Jump to ratings and reviews
Rate this book

My Salwa My Palestine

Rate this book
Ibrahim Fawal menuturkan kisah memilukan terusirnya sebuah bangsa dari tanah air yang telah ribuan tahun mereka diami. Fawal seakan-akan melantunkan nyanyian duka puluhan ribu penduduk Palestina yang dibantai, diperkosa, kehilangan rumah dan keluarga, bahkan kehilangan pandangan hidup karena situasi politik yang nyatanya masih berlangsung hingga saat ini. Bersamaan dengan itu, pecahlah kedamaian antar-umat Kristen, Islam, dan Yahudi, yang sebelumnya hidup rukun beratus-ratus tahun di Palestina. Dendam dan amarah pun tumbuh.

Kisah dalam novel ini tambah menarik karena diwarnai lika-liku cinta antara Yousif Safi, sang tokoh utama, dan Salwa, seorang gadis cantik di kotanya. Bukan sekadar kisah romantisme sebagai pemanis atau bumbu belaka. Bukan pula kisah cinta remaja yang penuh kecengengan. Yousif bahkan menempatkan Salwa dan Palestina pada tataran yang sama. Cintanya terhadap Palestina sama besarnya dengan cintanya terhadap Salwa. Bahkan ada benang merah yang menghubungkan bahwa perjalanan cintanya terhadap Palestina memiliki alur yang mirip dengan kisah cintanya terhadap Salwa.

Inilah kisah seorang anak manusia yang terjebak dalam situasi yang menguji kesetiaannya pada Tuhan, tanah air, dan kemanusiaan. Akankah ia mengkhianati semua yang dicintainya itu? Ataukah ia akan menyerah pada dendam dan amarah yang membutakan hati?

588 pages, Paperback

First published May 1, 1998

22 people are currently reading
423 people want to read

About the author

Ibrahim Fawal

6 books5 followers
Ibrahim Fawal (born 1933) is a Palestinian-American academic, former professor, and author of the historical novel On the Hills of God, about the experiences of a young Palestinian man during the Nakba, or "catastrophe" of 1948. He currently lives in Birmingham, Alabama.

Fawal was born in Ramallah, Palestine in 1933. He later moved to the United States, where he earned an M.A. in film from UCLA. He worked as an assistant to director David Lean during the filming of Lawrence of Arabia in 1961, before settling in Birmingham, Alabama, where he was a professor of film and literature at the University of Alabama.

In 1996, at the age of 63, Fawal began working on his Ph.D. at Oxford University in England. His thesis, on renowned Egyptian filmmaker Youssef Chahine, was published by the British Film Institute and University of California Press in 2001. Fawal's first novel, On the Hills of God, was published in 1998 and tells the story of the Palestinian Nakba, or "catastrophe", through the eyes of a young Palestinian man named Yousif Safi. It was the recipient of the PEN Oakland/Josephine Miles Literary Award, and has been translated into Arabic and German.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
53 (33%)
4 stars
54 (33%)
3 stars
38 (23%)
2 stars
8 (5%)
1 star
7 (4%)
Displaying 1 - 30 of 33 reviews
Profile Image for Huda.
196 reviews46 followers
May 3, 2009
This is a shocking book, it just shockes you, that's what it does. It's also one of the few books that made me shed actual tears! I never really knew how Israel was created, now I do! It's a great novel, but it's also haunting, it made me toss in bed and I couldn't sleep because of it!
Profile Image for Edita.
1,590 reviews597 followers
June 10, 2016
It only means that the obstacle was bigger than my ability to remove it.
Profile Image for Ron.
761 reviews146 followers
May 1, 2012
Fawal's novel provides an account of the 1948 partition of Palestine, told from the point of view of a town of mostly Christian Arabs caught up in the war between Arab and Zionist armies, which led to their being displaced from their homeland. A doctor's family is at the center of the story, but such is the depth and breadth of the narrative that we come to know scores of characters. We also become intimately familiar with Ardallah, the town they call home, its streets and shops, the surrounding hills, and the seasons, as well as the social fabric, traditions, and distinctly Arab culture that make it a centuries-old community.

It is difficult at the end to put this book down without a sense of both loss and injustice. It is not the complete story of the creation of Israel, but it represents an understanding of it from an Arab perspective that accounts for the continuing hostility toward Israel and the West. The UN-sanctioned partition becomes yet another incomprehensible betrayal of the Arab Middle East by the West following the fall of the Ottoman Empire. The sometimes brutal determination of the Zionists is seen as yet another Crusade by the West to colonize and dominate those for whom the Middle East has always been home. Defenders of Israeli interests there will find this novel unsettling.

The novel itself is intent on telling its story and not creating great literature. Some readers will find aspects of the plotting uncomfortably melodramatic - in particular the young protagonist's attempt to prevent the marriage of the girl he loves to another man. There are lapses in prose style later in the book, as modern Americanisms slip into the narrative, and the author is not a master of metaphor. Still, the novel is a significant achievement in storytelling, and it's important to stick with it to the final chapters, which describe in harrowing detail the plight of what would become a generation of refugees. It is a story that should be read by anyone attempting to understand the continuing conflict between Israel and its neighbors.
Profile Image for Jurnal Si Bugot.
225 reviews7 followers
July 30, 2012
Selama ini saya sudah sering membaca literatur tentang nestapa bangsa Palestina. Selama itu saya meyakini bahwa perang di Palestina adalah antara umat muslim dan umat yahudi. Dan keyakinan itu saya tumpuk sejak SMP, sampai saya membaca buku ini…

Tidak seperti novel-novel lain bertema Palestina yang saya baca -yang sangat kental nuansa keislamannya- novel ini justru diceritakan dari sudut pandang Yousif, seorang pemuda nasrani. Tahuilah saya, sebelum invasi zionis biadab itu umat islam, kristen dan bahkan yahudi hidup damai dan saling tolong menolong di Palestina yang indah.

Cerita bermula di tahun 1947,saat mandat Inggris atas palestina berakhir. Yousif masih duduk di sekolah menengah saat itu. Ia berasal dari keluarga berada, ayahnya seorang dokter dan penganut nasrani yang taat. Yousif berteman akrtab dengan Amin dan Isaac. Amin yang beragama islam berasal darti keluarga menengah ke bawah. Sedangkan Isacc seorang yahudi. Bersama-sama mereka menjalani masa pubertas seperti kebanyakan remaja lainnya. Dan tentu saja ada cintya-cinta remaja.

Yousif jatuh hati pada Salwa, putri teman ayahnya. Salwa adalah seorang gadis yang sangat cerdas dan berpikiran sangat maju untuk jamannya. Namun sesuai adat yang telah berlaku saat itu, Salwa telah dijodohkan dengan pria mapan yang 15 tahun lebih tua dari usianya. Yousif yang masih dianggap anak kecil tentu saja patah hati. Namun petaka sesungguhnya datang di bumi Palestina, kali ini bukan sekedar patah hati.

Mulanya Yousif cs melihat sekelompok turis melakukan tindakan mencurigakan di bukit Tuhan. Mereka curiga itu adalah mata-mata zionis. Namun sayangnya tidak ada yang percaya pada cerita tiga bujang tanggung selain paman Bahasyim. Rakyat Palestina yang biasa hidup damai sulit menerima hal ini. Bahkan ketika Inggris menyerahkan sebagian weilayah Palestina untuk israel setelah mandatnya berakhir. Ayah Yousif masih yakin Palestina akan baik-baik saja sehingga menolak pembelian senjata. Sampai disini saya tak bisa tidak membenci Inggris yang ternyata punya andil dalam membantu penjajahan Palestina. Lalu setelah membuat masalah seenaknya memindah tangankan hal ini ke PBB. Dan ternyata PBB sama brengseknya.

Situasi makin mencekam, Israel mulai membumihanguskan sebnuah kota di Palestina. Dan kebiadaban Israel sungguh menjadi-jadi, para tentaranya bahkan m,emperkosa wanita-wanita di depan keluarganya. Orang-orang kaya akhirnya mulai berpikir untuk migrasi ke negara tetangga. Sementara yang miskin tidak tahu harus berbuat apa. Perjuangan Yousif buklan lagi sekedar merebut hati Salwa tapi merebut kembalil Palestinanya.

Fawal dengan fakta-fakta sejarahnya yang akurat berhasil menyuguhkan dframa yang mengaduk-aduk emosi saya. Selama membacva novel ini, berkali-kali saya mengurut dada menahan sesak. Dan entah berapa kali sya mengutuk-ngutuk dan ingin meneriakkan :

Buka mata dong, siapa yang sebenarnya penjajah…

Tapi bagian paling memilukan bagi saya adalah saat Yousif dan Amin harus berhadapan dengan sahabatnya sendiri Isaac sebagai musuh. Perang benar-benar menyisakan kepiluan mendalam, tidak yang benar-benar menang dalam perang. Yang ada hanya kesedihan tak berkesudahan. (Tuh kan, makin emosional jadinya). Baiklah, dari pada saya makin sesdak napas dan mengunyah mouse sakiong geramnya, revbiew ini diakhiri saja. Dan saya minta maaf karena menjadi sedikit emosional.

Lima bintang untuk buku ini dan sangat direkomendasikan bagi teman-teman yang masioh belum paham fakta yang terjadi di Palestina. karena meskipun bergenre fiksi, sejarah dalam novel ini sangat akurat.
http://bugot.wordpress.com
Profile Image for Rahmadiyanti.
Author 15 books174 followers
October 31, 2023
Tak ada tragedi paling memilukan selain terusir dari negeri sendiri. Ketika sekelompok entitas (dengan bantuan sekian bangsa) mengakuinya atas dasar kitab suci yang kemurniannya pun entah.

Tahun 1947 bagi Yousif Safi, pemuda Palestina berusia 17 tahun adalah tahun menjelang kelulusan SMA. Tahun 1947 adalah tahun saat mandat Inggris atas Palestina berakhir. Seperti pemuda-pemuda lain, selulus SMA Yousif ingin kuliah dan mengejar impian sebagai pengacara, serta menikahi gadis pujaannya, Salwa.

Yousif anak satu-satunya dari Jamil Safi, seorang dokter terkenal di kota Ardallah yang bercita-cita membangun rumah sakit. Keluarga Yousif penganut Nasrani yang taat. Yousif bersahabat dengan Amin, seorang Muslim, dan Isaac, yang keturunan Yahudi. Suatu hari tiga sahabat tersebut memergoki sekelompok wisatawan yang datang ke Ardallah dengan gerak-gerik mencurigakan. Mereka curiga. Dan kecurigaan mereka terbukti, ternyata para turis itu adalah kaum Zionis yang sedang mengamati daerah Ardallah.

Pada tanggal 29 November 1947, DK PBB mengeluarkan Resolusi DK PBB No.181 (II) yang membagi Palestina menjadi tiga bagian. Hal ini mendapat protes keras dari penduduk, termasuk penduduk Ardallah. Petaka pun datang pada 14 Mei 1948 saat kaum Zionis memproklamirkan berdirinya negara Israel. Puluhan ribu rakyat Palestina terusir dari kampungnya. Tentara Zionis juga menyerang dan membumihanguskan kota-kota.

Serangan akhirnya tiba ke Ardallah. Ayah Yousif tewas dalam sebuah usaha mempertahankan kota. Sementara sebelumnya, Isaac, sahabat Yousif juga tewas karena dipaksa menjadi Zionis dan menyerang Ardallah. Kisah cinta Yousif pun bagai gelegak perang, karena Salwa dijodohkan orangtuanya oleh Adel Farhat. Yousif dan keluarganya, serta semua penduduk Ardallah harus terusir, setelah sebelumnya mengalami kekejaman dari tentara Zionis. Rumah-rumah mereka dibom. Bahkan Hiyam, istri sepupu Yousif diperkosa di hadapan suami dan keluarganya. Mereka harus menjalani perjalanan panjang menuju Yordania dalam kondisi mengenaskan. Banyak yang tewas di tengah perjalanan, termasuk ayah Salwa.

Membaca novel ini, jujur, rasanya menggelegak. Ibrahim Fawal, sang penulis, menuturkan dengan detil. Tak heran, sebab ia merasakan sendiri hal tersebut. Terusir dari rumahnya, desa tempatnya lahir, dan tercabut dari negeri bernama Palestina.

Fawal dengan elegan menyandingkan kisah cinta Yousif-Salwa dengan perjuangan Yousif dan bangsanya mempertahankan negeri. Tak usah khawatir bahwa novel ini hanya kisah cinta semata yang berbalut peristiwa sejarah. Kisah cinta dalam novel ini cukup proporsional, tak berlebihan.

Saya kurang merasa "include" dengan novel ini di bab-bab awal. Rasanya kok setting seperti bukan di Palestine. Tapi setelah itu saya menikmati, mengalir, tak ingin jeda. Ada emosi kesedihan, marah, geram di sana.

Palestina memang lara tak berujung (hingga batu bicara kelak...). Setiap orang bisa bicara perdamaian, tapi perdamaian adalah anak kandung keadilan. Perdamaian hakiki akan tegak, mana kala keadilan pun ditegakkan. Dan keadilan adalah saat orang-orang Palestina memperoleh kembali tanah milik mereka yang dirampas Israel, saat Zionis Israel membebaskan ribuan--bahkan puluhan ribu tawanan Palestina, saat Masjidil Aqsha dibebaskan dari tangan kotor Zionis...

Novel ini mendapat penghargaan PEN-Oakland Award. Sang penulis sendiri, Ibrahim Fawal lahir di Ramallah, Palestina, dan pindah ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi di UCLA. Fawal pernah bekerja sama dengan David Lean dalam film Lawrence of Arabia.
Profile Image for Citlalli.
184 reviews58 followers
April 28, 2010
In 3 words: brilliant, informative & heartbreaking!
Profile Image for Endah.
285 reviews157 followers
December 26, 2008
Juli 1948
Musim panas di Palestina.

Matahari terasa lebih terik, memanggang ribuan kepala manusia yang berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman mereka di Ardallah menuju Jericho, kota kecil di perbatasan Palestina dan Jordania. Ardallah adalah sebuah kota yang terletak 45 kilometer di barat laut Jerusalem dan 23 kilometer sebelah timur Jaffa. Ardallah merupakan salah satu kota tujuan wisata di Palestina. Setiap musim panas, populasi penduduknya meningkat seratus persen oleh kedatangan para turis dari berbagai penjuru dunia. Penduduknya hidup rukun dan damai dalam kemajemukan agama: Islam, Kristen, dan Yahudi.

Namun, itu dahulu, setahun yang lalu sebelum kaum Zionis Yahudi masuk secara paksa dan mengusir pergi warga Palestina dari tanah air mereka sendiri.

Bermula pada tanggal 29 November 1947, ketika dunia kehilangan akal sehatnya dan menyebabkan timbulnya bencana berkepanjangan bagi negeri Palestina. Hari itu, para pemimpin dunia bersama-sama melakukan 'bunuh diri' massal lantaran menyetujui bersama-sama resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai pembagian Palestina. Kota suci Jerusalem dan sekitarnya menjadi wilayah dan hak internasional, dan Inggris harus mengakhiri kekuasaannya pada bulan Agustus.

Resolusi tersebut didukung tak kurang oleh tiga puluh tiga negara, tiga belas menolak, dan sepuluh abstain. Sudah pasti Amerika Serikat berdiri paling depan di antara para negara pendukung. Dengan kekuasaannya, negeri yang saat itu dipimpin oleh Presiden Truman, memaksa para sekutunya dengan cara mengancam untuk ikut memberi dukungan. Bahkan negara sebesar Prancis pun tunduk pada ancaman tersebut : tak akan mendapat bantuan luar negeri lagi jika tak mendukung rencana pembagian Palestina itu.

Dan itulah awal musibah sepanjang masa bagi warga Palestina. Rakyat yang telah mendiami tanah tersebut secara turun-temurun selama berabad-abad lampau harus menyingkir, terusir dari bumi kelahiran mereka oleh pendatang baru: kaum Yahudi Zionis.

Zionisme ialah sebuah gerakan kaum Yahudi yang hendak mendirikan kembali negara Israel. Istilah ini mula-mula dipakai oleh Nathan Birnbaum alias Matthias Acher (1864-1937), seorang budayawan Yahudi. Kata "zion' sendiri bermakna "bukit". Bagi kaum Yahudi, Zion adalah nama sebuah bukit di Jerusalem. Sejarahnya, pasca direbutnya kota itu dari orang Jebus oleh Israel di bawah kepemimpinan Raja Daud, dibangunlah sebuah istana di atas bukit tersebut. Selanjutnya, Bukit Zion menjadi tempat ibadat sekaligus pemerintahan Yahudi. Bagi orang Israel, Zion berarti tanah air mereka pada masa Palestina kuno.

Kongres Zionisme yang pertama diadakan pada 1897. Sejak itu, Zionisme mulai turut bermain di gelanggang politik. Berkat upaya para pemimpinnya, pada 1917 berhasil membujuk Inggris untuk menandatangani Deklarasi Balfour yang menjanjikan suatu negara berkebangsaan yang berdaulat kepada orang-orang Yahudi itu. Tanah yang dijanjikan itu, sesuai keputusan Kongres Zionisme 1905, adalah Palestina dan sekitarnya.
Tiga puluh tahun kemudian (1948), terwujudlah impian orang-orang Yahudi tersebut untuk memiliki tanah air sendiri, meskipun dengan cara yang sangat terkutuk: membantai jutaan orang Palestina.

Kurang lebih demikianlah sekelumit sejarah Palestina yang tertuang dalam novel On The Hills of God ini. Entah demi pertimbangan bisnis (pasar), judul tersebut diubah menjadi My Salwa My Palestine berikut judul kecilnya (ditulis dengan huruf berukuran kecil sehingga nyaris tak terperhatikan ): Di Atas Bukit Tuhan. Judul yang sudah cukup panjang itu masih dirasa belum cukup, sehingga perlu ditambah dengan sebaris kalimat "keterangan" : Kisah Tentang Kesetiaan Pada Tuhan, Tanah Air, Dan Kemanusiaan.

Sejatinya, My Salwa My Palestine ini adalah sebuah fiksi sejarah. Riwayat pendudukan Israel di Palestina membingkai keseluruhan kisah dalam buku ini. Melalui tokoh Yousif Safi, pemuda berusia 18 tahun, Ibrahim Fawal memberi semacam kesaksian getir tentang perang Palestina yang tak kunjung usai hingga hari ini. Perang yang tak seimbang antara Palestina (didukung oleh Mesir, Jordania, Irak, Siria, dan Lebanon) di satu pihak berhadap-hadapan dengan Israel (dibantu Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya) di pihak lain. Perang yang sempat membuat rakyat Palestina, selaku pihak paling menderita, meragukan keberadaan Tuhan.

"Tuhan, kalau Engkau membiarkan anak-Mu sendiri dipaku dan dilukai, kalau Engkau membiarkan ia mati di kayu salib seperti seorang penjahat, tentu Engkau akan membiarkan rumah-rumah kami terbakar. Kalau begitulah cara-Mu memperlakukan anak-Mu sendiri, lalu kepada siapa lagi orang Palestina memohon perlindungan? Engkau memperlakukan kami seakan-akan kami bukan anak-anak-Mu, seakan-akan Engkau tidak mencintai kami. Engkau memperlakukan kami tidak lebih baik dibanding raja-raja dan presiden kami memperlakukan kami…." (hlm56)

Palestina yang damai dalam sekejap telah berubah menjadi ladang pembantaian. Tercatat di antaranya pembantaian paling mengerikan di Deir Yasin yang terkenal itu. Nyaris tak ada yang selamat dalam aksi biadab tersebut. Para tentara Zionis itu bukan saja menembaki kaum prianya, tetapi juga memerkosa para wanita dan membunuh anak-anak. Menyusul kemudian, setelah Inggris hengkang pada Mei 1948, desa-desa yang lain menjadi sasaran serbuan. Termasuk Ardallah, kota kecil tempat Yousif dan kekasihnya, Salwa, tinggal.

Perihal percintaan Yousif dan Salwa bukanlah merupakan kisah utama. Hanya sepercik drama kecil pelengkap cerita sesungguhnya yang jauh lebih besar : drama (tragedi) kemanusiaan yang dipungut dari medan perang paling brutal dalam sejarah.

Membaca sejarah yang dituturkan lewat sebuah karya fiksi tentu jauh lebih menyenangkan ketimbang mengetahuinya melalui buku-buku sejarah yang "garing" dan menjemukan itu. Jika semua sejarah bangsa-bangsa di dunia ini bisa disampaikan semenarik novel-novel fiksi, alangkah asyiknya. Pelajaran sejarah di sekolah-sekolah pasti tidak akan ditinggal tidur oleh para siswa.

On The Hills of God adalah novel perdana Ibrahim Fawal, pengajar film dan sastra di Birmingham-Southern College dan University of Alabama. Ia pernah menjadi asisten sutradara dalam film klasik terkenal Lawrence of Arabia. Novel sulungnya ini meraih PEN-Oakland Award untuk kategori Excellent in Literature. Sebagai seorang kelahiran Ramallah, Palestina, sangat dapat dimaklumi jika Fawal banyak menampilkan sisi emosional dalam kisahnya ini. Bagian-bagian memilukan disajikan secara gamblang sehingga berhasil menyentuh rasa kemanusiaan kita. Saya pribadi dibuat termangu-mangu oleh fakta-fakta yang dibentangkannya. "Benarkah sedemikian kelam kenyataannya?" gumam saya dalam hati. Tetapi saya harus percaya, hampir tak ada kisah indah tentang perang. Di manapun. Kapan pun. Perang senantiasa hanya mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan. Seperti yang kerap kita saksikan.

Namun, hal paling mengherankan adalah mengapa orang-orang Yahudi yang pernah mengecap pahitnya sejarah menjadi 'orang buruan' itu kini tega berbalik menjadi bangsa yang memburu-buru bangsa lain? Andai pun itu sebuah tindakan 'balas dendam', mengapa harus kepada orang-orang (Arab di) Palestina?

Profile Image for Prima patriotika.
100 reviews21 followers
June 15, 2011
Buku antara fiksi namun memuat juga sejarah yang kental tentang asal mula penjajahan di Palestina. Palestina yang digambarkan pada awalnya merupakan negara yang damai dengan tiga agama berbeda hidup berdampingan yakni Islam, Yahudi, dan Nasrani.
Namun tiba-tiba menjadi terjajah dan dilingkupi oleh ketakutan akan ledakan-ledakan bom di desa-desa dengan sasaran orang-orang sipil.
Cerita yang dramatis bagaimana perang memporak-porandakan persahabatan 3 anak dari agama yang berbeda.
Profile Image for Novi_khansa.
85 reviews13 followers
January 8, 2012
Setelah membaca novel ini, tak seorang pun bisa berpura-pura tidak mengetahui tragedi yang terjadi di Palestna pada 1948 -Edebiyat

... dan hingga hari ini...
Profile Image for Hakni..
166 reviews3 followers
December 23, 2021
Cuma ini satu-satunya buku yang bikin nangis sejam 😭
Pas udah masuk suasana perang, rasanya campur aduk banget. Gak hanya keluarga aja, tapi persahabatan antar umat beragama pun juga menjadi taruhannya.
Buku ini bagusss, dan gampang banget untuk dicerna meskipun baca yang versi terjemahan. Tidak lupa perjalanan sejarah Palestina & Israel yang dibeberkan oleh penulis lumayan lengkap untuk bisa menggambarkan situasi keadaan perang dan perebutan wilayah saat itu. Happy reading! 😍
1 review
January 17, 2023
mohon infonya jika ada yang mengetahui novel ini dalam versi bahasa Arab nya, adik sepupu saya membutuhkan untuk tugas akhir kuliahnya.

Terima kasih
Profile Image for Muhammad.
734 reviews2 followers
December 6, 2025
Having girlfriend are always good optioned. There was already Islam. Ahlussunnah wal jama'ah.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Febyan Kafka .
479 reviews15 followers
November 9, 2013
Kisahnya diawali ketika Yousif Safi,Amin,Isaac Shaalan menguntit 3 orang turis yg mencurigakan.Membawa teropong dan alat untuk mengetahui kondisi topografi Ardallah,tempat tinggal mereka.Ketika Yousif menyampaikan hal ini pada ayahnya,dokter Jamil Safi,sang ayah mengabaikannya sama sekali.Dokter Jamil Safi mengatakan tidak ada ancaman apapun terhadap Ardallah dan Palestina.Sementara itu Yousif justru mencium adanya ancaman dari luar terhadap tanah airnya.Yousif yg seorang Kristiani bersahabat dengan Amin yg Muslim asal Gaza yg pindah ke Ardallah,dan Isaac Shaalan,seorang Yahudi yg sudah beberapa generasi tinggal di Ardallah.Walaupun berbeda keyakinan,mereka bersahabat akrab.Bahkan Isaac dan Yousif adalah saudara sesusuan,karena ibu Isaac yg menyusui Yousif sewaktu bayi.Di tengah persahabatan dengan 2 kawan karibnya,Yousif jatuh hati pada Salwa Tawaeel putri sahabat ayahnya,Anton Tawaeel.
Begitulah kisah persahabatan yg indah diantara tiga sekawan,Yousif,Amin dan Isaac berkelindan dengan kisah cinta Yousif dan Salwa.Kisah cinta penuh haru dan perjuangan yg bukan sekedar penuh romantisme belaka.Salwa bagi Yousif tak ubahnya seperti tanah air Palestina yg dicintainya,Yang selalu ia cintai dan jaga sepenuh hatinya.Sayangnya kisah persahabatan dan cinta ini diakhiri dengan pengusiran besar-besaran bangsa Palestina dari tanah air mereka.Yousif pun kehilangan ayahnya yang tewas dalam serangan mempertahankan Ardallah dari serangan Zionis.Setelah kehilangan ayahnya,Yousif pun kehilanga sahabat karibnya yg tewas di depan matanya.Isaac Shaalan yg dipaksa pihak Zionis untuk memata-matai Ardallah tewas setelah tertangkap warga.Kerukunan dan kedamaian di Palestina perlahan mulai terkikis.Pembantaian,penyerbuan bahkan pengkhianatan mewarnai hari-hari bangsa Palestina yg berusaha mempertahankan tanah airnya.
Ditulis dari sudut pandang seorang pemuda Kristiani Arab,buku ini menunjukkan pada kita bagaimana keadaan Palestina sebelum dan sesudah deklarasi negara Israel.Kerukunan antar warga Yahudi dan Arab sudah terjalin berabad-abad,Muslim,Kristiani dan Yahudi hidup berdampingan dalam damai.Hingga kedatangan kaum Zionis yg mengusir warga Arab baik Muslim maupun Kristiani dari tanah mereka,serta memaksa warga Yahudi Palestina membantu kejahatan mereka.Bersamaan dengan itu tersulutlah konflik tiada henti di Palestina hingga saat ini.Bencana & konflik yg diawali rencana pembagian Palestina oleh PBB hingga deklarasi berdirinya negara Israel yg diikuti perang Arab-Israel tahun 1948.
Ibrahim Fawal.sang penulis yg merupakan imigran Palestina di Amerika berusaha menceritakan peristiwa An Nakbah (katastrof) 14 Mei 1948 dari sudut pandang bangsa Palestina.Ia berusaha membuka mata dunia bahwa apa yg disebut Israel sebagai perang kemerdekaan mereka,sesungguhnya adalah pengusiran & pembersihan etnis Arab di Palestina.Fawal juga menggambarkan bahwa konflik Palestina-Israel bukan hanya konflik agama Muslim melawan Yahudi tapi juga konflik politik Internasional dan krisis nasional bagi seluruh rakyat Palestina.Dengan mengangkat Yousif yg seorang Nasrani sebagai tokoh utama,Fawal seolah menjelaskan bahwa seluruh warga Palestina adalah korban,baik mereka Muslim ataupun Kristiani.
Terlepas anda mendukung Palestina atau Israel,buku ini sangat saya anjurkan untuk anda baca.Dengan membaca novel ini kita akan membuka mata lebar-lebar tentang apa yg sesungguhnya terjadi di Palestina.Buku ini pun telah banyak menyegarkan sudut pandang saya tentang konflik Palestina-Israel.Begitu mendalam pengaruhnya bagi diri saya,sehingga layak mendapat lima bintang
Profile Image for Gregg Wingo.
161 reviews22 followers
December 16, 2015
"On the Hills of God" begins as a Tom Sawyer coming of age tale involving four friends. However, being set in 1947 British Palestine we are rapidly pulled into the hazardous currents of history like Huckleberry Finn on his raft in the Mississippi. The four principal characters are three boys - a Muslim, a Jew, and a Christian - and a Christian girl. They are all Palestinians in a multicultural Mediterranean hilltop resort far from the Arab desert in both space, time, and history. It is a Palestine that feels more like modern Israel than the West Bank or Gaza and like I have found in my travels through impoverished states in the Middle East and Muslim Asia it is populated by normal people desperately hoping to have normal lives and futures for their children and their communities.

These are children thrust into adulthood by events beyond their control. Yousif's unlikely Jim is his father, a man of peace in a time that demands men of war, a man as helpless against the forces surrounding him as an African American slave in the American South but one who strives and inspires his youthful sidekick and son to a higher state of existence. The direct horror of the Zionist takeover is mainly in the background but its ramifications drive the action in the book.

The work is stunning and empathetic, and a window in the fate of all displaced peoples.
Profile Image for Ahmad.
61 reviews54 followers
January 12, 2014
******* SPOILERS *********

Its been a while since a book has left my heart heavy like this. On top of the Palestinian tragedy Yousif has to deal with growing up when his whole world is turned upside down and everything around him turns to ashes while trying to maintain his humanity and ideals and to top it off living through a heartwarming love story.

i was shaken with him when his father died and happy when his love was fulfilled.

Crazy as it may seem i found myself hoping while reading the part of the arab legion marching victorious that history might have been rewritten and this would end in a happy ending.

I found myself falling in love with salwa and the fire she radiates, she reminded me of this : ' a good man is as strong as the right woman needs him to be.'

Fawal did a great job trying to deliver an accurate account of the Palestinian tragedy for the western reader through a personal gripping tale. Part of reading this book was reading about all the events he describes and the atrocities committed against the Palestinian people.
Profile Image for Mita Oktavia.
Author 1 book10 followers
December 28, 2014
Lumayan. Sempat dibuat ngeri sama keadaan perang yang tergambarkan. Saya kira murni tentang sejarah tanah palestine itu sendiri, namun ternyata sejarah 'hanya' seperti bagian kecil saja. Sisanya, lebih fokus ke kisah percintaan tak mudah antara yousif dan salwa sepertinya. Saya menyukai kisah persahabatan lintas agama antara Yousif yang seorang Nasrani, Amin yang seorang Muslim dan Isaac yang seorang Yahudi di dalamnya, terasa indah sekali. Dimana kepolosan dan ketulusan persahabatan mereka harus 'rusak' berantakan akibat perang, ambisi, egoisme dan kekuasaan. Sayangnya porsi kisah persahabatan mereka terlalu sedikit dan terlalu cepat berakhir. Kenyataan, tanah Palestine yang harus porak-poranda akibat perang. Emosi saya sempat teraduk-aduk saat membaca bagian yang tentang perang dan 'perpisahan' memilukan ketiga sahabat itu. Begitu terasa menakutkan dan menyedihkan. Ah ya, satu hal lagi. Buku ini dikisahkan lewat penuturan seorang Yousif yang notabennya seorang Nasrani dan entah mengapa, itu menjadi daya tarik tersendiri bagi saya.
Profile Image for Achi hittah.
23 reviews
October 8, 2007
mm... menurutku ni buku lumayan bagus, meskipun di tengah2 cerita aku sembet boring banget bacanya..
tapi mungkin jadi bagus banget bagi orang2 yang suka ma sejarah dan politik..
untold story about palestine..
bagaimna para pejuang palestine mempertahankan negaranya agar tidak direbut oleh zionis yang ingin mendirikan negara yahudi dengan nama yang sekarang kita kenal, yaitu israel.
peperangan itu di dasari oleh inggris yan gberjanji kepada zionis, bahwa setelah kependudukan mereka habis, yahudi akan diberikan sebagian tanah palestin agar dapat mendirikan negaranya sendiri. sehingga akhirnya antara umat muslim, kristen dan yahudi yang tadinya rukun dan damai, akhirnya jadi terpecah belah...
ufff.... bikin trenyuh de ceritanya..
baca aja deh lanjutannya tar kalo aku ceritain rinci ga seru dooong..
Profile Image for Pam Rasmussen.
47 reviews9 followers
August 2, 2008
This is a novel about the creation of Israel, written from the point of view of a Christian Palestinian family evicted from their home just after the UN partition. There were many times when I thought the novel was a bit amateurishly written, the story seemed rushed or the charcters speaking lines like puppets. However, it's ending was powerful and rang true, and I'm glad I read it. The author was clearly drawing on both formal and family history.
Profile Image for Agus Harnowo.
4 reviews17 followers
June 19, 2013
Mungkin kita semua tahu, tentang tragedi bangsa Palestina yang bagai pelanduk diantara gajah yang bertarung, terhimpit dan terbuang dari tanahnya sendiri, demi absurditas konsep 'tanah air' untuk bangsa Yahudi. Tetapi ketika kita membaca buku ini, sungguh suatu pengalaman yang berbeda, semua kejadian menjadi nyata dan hidup di 'zat abu-abu' kita.
Profile Image for Joan.
235 reviews
November 17, 2010
This book gave me the history of the Palestinian problem from their perspective. I loved it. I always wondered why the Jews had to have this particular region for their own. I don't believe in a theocratic country.
Profile Image for Arif.
6 reviews16 followers
July 5, 2007
Good Book!! if u want to know about palestine more detail, outborder of religion, u'll find out in this book... check this out... i gv five stars for this...
Profile Image for Dewi retno dumilah.
6 reviews
September 11, 2008
good books, it open my vision to what really happen in Palestine.hope can finds more in my journey into the books...
Profile Image for Lala.
13 reviews1 follower
October 9, 2007
Buku yang ngasih pandangan lain tentang keadaan Palestina tahun 1945an. Aku baca versi indonesianya. Judulya, "My Salwa My Palestine"
Bagus bagus bagus!
Profile Image for Riri.
61 reviews1 follower
July 12, 2008
all bout love..
struggle...
losing...
Profile Image for Rieka Sikumbang.
7 reviews
August 15, 2008
lamaaaa banget gw baca buklu ini, pas mo selesai gw nyesel kenapa ga buru2 baca nya...ternat menyentuh..
Profile Image for Ade.
45 reviews10 followers
September 1, 2008
Love, War, Life, and the wild of a teens soul. Learning much about love in other side. some different love calls nasionalism
Profile Image for Zia's Iqra.
19 reviews2 followers
October 13, 2008
perjuangan...
pengorbanan...
yg tak terlunaskan,
palestina, pengembaraanku,
Profile Image for Evi Yuniarti.
14 reviews
Currently reading
January 7, 2014
Couldnt finish it, ... :( but one thing i want to say is Palestine will be free... InshaaAllah..
Profile Image for Uschi.
165 reviews
February 6, 2011
I feel the book is somewhat biased, but it was interesting to hear the story of the beginning of Israel as a country told from the Palestinian side.
Displaying 1 - 30 of 33 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.