“Aku mengerti bahwa hidup adalah tentang kehilangan-kehilangan yang tak akan pernah usai. Tapi, tetap saja aku sama seperti manusia-manusia lain, yang mengutuknya habis-habisan lengkap dengan segala sumpah-serapah. Sekali waktu berteriak dalam pekatnya malam, mengapa bertemu jika harus berujung pisah, mengapa menjadi dekat bila akhirnya tercipta jarak?”
“..Berkali-kali akalku berontak menyalahkan sukma atas semua kecewa dan luka baru saat ini. Tapi, sayangnya sukma tak ingin banyak cakap. Ia hanya mengatakan bahwa segalanya hanya perihal waktu. Waktu yang kemudian memberikan kesempatan pada diriku untuk dipertemukan dengan sesuatu yang memang tepat. Tapi, nanti di waktu yang memang tepat. Dan selama itu pula, kemungkinan duka serta suka memang selalu akan membersamai. Seberapa sering pun aku terjatuh, sesering itu pula aku akan bangkit kembali...”
.
.
Daan.. Pada akhirnya aku bisa juga menamatkan buku KALA ini. Buku ini sempat ngendon di keranjang buku cukup lama, maklumlah ya.. Aku ini tipe orang yang beli buku dulu bacanya kapan-kapan... he he. Tapi, akhirya kuputuskan untuk membacanya akhir Juli tahun lalu.
Sungguh perjuangan banget saat membacanya. Jujur saja, aku merasa bosan, dan lelah sekali. Minimnya dialog menjadi faktor yang membuatku merasa bosan. Aku benar-benar tidak bisa menikmati buku ini. Secara garis besar buku ini berisi pergolakan batin si Tokoh. Saat membacanya, aku merasa sedang membaca buku diary yang berisi curahan hati pemiliknya.
Aku ingin sekali menyerah saat itu. Tapi, seorang teman, Mbak Ayu @deevan_13 memberiku semangat agar aku tetap menyelesaikan buku ini. Dia bilangan, “Lanjutin Mbak, dijamin kamu pasti suka mbak..“. Akhirnya aku mencoba bertahan.
Namun ya.. seberapa keras pun usahaku untuk tetap membaca. Aku tetap tidak bisa menikmatinya. Sebelum sampai setengah halaman. Aku memilih meyerah. Tapi, aku masih memiliki niatan untuk tetap menuntaskan buku ini entah kapan.
Sampai di bulan Maret kemarin, entah tiba-tiba aku merasa bersalah dengan buku ini. Terlintas dibenakku untuk melanjutkan kembali membaca buku ini. Yang alhamdulillah bisa terlaksana juga. Dan, baru bisa kutamatkan di bulan April ini.
Aku tidak bilang buku ini tidak bagus ya.. Setiap orang memiliki selera tersendiri dalam menyukai sesuatu, termasuk buku. Aku juga tidak bilang bahwa aku tidak menyukai buku ini. Karena pada kenyataannya, aku akhirnya suka juga dengan buku ini.
Dan kalian harus tahu, buku ini tuh romantis, puitis dan juga sendu. Setiap diksi yang tersusun, terangkai menjadi kalimat yang indah, terasa begitu puitis. Bahkan, saat menuliskan tentang kesedihan dan luka pun, penulis menuliskannya dengan begitu indah.
Saat aku mulai membacanya kembali, aku berusaha masuk dalam cerita. Mencoba menyelami perasaan si Tokoh. Aku mencoba menjadi Lara sekaligus Saka. Hal yang kulakukan ini ternyata tidak sia-sia. Aku berhasil memperoleh chemistry dengan buku ini.
Ketika sudah masuk di konflik. Aku merasa sebal dengan Lara. Aku tidak suka dengan segala tindakan dan keputusan yang diambil Lara. Walau mungkin, jika aku di posisi Lara, aku juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Lara.
Tapi entah kenapa, untuk kali ini aku ingin berpihak kepada Saka. Aku ingin sekali membenarkan setiap keinginan Saka yang ingin menjadi apa yang dia inginkan. Walau mungkin sebagian orang yang sudah membaca buku ini, merasa sikap Saka itu egois. Tapi aku tidak peduli, aku tetap ingin di pihak Saka.
Mungkin.. aku merasa sebagian diriku adalah Saka. Atau mungkin... aku merasa jatuh hati pada Saka. Aku tidak tahu.. Aku hanya ingin membenarkan Saka. Mungkin ini jahat, tapi aku ingin mengikuti kata hatiku.
Tapi tidak berarti aku tak berpihak sama sekali pada Lara. Tentu Lara banyak memberi pelajaran. Salah satunya, bahwa tidak selamanya yang ditinggalkan adalah sebagai korban yang harus menyandang luka.
Dulu, aku juga memiliki pemikiran yang sama dengn Lara, sebelum Lara mengenal Saka. Aku menganggap hanya orang yang ditinggalkan yang akan terluka. Tapi itu salah, ternyata.. kadang yang meninggalkan pun harus merasakan luka.
Iya.. Selalu ada alasan, selalu ada sebab kenapa seseorang harus memilih untuk meninggalkan. Dan, selama ini aku tak pernah melihat itu. Selama ini, aku terlalu khusyuk merasakan luka sebab ditinggalkan.. Aku selalu memposisikan orang yang ditinggalkan sebagai korban. Dan orang yang meninggalkan sebagai pelaku. Padahal tidak selamanya seperti itu.
Melalui Tokoh dalam buku ini, setidaknya aku bisa memperoleh pengajaran. Dan, yang terpenting dari semuanya, buku ini mengajarkan untuk ikhlas. Berdamai dengan diri dan peristiwa menyakitkan di masa yang lalu.
Memaafkan segala hal yang sudah menorehkan luka. Sebab setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita adalah sebuah penyampaian pesan. Entah pesan itu untuk diri kita sendiri, atau entah untuk orang lain. Sebab.. kita ada di dunia ini, memiliki peran sebagai pengantar pesan utusan semesta..
Oke, kupikir sampai di sini dulu review suka-suka dariku. Maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan, dan terimakasih banyak buat kalian yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca review ini. Semoga kalian suka.. 🤗