"Begitulah sebuah pengumuman singkat yang ia pasang di salah satu halaman iklan website penjualan properti bersama dengan foto bangunan tersebut. Itu adalah sebuah iklan penjualan sebuah bangunan tua bekas kafe peninggalan orangtuanya. Perasaannya menjadi gelisah setiap kali mengawasi deret iklan tersebut.
Apa yang Mooyoung harapkan dari iklan ini? Apakah dengan begini ia dapat melupakan seluruh kenangan menyakitkan mengenai mereka? Tapi, mengapa hal ini tidak berjalan seperti keinginannya? Siapa ketiga orang yang menggunakan bangunan kafe milik orangtuanya? Mengapa mereka mengatakan ini adalah tempat milik mereka? Siapa juga First Snow? Mengapa ia seperti mengenal Mooyoung dengan baik?"
Menceritakan tentang seorang pria bernama MooYoung yg benci sama hari Natal. Karna saat Natal dia mengalami hal² buruk seperti waktu kecil peliharaannya mati, lalu Natal berikutnya sahabatnya pergi jauh & yg paling menyakitkan adalah saat kedua orangtuanya meninggal. Tapi gak cuma Natal nih yg MooYoung benci, dia juga benci sama yg berbau kafe & kopi. Krn sewaktu org tuanya masih hidup, org tuanya tuh terobsesi pada kesempurnaan kopi & sering travelling gitu sehingga MooYoung merasa dicuekin, merasa kurang kasih sayang & kehadiran org tuanya.
Cerita tentang kopi, kehilangan, kenangan, dan melepaskan💙.
Jang Mooyoung kehilangan orangtuanya ketika ia berumur 15 tahun. Mooyoung ingin menghapus semua kenangannya dengan orangtuanya, termasuk sebuah bangunan dua lantai bekas caffee peninggalan orangtuanya.
Kopi menyita banyak waktu orangtuanya, membuat Mooyoung jadi membenci kopi dan segala hal yang berhubungan dengan kopi.
Kehadiran seseorang dengan email bernama First Snow yang ingin membeli bangunan itu, menemani Mooyoung (melalui email) yang kerap kebingungan mengapa orang-orang sangat menikmati kopi.
Aku suka banget sama ceritanya. Walaupun aku (sepertinya) baru kali ini baca cerita yang memiliki setting di Korea Selatan, aku nggak merasa susah kok bacanya. Ada footnote nya😂. Lancar jaya!!😂.
Ceritanya pakai sudut pandang orang ke-tiga, dan banyak flashbacknya. Karakternya "berasa" banget.
Ceritanya menyentuh. Banyak pesan-pesan moralnya juga.
Sukses bikin aku nangis di bagian-bagian akhir. Emosional banget deh pokoknya:"). And, the twist!! Aku benar nebak setengahnya lohh hahaha😂.
Recommended banget untuk yang suka kopi, cerita misteri kehidupan (lah), keluarga, semuanyaaa harus baca deh!!💙
Coklat muda dan tua. Perpaduan yang sangat identik bagi sebuah kafe. Itulah yang digambarkan pada kover novel. Menggambarkan suasana kafe, sekaligus menyajikan secangkir kopi untuk dinikmati. Aku suka kovernya, karena perpaduannya yang menarik, simple, dan ciri khas kafe banget.
Caffe 0419 menceritakan mengenai Mooyoung yang hendak menjual bangunan peninggalan orang tuanya untuk menghapus semua kenangan kelam masa lalunya pada orang tuanya. Awalnya, aku mengira tidak akan seberat ini permasalahan Mooyoung. Perlahan aku menyelami novel ini, melihat sisi Mooyoung yang mulai sangat membenci kopi, kafe, ataupun hari Natal yang harusnya paling ditunggu oleh banyak orang. Tapi dia sangat sangat sangat membencinya.
Alasan membencinya? Kalian cari tahu sendiri.
Mengenai penulisan alurnya, penulis menggunakan alur maju mundur. Kita diajak mengintip kenangan masa lalu Mooyoung bersama keluarga dan teman masa kecilnya. Kalian akan tahu alasan Mooyoung membenci kopi setelah mengikuti masa lalunya.
Penulis Caffe 0419 membawa kita sebagai para pembaca sekali mengikuti perjalanan Mooyoung, tanpa kita sadari penulis ingin kita mengambil pesan moral yang cukup menohok bagiku.
Kita tidak boleh menilai sebuah kepergian itu sebagai kehilangan, karena didunia ini tidak ada yang abadi. Semua yang datang pada kita, pasti ada saatnya akan pergi. Sebaliknya, melepaskan atau merelakan adalah cara pengganti rasa kehilangan. Dan disetiap orang yang hadir dalam hidup kita, akan memberikan kenangan/pembelajaran untuk kita yang akan membentuk kita seperti sekarang ini.
Kenapa kita harus merelakan? Karena setiap yang pergi akan digantikan dengan yang baru. Seperti Mooyoung yang kembali bertemu dengan teman masa kecilnya.
Cerita yang hangat. Dari awal membaca ceritanya, saya terhanyut. Ceritanya ringan, dengan detil setting yang begitu nyata. Konflik yang tidak sederhana, tapi juga tidak terlalu rumit untuk diikuti. Kak Daisy mengemas kisah ini dengan apik hingga bisa menghangatkan pembaca. :)
Sebuah kisah tentang pemuda bernama Mooyoung, yang kedua orangtuanya meninggal sejak usianya 15 tahun. Seorang pemuda yang membenci natal, kopi, cafe orangtuanya, dan hidup dalam rasa bersalah yang dia pendam dalam-dalam.
Aku suka dengan alur ceritanya, membaca sebuah cerita yang karakternya sangat berkebalikan denganku membuat sensasi tersendiri😂, Mooyoung benci kopi, aku suka sekali sama kopi, jadi membaca kisah tentang bagaimana perjalanan Mooyoung dalam berusaha memahami apa yang orangtuanya begitu sukai -dalam hal ini kopi- menurutku seru, disini aku banyak belajar tentang filosofi kopi, dan aku terkejut ternyata begitu banyak hal yang bisa kita petik dari suatu hal yang sederhana yang ada di sekitar kita.
Awalnya aku agak kurang suka dengan karakter Mooyoung yang dingin & tidak peduli dengan orang lain. Tapi setelah membaca dan membaca, aku akhirnya tau apa alasannya dan aku jadi sediiih😢, aku jadi iba dan aku malah kagum dengan karakternya yang diluar terlihat tegar, namun didalamnya ia rapuh, ia menyimpannya dalam-dalam perasaannya, karena itu adalah caranya untuk melindungi hatinya, melindunginya dari rasa sakit.
Aku rasanya ingin berterima kasih sekali pada First Snow yang telah membantu Mooyoung keluar dari masa terpuruknya, banyangkan aja, 8 tahun Mooyoung menyimpan semua itu sendirian, dan aku bersyukur Mooyoung akhirnya tergerak untuk mengubah semuanya, walaupun aku tau ia trauma dan itu sangat sulit, aku kagum dengan perjuangannya😭
Buku ini recommended untuk dibaca. Walaupun jalan ceritanya menurutku tidak terlalu rumit, dan konfliknya sedikit & lebih terfokus pada permasalahan dalam diri Mooyoung, tapi maknanya itu dalam banget, menyentuh, & banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Secara keseluruhan buku ini bercerita tentang bagaimana melepaskan dan memgikhlaskan masa lalu, dan bagaimana menjadi bahagia dengan cara yang sederhana.
Ini kisah tentang harapan, kenangan, dan secangkir kopi. 【Memaknai kehilangan itu sebagai melepaskan. Membebaskan yang seharusnya pergi dan menghargai apa yang masih dimiliki.】 Terharu! Satu kata yang berhasil kukeluarkan sehabis membaca cerita ini. Bercerita tentang Mooyoung yang sangat membenci kafe, kopi, dan mendiang orangtuanya. Bukan tanpa alasan, selalu dan selalu saja saat malam natal ia mengalami hal yang memuakkan. Lalu mulailah ia meng-diiklankan cafe peninggalan kedua orangtuanya. Atas tindakannya inilah ia bertemu dengan seseorang berinisial “First snow” ini, dan dipertemukannya ia pada kenyataan bahwa Cafe tersebut ternyata sudah terisi oleh Manseo, Hyeonmoo, dan Jooyoung, sebuah keluarga yang mengaku sudah memiliki cafe itu.
Konflik disini masih sangat lambat menurutku, terdapatnya para rentenir masih membuatku bingung ada apa hubungannya dengan 3 orang yang menempati cafe tersebut, namun kehadiran mereka seakan membuka sisi terdalam Mooyoung yang sudah ia kunci.
Karakter Mooyoung disini, depressed banget. Aku yang membaca nya pun ikut “kena.” dan yeah, atas konflik yang melibatkan Mooyoung dan keluarga itu justru membuka perlahan konflik dan plot twist nya bikin saya nangis di tempat.
Hubungan Mooyoung dengan First Snow ini pun dibuat secara perlahan, dan nama asli First Snow ini bagus bangettt!😍 Secara keseluruhan, aku sangat menikmatinya seperti kisab dalam film korea yang menyesakkan sekaligus tak membuat lupa♡
Kehilangan orangtua berdampak besar pada kehidupan Mooyoung. Kedua orangtua Mooyoung sangat terobsesi dengan kopi sehingga ia merasa kopi lebih penting dari pada dirinya. Sejak kejadian tragis yang menimpanya, Mooyoung menjadi benci dengan hal-hal yang berhubungan dengan kopi. Ia pun menyalahkan dirinya atas kejadian tragis itu. Mooyoung ingin melupakan semuanya ; masa lalu yang terus membayang-bayanginya itu.
Aku sangat suka dengan ceritanya, Ini termasuk bacaan yang ringan, alurnya tidak begitu rumit sehingga bisa dengan mudah dipahami. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, dan juga alur campuran (maju - mundur) aku dibuat lebih mendalami konflik kehidupan yang di alami Mooyoung dan feelnya dapet banget.
Banyak sekali filosofi kopi disini, banyak juga pesan moral tersirat di dialamnya. Twistnya juga berhasil membuat aku hampir mewek di akhir-akhir. Aku sangat terharu dengan kisah Mooyoung ini. Banyak sekali pelajaran yang bisa aku ambil dari buku ini tentang mengenang masa lalu, melepaskan kepergian dengan ikhlas, dan juga sebuah harapan untuk bangkit dari masa-masa kelam . ☆ 4/5