Jump to ratings and reviews
Rate this book

Daur #IV

Kapal Nuh Abad 21

Rate this book
Jika bahtera Nabi Nuh ada pada masa sekarang ini, apakah kita akan diajaknya ikut serta?

Kalau Nabi Nuh mengulurkan tangannya untuk semua penduduk bumi pada abad 21 ini, mungkin kapal tersebut tidak akan pernah berhenti bergoyang. Tak pernah seimbang. Tak pernah tak limbung. Karena sesungguhnya, masing-masing penumpang tidak sedang menghayati jiwanya bersemayam di atas kapal Nabi Nuh, tetapi justru sibuk menaiki kapal nafsunya sendiri.

Anak-Anak dan Cucu-Cucuku, berhati-hatilah ....
Karena di atas kapal itu, meski kalian memiliki tujuan yang sama, cara untuk mencapainya bisa penuh liku yang memusingkan. Kebaikan bisa menghasilkan pertengkaran, inisiatif-inisiatif kebersamaan terpuntir menjadi kebencian, dan iktikad baik untuk mengatasi oleng dan terguncangnya kapal, malah menimbulkan salah paham dan himpunan dendam.

464 pages, Paperback

First published June 1, 2017

4 people are currently reading
74 people want to read

About the author

Emha Ainun Nadjib

93 books485 followers
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (68%)
4 stars
5 (22%)
3 stars
2 (9%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Septi RA Hayuu.
54 reviews
September 20, 2021
Alhamdulillah selesai sudah baca Daur 4: Kapal Nuh Abad 21 ini. Menurut saya, ini tipe buku yang isunya akan selalu relevan dengan zaman, kalau keadaan negara kita gini-gini aja: suka ikut-ikutan, merusak lingkungan berkedok memajukan negara. Padahal kalau maju terus tanpa lihat-lihat situasi dan kondisi, bisa aja kepentok. Wkwkwk.

Buku ini berisi semacam rangkuman atau kilas balik dari kisah di Daur 1 sampai 3. Menjadi penegasan atas penjelasan sebelum-sebelumnya, memperjelas sesuai daya tangkap dan minat anak-anak muda seperti Jitul, Junit, Toling, dan Seger. Bersama Sundusin, Tarmihim, dan Brakodin, mereka mengulas kembali apa saja hasil perenungan dan penyataan Cak Markesot. Lalu, bersama-sama mereka menemukan kesimpulan bahwa Indonesia sudah dan sedang hancur, meski rakyat dan pemerintahnya berhaha-hihi.

Kalaupun pertolongan Allah datang kepada Indonesia sebagaimana hal tersebut terjadi pada zaman Nabi Nuh, situasinya akan jauh berbeda. Pada zaman Nabi Nuh, penumpang kapal seratus persen tujuannya adalah mencari keselamatan. Sedangkan penumpang kapal Nuh abad 21 adalah orang-orang yang tujuannya adalah hendak menguasai dan menjadi pengendali satu-satunya kapal, tak peduli bagaimana caranya. Termasuk melubangi kapal, menjegal sesama penumpang, merusak setir, dll., yang penting kapal beserta isinya bisa dikuasai. Ayeyey!

Jadi, bisa disimpulkan bahwa apa pun bisa saja orang-orang lakukan demi harta benda, materi, dan segala gelar serta jabatan, meski dengan cara menzalimi diri sendiri sekalipun.

Saat baca ini, saya jadi ingat beberapa waktu lalu diskusi dengan teman SMA tentang sekolah kami waktu itu. Kata teman saya, tempat kami mencari ilmu itu kurang wawasan, karena kurang mengarahkan ke universitas-universitas terkemuka. Tapi saya bilang, memang seperti itu fungsi sekolah yang semestinya,m: memenuhi hak anak untuk bersekolah dan dimanusiakan. Penanaman akhlak yang diutamakan, sebagai ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa. Masalah jadi lulusan yang pintar maupun tidak, itu di luar kuasa manusia. Masalah mau masuk ke universitas yang mana, kalau sudah terbekali dengan baik, tanpa harus 'disuapi' pun pasti bisa secara mandiri. Hmm.

Nggak tau mau ngetik apa lagi. Curhatnya udahan. Sekian.
Profile Image for Firman Maulana.
22 reviews6 followers
April 30, 2019
Di buku keempat ini, para pemuda muncul: Junit, Jitul, Toling, dan Seger.
Mereka masuk pada lingkaran Cak Markesot dan para Pakdek Paklik seperti Sundusin, Tarmihim, dan Brakodin.

Keempat pemuda yang kritis terhadap kondisi bangsanya, mempertanyakan ini-itu, saling berdialektika dengan para Pakdek Paklik.

Menarik juga, tulisan-tulisan selain berkaitan juga menyentuh peristiwa 411 dan jelang 212 pada 2016 lalu.
Di sini jelas Cak Nun (melalui personifikasi sebagai Cak Sot) memilih win-win solution saat menjelang peristiwa tersebut, yang diperjuangkan adalah nilai, bukan sosok, bukan golongan.

Menarik!
Profile Image for Khairur Rosyidi.
25 reviews
April 26, 2018
SANGAT RECOMENDED..
diri ini terposisi sebagai karakter junit yang bertanya ke Cak Sot untuk lebih mengenali posisi diri dalam keharmonisan dengan Tuhan. Banyak pernyataan dan pertanyaan unik dalam buku ini. Dengan dikemas menggunakan bahasa yang menurut saya pribadi mudah dicerna kalangan umum, membuat buku iki menjadi bagus dibaca lintas generasi.

Cak Nun menuntun kita sebagai kaum milenial dengan step by step memahami pesan tersembunyi Allah di balik kesemrawutan zaman di abad 21.

MANTAP
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.