Dalam buku ini Rhenald Kasali berbicara mengenai perubahan, baik yang tak terhindarkan maupun yang harus diusahakan. Salah satunya, ia mengingatkan anak muda agar tidak menjadi bagian dari strawberry generation. Generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.
Padahal, menurut Rhenald, kesuksesan tidak bisa diraih melalui jalan pintas. Maka, mentalitas rapuh itu harus diubah. "Passenger" harus menjadi "driver". Fixed mindset digantikan growth mindset.
Inilah buku yang penting dibaca oleh mereka yang ingin menjadi manusia tangguh. Yaitu, manusia yang berkarakter kuat, berjiwa terbuka, dan pandai mengungkapkan isi pikirannya.
Saya menyukai buah stroberi. Rasanya adalah perbaduan antara manis, asam dan segar. Enak banget, apalagi kalau dibuat jus dan diminum kala terpapar terik matahari pantai.
Ya, awalnya saya heran mengapa stroberi -buah yang enak dan segar ini, yang digunakan oleh Kasali sebagai metafora generasi Z (yang notabene lemah). Ternyata, usut punya usut, Kasali telah menulis di kata pengantarnya, begini: "Dalam lukisan kanak-kanak, strowberi termasuk buah yang mudah digambar. Bentuknya eksotis dan indah. Namun, begitu strowberi terkena benturan, atau tergesek sikat gigi saja, ia begitu mudah terkoyak. Lalu hancur."
"Owhh.... rupanya begitu," ujar saya paham.
Well, Berbicara mengenai isi keseluruhan buku ini, saya sependapat dengan penilaian beberapa warganet yang saya baca di laman ini (baca: goodreads.com), bahwasannya buku kumpulan esai yang terdiri dari 5 bab besar ini -Pada Mulanya Adalah Mindset, Hi-Tech and Hi-Touch Parenting, Memetik Moral Dari yang Viral, Bianglala Entrepreneurship dan Mencegah Rajawali Jadi Merpati tidaklah seperti pendahulunya (baca: Self Driving). Bukan tidak bagus, namun (yaaa... namanya juga buku kumpulan esai) topik bahasannya meloncat-loncat, tidak fokus. Bahkan, bagi saya pribadi, saya mengalami kebosanan membaca dan memerlukan waktu yang sangat lama untuk menuntaskannya ketika saya tiba di bab-bab terakhir. Saat ia menjelaskan mengenai IndonesiaX dan Mentee.
Tapi, jujur, bukanlah Kasali kalau tidak bisa membuat saya terperangah. Banyak sekali bagian yang saya tandai dan bersepaham dengannya. Misal, ketika ia menulis, "Uang dan surga adalah dua janji yang selalu digunakan untuk menjerat." (hal. 155). Di artikel atau bab berjudul Seorang Guru di Langit Biru tersebut Kasali berkisah tentang keresahannya terhadap guru yang masih saja tertipu dengan "money game", dengan bentuk-bentuk usaha pengayaan diri dengan iming-iming uang dan kesejahteraan umat. Ya, bila gurunya sendiri saja tertipu, bagaimana dengan muridnya?
Atau bab berjudul Dua Generasi di Dunia Pendidikan Kita. Bagaimana tidak, bab ini langsung mengajak saya untuk melihat dan menyadari sekeliling saya. Bagaimana saya yang generasi Y, harus berhadapan dan menjawab kebutuhan zaman (baca: belajar) generasi saat ini, Z dan alfa.
Namun, di atas itu semua, bab yang paling saya sukai dan mengangguk-angguk seharian penuh tanda bersetuju adalah bab berjudul Kalau Ingin Anak Hebat, Orangtua Harus Berubah! Benak saya langsung tertuju pada keluarga saya sendiri. Ya, sebut saja tante saya, sama seperti yang dikatakan Kasali, "tragedi yang terjadi pada anak-anak yang dikuasai oleh orang tuanya". Pasangan diatur dan dipilih orang tuanya, jurusan diatur, mata kuliah diatur, teman-temannya dipilihkan, bahkan (mungkin nantinya) siapa dosennya dan di mana ia boleh bekerja pun akan dipilihkan oleh orangtuanya, atau tante saya itu. Anak-anak hebat yang dirusak oleh pengawalan superekstra.
Takut berlebihan bisa membuat anak-anak lumpuh dan bermental penumpang.
Ya, itulah beberapa hal yang saya petik dari buku ini (yang bisa jadi berbeda dengan Anda). Buku biru kedua yang saya tamatkan membacanya di bulan ini (kebetulan bulan ini yang jadi buku tantangan saya bersama mbak Dian adalah buku yang covernya biru). Ya, buku yang judulnya stroberi (pink) namun warnanya covernya biru.
Benar2 tertampar dan banyak belajar dari buku ini. Btw ini buku non-fiksi yang gue baca paling cepet. Seru banget bukunya, pas banget buat anak muda beranjak dewasa seumuran gue ini. Semacam self healing. Kalo inti bukunya sebenernya udah gue tangkep percis kayak di sambutan pak Rhenald di buku 30 Paspor. Tapi penjelasan dibuku ini benar2 hebat. Kadang jadi gak percaya gitu kalo yg nulis ini tuh seorang profesor karna bener2 enak dibaca nya, gak serumit itu deh pokoknya. Buku ini juga gue rekomendasikan buat para tenaga pendidik, orang tua, ah semua kalangan deh. Keren banget bukunyaaa. Makasih, Prof!
"Begitulah, sejak kecil kita dibesarkan dan membesarkan anak-anak dalam lingkungan yang miskin apresiasi. Alhasil, kita menjadi begitu sulit memuji, tetapi sangat mudah mengkritik." -hlm. 88
Buku ini nggak sengaja aku nemu di homepage Google Play Books dan kebetulan banget punya semacam saldo gitu (yang dikasih cuma-cuma sama salah satu teman member Booktube ID), jadi aku putuskan untuk beli dan baca judul yang ini.
Aku awalnya tertarik karena judul buku ini yang cukup menggelitik dan bagian awal buku ini yang memang mengkritisi para "generasi stroberi" ini. Namun semakin ke belakang kita akan menemukan alasan utama terciptanya generasi ini: pendidikan. Yang otomatis membuat pembahasan selanjutnya akan berfokus pada pendidikan.
Well, bisa dibilang pembahasan di bagian awal dan bagian tengah agak sedikit berbeda bahkan menyimpang, karena bagian tengah sampai akhir akan membabat habis-habisan mengenai dunia pendidikan. But untungnya topik pendidikan menjadi hal yang selalu menarik minatku, buku ini tetap keren di mataku.
Membukakan pikiran dan meluarkan perspektif kita. Nggak bertele-tele dan cenderung fun dalam menyampaikannya. Recommended!
Sebagai seorang anak, saya setuju 100% atas pemaparan penulis yang mengharuskan orangtua untuk memberi kepercayaan kepada anak-anaknya bahwa mereka bisa mengatasi masalah sendiri. Karena kepercayaan sebenarnya akan membangun kemampuan mereka juga dalam menghadapi tantangan dan mencari solusi yang paling tepat untuk masing-masing pribadi.
Tapiiii
Tapi sebagai orangtua, saya pun tak yakin apakah bisa membebaskan anak pergi sendirian ke negara yang bahasanya asing dan tak satu pun orang yang dikenal dengan baik untuk ikut membantu penjelajahan budaya.
Memang, kita baru bisa benar-benar mengerti sesuatu setelah mengalami sendiri.
Sebelumnya terima kasih kepada Kapten Tangguh yang telah membeli buku ini. Maaf udah nyuruh-nyuruh. Hehe
Buku ini sangat enak dibaca, bahasanya tidak berat. Tanpa sadar , tiba-tiba sudah banyak halaman yang dibaca. Buku ini benar-benar membuka wawasan dan cakrawala berpikir. Berbicara tentang pemuda, pendidikan, entrepreneur, dan politik. Sangat cocok dibaca oleh semua kalangan, pemuda, para orangtua, para guru, para pejabat, dan semuanya.
Bagian I Pada Mulanya Adalah Mindset Bisa jadi kita yang sekarang seperti ini, mungkin karena mindset yang ada pada diri kita saat ini adalah mindset yang seperti ini. Hehe, bingung ya? Aku juga. Mindset adalah set of assumption. Membahas tentang Fixed mindset dan Growth mindset. Ada sebagian dari kita yang masih merasa terkungkung, takut dengan tantangan, berada pada zona nyaman yang nyantai, mengandalkan ijazah, itulah yang disebut dengan fixed mindset. Sementara mereka yang tumbuh dan berani menghadapi tantangan dan masa depan, menganggap dirinya bodoh sehingga harus terus belajar ini adalah growth minset. (selengkapnya nanti baca sendiri ya bukunya hehe)
Bagian II Hi Tech and Hi Touch Parenting Lebih membahas tentang kemajuan teknologi yang pesat yang mampu mengubah perilaku sebuah keluarga, pendidikan terhadap anak dan pentingnya peranan orang tua dalam mendidik anak di era serba canggih ini agar mampu menciptakan anak yang tangguh. Kalau menurut teoriku sendiri agar menjadi Coconut Generation (kalau untuk perempuan Durian Generation) bukan Strawberry Generation lagi (hehe, penjelasan mengenai Coconut generation nanti akan ku bahas khusus deh, ini kan cuman teori ku saja). Bagian III Memetik Moral dari Yang Viral Ada beberapa cerita di bahas di sini. Dari cerita-cerita tersebut saya menyimpulkan nilai moral, yaitu ketegaran, menghargai, kejujuran, kesadaran, memanfaatkan peluang, sharing sosial (berbagi kepada sesame), open mind, dan berani mengambil resiko.
Bagian IV Bianglala Entrepreneurship Kisah-kisah di bagian ini mengajarkan kita bahwa hidup itu seperti bianglala, selalu berputar, kadang di bawah dan kadang di atas. Kita memandang orang lain sepertinya selalu senang, padahal orang itu sendiri dalam menjalani hidupnya penuh dengan tantangan dan risiko. (Kau harus baca deh pokoknya)
Bagian V Mencegah Rajawali jadi Merpati Sebenernya dalam diri kita ini terdapat jiwa-jiwa rajawali yang gagah berani dan mampu terbang yang jauh dan tinggi namun sistem menjadikan kita untuk menjadi merpati yang hanya mampu terbang di sekitaran rumah. Bagian ini lebih menceritakan sistem pendidikan yang ada di negeri ini yang sepertinya perlu dibenahi dan diperbaiki, peranan orang tua yang harus berani menjadikan anaknya menjadi rajawali.
"Musuh besar adalah kebanggaan yg berlebihan terhadap prestasi yg telah dicapai kemaren" (Hal : 9)
"Hanya org² berpikirlah yg tidak mudah tertipu, tidak menjadi manusia picik dan memikirkan diri atau kelompoknya sendiri. Dan tentu saja org yg berpikir akan menjadi manusia kreatif" (Hal : 253)
Sebenarnya agak tidak memenuhi ekspektasi sih. Awalnya saya kira buku Strawberry Generation ini akan secara spesifik membahas mengenai generasi Strawberry ini dan mengupasnya, seperti buku Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger? yang pernah saya baca (juga pernah saya resensi juga disini)
Buku ini menghadirkan kumpulan tulisan-tulisan dari Pak Rhenald yang sekiranya berkaitan dengan fenomena generasi Strawberry ini. Fokus utamanya tetap di permasalahan pendidikan ilmu dan mental yang justru membentuk generasi sekarang ini seperti layaknya buah Strawberry. Manis, berpenampilan menarik, tetapi rapuh dan pecah apabila digosok sedikit saja.
Kumpulan tulisan yang ditulis, walaupun dipisahkan dengan lima bagian fokus (Pada Mulanya adalah Mindset, Hi-Tech and Hi-Touch Parenting, Memetik Moral dari yang Viral, Bianglala Entrepreneurship, Mencegah Rajawali jadi Merpati.), menurut saya pribadi tetap terasa meloncat-loncat dan tidak fokus kepada satu bahasan tertentu. Tetapi itu menurut saya sih, siapa tahu kamu punya pandangan berbeda~
Walaupun begitu, tidak berarti buku ini buku yang buruk, tidak sama sekali. Buku ini tetap memberikan saya pandangan-pandangan segar dan menarik khas Bapak Rhenald Kasali. Tetapi tidak semenarik buku Self Driving.
nice book! parenting dan self motivation jadi satu. banyak yang bisa dipelajari dari cara pandang pak rhenald dalam mendidik mahasiswa nya dan memandang bagaimana pendidikan seharusnya berjalan. bukan semata-mata menggunakan metode lama dan bertahan melakukannya. dunia dinamis, hal yang perlu diperbarui harus di perbarui. ada istilah growth minset dan fix mindset. keduanya sering di temui di lingkungan dan kebanyakan memang fix mindset, yang bisa juga disebut campers kehidupan. siapa yang membentu? orang tua tentunya. ada ilmu baru dan wawasan baru di buku ini, bagi yang bukan orang ekonomi. soal teori 80/20 dan teori-teori lain. dari buku ini jadi bisa berkaca, orang tua dulu mendidik seperti apa (saya masuk climber, tidak pernah dikodi, walaupun selalu ada capaian yang harus di dapat) and then, this book is really really recomended!
Buku sangat menarik untuk dibaca dan relevan dengan fenomena di Indonesia saat ini. Informasi disajikan dengan gaya bahasa sederhana sehingga mudah dicerna. Buku ini kurang lebih berisi kritik terhadap orangtua yang terlalu memanjakan anaknya sehingga mereka menjadi generasi manja yang mudah menyerah, pengecut, dan tidak bisa apa-apa. Buku ini kemudian memberikan solusi bagaimana cara untuk mengatasi masalah ini disertai contoh-contohnya. Menurut saya, masyarakat umum terutama kaum orangtua atau calon orangtua perlu membaca buku ini agar generasi muda sekarang dan yang akan datang tidak menjadi korban salah asuh lagi.
Sebelumnya terima kasih kepada Kapten Tangguh yang telah membeli buku ini. Maaf udah nyuruh-nyuruh. Hehe
Buku ini sangat enak dibaca, bahasanya tidak berat. Tanpa sadar , tiba-tiba sudah banyak halaman yang dibaca. Buku ini benar-benar membuka wawasan dan cakrawala berpikir. Berbicara tentang pemuda, pendidikan, entrepreneur, dan politik. Sangat cocok dibaca oleh semua kalangan, pemuda, para orangtua, para guru, para pejabat, dan semuanya.
Bagian I Pada Mulanya Adalah Mindset Bisa jadi kita yang sekarang seperti ini, mungkin karena mindset yang ada pada diri kita saat ini adalah mindset yang seperti ini. Hehe, bingung ya? Aku juga. Mindset adalah set of assumption. Membahas tentang Fixed mindset dan Growth mindset. Ada sebagian dari kita yang masih merasa terkungkung, takut dengan tantangan, berada pada zona nyaman yang nyantai, mengandalkan ijazah, itulah yang disebut dengan fixed mindset. Sementara mereka yang tumbuh dan berani menghadapi tantangan dan masa depan, menganggap dirinya bodoh sehingga harus terus belajar ini adalah growth minset. (selengkapnya nanti baca sendiri ya bukunya hehe)
Bagian II Hi Tech and Hi Touch Parenting Lebih membahas tentang kemajuan teknologi yang pesat yang mampu mengubah perilaku sebuah keluarga, pendidikan terhadap anak dan pentingnya peranan orang tua dalam mendidik anak di era serba canggih ini agar mampu menciptakan anak yang tangguh. Kalau menurut teoriku sendiri agar menjadi Coconut Generation (kalau untuk perempuan Durian Generation) bukan Strawberry Generation lagi (hehe, penjelasan mengenai Coconut generation nanti akan ku bahas khusus deh, ini kan cuman teori ku saja). Bagian III Memetik Moral dari Yang Viral Ada beberapa cerita di bahas di sini. Dari cerita-cerita tersebut saya menyimpulkan nilai moral, yaitu ketegaran, menghargai, kejujuran, kesadaran, memanfaatkan peluang, sharing sosial (berbagi kepada sesame), open mind, dan berani mengambil resiko.
Bagian IV Bianglala Entrepreneurship Kisah-kisah di bagian ini mengajarkan kita bahwa hidup itu seperti bianglala, selalu berputar, kadang di bawah dan kadang di atas. Kita memandang orang lain sepertinya selalu senang, padahal orang itu sendiri dalam menjalani hidupnya penuh dengan tantangan dan risiko. (Kau harus baca deh pokoknya)
V Mencegah Rajawali jadi Merpati Sebenernya dalam diri kita ini terdapat jiwa-jiwa rajawali yang gagah berani dan mampu terbang yang jauh dan tinggi namun sistem menjadikan kita untuk menjadi merpati yang hanya mampu terbang di sekitaran rumah. Bagian ini lebih menceritakan sistem pendidikan yang ada di negeri ini yang sepertinya perlu dibenahi dan diperbaiki, peranan orang tua yang harus berani menjadikan anaknya menjadi rajawali.
"Musuh besar adalah kebanggaan yg berlebihan terhadap prestasi yg telah dicapai kemaren" (Hal : 9)
"Hanya org² berpikirlah yg tidak mudah tertipu, tidak menjadi manusia picik dan memikirkan diri atau kelompoknya sendiri. Dan tentu saja org yg berpikir akan menjadi manusia kreatif" (Hal : 253)
"Ilmu belajar menjadi lebih penting daripada apa yang dipelajari itu sendiri sehingga diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik."
- 🍓 Strawberry Generation, Prof. Rhenald Kasali . Bagi saya, buku ini penuh dengan insight perihal banyaknya gap dan tantangan yang dihadapi oleh generasi masa kini, dan bisa menjadi bahan evaluasi diri. Dan bagi saya, buku ini 10/10 ✨
Catatan tentang buku : 🤍 Variabel non kognitif : - keterampilan meregulasi diri - mengendalikan perhatian dan perbuatan - mengelola daya tahan (persistensi) - menghadapi tekanan - menunda kenikmatan - ketekunan menghadapi kejenuhan - kecenderungan untuk menjalankan rencana
🤍 Paud kutilang - rumah perubahan
🤍 Persiapan penting traveling : Passpor, penginapan, rencana perjalanan, apa yang mau dilihat, biaya dsb.
🤍 Kemampuan penting pendidik : Kemampuan mewadahi keingintahuan, memperbaiki watak dan karakter, membentuk masa depan mereka.
🤍 Hal yg perlu diperhatikan : Tergantung ikatan batin dengan tokoh, disiplin diri, daya juang, kejujuran, assertiveness, dan impian.
🤍 Kemampuan penting softskill : Keterampilan menulis yang hebat dan mampu mengelola frustasi yang kuat
🤍 Fav quotes : 1. " Manusia hebat bukanlah manusia yang memperoleh nilai mata pelajaran yang tinggi, melainkan manusia berkarakter kuat, dapat dipercaya, mudah diterima, memiliki growth mindset, berjiwa terbuka, dan pandai mengungkapkan isi pikirannya dengan baik."
2. "Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari resources, dan Ilmu belajar menjadi lebih penting daripada apa yang dipelajari itu sendiri sehingga diperlukan lebih dari seorang oengajar, yaitu pendidik"
- prof. Rhenald
🤍 Macam guru dalam kehidupan : Ada dua macam guru, yang pertama guru kognitif-si tahu banyak, dan kedua guru kreatif-si berbuat banyak.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pertama kali lihat judulnya, saya harap tidak hanya menjelaskan seluk beluk Strawberry Generation, tetapi juga memberi solusi keluar dari stereotip tersebut.
Buku ini sangat cocok dibaca orangtua terlebih pendidik. Sangat, amat saya rekomendasikan.
Namun tidak banyak membahas secara tuntas mengenai strawberry generation, seperti pada judulnya. Mungkin lebih tepat jika judul buku ini ada kaitannya dengan "sistem sekolah dan pendidikan". Bahkan untuk kosa kata Strawberry Generation tidak banyak saya temukan disitu, beserta banyak kosa kata asing yang mungkin disediakan catatan kakinya.
Terlepas dari segala kekurangan yang ada, isi buku ini banyak memberikan insight baru yang perlu dipraktikkan, termasuk buku bagus dan bermutu walau saya setuju dari beberapa review yg menyatakan bahasannya tidak fokus. Banyak halaman yg saya tandai dan notes dari buku ini, yah buku ini bagus, hanya saja tidak sesuai ekspetasi awal dari judulnya, menurut hemat saya.
Buku ini menggambarkan realitas anak muda zaman sekarang. Anak muda ini juga pada dasarnya dibentuk oleh lingkungan keluarga serta pendidikan. Sangat menarik bagi saya yang memiliki minat pada topik pendidikan. Buku ini juga berisi kritik bagi banyak pihak, seperti anak muda, orang tua, tenaga pendidik/pengajar, pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan, bahkan penulis juga menyebutkan kritik bagi dirinya sendiri. Pembahasan di buku ini meskipun serius namun tidak sulit dicerna, logika sebab-akibat yang dipakai juga sederhana, gak muluk-muluk. Kita diajak berpikir dan merenungkan kondisi sekitar yang sebenarnya juga kita alami.
Ada banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan dari buku ini. Meskipun intinya adalah jawaban terhadap teka-teki mengapa generasi muda kita begitu lemah. Prof. Rhenald Kasali menggambarkannya dengan gamblang. Generasi muda saat ini lahir dari orang tua yang berpendidikan lumayan yang membuat mereka menanjak masuk kelas menengah. Dengan kemampuan ekonomi yang cukup memadai, orang tua generasi muda saat ini berusaha memenuhi segala kebutuhan dan keinginan anaknya. Tanpa sadar membuat mereka menjadi manja dan lemah karena hidupnya serba mudah.
Dapet banyak insight dari Pak Rhenald. Beliau memberikan bekal bahkan fondasi krusial bagi orang-orang muda agar menjadi seorang yang tahan banting, berani keluar dari zona nyaman berani menghadapi tantangan, gak takut putar arah, mau mengeksplorasi dan menjadi insan kreatif, berani menemukan jati diri, berani mengusahakan untuk menjadi seorang rajawali alih-alih burung dara, dan menjadi seorang Driver daripada Passenger. Intinya sangat layak dibaca untuk memperkaya perspektif apalagi bisa dapet pengalaman dan pandangan beliau terhadap suatu isu itu beneran sangat bermanfaat. Terima kasih.
Buku ini direkomendasikan oleh sebuah grup literasi di whatsapp, maka saya berniat membacanya juga.
Namun, saya mengalami sedikit kekecewaan ketika memasuki bab-bab selanjutnya. Bagiku isinya sudah terlalu biasa, sebab topik yang diangkat sudah terlalu sering dijadikan obrolan oleh keluarga kami di rumah. Saya lebih senang jika seandainya bab I lebih dikembang luaskan.
Tapi secara kesuluhan, isinya bagus. Cocok dibaca saat santai atau melakukan perjalanan.
Jika sebelumnya sudah pernah membaca karya-karya Rhenald Kasali, tentu tidak asing dengan pandangan-pandangannya mengenai bagaimana mendidik generasi muda. Diandaikan sebagai buah stroberi, generasi muda masa kini dikatakan terlihat indah, namun mudah 'tergerus', daya tahan rendah. Jika sudha membaca buku-buku sebelumya, maka di awal buku menggugah rasa penasaran dengan ide stroberi ini. Akan tetapi lama kelamaan terasa terlalu banyak pengulangan argumentasi sehingga mulai dari separuh buku terakhir menjadi kurang menarik.
Strawberry Generation merupakan sebuah buku dari Rhenald Kasali yang berisikan mengenai perubahan yang tak bisa dihindari. Termasuk mengingatkan anak muda agar tidak menjadi Strawberry Generation. Generasi yang memiliki banyak ide dan gagasan kreatif tapi mudah menyerah dan gampang sakit hati.
Sebenarnya buku ini pernah saya baca saat awal terbit. Namun karena harus membuat sesuatu untuk kantor, jadi baca ulang.
One of the things I really like about this author is that not only he (rightfully) criticizes the notorious Strawberry Generation, but also mention the advantage & credit due of said generation. We've all heard how spoiled, weak-willed, disloyal and soft the people of strawberry generation can be - but can one thing be always be absolutely bad? (Answer: they are highly creative and able to provide out-of-box thinking if given plenty of freedom and an ideal goal to follow).
Prof.Kasali is an Indonesian educator of 30 years whose writings are collected in this book in a series of articles/small essays. His ideas are quite clear and directed towards an idea of a need of an education reform to create better individuals of our upcoming generation; to be better people and better employees.
Current Indonesian education still heavily relies on memorizing facts rather than fun/critical thinking which fosters exploration from knowledge and therefore: discovery. He also notes with conviction his belief that those who are academically successful might not be successful in life. Chances even are, that those who were successful in school (organized system) might face frustrations and difficulties in navigating life outside school. It seems that there is a concerning disconnection of expectations between fresh-grads and industry needs/employers.
Prof.Kasali also notes about overprotected children of economically-well off parents who are shielded and becoming like pigeons in gilded cage, rather than spreading their wings like eagles. This might be a contributing factor towards the creation of the Strawberry Generation - like strawberries, they are pretty to look at, but terribly fragile and mushy to the touch (easily hurt).
I am glad someone wise like the author is going viral online instead of mediocre influencers stuffing the internet these days. Yes to educators!
Buy this book as a self reflection of being a parents. Am I on helping my children or have a bad contribution for their path of the future. Writing in a simple words but with a deep meaning with clear example. Worth to read.
Bukunya masih related sama jaman sekarang. Setelah baca buku ini gue jadi sadar kalo misalkan ortu gue tuh keren bangen ternyata. Yang sebelumnya gue nggak sadar. Ortu gue dari dulu udah ngasih gue kebebasan buat gue ngelakuin banyak hal.