyukur, salah satunya "bersyukur menjadi seorang muslim di Indonesia" di Indonesia gak dibatasi.
Tulisannya bagus, dapet banyak pelajaran kehidupan di buku ini. Banyak ulasan informatif juga tentang negara-negara yang dikunjungi Diva. Bikin makin pingin keliling Eropa :)