Kumpulan puisi pertama Bang Koto yang dahsyat. Terbagi dalam 3 bagian yang juga menampilkan kemahiran penulis dalam meramu bait kata meski tidak selalu berima tetapi sederhana jua jadinya.
"Aku mengenang masa lalu sebagai mata kekasih yang berkhianat"
Salah satu baris kalimat favoritku dalam kumpulan puisi ini. Dan tentu saja puisi Pledoi Malin Kundang juga menghadirkan nuansa baru yang tak kalah menarik. Tentang bagaimana si Malin sebenarnya turut terluka, dan betapa hidup menawarkan hanya duka baginya ditambah kegusarannya akan sosok sang ayah yang tak pernah diberitahu oleh ibunya.
Tak salah kalo akhirnya kumpulan puisi ini masuk nominasi Kusala Sastra kemarin ya.
aku celaka ibu, kutuk saja menjadi batu agar lunas utang sangsaiku agar padam segala keluh agar sejarah tak perlu mencatat mengekalkannya di balik cadas
celaka? siapa yang celaka sesungguhnya? dulu aku tak minta dilahirkan. dengan melupakanmu aku berharap masa lalu segera padam, tapi kau tak kunjung hilang, ibu. maka, izinkan aku mencintaimu dengan kesombongan ini agar semua terlunaskan agar semua dendam terbayarkan.