Madiun 1948, PKI di bawah pimpinan Musso melakukan pemberontakan hebat. Ini kali kedua PKI melakukan perlawanan bersenjata setelah apa yang mereka lakukan pada 1926. Akibat pemberontakan tersebut, ribuan jiwa melayang. Mereka bukan saja rakyat yang tidak berdosa, melainkan juga para pelakunya.
Peristiwa yang kemudian disebut sebagai Madiun Affair ini ternyata sangat menarik perhatian Soe Hok Gie. Lewat serangkaian penelitian, Soe Hok Gie mencoba mencari akar persoalan penyebab terjadinya peristiwa tragis ini. Dan lewat buku inilah Soe Hok Gie memberikan gambaran yang jelas dari pertanyaan-pertanyaan tentang fakta sejarah yang selama ini menjadi lembaran hitam bagi bangsa Indonesia.
Apa sebenarnya yang melatar belakangi pemberontakan PKI Madiun? Siapa sebenarnya Muso, orang yang dikader oleh H.O.S. Tjokroaminoto? Betulkah ini hanya persoalan ideologi semata dan bukan persoalan sosial pada saat itu?
Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.
Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin.
Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).
Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.
Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).
Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.
Hok Gie meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis, di puncak Gunung Semeru akibat menghirup asap beracun gunung tersebut.
John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).
Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film Gie.
PADA masa Orde Baru, sewaktu saya sekolah dasar, istilah “komunis” menjadi cap buat pemberontak negara dan pembunuh keji (utamanya penyiksaan terhadap para jenderal yang entah diperankan oleh siapa) yang tiap hari-hari tertentu dalam setahun disiarkan televisi.
Di buku-buku sejarah setelah SD, kerap saya baca judul-judul serupa “Pemberontakan PKI di Madiun” yang terjadi pada tahun 1948 atau “Pemberontakan G-30-S/PKI” pada tahun 1965. Kata “PKI”, dengan ideologi komunis di dalamnya, telah melekat pada kata “pemberontakan”.
Setelah agak cukup mengerti garis besar bagaimana sejarah suatu bangsa bisa ditulis dalam berbagai sudut pandang dan kepentingan, saya menemukan buku tulisan Soe Hok Gie, Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan, yang diterbitkan PT Bentang Pustaka untuk cetakan ketiga pada tahun 2005 (cetakan pertama tahun 1997).
Buku ini agaknya tak begitu populer.
Dalam buku itu Soe Hok Gie, lulusan dan staf pengajar Fakultas Sastra Universitas Indonesia, menulis sejarah perjalanan orang-orang kiri Indonesia antara tahun 1945-1948, menuju suatu deklarasi pemerintahan baru, di luar pemerintahan Hatta, di Madiun (dan Pati) yang kerap disebut, dalam ingatan saya, “Pemberontakan PKI di Madiun”. Melihat konteks internasional Perang Dingin waktu itu, penumpasan pemberontakan di Madiun dengan tangan besi Hatta telah membuat Amerika Serikat sedikit mengendurkan kecondongannya memihak Belanda yang ingin melanjutkan penjajahan di Indonesia. Amerika melihat bukti nyata bahwa para pemimpin Indonesia rupanya tak diatur para komunis, bahkan bertindak tegas dan, ini juga penting disebut, pemerintahan negara muda ini mampu menumpasnya.
Tapi Soe Hok Gie tak menulis pemberontakan di Madiun itu dengan pemberontakan para penganut ideologi komunis semata. Ia bahkan mengakhiri pemikirannya dengan satu kesimpulan lain: “harapan-harapan yang tidak terpenuhi dan tekanan-tekanan ekonomi” menggiring seluruh rakyat masyarakat yang frustasi pada tendensi radikalisme.
Bagi saya, Soe Hok Gie memikat sejak awal: ia mengisahkan jasa-jasa tokoh komunis dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Amir Sjarifudin, mantan perdana menteri yang disebut T.B. Simatupang “hanya kalah oleh Bung Karno” dalam kemahiran berpidato, turut dalam Kongres Pemuda II yang mencetuskan Sumpah Pemuda. PKI juga memiliki sikap berani melawan Belanda, Jerman dan Jepang. Beberapa tokohnya, D.N. Aidit, Wikana, dll., adalah aktivis Gerindo yang antifasis, yang waktu itu berarti melawan Jerman dan Jepang. Seorang tokoh komunis, Mr. Jusuf, dikenal dengan sebutan “mister gendeng” karena berani memaki-maki Jepang di muka umum. Akibat keberanian itu, cukup banyak tokoh-tokoh PKI yang akhirnya dibuang di Digul. Beberapa organisasi yang didirikan Aidit seperti Barisan Banteng dan Persatuan Buruh Kendaraan juga dibubarkan Jepang.
Di organisasi Perhimpunan Indonesia di Belanda, Gie memperkenalkan Abdulmadjid, seorang aristokrat dan anak tiri R.A. Kartini yang berhaluan komunis. Dari Abdulmadjid inilah banyak mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang turut serta dalam gerakan bawah tanah melawan Jerman ketika negara itu menjajah Belanda. Soe Hok Gie menulis, persahabatan Abdulmadjid & Co. dengan mahasiswa Belanda dalam gerakan bawah tanah telah melicinkan perundingan-perundingan delegasi Indonesia dan Belanda pada kurun waktu 1946-1948. Benedict Anderson dalam Pemuda Revolution, disertasinya di Cornell University, menyebut hubungan dari kedekatan perjuangan masa lalu itu “natural”.
Pada saat-saat sebelum proklamasi kemerdekaan, ada nama Wikana sebagai kurir antara Angkatan Laut Jepang dan pemuda yang menculik Soekarno-Hatta di Rengasdengklok. Menurut Soe Hok Gie, “tanpa Wikana dan juga Mr. Soebardjo, jalannya proklamasi kemerdekaan tidak akan begitu lancar”.
Dalam posisi di pemerintahan pascaproklamasi, PKI sering berseberangan dengan Masjumi, PNI, dan PSI yang sosialis—yang dari ketiga partai itu perdana menteri paling banyak diangkat. Salah satunya karena PKI, terutama setelah kedatangan Musso ke Indonesia tahun 1948, menganut garis Moskow. Poster-poster Masjumi-PNI sering memanggul kalimat semacam “Kita tak berkiblat ke Washington dan ke Moskow” yang menunjuk pada PKI. Meski kalau kita lihat, akibat kedekatan PKI-Moskow, Indonesia sering mendapat dukungan yang tidak kecil artinya dari diplomat-diplomat Uni Soviet di arena internasional.
Meski demikian, Perdana Menteri Hatta menegaskan Indonesia harus menjadi subjek yang menentukan langkahnya sendiri, bukan objek yang mengikuti garis blok-blok tertentu. Toh PKI tak ditinggalkan. Hatta pernah menawari PKI masuk kabinet untuk mengisi beberapa pos menteri, tetapi mereka menolaknya.
Yang menarik dilihat di kabinet masa itu adalah “pencerca yang diberi kuasa rupanya tidak lebih hebat dari yang dulu dicerca”. Golongan yang bersikap keras terhadap jalan kompromi dan diplomasi dengan Belanda, setelah diberi kesempatan berkuasa, rupanya juga bersikap sama seperti golongan yang memerintah sebelumnya. Amir Sjarifudin pun meletakkan jabatan setelah ia dituduh gagal dalam Renville. Padahal secara teoritis, mundur dari kekuasaan, menyerahkan negara yang merupakan alat terpenting dalam perjuangan, adalah kesalahan fatal bagi kaum Leninis.
Bersamaan dengan itu situasi sosial di masyarakat bawah dibakar oleh pemuda-pemuda revolusioner. Aidit menulis di koran Boeroeh pada 26 Juni 1947, dengan berapi-api, juga dengan kecewa, bahwa kaum buruh dan kaum tani adalah pihak yang kini paling menderita, bahkan “tidak mampu berpakaian sederhana, tidak cukup makan, tidak dapat kesenangan sekadarnya”. Sementara para pemimpin “yang memegang jabatan-jabatan tinggi”, yang dulu tidak “mau diajak bertempur” (menurut Soe Hok Gie, Aidit menunjuk politikus-politikus tua PNI dan Masjumi), kini malah hidup senang dan mewah dengan mengaku-aku mewakili rakyat—“rakyat yang tidak pernah kenal padanya”.
Konsekuensi persetujuan Renville turut memperparah situasi sosial psikologis. Pegawai-pegawai negeri yang menolak bekerja untuk Belanda sehingga rela hanya makan tempe dan bukan susu dan keju, 35.000 tentara yang hijrah ke wilayah Republik, 100 ribu pemuda yang tak lagi memanggul senjata akibat kebijakan rasionalisasi tentara—mereka merasa ditinggalkan pemerintah.
Dengan kondisi rakyat yang frustasi dan penuh tekanan hidup itulah sebagian tokoh komunis merebut pemerintahan Republik di Madiun. Mereka memproklamirkan pemerintahan Fron Nasional, yang merupakan ide Musso. Tentara-tentara yang setia pada Republik dilucuti. Koran dan radio Madiun dikuasai. Peristiwa itu yang kemudian di buku-buku ajar sejarah ditulis sebagai “Pemberontakan PKI di Madiun”.
Tapi ada detail yang tak disebutkan dalam buku-buku ajar itu—saya kira dengan sengaja. Dukungan PKI terhadap pemerintah Fron Nasional di Madiun sangat terbatas. PKI wilayah lain, seperti Sumatra dan lainnya, menyatakan tetap mengikuti pemerintahan Perdana Menteri Hatta. Soeripno, tokoh komunis yang disebut Gie sebagai “mahasiswa brilian”, satu-satunya tawanan yang meninggalkan sebuah catatan tentang peristiwa Madiun, menyebut kegagalan mereka karena di luar Madiun “sokongan kecil sekali dan beberapa kali rakyat di desa malahan disiapkan untuk menangkap kami”. Tokoh-tokoh PKI juga mudah ditangkap (karena sedang mengadakan rapat di Yogyakarta) karena tak tahu dengan manuver kawan politiknya di Madiun. Dengan begitu, menurut Soe Hok Gie, usaha pemerintah di bawah Hatta untuk menumpas Fron Nasional sama sekali lain dari usaha untuk menumpas kelompok komunis yang dituduh telah merencanakan perebutan kekuasaan itu sebelumnya—yang kemudian menjadi cap buruk ideologi komunis sampai sekarang.
Apa yang ditunjukkan Soe Hok Gie dari paparan itu, seperti pernah ditulis Harsja W. Bachtiar tentang karakter-karakter tulisan Gie, adalah sesuatu yang “menggugah”: orang-orang harus memikirkan ulang, melihatnya lebih detail dan adil, untuk menganggap peristiwa di tahun 1948 itu sebagai persoalan ideologi komunis semata, tanpa mau tahu persoalan-persoalan yang tumbuh di masyarakat kelas bawah. Dari situ, mengenai sejarah orang-orang kiri, meniru Gie, “kita harus memulainya kembali”.
“…saya yakin bahwa doa yang terakhir dari anak-anak itu semua adalah untuk kebahagiaan dan kebesaran tanah air yang satu juga “ (Mayor T.B Simatupang)
Petikan diatas masih terasa menyedihkan, walau kita bukan salah satu saksi sejarah carut-marutnya masa pasca kemerdekaan RI hingga pemberontakan PKI tahun 1948 yang menimbulkan banyak pertumpahan darah, aku lebih suka menyebutnya, our civil war, perang antar sesama rakyat Indonesia. Skripsi Soe Hok Gie yang dibukukan ini bisa bercerita banyak tentang “orang-orang di persimpangan kiri jalan” alias pengikut PKI, walau seperti halnya temuan-temuan sejarah, harus terus disempurnakan, baik dari sisi sumber sejarah, maupun penulisannya. Tapi overall, cukup mencerahkan bagi yang nggak tau, nggak paham, atau bahkan takut-takut, mempelajari sejarah komunisme yang pernah mengakar kuat di bangsa ini. Buku ini dengan lengkap menceritakan kompleksitas perjalanan PKI di Indonesia, mulai lengkap dengan profil “pembesar2”-nya yang sering muncul di buku sejarah seperti Sjahrir dkk, Aidit, Tan Malaka, sampai Musso. Dari buku ini, ada beberapa hal yang menurutku baru, pemuda-pemuda Indonesia berpaham komunis dan menjadi Marxis, jika sejarah teks book mau jujur mengakui, sebenarnya adalah pemuda-pemuda garda depan mengenai visi kemerdekaan. Terlepas dari tujuan besar mereka untuk mengkomuniskan Indonesia (dengan riwayat sebagai agen Komitern –Komunis Internasional, spy, mantan tapol internasional), banyak diantaranya yg vocal dan pemberani melawan penjajahan. Politik tanpa kompromi terhadap penjajah dan imperialisme dalam bentuk apapun. Namun, sejarah juga mencatat, banyak para komunis yang tercatat mewakili aspirasi rakyat Indonesia, setelah duduk di pemerintahan, terkesan bersikap kompromis dengan penjajah, sebut Sutan Sjahrir dan Amir Syarifuddin, yang melakukan blunder di Perjanjian Renville dan Linggarjati. So, bisa ditebak, dengan radikal, dua perdana menteri yang dulunya kebanggaan para komunis ini di-impeach dengan memalukan. Dan karena ketidakdewasaan dalam berpolitik, pihak-pihak yang merasa dikhianati ini pecah dari PKI dan mendirikan partai sendiri-sendiri, ini yang sepertinya menjadi akar kegagalan PKI mengkomuniskan Indonesia, perpecahan- yang kemudian menghancurkan dirinya sendiri. Dalam masa revolusi itu, kehidupan rakyat sungguhlah berat. Dalam kondisi yang belum sepenuhnya dibiarkan merdeka oleh Belanda, intervensi pihak asing, rongrongan oposisi di dalam negeri yang menggunakan beragam cara untuk membunuh karakter pemerintahan-entah karena benar2 motif untuk memerdekakan Indonesia sepenuhnya atau karena sekedar tidak mendapatkan “jatah kursi”, oknum pemerintahan yang sempat2nya korupsi (ada data tentang salah satu pabrik kapas di buku ini), kemiskinan, semua ini pastilah menimbulkan kebingungan, krisis identitas bangsa dan krisis identitas rakyatnya. Semua yg berbau revolusi diserap mentah-mentah. Semua orang ramai2 jadi tentara, semua orang sibuk membicarakan revolusi, seakan perut lapar dan anak terlantar bukan hal yang penting lagi. Bukti euphoria yang tidak terkendali. Di sisi lain, persatuan dan kesatuan visi dan semangat, seakan jadi bahan bakar yg langka, padahal bangsa ini sedang dirongrong secara diplomatik. Apakah memang awal dari Negara yang demokratis adalah pemerintah dictator yang menumpas semua elemen yang tidak setuju dengannya? Entahlah, tapi yang pasti, tujuan jangka panjang/pendek yang ada dalam pikiran para pemegang tampuk pemerintahan pada masa tahun itulah yang tahu dan bertanggungjawab, mengapa memutuskan menggunakan jalan pertumpahan darah untuk menyelesaikan perbedaan itu. Satu hal lagi, anarkisme yang dilakukan oknum PKI atau pemerintah pada waktu itu, sudah meninggalkan luka yang dalam untuk sebagian masyarakat Indonesia. Ada hal yang patut diketahui semua rakyat Indonesia, buku ini cukup berani dalam “mendudukkan sejarah di relnya”, dan tidak meninabobokkan kita pada fakta sejarah yang sepihak dan tidak obyektif. Menyakitkan atau tidak, ini adalah bagian sejarah kita Dan semangat pemuda jaman itu, patut kita kagumi, yang terus pantang menyerah menentang penjajahan. Mengorbankan waktu yang sesungguhnya bisa mereka gunakan untuk menikmati masa muda dengan memikirkan nasib bangsa yang berada di ujung tanduk penjajahan lagi, setelah begitu luar biasa diperjuangkan.
Ada satu puisi yang menggetarkan dari Sri Sugiarti di buku ini: Nyalakan lagi Lilin ini Empat pagi Jangan mati Jangan padam Nyalakan terus Dengarlah, dengarlah Ayam jantan berkokok nyaring Hari menjelang pagi Fajar harapan Jangan mati Jangan mati
Buku ini adalah skripsi Soe Hok Gie untuk mendapat gelar sarjana di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Membaca buku ini membuat saya paham bahwa penulis adalah seorang sastrawan yang kritis dan objektif.
Menariknya, buku ini tidak hanya membahas situasi di kalangan elit politik Indonesia menjelang peristiwa madiun 1948, tetapi juga bagaimana situasi sosial masyarakat bawah pasca kemerdekaan. Hal ini jarang kita temukan di buku-buku sejarah pra/post kemerdekaan lainnya yang hampir semua berfokus pada pergolakan politik di sekitar elit politik nasional.
Hal lain yang menarik adalah kisah Amir Sjarifuddin. Sungguh tragis membaca bagaimana tokoh besar seperti beliau (mantan menteri pertahanan/ perdana menteri, salah seorang pencetus sumpah pemuda, dan tahanan politik di masa penjajahan jepang) justru terseret arus aksi madiun 48 dan berahir ditembak mati tentara Indonesia, negara yang turut ia perjuangkan kemerdekaannya. Begitu pula tokoh-tokoh kiri lain serta anggota laskar yang sumbangsihnya pada kemerdekaan juga tak kalah besar.
Mengutip kalimat Jendral Mayor TB Simatupang : "... Saya yakin bahwa doa yang terakhir dari anak-anak itu semua adalah untuk kebahagiaan dan kebesaran tanah air yang satu juga".
Kemerdekaan adalah sesuatu yang mahal dan pada akhirnya revolusi memakan anak-anaknya sendiri.
Dari judulnya saja sudah terlihat apa yang menjadi fokus bahasan pada buku ini, mengenai clash antara pemerintah oposisi dengan pemerintah sah pada masa bersiap.
Seperti semua konflik yang terjadi pada masa bersiap (1945-1949) yang dapat disarikan menjadi 3 garis utama yaitu transisi pengeluaran nilai-nilai lama yang dianggap mencerminkan masa pra kemerdekaan, suasana revolusioner yang ditunjukkan oleh situasi main hakim sendiri, saling adu untuk menentukan garis negara baru yang diperkuat oleh instabilitas kabinet.
Kesemuanya tersebut disajikan oleh Gie dengan penulisan yang mudah dan ringkas, namun yang menjadi catatan justru terletak pada tampilan buku yang dicetak secara kurang teliti dan beberapa salah ketik yang menggangu. Mungkin penerbit bisa memperhatikan hal-hal tersebut.
Buku ini disusun dari bahan skripsi Soe Hok Gie, untuk meraih gelar S1 nya di Universitas Indonesia.
Umumnya buku yang menulis tentang pemberontakan komunis -kata yang menjadi momok menakutkan selama lebih dari tiga dekade - di Indonesia selalu bias dengan pelbagai kepentingan politik dari pemerintah. Komunis selalu digambarkan jahat, atheis, bergelimang darah, sehingga mereka tidak mempunyai hak hidup seperti layaknya seorang manusia biasa. Tetapi disini, Gie mencoba berdiri di pihak netral, sebagai seseorang yang berdiri mengawasi rentang waktu sejarah, tanpa mengadili apa atau siapapun, kecuali berdasarkan fakta dan kebenaran.
Karena membahas asal mula serta penyebab pemberontakan kaum komunis kedua di Indonesia ini, Gie mau tak mau harus memaparkan keadaan dan kondisi politik Indonesia pasca kemerdekaan yang digambarkannya sebagai 'gedung kosong yang siap di dekor oleh siapapun' dengan lugas, sehingga pembaca dapat mengenal sejarah perpolitikan di Indonesia dengan perspektif yang lebih luas lagi.
Satu nilai tambah bagi kita, dimana pemikiran seorang idealis-nasionalis, dari seorang keturunan Tionghoa yang sampai empat puluh satu tahun setelah kematiannya, masih sulit dicari tandingannya. Baik dalam tulisan, gagasan, dan idealismenya.
Menurut saya pribadi, buku ini buku wajib bacaan bagi para guru sejarah, dosen dan pengajar yang memerlukan referensi tentang pergolakan latar politik Indonesia pasca kemerdekaan.
yang membuat saya berkesan adalah bahwa buku ini adalah suatu karya ilmiah penulis dalam rangka merampungkan pendidikannya di universitas. metode riset yang digunakan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. wawancara dengan tokoh-tokoh yang terkait langsung memberi bobot tersendiri.
meskipun mungkin terdapat sudut pandang (politik) tertentu, diskusi atau kontroversi yang (mungkin) timbul dari buku ini tetap terbuka (sebagai konsekuensi suatu karya ilmiah).
coba liha judulnya : "Orang-Orang di Persimpangan kiri Jalan
Fyuhh, akhirnya... PKI, sebuah akronim yang kini seakan terlarang untuk diulik lebih jauh oleh awam. Begitu pula Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan: Kisah Pemberontakan Madiun September 1948 yang akhirnya beberapa waktu lalu ikut digulung razia. Leila S. Chudori dalam Pulang pernah mengatakan, "malah aneh melarang buku kajian komunisme di Indonesia. Karena itu menganggap masyarakat kita bodoh dan tak bisa menggunakan otaknya. Puluhan tahun masyarkat kita dianggap tolol, tak bisa berpikir sendiri."
Oke cukup sudah basa-basinya, kini langsung saja masuk ke ulasan mengenai karya Gie yang "cukup berbeda" ini. Ringkasnya buku ini bercerita soal Madiun Affair. Yang menarik dari buku ini adalah sikap, pandangan, dan ideologi tiap tokoh yang terlibat didalamnya terbentuk dari struggles dalam proses kehidupan mereka, baik sebelum & sesudah proklamasi. Dalam masa sulit itu kita tahu bangsa ini sedang mencari jati dirinya. Dan di saat bersamaan paham-paham dari dunia pertama maupun kedua sedang saling bersikutan dalam merekrut simpatisan lainnya. Jadilah kondisi politik yang makin chaos dimana semakin memperparah kondisi ekonomi yang sudah sulit akibat kolonialisme.
Hal yang menarik selanjutnya yakni sebagian besar simpatisan PKI/gerakan kiri lainnya justru jauh dari Marxism–Leninism. Bisa dibilang beberapa simpatisan bergabung atas dasar perlawanan terhadap kolonialisme. Gerakan kiri pada saat itu pun juga tak tersatukan, terbagi menjadi bermacam partai/organisasi yang memiliki tujuan masing-masing. Pertanyaanya, jikalau saat itu gerakan kiri ini tersatukan dengan solid serta menganut idelogi murni komunis, apakah Indonesia akan menjadi negara komunis sekarang ini?
Entahlah, pada akhirnya PKI/Kiri tersungkur karena kegegabahan mereka sendiri.
Sebuah kisah cinta yang berakhir Tragis. Negeri muda Indonesia yang baru membangun bentuk ditopang oleh para intelektual idealis cinta negeri yang mempunyai keyakinan masing masing dalam penentuan arah negeri. Membaca buku ini Saya merasa bahwa pada Masa awal kemerdekaan it adalah Masa keemasan para pemikir Dan intelektual. Dimana mereka dapat secara jujur mengemukakan idologi Dan usulan arah bangsa tanpa takut dicap subversive. Tiga ideologi besar bertarung pada Masa itu, Nasionalis, agama, komunis. Para penguasa teori buku macam Soekarno Hatta, Malaka, Musso dihadapkan pada politik praktis yang harus membuat mereka mengambil keputusan ekstrim untuk saling bunuh. Saya rasa Tak Ada yang salah dalam kemelut ini, karena mereka semua cinta negeri dengan Cara masing2. Soe Hok Gie menuliskan dengan berimbang dalam karyanya ini. Mengambil insight dari sudut2 yg seimbang. Respect to Soe!! Hal yang paling mengganggu dalam buku ini adalah bagian kata pengantar. Saya yakin penulis kata pengantar yang mengaku sebagai sejarawan tak baca buku ini sebelum menulis komentarnya. Saya rasa dia hanya orang bebal penjilat rejim.
Mungkin bagi aktivis sudah tidak asing lagi dengan nama soe hok gie, aktivis tahun 65 yang bisa juga dikatakan akademisi yang paling hebat yang pernah dimiliki oleh Indonesia. buku ini lahir dari tangan ajaib beliau yang awalnya merupakan skripsi beliau menjadi buku yang sangat menarik untuk kita baca apabila kita ingin melihat bagaiamana perisrtiwa pemberontakan madiun 1948 yang dilakukan oleh PKI. diulik bukan dari sisi pas kejadian saja namun soe hok gie dengan cermat melihat bahwa pemberontakan tetsebut terjadi akibaf proses dialektika dalam masyarakat dalam hal bagaimana baiknya menjalankan negeri ini mulai dari zaman kemerdekaan hingga puncaknya pada peristiwa madiun tersebut. sangat layak dibaca
sebenarnya ini skripsinya gie sih,tapi ternyata ditangannya skripsi ini menjadi karya sastra sejarah yang mengasyikkan,bagaimana tidak? periode pemberontakan PKI Madiun yang menurut bayangan public menyeramkan ditulis dengan enteng olehnya,dan latar belakang yang menyebabkan pemberontakan tersebut dibuat sangat tidak ngejlimet,padahal ini sejarah lho? mau tau bagian yang paling mengasyikkan?saat Amir Syarifudin ditangkap dan dibawa melalui kereta thats cool..but baca aj deh..biar lebih muantap
Asyik sih enggak. Pusing iya. Aku baru paham bagian per bagian setelah membaca buanyak yang lain. Merajut ulang, mengisi bagian lowong, mindah puzzle yang salah, menggabungkan dengan riset wawancara saksi peristiwa sejarah '48 di Madiun yang masih hidup sampai tahun 2014, dan lain sebagainya.
"Engkau tahu siapa saya? Saya Musso, Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani meminta supaya saya menyerah pada engkau, Lebih baik meninggal daripada menyerah, walaupun bagaimana saya tetap merah putih." Karena prajurit ini memang tidak bermaksud menembak mati Musso, ia lari ke desa di dekatnya. Sementara itu pasukan-pasukan bantuan di bawah Kapt. Sumdai telah datang, Musso bersembunyi di sebuah kamar mandi dan tetap menolak menyerah. Akhirnya ia ditembak mati, Mayatnya dibawa ke Ponorogo, dipertontonkan dan kemudian dibakar.
Karya tentang pemberontakan PKI di Madiun ini dianyam demikian rupa seakan-akan kita membaca sebuah novel sejarah dramatis yang menegangkan, Tapi penulisnya cukup hati-hati untuk tetap bersikap objektif dalam analisisnya hingga fakta sebagai "suatu yang suci" dalam bangunan sejarah tetap ditempatkan dalam posisi yang terhormat. (Ahmad Syafii Maarif, Sejarawan)
“Do you know who I am? Since this soldier had no intention of shooting Musso dead, he ran to a nearby village. Meanwhile the relief troops under Capt. Sumdai had come, Musso hid in a bathroom and still refused to give up. Finally he was shot dead, his body was taken to Ponorogo, displayed and then burned.
This work about the PKI rebellion in Madiun is woven in such a way as if we are reading a thrilling dramatic historical novel. But the author is careful enough to remain objective in his analysis so that the fact as "something sacred" in the building of history is still placed in a different position. dear. (Ahmad Syafii Maarif, Historian)
Politik kiri, terutama komunisme, adalah subject yang hampir taboo di Indonesia. Peristiwa yang begitu dahsyat dengan pembantaian lebih dari setengah juta penduduk Indonesia yang dianggap/dicurigai sebagai komunis di tahun 1965-66 hampir2 tidak pernah dibicarakan. Selain peristiwa G-30-S, sedikit sekali yang dipelajari di sekolah mengenai peranan partai kiri dan komunis di Indonesia. Karena itu saya tertarik untuk membaca buku ini, “Orang-orang di persimpangan kiri jalan”, untuk lebih mengerti peranan partai kiri di zaman dulu.
Saya sangat senang telah membaca buku ini. Soe Hok Gie bukan hanya seorang penulis yang baik, cara beliau menceritakan peristiwa2 yang terjadi dan cara meletakan fakta2nya sangat neutral dan balance. Buku ini memberikan gambaran yang sangat balance akan situasi ekonomi, sosial dan politikal di Indonesia dalam rangka tiga tahun sesudah proklamasi (1945-48).
Sebuah bacaan yang menarik dan juga menyedihkan. Begitu banyak pemuda2 yang dengan penuh semangat melawan penjajahan kolonialisme. Masing2 dengan ideologi berlainan, nasionalisme , religios, or komunisme, tetapi dengan tujuan yang sama, Indonesia merdeka yang makmur untuk semua. Mereka saling bertentang dan akhirnya saling membunuh. Sebuah tragedi nasional.
Ini adalah sebuah buku sejarah yang sangat berharga.
Seperti biasa sosok Gie yang sangat tajam dalam dikai penulisannya, banyak menguak berbagai sisi terlebih pada Pemberontakan PKI di Madiun dengan berbagai tokoh penting didalamnya. Beberapa kutipan yang sangat lugas disampaikan dibuku ini:
“Banyak di antara anggota anggota PKI waktu itu bergabung dengan PKI bukan karena motif ideologis, tetapi karena PKI adalah partai yang berani terang terangab melawan Belanda/Jepang.”
“Saya sendiri yakin bahwa anak anak biasa, yakni prajurit prajurit dan pemuda pemuda yang telah gugur pada kedua pihak selama peristiwa Madiun ini umumnya tidak tahu-menahu tentang persoalan persoalan yang berada di belakang tragedi nasional ini. Saya yakin bahwa doa yang terakhir dari anak anak itu semua adalah untuk kebahagiaan dan kebesaran tanah air yang satu juga. (Jen. Mayor T. B. Simatupang)”
So Hok Gie menguraikan persoalan-persoalan yang melatarbelakangi peristiwa pemberontakan madiun 1948 dari sudut pandang seorang peneliti yang objektif. Di buku ini, pembaca akan disuguhi berbagai literatur yg menjadi rujukan baik data primer maupun sekunder.
It's another perspective of Indonesian history. Kita akan diajak untuk menyelami sejarah ini dari dua sisi, baik dari sisi pemerintah Republik Indonesia maupun sisi pemberontak (sayap kiri). "Akan tetapi, penyebab pasti dan objektif mungkin tidak pernah diketahui. Ia hilang bersama hari yang terbenam" (hlm.247).
Pelajaran yang bisa saya petik, bahwa kepentingan politik di periode 3 tahun pasca kemerdekaan Indonesia masa itu sangat bergantung pada aspek sosial, ekonomi, kebudayaan dan politis tokoh-tokoh pergerakan beserta para pengikutnya. Sementara dinamika politik sejatinya adalah sebuah keniscayaan.
Memahami cerita tentang bagaimana pemberontakan itu bisa terjadi di tengah kancah pergolakan pasca kemerdekaan RI yang baru berusia balita adalah dengan menelusuri latar belakang dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.
Buku yang komplet banget mengupas secara detail tentang 'perjuangan' kaum kiri yang memang ambisius, arogan, menghalalkan segala cara serta yang tak pernah mau belajar dari setiap pertempuran yang gagal.
Buku ini bercerita tentang latar belakang meletusnya pemberontakan PKI Madiun Tahun 1948. Buku ini menceritakan bagaimana cara pandang pemimpin-pemimpin kiri di Indonesia, kekecewaannya terhadap Mosi tidak percaya Amir Sjarifudin dan mengecam kabinet Hatta. Di akhir buku ini juga menceritakan mengapa pemberontakan tersebut gagal yang disebutkan faktor utamanya yakni kurang integrasi antara para pemimpin pemberontakan pada masa itu.
memahami sejarah dari sisi real, tragis...ketika semua nama2 pahlawan yg kita dengar ternyata pernah saling mesra lalu berkhianat, 1 tujuan tapi saling bersebrangan, pernah saling berpelukan lalu menikam, pahlawan yang di akhir hayatnya bukan dibunuh oleh penjajah tapi dieksekusi oleh bangsanya sendiri..setragis itu ternyata "merdeka" diraih dan dipertahankan..sedih banget bacanya
buku ini merupakan gambaran tentang pemberontakan PKI di madiun dan saya merasa tertarik membaca tentang buku ini, sebagai mahasiswa saya juga harus mengetahui ideologi - ideologi mengenai paham kiri . bukan untuk mengikuti paham tersebut , tetapi sebagai anak muda indonesia kita harus mengetahui sejarah
Mereka yang tidak banyak mengerti sebab kenapa itu terjadi selalu meneriakan Proklamasi itu harus diwujudkan. Berbeda tapi punya tujuan yang sama hanya untuk menjadikan republik jauh lebih baik
Kalau tidak ada pernyataan bahwa buku ini berasal dari skripsi yang disusun Gie untuk menyelesaikan S1 di UI, pembaca mungkin tak akan pernah tahu fakta itu.
Bahan skripsi Soe Hok Gie yang lebih pantas untuk disebut sebagai buku sejarah. Mengupas tuntas mengenai pergerakan PKI di Indonesia terutama di Madiun.
"Sejarah Indonesia pasca proklamasi memang tidak luput dari benturan ideologi. Benturan itu telah banyak menumpahkan darah, darah anak bangsa ini. Akankah drama ini berulang dan berulang?"