Menjelang pensiun seorang penulis, cewek yang dikenalnya lama yang kemudian dipanggilnya Farrah Fawcett karena rambutnya yang menyerupai Farrah Fawcett, memintanya untuk memilih suatu penggalan masa yang paling ingin dikenangnya, kalau ada. Tak bisa menolak permintaan tersebut, dia secara sembarangan memilih mendongengkan masa ketika ia berkelana sebagai pekerja di bidang distribusi film untuk bioskop-bioskop di Jawa Tengah. Begitu satu penggalan hidup dibuka, ternyata dia tak bisa dilepaskan dari mata rantai episode-episode kehidupan lainnya.
Manusia adalah produk sejarah, dan sejarah adalah produk kenangan, produk memori. Sedangkan memori merupakan ajang perebutan kekuasaan termasuk kekuasaan politik, berkaitan mana boleh diingat mana harus dilupakan, mana pantas dikenang sebagai pahlawan mana harus dikenang sebagai setan. Pengembaraan memorinya nyangkut pula pada pengalaman erotik bersama seorang bintang panggung kesenian tradisional.
Ini stambul tiga mutiara: kalau dia nyata, nyatalah kepalsuan; kalau dia palsu, palsulah kenyataan. Seabsurd hubungan roh, tubuh, pikiran.
Novel ini merupakan memoar Bre Redana semasa aktif di seni panggung dan sebagai pekerja distribusi film. Kalau tidak salah, ini adalah novel perdananya. Karena merupakan novel memoar, sisi estetika fiksi dalam novel ini kurang kuat.
Mbeling tapi penting! Very entertaining if you can loose the politically uncorrectness of female-targeted jokes and rants. Otherwise, gender activists would find this book rather offensive. I'm bias myself, because I *really* like the writer. (more words will follow).
Jikalau penulis menuliskan cerita dengan baik dan menarik, tentu kita membacanya dengan senang hati, terus membaca dan terus. Buku ini kuselesaikan bacanya hanya satu hari. Sebetulnya temanya agak berat, ada sejarah, filsafat, buku, musik, film dan banyak lagi tema dari buku ini. Tapi dengan penyajian yang ringan, pop bahkan lucu, jadinya ya enak dibaca (dan perlu). Pertama kali membaca buku Bre Redana adalah buku Majapahit Milenial. Di buku ini ternyata Bre Redana juga menceritakan kisah Majapahit dalam bentuk drama rakyat ketoprak (bukan gado2 pake kacang). Entahlah, selain drama rakyat, buku ini juga menceritakan juga tema film2 Oscar dibandingkan dengan film Sundel Bolong nya Suzzana. Disinggung juga sih, kenapa bioskop-bioskop di daerah jadi mati, bikin patah arang. Tapi ya begitulah zaman berlari. Siapa yang bisa beradaptasi dialah yang bisa bertahan hidup (katanya). Sejarah hanyalah pertempuran memori, menyangkut mana boleh diingat mana harus dilupakan, begitulah quote Bre Redana menutup buku 183 halaman ini. (1-5 nilai bintang, kupilih 5 bintang!)