Jump to ratings and reviews
Rate this book

Erstwhile: Persekutuan Sang Waktu

Rate this book
Raphael Harijono (Rafa) adalah seorang pria asal Indonesia yang memiliki kegemaran yang begitu besar pada artefak. Dalam sebuah perburuannya, ia akhirnya terseret masuk ke dalam sebuah perjalanan waktu bersama Emma Watts, seorang ahli bahasa dan pengajar di King’s College, Unibersitas Cambridge, Inggris dan juga bersama seorang wanita pengusaha setengah baya asal Prancis bernama Magalie Vaillant.

Picaro Donevante seorang warga kota Paris dan pengungsi politik yang terbuang dari kotanya sendiri di Florence, berjumoa dengan Solence de Morency, seorang wanita kepada siapa ia dengan tulus bersedia menjadi mata dan hati untuk segala yang tak akan pernah dilihat dan diketahui wanita itu, dan juga kepada siapa ia memberikan sebuah janji setia untuk menjumpainya kembali di Notre Dame, Paris.

Perjalanan panjang Rafa dan Picaro tidak hanya membawa mereka memasuki masa kejayaan dan kebesaran Majapahit, tapi juga membawa mereka memasuki sebuah Persekutuan Waktu.

368 pages, Paperback

First published July 1, 2014

7 people are currently reading
74 people want to read

About the author

Rio Haminoto

4 books3 followers
Joseph Rio Jovian Haminoto was born in Jakarta, Indonesia in 1973. He attended Santa Ursula Kindergarten and Elementary School, and continued his Junior and High School at Canisius College.

During his study at Canisius College, Rio started his passion in writings with his first-published short story in teenage magazine, Hai, titled "Manhattan’s Story".

In 1997 Rio graduated from Clark University (Worcester, Massachusetts, United States) with a Bachelor of Arts degree in Political Science and Government. He thereafter published his three pre-work writings; Don Joviano (1998), Kionelle: The Avenue to Northern Ireland (2007) and Catatan Si Boy (2009).

In 2016, Rio graduated from The University of Oxford with a Master of Science degree in Major Programme Management. He is an Oxford Business Alumni Ambassador to Indonesia and a member of St. Hugh's College in Oxford, United Kingdom.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
24 (38%)
4 stars
23 (36%)
3 stars
15 (23%)
2 stars
1 (1%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 31 reviews
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
July 17, 2017
Mahapatih Gadjah Mada pernah berkata bahwa segala perbedaan yang terangkum menjadi bagian Majapahit adalah apa yang akan membuat kerajaan ini menjadi kuat."(hlm 271)

Selalu menyenangkan membaca buku-buku berjenis 'perjalanan waktu'. Walau tidak selalu menggunakan mesin waktu, perjalanan waktu juga bisa dilakukan dengan mundur ke belakang ke era penjelajahan samudra lewat pembacaan manuskrip dari Abad ke-14 M. Sebuah abad yang juga menjadi saksi kebesaran salah satu kerajaan kuno di Nusantara, yakni kerajaan Majapahit. Dibawah pimpinan raja dan ratu legendaris yang dikawal oleh Mahapatih Gadjah Mada, Majapahit tumbuh menjadi kerajaan Maritim yang kekuasaannya membentang mulai dari Semenanjung Malaya hingga pulau Ambon. Banyak sejarahwan dan peneliti masih terkagum-kagum dengan bagaimana sebuah kerajaan di pojok Jawa ini bisa tumbuh menjadi hampir semacam imperium yang luas wilayahnya hampir menyamai bahkan melampaui luas negara Republik Indonesia saat ini. Peran penting Maha Patih Gadjah Mada memang tak diragukan lagi bagi kejayaan kerajaan ini, tapi banyak hal tentang sosok agung ini yang masih berselimut misteri. Beragam dugaan diajukan, tetapi nyatanya masih sangat sedikit yang kita ketahui tentang sosok yang telah berjasa besar bagi kejayaan nusantara di masa lampau ini.

Konon, sosoknya yang tergambar dalam sebuah arca peninggalan Majapahit dan pernah kita lihat di buku pelajaran sejarah itu sebenarnya juga bukan sosok beliau. Sosok Gadjah Mada memang masih menjadi kontroversi. Siapakah orang tuanya? Apakah Gajdah Mada pernah jatuh cinta? Dan, dimanakah makam dari tokoh besar ini? Penulis Erstwhile berupaya menjawab celah sejarah yang masih terselubung misteri itu lewat karya fiksi. Memadukan antara kisah sejarah dengan roman, Erstwhile menjadi sebuah bacaan kaya data yang mengesankan dan sama sekali tidak membosankan. Penulis mampu meracik sebuah kisah untuk mencoba mengisi celah-celah belum terungkap dalam sejarah nusantara yang bergerak cepat dan membikin penasaran. Dalam satu hari saya mampu menandaskan membaca novel apik ini karena asyiknya tema yang diangkat serta kepiawaian penulis menyajikan cerita yang saya yakin butuh riset panjang untuk bisa menulisnya.

Semua berawal dari lelang sebuah naskah kuno karya Picaro Donevante, seorang Florence yang terbuang ke Paris pada awal tahun 1300-an. Demi cintanya kepada seorang wanita, Donevante bertekad mengikuti jejak penjelajah besar Marcopolo yang telah melakukan perjalanan ke Tiongkok (Cathay) ratusan tahun sebelumnya. Anak muda itu begitu terpukau dengan deskripsi kota-kota yang kaya akan emas dan rempah-rempah di timur. Dia bertekad akan ikut membangun kekayaannya dari bisnis perdagangan dengan bangsa Cathay selain untuk mewujudkan impiannya untuk bisa lebih mengenal dunia Timur. Perjalanan pun dimulainya, walau dengan modal nekat dan uang seadaanya. Tapi kesungguhan dan ketulusan hatinya telah menggerakkan takdir dan mengubah tujuannya. Alih-alih berkunjung ke Cathay, Donevante dan rekan-rekan seperjalanannya malah sampai ke sebuah kerajaan kuno di nusantara yang selama puluhan tahun ke depan akan menjadi bagian dari hidupnya: Majapahit.

Di negeri inilah, Donevante berkawan akrab dengan Mahapatih Gadjah Mada, juga dengan Ratu Tribhuwana Tunggal Dewi, dan Raja Hayam Wuruk. Bahkan, pria ini menjadi ‘teman curhat’ dari ibu suri Gayatri yang menjadi poros kekuasaan Majapahit yang sesungguhnya. Dari hubungan perkawanan ini, Donevante kemudian menjadi sosok yang turut mendorong majunya Majapahit. Sebuah premis yang sangat menarik dari penulis, bahwa kemegahan dan kemajuan Majapahit selain karena peran besar Gadjah Mada juga karena adanya sosok asing lain dari belahan Bumi Barat bernama Picaro Donevante. Bule dari Italia ini membawa serta nilai-nilai renaisance Eropa ke Bumi Majapahit, dan dengan demikian memberikan pengaruh yang sangat besar pada kegemilangan Majapahit. Dia menyertai saat Gadjah Mada menyerang Bali, menaklukan Borneo, hingga menduduki Tumasik (Singapura). Donevante juga turut mengawal Putri Dyah Pitaloka dalam peristiwa memilukan yang kelak kita kenal dengan Perang Bubat. Bagi para penyuka sejarah, novel ini menjadi sejarah-alternatif yang sangat mengasyikan untuk diikuti. Pasti akan benar-benar keren membayangkan seorang bule tengah beramah tamah dengan para putri Majapahit membicarakan tentang nilai-nilai romantisme ala Eropa di sebuah keputren.

Meskipun banyak tokoh dan peristiwa sejarah dilibatkan di dalamnya, novel ini sama sekali tidak membosankan untuk dibaca. Justru karena premisnya yang unik, kita jadi dibikin penasaran dengan ujung petualangan seorang Picaro Donevante di bumi nusantara. alih-alih bosan, kita malah dapat banyak pengetahuan baru dan lebioh detail tentang sejumlah peristiwa sejarah yang selama ini kita ketahui hanya sekilas. Penggunaan sudut pandang pertama dan ketiga secara bergantian antara Picaro dan Rafa awalnya mungkin cukup mengganggu, tetapi terbukti kemudian menjadi penyegar saat pembaca sedang bosan dengan pemandangan di era jadul Majapahit. Apalagi, penulis menggunakan setting kota-kota besar di penjuru dunia, bergantian dengan setting nusantara sehingga membikin kita iri nggak bosan. Kemudian, penutup novel ini menyajikan sebuah simpulan yang memuaskan tentang sejumlah teka-teki dalam sejarah: siapa sebenarnya Gadjah Mada, bagaimana asal-usulnya, dan kalau memang Gadjah Mada pernah mengenal seorang Eropa di era renaisance, dimanakah pusaranya? Sejarah mencatat, semenjak Gadjah Mada menghilang, Majapahit pun perlahan mulai meredup demi menyongsong masa keruntuhannya. Apakah ini berkaitan dengan kepulangan Picaro Donevante ke Paris?

Ayo rebutan satu buku gratisnya di https://dionyulianto.blogspot.co.id/2... (hanya sampai 23 Juli 2017) #blogtour #giveaway
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews299 followers
July 31, 2017
Review dan giveaway ada di http://www.kubikelromance.com/2017/07...




Erstwhile bercerita tentang kisah perjalanan dua pemuda dengan dua timeline yang berbeda. Cerita pertama kita akan dibawa ke tahun 1300-1360 tarikh masehi, tentang Picaro Donevante, anak seorang pedagang besar di Florentia. Karena keadaan kota yang tidak kondusif, Picaro beserta keluarganya yang lain pergi ke Paris sebagai pengungsi politik, memulai kehidupan baru dari nol, membuat Picaro yang pada saat itu berusia 12 tahun bertekat akan membuat orangtuanya bahagia dan kembali ke Florentia sebagai pemenang.

Tugas yang diberikan Tuan Durbois untuk membuat catatan dan laporan tentang catatan Deskripsi Dunia bisa dibilang akan mengubah nasib Picaro ke depannya. Karena kesulitan berbahasa Prancis, dia meminta bantuan seorang wanita asli penduduk kota setempat yang ditemui di gereja untuk menerjemahkan tugas sebagai pelajar di Sorbonne, Solene de Morency. Deskripsi Dunia ternyata bercerita tentang kisah perjalanan Marco Polo dari Venezia bersama ayah dan pamannya, Niccolo dan Maffeo yang sudah pernah berada di Cathay (Tiongkok) dan menjalin hubungan dengan Khan terbesar Mongolia, Kublai, yang telah menguasai Cathai pada saat itu.

Kedekatan yang terjalin membuat Picaro jatuh hati sangat dalam bagi Solene, tapi sayangnya karena ayah Solene memiliki hutang, terpaksa dia harus dijual dan menikah dengan orang lain. Hal tersebut sangat meremukkan hati Picaro, dia berusaha dengan berbagai cara tapi tidak berhasil, dia tidak memiliki apa-apa. Dengan tekat kuat untuk mengembalikan kehormatan ayahnya dan merebut Solene, pada usia 18 tahun Picaro membuat keputusan besar, dia akan mengikuti langkah Marco Polo, menuju Cathay, kembali dengan kekayaan.

Perjalanan panjangnya membuat Picaro menjadi saksi bersejarah akan beberapa peristiwa penting di dunia, bertemu dengan banyak kawan seperti Tariq Fatheldin, Kingsley, Tuan Liem, Gwan Liong sampai orang yang berada di balik kehebatan dan kemasyuran Majapahit, Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada.

Sedangkan cerita kedua, kita akan dibawa ke tahun milenial, tahun 2012 dengan tokoh utama Raphael Harijono atau Rafa. Rafa sangat tertarik dengan benda-beda bersejarah seperti beberapa lebar papirus, daun lontar, daluwang abad XIV dan yang paling penting, manuskrip yang ditulis orang asing, yang menyimpan jawab atas asal-usul, tempat kelahiran dan kematian mahapatih Amangkubumi Gajah Mada, sosok pertama yang memimpin persatuan gugusan ribuan pulau di Asia Tenggara dalam kerajaan terbesar pada masanya, Majapahit.

Hampir setiap sore aku diajak Gajah Mada ke istana. Ia selalu berbicara dengan Ibu Suri Gayatri dengan serius dan hormat, hingga aku sampai pada satu kesimpulan bahwa Ibu Suri Gayatri memegang sebuah pusat kekuatan dan kekuasaan Majapahit yang dilaksanakan sepenuhnya oleh Gajah Mada melalui simbol-simbol negara. Bagiku, Ibu Suri Gayatri adalah titik sumbu kekuatan Majapahit yang sesungguhnya dan Gajah Mada adalah bara yang membakar sesuai sumbunya.

Aku menjadi semakin mengenal sosok Mahapatih Gajah Mada. Ia bukanlah manusia yang ingin mencari kekayaan untuk dirinya sendiri. Namun, hasratnya pada kekuasaan dan kemegahan negara tak akan pernah tertandingi oleh manusia mana pun. Meski demikian, ia tidak pernah berusaha menjadi raja karena ia begitu mencintai, menghormati, dan setia pada kelaurga kerajaan sepanjang mereka menjalani perannya dengan baik. Ketika terjadi penyelewengan, seperti Raja Jayanegara, Mahapatih Gajah Mada tak akan ragu bertindak. Karenanya kusadari bahwa cinta Gajah Mada yang sesungguhnya adalah pada Majapahit.

Mungkin pendapat saya tidak akan jauh berbeda dengan pembaca yang lain, mengira tokoh yang ada di masa sekarang akan mengarungi perjalanan waktu ke masa lalu, ternyata penulis memiliki cara yang berbeda walau tetap mengusung tema time travelling. Mungkin pada awalnya juga, ada beberapa pembaca yang bingung seperti saya perihal dua plot yang disajikan secara bergantian, selang seling antara masa lalu ke masa sekarang dengan pembeda sudut pandang pencerita. Pada bagian Picaro kita akan mendapati dia sebagai pengisi sudut pandang orang pertama, sedangkan pada Rafa, penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Kedua cara ini tentu membawa perbedaan, dengan Picaro yang mengisahkan perjalananya, kita akan ditampilkan kedetailan apa yang terjadi pada masa lampau, sedangkan pada masa sekarang, kita akan mendapati pergerakan cerita bagian Rafa yang cukup cepat, karena memang menurut saya bagian Picaro adalah fokus utama cerita ini sehingga bagian Rafa bisa dibilang sebagai pelengkap agar cerita bisa terhubung ke masa sekarang.

Perihal historical fictionnya, tentu perlu diapresiasi karena penulis berani menyisipkan salah satu kerajaan terbesar pada masanya agar bisa dinikmati oleh siapa saja, tidak banyak penulis yang melakukan hal ini karena tentu tidak mudah untuk dilakukan, butuh riset yang sangat serius karena berhubungan dengan sejarah. Terlebih penulis juga menyinggung sejarah dunia di luar sana yang terjadi pada waktu yang sama. Pantas saja penulis terpilih untuk menghadiri salah satu event bergengsi di tanah air, UBUD Writers & Readers Festival 2016 karena 'pekerjaanya' ini.

Untuk kekurangannya, mungkin pada bagian awal saya cukup jenuh dan bosan, butuh waktu yang cukup lama agar bisa berganti halaman, tidak sabar dengan sajian utamanya yang digembor-gemborkan di sinopsis belakang sampul buku, pada bagian awal penulis lebih banyak bercerita tentang kisah cinta, saya berharapnya penulis langsung fokus ke bagian Majapahit. Karena saya sangat menyukai ketika Picaro berbagi pengalaman hidup dengan Gajah Mada, bagian paling favorit di buku ini. Yah, Gajah Mada memang tokoh yang patut diidolakan! Tapi kalau langsung ke inti cerita tanpa intro pasti tidak ada greget juga kali ya, hehehe.

Overall, buku ini cocok sekali bagi kalian yang ingin membaca historical fiction dalam negeri, tidak banyak buku dalam negeri yang menyisipkan cerita bersejarah, terlebih tempo dulu ketika Indonesia diduduki oleh berbagai kerajaan yang sempat melambungkan nama dan kejayaan di mata dunia.
Profile Image for Nisa Rahmah.
Author 3 books105 followers
November 8, 2016
Bagi saya, buku ini pas jika dianalogikan seperti gado-gado. Banyak komponen yang dicampur di dalamnya, tapi rasanya tetap nikmat. Bayangkan saja dua lini masa yang berbeda, dua sudut pandang, lalu bercampurnya tokoh barat dan pribumi, roman dalam balutan sejarah. Ketika dikemas dengan baik, semua itu bisa menyatu juga dan menyenangkan untuk dinikmati.

Terlepas dari adanya kekurangan dalam novel ini (akan saya bahas di bawah), saya bisa mengatakan bahwa ini adalah sebuah karya yang menakjubkan. Saya mengucapkan terima kasih kepada penulis yang bersedia mengirimkan bukunya untuk diulas oleh saya. Begitu saya mendapatkan buku ini dan membaca beberapa halamannya, saya yakin kalau akan suka dengan isinya. Dan ternyata, prediksi saya benar. Rasanya senang sekali dipertemukan oleh buku yang saya suka.

Ada dua sudut pandang dan dua setting dalam novel ini. Yang pertama, menceritakan dari sudut Rafa dengan PoV orang ketiga. Di sini, setting waktunya adalah masa kini dengan latar di berbagai tempat. Lalu, PoV orang pertama disajikan oleh Picaro. Meskipun di awal pergantiannya cukup konsisten, namun dari tengah menuju akhir buku, kisah Picaro lebih banyak disajikan. Ini karena memang kisah ini lebih banyak menceritakan tentang perjalanannya.

Meskipun di blurb diceritakan bahwa kisah ini bercerita tentang kerajaan Majapahit, tapi cerita tentang perjalanan ke Timur baru muncul di halaman 150.

Aku ingat nasihat Ayah, "Ketika engkau menginginkan sesuatu, namun engkau belum bisa mendapatkannya, berada di dekat-dekatnyalah...." Saat itu yang kupikirkan adalah aku harus ke Timur. ---halaman 150.

(Anyway, saya suka kalimat itu, benar-benar mengena banget!)

Sebelum membahas tentang bumi Nusantara, saya justru mendapatkan rangkuman tentang Perang Salib (ada di halaman 132 sampai 136). Sebagai penikmat sejarah yang mager untuk membaca buku atau riset tentang sejarah, bonus tentang Perang Salib adalah sebuah informasi yang berharga. Lalu, ketika mereka sampai di Nusantara, saya juga jadi mendapatkan banyak sekali informasi tentang keadaan sosial dan sejarah tentang kerajaan di Nusantara. Saya sedih karena baru kenal dengan Dyah Pitaloka dan ceritanya yang tragis dari buku ini (huhuhu, sedih).

Namun, sangat disayangkan buku ini "ditangani" dengan kurang baik. Saya katakan demikian, karena banyak sekali kesalahan penulisan yang tidak dipoles dengan baik oleh editornya, entah apa sebabnya (oke, saya berusaha untuk berpikir positif). Seperti misalnya, penggunaan tanda baca, penulisan yang tidak sesuai (contoh sederhana misalnya kata "dimana" yang seharusnya "di mana", lalu kata-kata yang tidak sesuai dengan KBBI, seperti "semedi" yang bakunya adalah "semadi"; masih banyak contoh-contoh lainnya, banyak sekali). Saya pernah membaca buku yang tidak ditangani dengan baik dan membuat mood saya melonjak turun drastis. Dan untungnya, riset sejarah yang kuat dari cerita ini membuat kesalahan itu pun termaafkan. Bagaimana tidak termaafkan jika konten buku ini, terutama tentang sejarah yang diangkatnya, memiliki nilai yang lebih dari sekadar plus bagi orang awam yang ngakunya ingin belajar sejarah namun sedikit malas membaca nonfiksi seperti saya, hehehe. Tapi ini tetap menjadi catatan yang semoga mendapatkan perbaikan di kemudian hari. (Berkali-kali saya mengatakan, "Duh, sayang banget, buku ini keren, plot sejarahnya keren banget, tapi harus 'kalah' sama kesalahan editing dan penulisan".)

Satu hal yang bisa dipelajari dari membaca kisah ini adalah, penulis secara tidak langsung jadi mengajarkan kepada saya bagaimana teknik membuat cerita fiksi dengan tokoh-tokoh fiktif yang selaras dengan kisah sejarah. Menyelipkan seorang Picaro Donevante sebagai "figuran" dalam lembaran sejarah kerajaan Majapahit dengan nama-nama familiar seperti Gajah Mada, Hayam Wuruk, Bhayangkara, adalah sebuah trik yang cerdas. Eh tapi, apakah memang Picaro adalah sebuah kisah fiksi atau benar-benar nyata? Mari kita tanya penulisnya :D

Meskipun ada plot yang absurd, misalnya cerita tentang Nyonya Vaillant, tapi masih dalam jangkauan penerimaan saya mengingat Paulo Coelho banyak mengangkat cerita yang demikian dalam novel-novelnya. Oke, apakah kemudian bisa dikatakan bahwa novel ini masuk ke dalam genre fantasi? Silakan dibaca sendiri bukunya untuk bisa menentukan :p

Sebelum mengakhiri review ini, saya juga ingin mengungkapkan kekaguman saya pada penulis yang begitu banyak menyelipkan kalimat-kalimat yang quote-able, namun pas. Artinya, kalimat itu sinkron dengan pembahasan yang tengah diceritakannya, bukan hanya karena sekadar ingin memberikan kalimat-kalimat puitis. Beberapa sangat mengena di hati saya, dan memang selaras dengan kehidupan. Pembaca benar-benar dimanjakan dengan kalimat indah sarat makna dan pembelajaran.

"Ada pesan yang tersirat dari sebuah jam pasir. Waktu akan terus berlari, namun ketika pasir habis, ia akan selesai. Waktu untuk jumlah pasir itu saja." ---halaman 24

"Waktu dan pengorbanan serta ketekunan adalah kunci dari semua ini. Kemungkinan untuk berhasil tidak lebih besar daripada kemungkinan untuk gagal. Namun, kalaupun gagal, saya tidak akan pernah menyesal karena saya telah mencoba melakukan hal yang besar dengan sepenuh hati." ---halaman 182

"Kita harus tahu kapan saat memulai dan kapan saat berhenti." ---halaman 344

"Tuan Puteri, saat sebuah rasa cinta terhadap seseorang dapat membuat diri kita menjadi lebih baik, itulah arti jatuh cinta yang sebenarnya. Karenanya sebuah rasa jatuh cinta perlu dibuktikan dalam selang waktu atas kebenaran artinya." ---halaman 362

"Anda akan memasuki zona waktu yang lain saat pada akhirnya kita semua akan tersadar bahwa cinta sejati adalah abadi dan tiada akhir." ---halaman 388


Sekali lagi, terima kasih kepada penulisnya yang sudah mengenalkan saya pada buku ini, dan ikut menjelajah ruang dan waktu bersama Picaro dan Rafa.

Selengkapnya di http://resensibukunisa.blogspot.co.id...
Profile Image for Retno Tresnawati.
4 reviews
June 12, 2014
Novel fiksi yang terkesan non fiksi karena penuh dengan ilmu pengetahuan dan sejarah. Terutama tentang sejarah peradaban dari berbagai tempat di dunia. Pembaca seperti dibawa oleh mesin waktu berkeliling dunia dari kemegahan Eropa sampai eksotika Asia, di abad silam hingga tiba di kerajaan-kerajaan nusantara.

Dari misi sederhana seorang pemuda yang mencintai kekasihnya, kita diajak berpetualang menjelajah seluk beluk berbagai negara. Penggambaran tiap lokasi yang didatangi begitu detail dan indah, baik itu di wilayah yang sudah maju kebudayaannya, maupun yang masih berupa hutan belukar. Tokoh utama terasa real bercampur dalam fakta sejarah yang sesungguhnya. Ketegangan pun sangat terasa dalam setiap pertempuran yang dihadapi.

Kisah cintanya romantis, manis, dan indah. Jauh dari unsur nafsu yang menggebu-gebu, ciri khas kisah cinta para intelektual,endingnya diluar dugaan,ada kesan gaib-nya.

Kalau difilm-kan, ini akan menjadi karya yang kolosal dengan kejayaan Majapahit dan Singasari. Dan membuat kita jadi lebih mengenal Indonesia, makin cinta tanah air.
Profile Image for Wardah.
952 reviews172 followers
July 27, 2017
Ada SATU Erstwhile dibagikan di Melukis Bianglala.

Meski dibuka dengan membosankan, pada akhirnya saya ikut mengalami keseruan Picaro dalam intrik kerajaan Majapahit. Sebuah novel dengan fakta sejarah Nusantara yang detail dan lengkap. Bacaan yang cocok bagi penggemar sejarah.

Skor final 3.5 bintang. Nggak bisa saya bulatkan jadi 4 karena jujur saja penulis terlalu banyak membenerkan fakta sejarah dan membuat saya bosan di beberapa kesempatan. Seandainya fakta sejarah itu tidak diceritakan begitu panjang, saya cukup yakin bakal menikmati petualangan Picaro dan Rafa.
Profile Image for Rina Fitri.
24 reviews2 followers
January 24, 2018
Untuk alur cerita novel ini, sudah kubahas di instagramku https://www.instagram.com/p/BeTREtxHiPc/. Jadi di sini aku akan membahas beberapa kekurangan dari novel ini.

1. Kurangnya footnote
Sebenarnya karena ini adalah fiksi dan bukan karangan ilmiah seperti makalah, tidak menjadi masalah jika tidak terdapat banyak footnote di sana-sini. Tetapi akan menjadi masalah jika istilah-istilah yang terdapat di dalamnya malah disalahartikan oleh pembaca. Seperti kata "Mamluk" yang dikira adalah suatu agama/aliran yang bukan Islam. Padahal Mamluk adalah sebutan untuk orang-orang dari Dinasti Mamalik di Mesir, suatu dinasti Islam yang berdiri pasca runtuhnya Abbasiyah. Kebanyakan footnote dalam novel ini hanya untuk menjelaskan nama-nama tempat yang kita kenal sekarang , seperti Suvarnadvipa (Sumatra), Yavadvipa (Jawa), Walidwipa (Bali), dsb. Sementara footnote untuk penjelasan istilah-istilah asing hampir tidak ada. Aku sendiri tidak tahu apa itu Ekaristi. Semoga ini bisa menjadi masukan untuk ke depannya.

2. Antara fiksi dan non-fiksi
Dari beberapa review yang kubaca, ada beberapa reviewer yang bingung menklasifikasikan novel ini ke dalam buku fiksi atau non-fiksi. Rafa dan Picaro adalah fiksi, sementara Majapahit dan kisahnya adalah fakta. Raja-raja yang memerintah Majapahit sesuai dengan fakta sejarah di lapangan. Namun, mengenai Majapahit yang ikut berlayar ke Barat, aku tidak tahu apakah itu fakta atau rekaan.

3. Kesalahan Penulisan
Ada beberapa kesalahan penulisan yang kutemui dalam novel ini. Kebanyakan berkaitan dengan penggunanan kosa kata yang tidak baku dan penggunanaan huruf kapital yang tidak tepat. Sepeti di halaman 42, "udara yang berhembus membuat sukmaku membubung tinggi." Kata yang baku menurut KBBI adalah 'embus', bukan 'hembus'. Pada halaman 55 tertulis "Berada di Bandara seorang diri menjadi waktu yang sempurna bagi Rafa untuk...". Sepengetahuanku, kata 'bandara' tidak perlu dikapitalkan jika tidak diikuti dengan nama tempat.
Selain itu, ada satu kalimat yang tidak kumengerti di halaman 43, "Aura Tuhan seakan menjelma dalam lontaran tafsir embun pagi yang berserakan dalam kenan agar seluruh bumi merasa setara". Setelah mencari di KBBI, arti 'kenan' adalah noda pada kulit yang merupakan bawaan sejak lahir (misalnya tahi lalat). Namun aku tetap belum bisa memahami maksudnya.
Untuk saltik sendiri hampir tidak kutemukan dalam novel ini.

Terlepas dari beberapa hal yang menjadi kekurangannya, novel ini tetap bisa dinikmati dengan baik. Erstwhile bisa menjadi alternatif bagi kalian yang ingin menikmati sejarah yang dibumbui fiksi. Namun, alanglah lebih baiknya sebelum membaca novel ini, kalian sudah punya sedikit pengetahuan dasar mengenai kisah sejarahnya. Selain agar bisa membedakan mana fiksi dan fakta sejarah, juga agar bisa terhindar dari salah pemahaman. Atau kalian bisa mencari istilah-istilah dan kisah-kisah yang tidak kalian pahami di mesin pencari.
Selain itu, novel ini terbilang unik karena konflik yang disajikan tidak hanya yang dialami tokoh cerita, tapi juga menyajikan konflik sejarah yang dialami oleh tokoh-tokoh di masa lalu seperti Mahapatih Gajah Mada.
Terdapat beberapa pelajaran juga yang bisa kita petik dari novel ini melalui tokohnya yaitu Picaro. Melalui Picaro kita diajarkan untuk tidak menyerah, selalu berusaha, tetap rendah hati dan tidak serakah. Dari tokoh Gajah Mada juga kita bisa banyak belajar mengenai kesetiaan, ketegasan, cinta kepada negara, dll.
Profile Image for pidaalandrian.
364 reviews5 followers
August 1, 2017
Baca review lengkap disini >> https://collection-of-book.blogspot.c...

Ada giveaway bukunya juga lohh (dL. 6 Agust 2017) > https://collection-of-book.blogspot.c...

Jujur, awalnya aku ngerasa "ah, pasti bakal lama baca buku ini" dan lagi "Pasti ngebosenin banget karena tentang Sejarah". Tapi ternyata, semua dugaan awal meleset. Awalnya aku mengira, bakal membaca sebuah kisah fiksi sejarah yang membosankan seperti halnya sejarah di pelajaran sekolah. Namun ternyata, dengan cara penulis menggambarkan situasi dan kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu membuat fiksi sejarah di dalam buku ini lebih menarik untuk diikuti dan malah ada beberapa hal yang sebelumnya aku 'tidak pernah' tahu jadi tahu (mungkin dulu ada belajar di pelajaran Sejarah tapi hanya numpang lewat). Seperti halnya tentang nama-nama daerah zaman dulu, Suvarnadvipa (Sumatra), Walidwipa (Bali), Nusa Tanjungnagara (Kalimantan), dan masih banyak lagi daerah-daerah dengan sebutan yang asing di telingaku.
Profile Image for Kartika Nurfadhilah.
159 reviews21 followers
August 5, 2018
” Sejak kecil aku sudah dibekali dengan cita-cita untuk menyatukan seluruh gugus pulau bagai menata padang rumput yang datar. Darah leluhurku memberiku dasar kekuatan para dewa dan doa orangtua, serta perlindungan Sang Penguasa Belahan Bumi Bagian Timur telah menuntunku menjadi tampil bagai pemimpin yang sesungguhnya bagi Majapahit. Sebuah negeri yang membesarkan dan mengasuhku. Negeri yang menghidupkan jiwaku,”


Raphael Harijono atau Rafa adalah seorang pria asal Indonesia yang memiliki kegemaran sekaligus meneruskan tradisi keluarga untuk mengoleksi artefak–sehingga tidak jarang ia berkeliling dunia untuk mengumpulkan benda-benda bersejarah bangsa Indonesia yang kemudian ia beli dan disimpan di museum. Kali ini, ia akan mengikuti lelang dokumen perjalanan yang ditulis oleh seorang pria Perancis yang akan diadakan di New York.

Selama perjalanannya menuju perburuan dokumen bersejarah tersebut, Rafa berjumpa dengan seorang wanita paruh baya dalam perjalannya menuju Roma bersama Magalie Vailant. Wanita yang senantiasa bercerita tentang kehidupan masa lampau, dan perjumpaan kehidupan. Selain itu, perjumpaannya dengan professor bahasa King’s College bernama Emma Watts mewarnai perjalanannya mendapatkan hak klaim dokumen papirus bersejarah tersebut.

Sebuah perjumpaan dengan kedua wanita yang tidak disangkanya–dan memberikannya jalan untuk memahami bahwa cinta mungkin saja tak memiliki dan cinta abadi yang Tuhan-lah yang berhak memisahkan.

Kemudian, ada Picarro Donevante yang merupakan seorang warga Kota Paris dan pengungsi politik dari tempat kelahirannya di Florence, berjumpa dengan Solence de Morency dalam sebuah ritual Ekaristi di Notre Dame. Sebuah pertemuan yang membawa Picarro menjelajah dunia atas nama kasih Tuhan dan cinta.

**

” Dalam hidup ini, ada saat-saat kita akan menerima pertolongan orang lain untuk suatu kesempatan yang akan mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Begitu pun sebaliknya, kita juga harus memberi kesempatan kepada orang lain untuk menjadi lebih baik,“


Wahhh, gila, cuy! Saya menyelesaikan novel ini hanya beberapa jam di minggu pagi sampai minggu siang. Jenis bacaan yang bikin kamu ngga mau lepasin sampai selesai. Sebenarnya, sejak pertama kali melihat sinopsis buku ini di Gramedia saya langsung membeli bukunya tapi baru hari ini saya buka dari timbunan untuk merelaksasi bacaan setelah beberapa bulan ini membaca buku nonfiksi dengan tema yang cukup bikin mikir.

Tema buku ini adalah fiksi sejarah. Saya kira buku ini fiksi romansa–tapi ternyata romansa yang terdapat dalam buku ini hanyalah pelengkap cerita. Di mana kedua tokoh yaitu Rafa dan Picaro kurang beruntung dalam hal percintaan. Sejarah yang diceritakan dalam buku ini mengambil latar belakang masa kejayaan Majapahit di Nusantara. Kisah kerajaan yang mungkin saja terasa misteri sampai saat ini, terasa nyata dan hidup dalam buku ini. Pembawaan tema yang membuat saya hanyut dalam pengalaman membaca sepanjang pagi dan siang.

Buku ini mengambil premis perjalanan waktu. Di mana karakter Picaro dan Rafa saling berkaitan. Sehingga, alur yang dipakai adalah maju-mundur maka waktu yang dipakai pun masa lampau dan masa kini. Pemakaian masa lampau digunakan untuk menceritakan perjalanan Picaro di abad ke-16 sedangkan masa modern digunakan ketika mengisahkan hidup Rafa. Tempat yang diceritakan dalam buku ini beragam mulai dari kota Florence, Paris, dan tempat-tempat yang dikunjungi Rafa dan Picaro dalam perjalanan mereka. Akan tetapi, tempat yang paling sering digunakan dalam buku ini adalah wilayah Kerajaan Majapahit.

Ertswhile mengajak pembacanya untuk menyelami kehidupan Kerajaan Majapahit melalui perjalanan Picaro menuju Cathay. Penulis mengambil history hole kisah Majapahit terutama mengenai identitas Gajah Mada.

Kita tahu bahwa Mahapatih Amangkubumi Majapahit Gajah Mada merupakan sosok yang menyatukan Nusantara di bawah janji Palapa yang terkenal itu. Akan tetapi, sejarah luput menceritakan identitas personal Gajah Mada seperti keluarga sang patih, kehidupan Gajah Mada, dan bagaimana Mahapatih tersebut disemayamkan. Semua menjadi misteri. Novel Erstwhile-lah melengkapi bagian kosong tersebut.

Setelah membaca perjalanan Majapahit dan Gajah Mada, saya merasa lebih mengenal Gajah Mada. Sosok beliau terasa lebih familiar , bukan sekedar sosok yang terkenal karena kewibaaan dan sumpah Palapanya. Hal yang patut diapresiasi dari Rio Haminoto tentang riset sejarah dunia dan Majapahitnya.

Bagian paling favorit yang bikin menangis adalah bagian tentang surat Gajah Mada, pengakuan Hayam Wuruk yang terakhir kepada Picaro, dan ketika Picaro membuat rencana perdagangan terakhirnya dengan keempat sahabatnya. Ohya, terakhir… ngomong-ngomong Tabitha itu siapa sih? KEPO GUE HUHUHUHU Gue sama sekali ngga ada clue tentang Tabi ini.

6 reviews
September 24, 2018
Sejujurnya novel ini bikin aku bangga menjadi seorang hindu yang mendiami nusantara.

Kisahnya sukses bikin aku menyelam ke dalam sejarah di masa saat Majapahit berjaya. Namun sesungguhnya pula ada beberapa hal yang bikin ‘turn off’ sama novel ini.

Satu, penggambaran tentang istana pusat di trowulan tak begitu mengagumkan dan terkesan murahan sebab bisa dibongkar pasang, padahal sesungguhnya keraton (entah pantas atau tidak menyebutnya dengan keraton) Majapahit sungguh sarat seni, penuh ukiran dan guratan sebab abad itu adalah zaman keemasan seni sansekerta. Istana juga terbuat dari logam-logam mulia dan beberapa batu pertama. Itulah barangkali penyebab utama hilangnya bagian-bagian utama, sebab benda-benda yang dari logam mulia itu dibawa pulang penjajah, atau barangkali dinikmati penguasa setelahnya.

Dua, sumpah Gajah Mada terkesan merupakan candaan belaka dan dibuat main-main oleh sang penulis. Padahal begitu membaca “Lamun Huwus...” bulu romaku sontak berdiri, tapi sayangnya diikuti skenario bercanda. Sungguh disayangkan.

Tiga, latar belakang Gajah Mada yang berketurunan dari Kubilai Khan, sungguh menghancurkan muka Indonesia dan nama besar Majapahit. Kubilai Khan adalah seorang penganut agama buddha dan Gajah Mada sendiri seorang hindu tulen yang mengabdi pada kerajaan yang menganut aliran Vaisnava alias penyembah Dewa Wisnu, dalam ribuan aliran agama hindu. Tentunya gajah mada punya latar agama yang jauh lebih kuat.

Namun demikian, penulis yang telah berusaha mati-matian mengumpulkan fakta demi fakta mengajak kita menyelami samudera abad-abad kejayaan nusantara, penggambaran prajurit kerajaan dan bhayangkara, telik sandi. Kisah skenario mangkatnya Raja Jayanegara, semuanya terasa autentik dan mengagumkan.

Suasana kepatihan, betapa sempurnanya Raja Hayam Wuruk, kisah Dyah Pitaloka dan bubat, begitu detail dan membuatku tercengang. Sungguh penggambaran luar biasa.

Sayang novel ini tak mengisahkan masa-masa keruntuhan Majapahit dan penyebab utamanya. Padahal bagian itulah yang SANGAT kunantikan pertama kali membeli novel ini dengan semangat 45.
Profile Image for Elclara Madina.
4 reviews1 follower
December 10, 2021
Sangat menarik! Aku tidak pernah menyesal ketika melihatnya terpajang di rak toko buku dan memutuskan untuk menabung dan membelinya sebagai hadiah kecil pada diriku yang mendapat nilai terbaik di sekolah.

Waktu itu pertama kalinya aku membaca fiksi sejarah, dan terus terbayang hingga 3 tahun lamanya. Erstwhile akan menjadi buku favoritku sepanjang masa. Caranya meletakkan picaro dalam setiap peristiwa majapahit terasa sangat nyata. Aku mengenal gajah mada lebih dalam dari sudut pandang picaro, walau sebagian besar hanya fiksi, tapi cukup membuatku kagum. Aku mulai mengerti kenapa ayahku sangat menyukai kisah sejarah yang kukira awalnya membosankan.

Aku membacanya ketika duduk di bangku SMP, sekarang aku membacanya lagi di bangku kuliah dan merasakan perbedaan pandanganku setelah beberapa tahun. Namun kesanku pada picaro tidak berubah. Aku menjadi mengerti penyebab dari beberapa hal yang tidak bisa aku pahami dulu. Apalagi tentang kaitannya dengan rafa, dan sedikit membingungkan dalam segi romansa keduanya. Buku ini tumbuh bersama perkembangan pola pikir pembacanya, menurutku.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Annisa D. Lestari.
74 reviews4 followers
February 1, 2018
Ini novel berbau sejarah pertama yang saya baca. Cara bercerita si penulis cukup lancar, hanya saja di beberapa bagian agak membingungkan. Tidak menyangka kalau kerajaan Majapahit akan menjadi poin cerita di novel ini. Saya hanya menangkap bahwa Rafa ini adalah wujud sekarang dari Picaro dan cerita berputar pada cinta yang tidak tersampaikan kepada seorang wanita yang dicintai. Meski hanya sebuah cerita, benarkah faktanya Gajah Mada adalah keturuan dari Kubilai Khan? Penasaran juga apakah Gajah Mada pernah berkunjung ke bumi Eropa. Gara-gara baca novel ini saya jadi mau ngga mau menelusuri kembali cerita kerajaan Majapahit pada buku sejarah :).
Profile Image for Nathalia.
6 reviews5 followers
July 20, 2017
Buku ini memang cukup tebal. Namun temanya yang menarik membuat saya penasaran untuk terus menyelesaikannya hingga akhir. Perpaduan antara sejarah, kisah cinta, dan persekutuan waktu dalam novel ini memberikan pengalaman membaca yang berbeda dan menyenangkan.
Mau mendapatkan bukunya secara gratis? Yuk baca review lengkapnya dan ikutan giveawaynya di sini http://nathaliabookshelf.blogspot.co.... ;)
Profile Image for Op.
375 reviews125 followers
July 19, 2017
Tbh this is not a favourite but I quite enjoyed my time reading it :)
Profile Image for Irli.
69 reviews7 followers
September 18, 2017
Belajar sejarah jadi nyenengin ya karena di novel ini ada romance yang gak menye menye. But i love this historical novel.
Profile Image for Victoria Tunggono.
Author 10 books32 followers
July 6, 2016
"Erstwhile" (kalau tdk salah) artinya "dalam suatu masa." Bercerita tentang perjalanan Rafa dalam mencari cinta dalam hidupnya setelah mengalami kegagalan dan kehampaan, membuatnya (dan kita) menyadari bahwa di dunia ini ada orang2 yang hanya bisa ia cintai dan kagumi dari jauh, walau perasaan itu sangat nyata. Menyadarkan kita bahwa cinta sejati itu nyata, utuh dan abadi--dan kita bisa mengenalinya dalam hitungan detik saja. Menggambarkan teori di balik terbentuknya "cinta dalam pandangan pertama", karena cinta itu sudah ada "dari suatu masa" jauh sebelum kita terlahir.

Buku ini berkisah tentang cinta abadi yang melintasi waktu, dan "kehidupan abadi setelah kematian" dalam makna sesungguhnya. Memaknai pemahaman mendalam mengenai agama yang seharusnya menjadi dasar kerangka berpikir seseorang, dan bukan menjadi alasan untuk merendahkan orang lain tetapi untuk semakin memuliakan Tuhan. Fungsi agama sebagai fondasi berpikir manusia yang tidak disalahartikan terasa sepanjang buku ini, dengan mempertahankan nilai2 tinggi mengenai perbedaan, penghormatan, kecintaan dan kesetiaan terhadap sesama. Cinta terhadap Tuhan, terhadap alam dan budaya, terhadap seorang wanita, terhadap negara dan sahabat--buku ini membuat kita merasakan cinta dalam berbagai rupa dan konteks. Dan cinta adalah tempat yang sangat indah di dunia.

Perjalanan seorang Picaro Donevante dan persahabatan eratnya dengan keluarga keraton dan kepatihan Majapahit menjadi kunci utama jalan cerita yang menjadi jawab atas kehidupan Rafa di abad 21. Hanya saja, jika kisah ini dipadukan dengan sejarah asli Nuswantara dengan segala teknologi dan kemegahannya dalam kemilau emas di seluruh Nuswantara sebagai Jamrud Khatulistiwa, buku ini akan jadi semakin sempurna!

Saya menobatkan Erstwhile sebagai salah satu dari sangat sedikit buku terbaik penulis Indonesia yang membantu kita memahami arti kehidupan ini secara lebih luas dari apapun yg pernah kita pelajari di dunia ini. Buku wajib untuk seluruh umat Indonesia yang ingin lebih memahami dan mencintai negeri Nuswantara ini. Well done, Rio!
Profile Image for Alfath F. R..
234 reviews4 followers
February 16, 2018
Cover gapura candi memberikan kesan bahwa novel ini bertema sejarah. Lebih tepatnya, gambar yang mampu melahirkan harapan akan suatu cerita tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kerajaan di Indonesia.

Ada dua tokoh sentral yang bermain dalam novel. Tokoh berasal dari abad 13 dan 21; Picaro dan Rafa. Rafa, pria yang lebih 'modern' berupaya mengumpulkan lembaran papirus yang berisi catatan perjalanan Picaro menuju Majapahit. Catatan yang kisahnya mengambil porsi besar dalam novel ini.

Karena porsi cerita Picaro lebih besar dari Rafa, tentu saya harus memahami apa yang dipikirkan, dilihat, dan diceritakan oleh Picaro. Diceritakan? Ya..sebagian besar peristiwa sejarah tersajikan dalam bentu narasi seolah-olah Picaro sudah hafal mati suatu peristiwa lampau dari bacaan, atau dari apapun yang ia alami. Begitu banyak hal-hal yang diceritakan Picaro kepada pembaca, hingga kesan yang ditinggalkan pun kurang 'greget' dan kurang yakin bahwa disana benar-benar terjadi suatu peristiwa. Salah satu rekan saya dalam kegiatan 'baca bareng tipis-tipis' novel ini berpendapat bahwa novel ini lebih banyak 'telling' daripada 'showing'.

Secara keseluruhan, novel ini tidak hanya mengandung fiksi sejarah tapi juga cerita cinta dua tokoh sentral dalam novel ini. Cerita yang saya kira melibatkan kepercayaan reinkarnasi dari tokoh yang ada. Tentu, novel ini akan menarik bagi pecinta fiksi sejarah atau fiksi romance.

2 reviews1 follower
June 9, 2014
Erstwhile is a historical fiction that is set in an actual historical setting filled with imaginary characters. Love is the main theme of the story that unites two souls, traveling through time space - the presence and the past - and distance - from the European continental shelf to the Sunda shelf.

It is also an inspiring novel to rediscover Indonesia's identity as an "archipelagic continent", "Indian Islands" (from the words 'India' and 'Nesos', making up the word Indonesia), or "islands outside Java" (from the Saskerta words used during the Majapahit, 'Nusa' and 'Antara', making up the word Nusantara, which was later interpreted as "home between two continents and two oceans" to include Java).

The major part of the story was set during the Majapahit Kingdom that was placed as a global maritime and trading prowess, trading between Persia, China and Madagascar.

Traveling through time and place also means witnessing civilization. The book details this evolution, from material wealth, trading skills, social norms and culture, battleships, political institutions and kinship.

Wrapped into a romantic journey between two souls traveling through time and distance united by eternal love, this novel calls for a new sequel to bring the presence into what may become of the future.
1 review
June 20, 2014
Judul dan ilustrasi cover bukunya begitu penuh misteri... seakan sedari awal ingin meng-hipnotis pembacanya untuk diajak berpetualang.
tidak bisa berhenti membaca ketika awal membuka buku ini karena alurnya betul-betul tidak bisa ditebak, tokohnya pun selalu penuh kejutan, rasanya kalau berhenti membaca takut tertinggal untuk masuk dalam lorong waktu yang dibuat oleh rio.
penggambaran detail tokohnya membuat saya bisa ikut berimajinasi dengan gamblang seakan tokoh itu betul nyata adanya.

kisah cinta yang tidak biasa juga digambarkan dengan menarik...bahwa cinta bukan masalah keberadaan fisik tapi rasa yang selalu ada, karena sejatinya rasa tidak akan pernah hilang...dan itulah yang disebut dengan cinta sejati.

yang menyenangkan...dalam buku ini rio yang biasanya "bercerita" soal negara lain, kini menceritakan tentang Indonesia...

salut mas rio!!

mengikuti kata yang selalu diucapkan anak muda jaman sekarang, bukunya : gemesin!!!
2 reviews
June 9, 2014
Erstwhile presents as an advancement from the authors prior writings into a complete historical romance novel. In this book, Rio is able to very nicely depicts history in a tale that evoke emotion with ideals that he holds dearly. True love is the theme that ties and gives meaning to Picaro's and Rafa's journey which links them together. The idea of reincarnation and previous lives also adds a twist to the already sweet romance.

The history era that is actually a mixture of legends and facts has been a great part of every Indonesian. Being one, reading it in this format actually brings the heritage into life for me personally. I'm loving Erstwhile for its characters and storyline but more for what it reminds me of and stands for: the rich history of Indonesia and the importance of living life with a purpose.
Profile Image for an.
764 reviews22 followers
August 7, 2014
oka, rhe ngaku harus na dateng di acara diskusi buku ini secara sudah dapet dummy buku ini. tapi apa daya kondisi fisik yang tidak memungkinkan dan jadi na pun baca na jadi terbengkalai, ga kejar target untuk selesai saat acara diskusi buku

ntah harus ngomong apa tentang buku ini cz yang ada adalah isi na sangat jauh dari yang rhe bayangkan. ok, cerita tentang majapahit na bisa diterima. tapi sinopsis di sampul belakang buku ini sempat mebawa imajinasi rhe bahwa akan ada lorong waktu yang membawa tokoh na ke suata masa tertentu, mahapahit misal. namun yang ada adalah kisah renkarnasi -seperti na- dari tokoh yang hidup pada jaman majapahit itu. bingung?

baca sendiri aja klo gitu :D
Profile Image for Nadia.
9 reviews3 followers
July 10, 2014
Buku ini adalah salah satu buku yang wajib dibaca. Seorang penulis Indonesia yang dapat menyatukan cerita dari Eropa dengan gaya Da Vinci Code dengan cerita dari Majapahit.

Ini adalah buku fiksi yang didasarkan dari cerita sejarah Majapahit di jaman kejayaan Gajah Mada.

Sejak mulai baca buku ini, saya pun tidak bisa berhenti. Seperti terbius dalam ceritanya.

Sayangnya saya agak terganggu dengan beberapa pernyataan cinta yang lebay di buku ini. Dan alasan ini yang membuat saya memberikan buku ini nilai 4.5 bintang.
1 review
January 31, 2016
A very interesting and mysterious read. I love the combination of fact, fiction and the supernatural. It is wonderful to have a book that celebrates Indonesian history in such a way that makes it accessible and modern. Hopefully this will inspire and instill pride in the younger generation. The book cover adds to the mystery of the story and spiritual nature of the book. The two illustrations are beautiful and perfectly placed to delineate the spirit world. Well done Joseph Rio Jovian Haminoto and Enrico Soekarno!
Profile Image for Yudi.
14 reviews1 follower
June 19, 2016
Jujur awalnya sendiri ragu untuk memboyong novel ini masuk di rak buku. Tapi pandangan itu berubah setelah saya baca beberapa halaman, serasa di hipnotis masuk kedalam novel fiksi tapi rasa non-fiksi. Memang beberapa cerita ada berbau non-fiksi seperti cerita di kerajaan majapahit,gajah mada.

Tidak lupa rio dari awal sudah memberikan racikan, kisah romansa yang sangat apik dan gurih untuk kita nikmati.

Perpaduan sejarah, perjalanan waktu dan kisah cinta yang benar menurut beberapa reviewer disini yaitu layak di angkat ke layar lebar.

Profile Image for Francesca Margati.
11 reviews3 followers
July 30, 2014
Ceritanya simple tetapi unik, karena setting cerita yg penuh misteri perjalanan dari negeri barat ke timur dan cocok untuk di angkat ke layar lebar, ketika membacanya spt membayangkan secara 3d berada di situasi alur cerita pada masa silam jaman majapahit lalu menuju Paris. Bagi yang menyukai sejarah buku fiksi ini menarik, banyak pengetahuan dan nilai sejarah yang diangkat. Nilai kesetiaan akan keyakinan cukup dalam diungkapkan dlm buku ini...
1 review
June 19, 2014
One of a kind...it's a very nice book, indeed! a captivating tale about the power of love in the richly setting of Indonesia heritage and history. This book is so enchanting. when I read it, I feel like the book takes me to the unknown, where the love story and the history takes place, and I feel like I am part of that story. After I finished, It leaves me a heart-warming and contentment feelings. I highly recommend this book!.
Profile Image for Merry Diane.
1 review
June 14, 2014
I think this author can be seen as the Indonesian Dan Brown with a much more romantic flavor.
Displaying 1 - 30 of 31 reviews

Join the discussion

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.