Entah kebetulan atau sebuah kecenderungan, dewan juri Cerpen Pilihan KOMPAS 2016 menemukan empat tema besar dalam 20 cerpen yang lolos seleksi, sebagaimana kemudian dimuat dalam buku ini. Ke-20 cerpen itu dipilih dari seluruh cerpen yang pernah dimuat dalam Kompas Minggu sepanjang 2016.
Tema besar pertama adalah tentang kekejaman rezim dalam pergolakan politik. Tema kedua tentang relasi sosial yang tak setara. Akibat relasi seperti itu, bisa terjadi ketimpangan sosial dan kemiskinan dalam ruang-ruang ekonomi, tetapi juga bisa melahirkan upaya-upaya bertahan hidup dengan beragam cara.
Ketiga, relasi personal yang rumit melahirkan konflik-konflik tak terduga. Tema ini bisa saja masuk sebagai subtema dari tema kedua. Namun di tengah jalan, kisah-kisahnya memiliki cara yang spesifik di dalam menyelesaikan konflik.
Tema terakhir, keempat, adalah cerpen-cerpen yang menggarap tema tradisi dengan varian spiritualitas dan pengekangan. Tema ini umumnya digemari para pengarang Indonesia, lantaran relasinya yang amat dekat dengan realisme magis sebagaimana terjadi di Amerika Latin.
Sangat tidak terduga, sebaran tema-tema itu seperti tertata ke dalam masing-masing lima dari 20 cerpen “kontestan”.
Putu Fajar Arcana (lahir di Negara, Bali Barat, Bali, 10 Juli 1965) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia asal Bali. Memulai debutnya sebagai penulis sejak menempuh pendidikan di jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Udayana. Dia adalah salah satu redaktur di harian Kompas.
Tidak sengaja melihat buku ini ada di salah satu meja milik rekan kantor. Melihat tulisan "Cerpen Pilihan KOMPAS 2016" rasanya mustahil untuk diabaikan. Membaca bagian pengantar barang sebentar dan langsung memustukan untuk minta izin kepada empunya membaca terlebih dahulu. Padahal saat itu, ia sendiri masih belum selesai.
Seperti yang tertera pada sampul buku, ada banyak nama yang sudah dikenal. Apalagi kalau pembacanya adalah yang rutin membaca cerpen Kompas. Di antara nama-nama itu ada Ahmad Tohari. Salah satu penulis favoritku.
Telah dipaparkan dengan cukup jelas bahwa dalam kumpulan cerpen kali ini, ada empat tema besar yang kemudian menjadi kumpulan cerpen ini. Masing-masing membawa tema yang diusung. Disampaikan sebagian besar dengan cara tersirat namun indah. Ada satu cerpen yang aku suka. Judulnya "Terumbu Tulang Istri".
Di sela-sela antarjudul, selalu ada sebuah ilustrasi apik yang menjadi penanda bahwa pembaca akan menuju kisah selanjutnya. Ilustrasi tersebut juga tidak bisa dibilang menjadi semacam spoiler karena bisa jadi baik ilustrasi maupun cerpennya bersifat multitafsir. Yang artinya, antarpembaca bisa jadi memaknai kisah di dalamnya secara berbeda.
Kumpulan Cerpen Pilihan KOMPAS 2016 ini menurutku bukanlah bacaan yang berat. Malah bisa dibilang cukup cerdas menghadirkan 4 tema besar dalam satu buku sekaligus. Menyoroti isu-isu yang nyatanya masih saja relevan hingga saat ini.
Setiap kali ada kumpulan cerpen Kompas, yang saya tunggu selain siapa pemenang adalah pengantar yang biasanya dilakukan oleh orang luar sehingga akan 'mempermudah' pembacaan buku. Juga biasanya ada juri yang menjelaskan mengapa cerpen tertentu dipilih bahkan dinobatkan sebagai cerpen terbaik Kompas. Di buku ini hanya ada pengantar Juri.
Secara aklamasi tidak ada nama baru di buku ini, hanya ada Fanny J Poyk, Muna Masyari, dan Supartika yang terhitung baru masuk di cerpen pilihan Kompas. Cerpenis perempuan juga cuma hanya ada Fanny dan Muna. Semuanya dikuasi oleh kaum lelaki.
Saya menyukai cerpen yang menjadi pemenang tahun ini. Entah mengapa bahasa Martin dalam cerpen ini sangat kuat dan tidak sia-sia. Cerpen Tanah Air layak menjadi pemenang. Selin milik Martin Aleida saya menjagokan punya Faisal Oddang dan punya Made Adnyala Ole. Suka saja. Selebihnya tetap bagus dan seru.... apalagi ada satu senior yang kembali masuk, Ahamd Tohari setelah tahun sebelumnya menjadi pemenang.
Empat tema besar yang diangkat dalam cerpen ini cukup menarik yaitu ada kekejaman rezim, relasi sosial, relasi personal, dan tradisi.
Cerpen-cerpen yang membuat saya kagum ada cerpen-cerpen yang menggarap tema tradisi karena sedikit banyaknya saya jadi mengetahui tradisi di Indonesia yang baru saja saya baca melalui novel ini.
Eunggg... Cerpen terakhir karangan Han Gagas tentang kisah cinta gadis Tionghoa dan seorang pemuda pejuang demokrasi bikin sedih. Endingnya... Endingnya...
Cerpen ini memuat 4 tema besar yang disajikan begitu pas. Mungkin membaca cerpen ini sejenak adalah yang kita butuhkan untuk merenungkan tanah air kita saat ini.