Vanessa melemparkan tubuhnya ke sofa seperti orang kesetanan.
"Gue sebel, By! Gue sebeeeel!"
Abby meladeninya santai, memperhatikan ke-exorcist-an cewek yang sangat dikenalnya itu.
"Mau nikah kek, mau kagak kek, itu kan urusan gue! Kenapa sih, malah emak-emak yang rempong ngurusin gituan?!" Vanessa melanjutkan rengekannya.
"Nyokap lo suruh lo kawin emang udah ada calonnya?" tanya
Abby retoris karena tahu dengan jelas bahwa sahabatnya itu sedang tidak berpacaran saat ini.
"Itu dia! Nyokap mau nyomblangin gue sama kenalannya! Mending kalo cakep! Nah ini mah… ah nggak deh pokoknya!" Vanessa mengedikkan bahunya. "Mending gue kawin ama lo sekalian, Nyong!"
Abby terdiam beberapa saat sebelum kemudian dengan santainya melanjutkan, "Ya udah. Gitu aja."
"Ha?"
"Married sama gue aja, Va."
Bagi Vanessa, menikah dengan Abby—sahabatnya sejak SMA—merupakan cara paling jitu mengatasi kerewelan orangtua. Begitu pun dengan Abby. Namun pernikahan itu malah menjadi rumit: orangtua mereka menuntut untuk segera punya cucu; dan rasa cinta di antara mereka yang mulai tumbuh, tapi tidak berani diungkapkan.
Another novels with tagline "telah dibaca xx juta kali" fyuh..
Waktu baca blurp dan masuk ke cerita bagian awal, saya ngerasa happy banget karena alurnya cukup oke dan gaya ceritanya juga lincah. Tapi begitu sampai di pembahasan bayi.. aduh.. rusak mood saya. Isinya cuma sex dan sex doang. Cape dehhh -,-
Let's Get Married bercerita tentang Vanessa dan Abby yang telah bersahabat selama 15 tahun. Vanessa yang sudah menginjak usia 33 tahun terus didesak oleh kedua orang tuanya untuk menikah karena takut keburu perawan tua. Vanessa yang stresspun tanpa pikir panjang langsung mengajak Abby, sahabatnya untuk menikah. Namun siapa sangka ternyata Abby justru menyanggupi ajakan gilanya itu. Awalnya semua berjalan lancar, hingga kedua orang tua Vanessa maupun Abby meminta cucu. Bagaimana kehidupan pernikahan mereka? Apakah persahabatan bisa tiba-tiba berubah jadi cinta?
Udah ketebak lah ya gimana alurnya. Awalnya saya baca ini karena tertarik dengan blurpnya. Saya berharap novel ini membahas tentang cucu yang diminta oleh kedua orang tua mereka. Karena ini premis utamanya. Entah dibahas dari membuat anak nggak semudah itu kek, kehamilan yang bermasalah kek, ketakutan jika mereka benar-banar memiliki anak kek atau pengalaman ketika hamil. Pokoknya bahas tentang perjuangan "menghadirkan si cucu" itu. Ehhh, nggak taunya malah cerita belok ke "gimana nafsunya Abby ke Vanessa!"
Oke, saya nggak masalah mereka mau berhubungan seksual berapa kalipun. Toh mereka sudah menikah dan dewasa pula. Yang saya sayangkan, cerita ini hanya mengedepankan sex tanpa konflik yang berarti. Cerita bener-bener kosong dengan selingan problem-problem yang bisa dibilang receh. Jadi nggak ada greget bacanya.
Hmm.. saya jadi mikir, jangan-jangan cerita ini laris di Wattpad sampai dibaca berjuta-juta karena menjual adegan iya-iyanya -,-
Ya bayangin aja deh, sepanjang bab awal sampai akhir yang dibahas cuma nafsunya Abby terhadap Vanessa. Bukanya bergairah malah ilfeel saya bacanya.
Mau masak, ngesex Mau kondangan, ngesex Mau kerja, ngesex Mau tidur, apalagi
Maksudnya, nggak perlu dijelasin kalau mereka berbuat seperti itu setiap saat gitu loh! Mereka suami istri wajar mau ngelakuin kapanpun. Yang jadi inti cerita kan "gimana menghadirkan si cucu" bukan "cara buat cucu". Jadi novel ini nggak nyambung blas sama blurpnya.
Poin plus novel ini ya itu tadi minim konflik. Jadi bacanya nggak perlu pake mikir. Langsung terjang, cerita selesai. Tapi minusnya, nggak meninggalkan kesan apapun. Nggak ada dynamicnya, flat sepanjang alur.
Pasti ada rasa di persahabatan cewek cowok. Sahabat cowok yang selalu jadi black knight. Cerita ini super ringan, yang ga perlu mikir dan konfliknya ringaaan banget menurutku.
Saat Vanessa tengah curhat ke sahabatnya mengenai desakan org tuanya yg terus memaksa agar ia segera menikah, padahal gaada calonnya. Abby-sahabat Vanessa selama lima belas tahun akhirnya malah memberi solusi dgn ngajak Vanessa untuk nikah. Padahal saat itu Vannesa tengah mabuk.
Malam itu juga, saat mengantar pulang Vanessa, Abby langsung mengutarakan keinginan mereka untuk menikah ke org tua Vanessa! Yg tentu di sambut dgn baik. Saat pagi, Vanessa yg sadar kalau tdi malam Abby mengajak ia nikah, dan langsung menghubungi Abby untuk meminta penjelasan. Abby yg ternyata bernasib sama dgn sahabatnya karena di desak untuk menikah, menjelaskan kalau Vanessa adalah pilihan terbaik karena mereka sdh sahabatan lama dan tentu sdh saling mengenal satu sama lain. . .
Ceritanya seru! dan termasuk ringan karena tanpa konflik yg berarti. Pertama ku pikir, hebat sih mereka bisa jalani hubungan platonis yg ga satu dua tahun gitu, tpi malah sampe lima belas tahun!
Ceritanya jg realistis ga banyak drama ya meskipun ada tpi ga berlebihan, aku nganggapnya masih wajar sih, gaada drama kayak setelah mereka nikah, tidur di kamar berbeda lah, si Heroine yg nolak di sentuh lah dan bla bla bla. Karena mereka yg sahabatan lama kan memang ga mungkin kalau mau tiba2 saling bergairah karena udh nikah.
Biasanya persahabatan antara cowok dan cewek itu susah. Ada perasaan yang bermain di dalamnya. Selama 15 tahun, Abby dan Vanessa bersahabat. Banyak yang sudah mereka sering lakukan berdua. Dan mereka nyaman dengan status mereka ini. Tanpa ada mimpi sama sekali jika suatu hari nanti hubungan mereka akan lebih dari sahabat. Hingga suatu hari kemudian, Abby datang menawarkan jalan keluar dari keinginan Vanessa yaitu dengan pernikahan. Mereka pun menikah setelah banyak drama yang terjadi. Tentunya banyak yang berubah dari kehidupan mereka sebelumnya. Apalagi yang terkait dengan hubungan fisik dan kehadiran seorang anak . . Sentuhan dari kak Eugenia dalam menuliskan kisah ini, dari persahabatan berakhir dengan pernikahan benar-benar berbeda dengan yang lain. Mereka menikah karena adanya desakan dari kedua orang tua, kemudian dari segala keinginan masing-masing yang ingin A, B, C, dst . . Chemistry antara Abby dan Vanessa, dapat banget feel dari kedua tokoh ini. Kisah mereka benar-benar pas, dan tidak ada yang dilebih-lebihkan. Bahkan konfliknya pun benar-benar tak terduga sama sekali. Jika kamu mencari kisah cinta yang berawal dari persahabatan kemudian berakhir dengan pernikahan.
Berkisah mengenai Vanessa yang sudah berusia 33 tahun tapi belum menikah juga. Sampai dia mengeluh kepada sahabatnya bernama Abby, yang sudah 15 tahun menemaninya sejak SMA. Abby pun langsung meminta Vanessa untuk menikah dengannya daripada dia diributin tak menikah oleh ortunya. Yang tak Vanessa tahu, selama ini Abby sudah terjebak friendzone selama 15 tahun dengannya. Menurut gw ceritanya oke tentang friendzone. Tapi yang gw kurang suka adalah eksekusi penulisan novelnya yang sejujurnya kurang oke.
Tipikal cerita yang saya suka, bacanya santai, tidak bikin stress. Alurnya juga bagus, tidak terburu-buru dan dipaksakan. Ceritanya juga manis, pas banget untuk dibaca pas santai.
Novel ini berhasil membahas ketakutan yang sering dirasakan perempuan terhadap kehidupan setelah pernikahan. Well, Eugenia Vanilla berhasil mematahkan ketakutan itu (baca: ketakutanku wkwk). Recomended banget deh 👍