Dulu pernah menulis tapi sekarang tak bisa lagi? Gagal menyelesaikan sebuah proyek kreatif—novel atau karya lain?
Buku kedua ini mengungkapkan rahasia baru untuk kreatif dalam nafas panjang. Setelah 4 Pola Pikir, Cilukba, dan jurus-jurus dalam buku pertama, kini ada 5 Mekanisme Pikir, Kunci 3T, dan lain-lain kiat lanjutan. Ditujukan baik untuk Anda yang bertipe spontan ataupun terstruktur.
----------------------------
Ayu Utami adalah penulis yang tak hanya produktif dan konsisten, tapi juga mendapatkan penghargaan nasional dan internasional, antara lain Prince Clause Award (2000) untuk bidang kebudayaan. Ia memperkenalkan “spiritualisme kritis” pertama dalam novel Bilangan Fu (2008) dan mengembangkan konsep itu untuk kelas menulis dan berpikir kreatif. Selain di dalam negeri, ia pernah mengajar penulisan kreatif di India dan Austria. Bukunya diterjemahkan ke dalam banyak bahasa asing termasuk Amharik (Ethiopia).
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen yang memprotes pembredelan. Kini ia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam dan di Teater Utan Kayu. Novelnya yang pertama, Saman, mendapatkan sambutan dari berbagai kritikus dan dianggap memberikan warna baru dalam sastra Indonesia.
Ayu dikenal sebagai novelis sejak novelnya Saman memenangi sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Dalam waktu tiga tahun Saman terjual 55 ribu eksemplar. Berkat Saman pula, Ayu mendapat Prince Claus Award 2000 dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, yang mempunyai misi mendukung dan memajukan kegiatan di bidang budaya dan pembangunan. Akhir 2001, ia meluncurkan novel Larung.
Ini salah satu buku tips menulis favoritku yang paling menarik dan terpercaya sampai sekarang. Kalau kemarin buku ini membahas tentang cara menulis cerpen, kali ini jilid 2-nya menjelaskan tentang cara menulis novel atau karya panjang. Seperti biasa bentuk buku ala binder-nya keren banget, warna-warni dan penuh dengan coret-coretan Ayu Utami langsung, dan ada potongan kertas yang bisa dipotong sebagai kartu pengingat. Buku ini mungkin cukup berat karena ada banyak istilah asing dan filosofis. Tapi yang paling menarik adalah: buku ini membahas poin penting dalam sebuah novel, yaitu karakter. Ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh setiap tokoh. Ini memang penting; kalau kita sudah kenal baik tokoh ciptaan kita, buat cerita dengan banyak plot twist pun tidak akan terlalu susah. Memang benar kata Joko Anwar: plot twist itu udah basi, yang penting justru adalah karakter. Selain itu aku juga suka karena buku ini benar-benar memotivasi pembaca bagaimana cara menulis dan menghidupkan karakter. Bukan menulis hanya supaya karyanya bisa lolos ke penerbit. Bukan menulis supaya kelihatan kerenlah, edgy-lah, anti-mainstreamlah... Apalagi bukan menulis supaya dompet bisa terisi.
Menulis, pada akhirnya, adalah soal laku. Tak bisa semata hanya selesai dalam angan-angan. Dalam pikiran. Karena itulah, dia harus dipraktikkan. Hari demi hari. Dengan begitu, menulis akan menjadi sesuatu yang semakin biasa dan berwujud sebagaimana ada dalam rencana.
Dalam buku kedua serial menulis dan berpikir kreatif ini, Ayu Utami melanjutkan panduan bagaimana menulis secara lebih kompleks. Jika buku pertama lebih banyak membahas karya pendek, seperti cerpen dan esai, maka buku kedua ini menjelaskan tentang penulisan buku. Struktur buku pun lebih panjang dan rumit.
Alur dan gaya penulisannya tetap menyenangkan untuk dibaca. Dan, tentu saja, mencerahkan. Contoh-contoh dalam tiap bagian buku membuatnya lebih mudah dipahami. Misalnya tentang kompas bahasa yang mengarah ke empat arah rasa bahasa: puitis, pengalaman, lugas, dan intelektual. Tak sekadar teori, Ayu Utami memberikan contoh dari tiap rasa bahasa itu sehingga terasa lebih nyata.
Buku ini sangat menarik sebagai panduan dan pencerahan tentang cara menulis kreatif. Cuma, ya itu, dia harus diimbangi dengan praktik dan laku. Agar tak berhenti sebagai sebuah buku, tetapi menghasilkan sesuatu. Sayangnya, aku belum mampu menerapkan itu. :(
saya seperti mendapatkan suntikan ilmu spiritual dalam menulis. ayu Utami memberikan pandangan berbeda dalam teknik menulis seperti perspektif hasrat dan hal hal lain. berbeda dengan save the cat, atau metode penceritaan yang lain.
Menyenangkan sekali bisa menemukan buku seperti ini. Dibawakan dengan penjelasan yang rinci, luwes, disertai beberapa tabel dan tulisan berwarna. Jadi gampang dicerna.
Buku yang menarik dan berbobot berisi cara penulisan kompleks semacam novel atau cerita panjang. Berbentuk binder dengan ilustrasi cantik dan font beragam yang unik seperti tulisan tangan. Ada juga gambar tools per bahasan dan bagan mengenai buku-buku yang pernah ditulis Ayu Utami. Namun aku sedikit lama membaca habis buku ini karena harus perlahan dan memahami dengan baik. Bahasa yang dipilih Ayu begitu kompleks dan filsafat, kupikir akan lebih ringan selayaknya buku tutorial atau tips lainnya di pasaran hehehe. Tapi buku ini tetap bagus sih apalagi bagi kamu yang ingin memberi "jiwa" utk karakter tokoh yang dibuat dalam cerita.
Rasanya format di buku kedua ini berbeda dengan buku pertama. Alih-alih membedakan font dan ukuran huruf, di buku ini ada bagian tulisan yang seolah-olah ditulis tangan. Format untuk tugasnya pun terasa berbeda. Di buku ini juga ditambahkan satu segmen baru, sesi tanya-jawab. Selain itu, dibandingkan buku pertama, ada beberapa typo bertebaran di buku ini. Ga cuma itu, ada halaman yang dijilid terbalik juga; seharusnya 20-21-22 menjadi 20-22-21 hingga awalnya saya kira ada halaman yang terlewat dicetak. Entah saya yang kurang beruntung atau memang semua cetakan HC buku kedua ini seperti itu.