Di Indonesia, berkulit putih dipandang sebagai norma kecantikan. Obsesi memiliki kulit putih membuat produk pemutih kulit menduduki tempat teratas dalam penjualan industri kosmetik. Dari mana obsesi itu bermula, dan apa makna sosial-politik berkulit putih di Indonesia?
Bahkan jauh sebelum masuknya kolonialisme Barat, perempuan berkulit putih sudah dianggap sebagai ideal kecantikan, seperti terlihat dari epos India Ramayana yang diadaptasi di Jawa pada akhir abad ke-9. Pada era kolonialisme Belanda, putih mulai mendapat muatan rasialnya ketika cantik putih diidentikkan dengan ras Kaukasia. Seiring masuknya Jepang ke Indonesia, disebarkanlah ideal cantik putih yang baru: putih Asia. Sementara pada era pascakolonial, ruang geografis Indonesia rupanya menjadi penanda penting untuk dilekatkan pada kategori putih yang kini nasionalistik , yakni “putih Indonesia”. Terakhir, pada era globalisasi kontemporer saat ini, kulit putih menjadi kualitas virtual yang lepas dari tubuh riilnya secara rasial maupun kebangsaan.
Buku ini bermaksud melacak peredaran citra-citra kecantikan lintas lokasi geografis dan babak kesejarahan yang berbeda-beda, dan menjelaskan bagaimana sirkulasi transnasional tersebut turut melestarikan supremasi putih di aras global dan membentuk konstruksi ras, gender, dan warna kulit di Indonesia.
Buku ini menurut aku termasuk buku yang sangat 'eye opener' there's a lot of thing i never know about standar kecantikan di indonesia.
Penulis menjelaskan tentang asal usul standar kecantikan di indonesia khusunya dalam buku ini adalah putih sebagai warna kulit ideal. Dibagi menjadi 5 kategori yaitu putih era prakolonial, putih era kolonial, putih jepang, putih indonesia dan terakhir putih kosmopolitan.
Banyak penjelasan tentang pelestarian standar kecantikan yang di dasari oleh kuasa, politik, beragam hierarki global, warna, gender, ras dan social selama periode sejarah yang berbeda dan bagaimana orang-orang dikendalikan melalui afek sebagai perangkat dominasi.
Penulis meng-highlights bahwa putih sebagai warna kulit ideal di konstruksi juga secara indra dan perasaan. Buku ini memberi tahu bagaimana emosi dan berbagai reprentasi diedarkan dan ditanam dalam kehidupan sosial untuk mengkontruksi makna kategori warna kulit sebagai indentitas.
Buku ini adalah guncangan intelektual yang ajaib. Bagaimana tidak, saya yang meyakini sejak lama bahwa putih selalu identikan dengan kepentingan bisnis kosmetik dan rasis semata, mendadak semakin terperangah oleh paparan buku ini. Dengan gamblang dijelaskan (meski saya harus berulang kali membalik ulasan soal dasar teori afeksi yang dipergunakan oleh penulis) bahwa putih sudah menjadi standar kecantikan bahkan sejak Ramayana. Terus berlanjut ketika Belanda datang, Jepang datang di masa kolonial. Kemudian pengaruh Amerika di masa orde baru dan hingga paling anyar adalah putih kosmopolitan. Di buku ini pula saya menjadi yakin bahwa bila kita masih memandang putih-gelap kulit perempuan, maka alam sadar kita juga masih memandang perempuan sebagai subjek. Dan penulis menjelaskan pula, hal ini dikarenakan sejak bayi perempuan selalu didekatkan dengan banyak pujian 'cantik' dan juga perempuan selalu harus dandan. Kemudian di titik ini saya bertanya, bagaimana dengan sekarang di mana fenomena cantik tidak hanya dimiliki oleh perempuan? Laki-laki juga sekarang banyak sebagai konsumen kosmetik, pelanggan salon, bangga kalau berwajah cantik yang menonjolkan feminin?
Kenapa masyarakat Indonesia terobsesi menjadi putih? Kenapa warna kulit putih menjadi lebih superior ketimbang warna kulit yang lain?
Jawabannya aku temukan dalam buku Putih karya L. Ayu Saraswati. Buku ini menceritakan sejarah preferensi memiliki warna kulit lebih cerah yang sudah ada jauh sebelum masa kolonial dan diperkuat dengan kehadiran penjajah di Indonesia. Poin yang ditekankan lewat buku ini adalah bagaimana metafora menjadi salah satu andil bagaimana kita melihat putih dan hitam. Cerah atau putih selalu ditampilkan untuk merepresentasikan kebaikan, kecantikan, kemurnian, dan kebersihan—to name a few. Sebaliknya, gelap atau hitam merepresentasikan dengan hal-hal negatif seperti kejahatan, keburukan, bahaya, rasa takut, serta bencana. Metafora ini berhasil memanipulasi emosi manusia, sehingga perasaan tertentu terbentuk ketika masyarakat bertemu dengan orang-orang dengan warna kulit tertentu.
Di era modern, praktik manipulasi emosi terlihat lewat iklan-iklan produk kecantikan yang cenderung menjual mimpi. Iklan-iklan ini menjanjikan kebahagiaan yang hanya bisa dicapai kalau kamu memiliki kulit cerah. Tentu saja model pada iklan ini adalah perempuan ras kulit putih atau perempuan Indonesia yang berkulit lebih cerah. Mungkin kalau di zaman sekarang, menggunakan model Korea Selatan. To think of it, buku ini juga seperti me-validasi perasaanku melihat produk lokal yang diiklankan oleh model atau artis luar negri dan dibuat seolah-olah diproduksi di luar negri.
Menurutku, Putih adalah salah satu buku penting untuk dibaca oleh perempuan-perempuan di luar sana. Aku pribadi merasa sulit untuk merubah 100% standar kecantikan Indonesia, namun setidaknya dengan membaca buku ini dan memahami asal usul obsesi dengan warna kulit cerah/putih membuatku berdamai dengan perasaan tidak percaya diri yang dulu sempat aku rasakan karena warna kulitku. Aku yakin kamu juga bisa menemukan hal serupa dalam buku ini.
"Suntik putih aja nanti kalau sudah gede." "Jangan panas-panasan. Pakai jaket biar nggak hitam." "Nggak kelihatan Cina ya."
Sebagai perempuan yang tidak berkulit putih, saya akrab dengan komentar-komentar di atas. Ketika saya remaja, mencerahkan kulit seakan jadi prioritas untuk tampil menarik. Komentar-komentar ini makin parah setelah orang mengetahui kalau saya keturunan Tionghoa -- yang stereotipenya berkulit putih mulus. Seakan, sudah tidak cantik karena berkulit gelap, saya pun gagal jadi seorang Cina di mata mereka.
Buku Putih menceritakan tentang bagaimana obsesi masyarakat Indonesia terhadap warna kulit cerah merupakan produk manipulasi emosi sejak berabad-abad yang lalu. Putih jadi tanda kecantikan dan kebaikan, sehingga kulit gelap diasosiasikan dengan hal yang buruk dan jahat. Di masa modern, putih berkembang jadi sebuah kualitas kosmopolitan yang menggambarkan bukan cuma kecantikan, tapi juga kebahagiaan dan kemapanan. Padahal, yang jadi mapan karena obsesi terhadap putih hanyalah industri yang mengeksploitasi perempuan.
Membaca ini mengingatkan saya pada Clean karya James Hamblin yang menceritakan bagaimana anggapan kebersihan yang muncul dari higienitas menjadi sesuatu yang hanya sebatas pada penampilan saja, bukan kesehatan pada asal mulanya.
Yang paling saya sukai dari Putih bukan fakta sejarahnya, tapi pendekatan emosional yang menekankan pada "rasa" dan "afek". Memang betul bahwa putih hanyalah sebuah warna, tapi emosi yang lekat pada warna tersebutlah yang membentuk obsesi kita terhadapnya.
Konsep emotionscape, khususnya dalam iklan kecantikan yang berlatar Eropa, pun memantik pertanyaan soal kampanye produk jaman sekarang (baik kecantikan maupun busana, tapi sama-sama perempuan targetnya): kenapa sebuah produk lokal harus difoto dan dipromosikan dengan berlatar luar negeri? Apakah secara tidak sadar, kita masih menganggap segala hal di luar negeri sebagai lebih berkualitas sehingga produk lokal baru valid ketika sudah tampil di luar sana?
Putih memang ditulis oleh seorang akademisi, dan awalnya terlihat dingin dan kering. Akan tetapi, pada akhirnya saya menikmati buku ini sebagai bacaan yang juga dekat dan personal.
Dalam salah satu bab, penulis membahas soal perasaan malu yang terkait dengan warna kulit. Perempuan Indonesia mencoba mencerahkan warna kulit mereka untuk mencapai "putih" sebagai sebuah standard, karena mereka tidak ingin mendapatkan komentar soal bagaimana mereka belum mencapai standard tersebut. Saya rasa, ini yang membuat saya pun terjebak dengan warna kulit saat masih remaja. Selain rasa malu, saya pun ingin menjadi putih agar bisa diterima dan tidak dipertanyakan lagi soal asal-usulnya.
Miris rasanya mengingat semua ini lagi, tapi membaca Putih membantu saya memahami pengalaman dan perasaan ini. Meskipun bukan buku yang paling mengubah hidup yang pernah saya baca, Putih adalah bacaan yang bermakna, dan mungkin bisa jadi penting untuk banyak perempuan lainnya.
Finally I can finish this book, went on a trip whilst half through the book, and it's such an eye opener.
When I was child, I often heard someone told my mum "Oh so this is the eldest? She's white!" and I thought -whilst looking at my arm "What do you mean with white? I'm brownish". Then when I went to university in Malang several time I heard few said they've met only few whitish Bataknese and asked if that is certain Bataknese's tribe traits.
I have never think about my skin colour, in fact I worried more about my pimples and my big thighs during adolescence. When I joined a sport chat room and summer or tanning time topic came up they all said that I was lucky with tanned skin.
I'd love to have healthy skin rather than whitish one, and no I'm not white or clearer or whatever it is as Ayu Saraswati said here:
"Dengan menunjukkan bagaimana putih kosmopolitan dibentuk, saya menyatakan bahwa tidak ada satu ras pun yang mengisi putih kosmopolitan yang autentik karena sedari awal tidak pernah ada putih macam itu 'dalam kenyataannya': putih adalah kualitas virtual, tampak nyata tetapi tidak nyata." (hlm. 223)
Saya merasa begitu banyak mendapatkan pandangan mengenai asal-usul superioritas kulit putih dari buku Putih karya L. Ayu Saraswati yang diterbitkan oleh Marjin Kiri. Apa yang saya baca dari buku Putih ini sangat memberikan komprehensif menjelaskan bagaimana superioritas terhadap kulit yang disebut Putih ini berasa, sehingga tidak mungkin diringkas dalam satu judul. Saya pun merasa perlu turut mengapresiasi Ninus Andarnuswari karena terjemahannya sangat bagus dan rapih serta kontekstual namun tetap memberikan rasa si penulis dengan jelas. Ninus juga memiliki perspektif feminis sehinga padupadanan kata sangat tepat disampaikan dalam buku ini.
Buku Putih menyajikan sejarah bagaimana kulit Putih dan warna itu sendiri sangat diagungkan. Kita cenderung melihat bahwa adanya pengaguman yang berlebihan terhadap kulit Putih itu sendiri berasal dari kolonialisme namun sejarah Putih di tanah Jawa dapat menjadi standar kecantikan berasal dari sebelum peradaban pra kolonial. Penulis menceritakan bagaimana masyarakat Hindu yang berasal dari India mengadaptasi epos Ramayani. Namun disaat itu kata Putih berupaya memberikan ‘rasa’ ketika tarian Ramayana hendak ditampilkan. Selain itu penjelasan terhadap Putih selalu dikaitkan dengan Bulan sebagai perumpaman.
Memasuki masa penjajahan, disinilah makna Putih kemudian menjelma menjadi makna Putih ras terhadap orang kaukasia. Menjadi layaknya orang Putih, orang Indonesia mulai mengadopsi gaya hidup orang Belanda terutama pada kalangan bangsawan dan priyayi. Disini Putih tidak hanya menjadi penanda ras, namun Putih menjadi status sosial. Putih berkembang dari rasa hinga menjadi supremasi dan sebuah bentuk modernitas baru yang dianggap lebih maju ketimbang masyarakat primitif. Selain itu, konteks ras Putih juga mulai melibatkan orang-orang dari Asia Timur yaitu orang Jepang dan Tionghoa yang merupakan pendatang atau yang sudah lama bermukim di Indonesia. Mereka dinobatkan sebagai orang Eropa hanya karena putihnya kulit mereka.
Buku Putih bisa didapatkan di Marjin Kiri Konteks Putih kemudian dijelaskan selanjutnya dalam konteks pasar. Perjalanan Putih dijelaskan bersamaan dengan sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Sebagai bentuk melawan imperialisme, Soekarno menolak adanya investasi asing dan pengaruh budaya barat. Di era ini iklan sabun yang menggunakan terminologi Putih berkurang namun produk kecantikan lokal cukup banyak menggunakan model Indonesia yang kulitnya lebih terang. Ketika Soeharto berkuasa, masuknya pasar dunia ke Indonesia mengubah bagaimana kulit putih dilihat. Putih kaukasia diimpor bersamaan dengan majalah-majalah serta hiburan-hiburan yang berasal dari luar negeri.
Penulis juga melakukan wawancara yang mendalam terhadap beberapa koresponden perempuan dan sikap mereka terhadap penampilan kulit mereka yang tidak putih. Disini penulis mengeksplorasi kata malu yang digunakan oleh perempuan yang dikatakan tidak memiliki kulit putih. Perasaan malu karena memiliki kulit hitam juga membuat mereka menggunakan krim pemutih. Disini penulis dengan pandai mngungkap bagaimana perempuan dengan sembunyi-sembunyi menggunakan krim pemutih untuk tidak menjadi perhatian karena kulitnya lebih hitam. Kulit putih dianggap sebagai sebuah kenormalan karena tak menarik perhatian sedangkan kulit yang cenderung hitam dapat mengungang perhatian dan perisakkan yang tak diinginkan.
Yang menarik adalah warna kulit yang dianggap putih ini tak lagi dianggap penting tatkal seseorang sudah mencapai status eknomi tertentu. Perempuan tak lagi menggantungkan standarnya pada kulit putih karena mereka tak mengukur dirinya dari warna kulitnya yang akhirnya dijadikan daya tarik bagi lelaki. Tentunya penulis menyadari bahwa penelitiannya masih sangat heteronormatif pada konteks Indonesia, namun pada 4 orang perempuan lesbian yang ia temui ia juga menemukan pendapat yang sama bahwasannya perempuan yang lebih putih kulitnya dianggap lebih menarik, tetapi bukan berarti itu bisa dijadikan kesimpulan atau acuan terhadap preferensi perempuan lesbian.
Penulis juga mencoba membandingkan tren penggelap kulit yang dilakukan oleh orang kaukasia dan tren pemutih yang dilakukan oleh orang non kaukasia. Tentu saja ada relasi yang berbeda karena orang kaukasia punya kontrol dan kuli putih mereka masih menjadi standar dan norma dunia sedangkan orang non kaukasia tidak punya kontrol yang sama dan relasinya pun berbeda.
Tentunya penelusuran supremasi Putih sebagai suatu rasa, status, norma, pasar, malu tidak berhenti disitu saja. Saya tidak bisa merangkum apa yang saya baca ke dalam kurang dari 700 kata. Namun yang saya suka dari buku ini adalah perjalanan sejarah yang diceritakan dari berbagai perspektif dan situasi perpolitikan dunia. Proses penulis membongkar putih melihat dari sejarah dunia hingga pasar serta dari sudut komunikasi dan psikologi. Tentunya proses ini adalah proses dekolonialisasi yang tak melupakan perspektif perempuan karena tentunya perempuan yang menjadi korban dari supremasi putih ini.
Dari semua referensi bacaan yang ia jelaskan, membuat saya penasaran, ini penulis baca buku apa saja sih? Belum lagi dengan wawasannya sang penerjemah yang cukup lihai menjelaskan apa yang hendak disampaikan penulis karena tidak semua penerjemah memiliki bahasa pengetahuan yang sama dengan apa yang hendak diterjemahkan.
Sangking bagusnya buku ini, saya menyelesaikannya dalam sehari. Jarang sekali saya bisa menyelesaikan sebuah bukudalam sehari. Tentu saja buku ini ada beberapa kekurangan karena buku ini merupakan desertasi dan hasil penelitian penulis sehingga tidak semua bisa ia ungkapkan namun ia berhasil menjelaskan dengan baik. Tentunya penggunaan perspektif feminis tidak untuk berpihak tapi untuk memberi penjelasan terhadap pembaca mengenai dampak sebuah norma Putih terhadap perempuan.
Saya sangat merekomendasikan buku ini terutama bagi teman-teman mahasiswa yang sekedar ingin memahami feminisme hingga proses dekolonialisasi, atau mahasiswa hubungan internasional yang hendak memahami soft power negara-negara dalam mengimpor pemahaman, atau mungkin mahasiswa komunikasi dan psikologi yang hendak mendalami standar kecantikan di Indonesia.
Written in an academic style. The author traces the history of why white skin is deemed beautiful in Indonesia. It didn't start during colonialism. Even before that when Indians brought Ramayana stories to Indonesia, white was associated with beauty. Then came the Dutch, the Japanese and US cultural hegemony. In magazines, white or light-skinned women are mostly presented as the ideal. Finally, the author mentions transnational whiteness. I thought it was interesting how she described "Indonesian whiteness" that was born in post-colonial Indonesia and tried to show an image of Indonesia that contrasts the West but at the same time was seen through the lens of the West. The author also talks about rasa and especially malu, and how emotions are important when trying to understand white worship. The malu part was really well written. Women who are dark feel ashamed and want to hide themselves from being mocked by others. They apply skin whitening creams to hide themselves from others. It's a sad reality.
Sebagai orang yang juga tidak diwariskan berkulit putih, tidak jarang celetukan seperti 'kamu hiteman ya sekarang."; "kamu harus rajin pake produk ini itu, biar putih." Jadilah penasaran kenapa berkulit putih menjadi standar kecantikan sebagai seorang perempuan?
This book opens my eyes, tidak hanya mengenai kenapa putih itu dikatakan cantik tapi juga sejarah 'putih' itu sendiri dari zaman prakolonial sampai sekarang. Tidak hanya itu, buku ini juga menyajikan tentang 'putih' sebagai ras dan juga 'putih' sebagai warna kulit. Insightful!
kurangnya di aku sendiri, baca buku ini berasa baca skripsi ;(
Bayangkan seseorang merekonstruksi ulang sejarah menggunakan sebuah perspektif baru, dalam “adonan itu”, ia memasukkan emosi dan afiliasi teoretisnya—seperti rasa, malu, afek, dan indra, lalu mengaduknya. Bagaimana jika, adonan yang dibuat adalah tentang bagaimana kita memandang warna—serta emosi yang melekat di dalamnya, sejak masa prakolonial hingga pasca kolonial? Buku ini melakukannya.
Bagaimana jika, suatu afek (atau emosi/perasaan) yang kita miliki tidak lain adalah produk dari narasi, media, termasuk tatanan sosial bias gender, bahkan sejarah? Bagaimana jika rasa malu yang kita punya adalah afek yang berjenis kelamin? Buku ini menyadarkannya.
Dimulai dari rekonstruksi (ulang) sejarah dalam epos jawa kuno “ramayana” yang diadaptasi dari versi india, kemudian menelusuri bagaimana kuasa beroperasi melalui emosi—menyumbang subjektivitas “putih” dalam berbagai ras (depends on which one colonialized us—at the time), hingga bagaimana sebagai bangsa—terutama pasca reformasi, kita berusaha mendefinisikan “putih kita sendiri”, buku ini menjadi penting untuk proses learning-unlearning/deconstruct to reconstruct (terutama bagi diriqu sendiri) dan kemudian secara hati-hati melihat kembali dunia, atau minimal, memandang diri sendiri.
Sebagai seseorang yang masuk ke dalam golongan sawo matang, aku merasa sangat terekspos dalam bab 5: Malu dan Warna Kulit. After all, I learned shame "outside in", which means I was fine with my skin until somebody else pointed it out as inappropriate.
In short, I am glad I read this book. Shout out juga untuk penerjemah yang sangat thoughtful dalam pemilihan kata translasinya!
Secara garis besar, buku ini sangat relevan untuk urusan memetakan sejarah panjang kecantikan. Adapun buku ini sejatinya merupakan kajian gender yang kemudian dipadukan dengan kajian sejarah berbalut ekses sosiologi. Meskipun dari segi bahasa agak terlihat sukar untuk dipahami, namun buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca terutama bagi yang ingin memahami persoalan terkait warna kulit, ras dan gender perihal kaitan nya dalam merekonstruksi dan mengendalikan perempuan terutama wajahnya.
sinopsisnya sangat menggoda sekali, apalagi cover nya juga cantik. isinya pun memang benar-benar penuh dengan sejarah indonesia. sebetulnya ini memang tipe buku yang sedang saya cari, karena lagi pengin aja aca buku history indonesia baik dari segi politik dan lainnya. tapi sayang cara penulisannya terlalu ilmiah, bahkan banyak yang muter-muter penyampainnya. jadinya ngga terlalu enjoy baca buku ini
Another great book that I read this year! Buku ini bener bener ngebuka perspektif aku tentang bagaimana perspektif warna kulit putih dibangun di Indonesia dan bagaimana evolusi pemikiran kulit putih dr zaman sebelum pra kolonial hingga saat ini. Yes, women already obsessed to have white skin long time ago even before the centuries exist. Buku ini merepresentasikan "putih" sebagai warna kulit terang bukan hanya putih saja.
Selain itu, buku ini juga membahas bagaimana emosi, perasaan, dan aspek afektif (SANGAT) berperan besar dalam pembentukan perspektif masyarakat Indonesia (dan dunia) terhadap warna kulit, kecantikan dan ras. Ya, buku ini tidak hanya membahas warna kulit, tetapi ras dan kecantikan. Bagaimana kata "ras" dan konsep "ras" itu terbentuk di dunia ini sejak zaman pra kolonial hingga saat ini. Buku ini juga membahas tentang bagaimana wanita Indonesia (dan dunia) memandang standar kecantikan yang ideal. Di sisi lain, buku ini membahas bagaimana warna kulit putih diartikulasikan secara transnasional sehingga perspektif akan warna kulit putih berevolusi dari waktu ke waktu. Ditambah, buku ini menambah wawasan pembaca bagaimana sisi psikologis dan teori psikologis memengaruhi pemasaran produk krim pemutih di Indonesia.
This book contained more knowledgeable and will give you many insights rather than you thought. You will not just learn about history, the colour of about how the perspective of "white" skin colors mainly in Indonesia and in the world evolved, race, and transnationalism concept, but you will learn about human psychology, philosophy, gender, how was emotion being articulated and finally affect the "affective" traits of us seen someone's race and skin color, globalization also marketing through affective aspects. A good book that you should read at least once. 4.5 totally for this book. Several statements that I find interesting in this book:
"Siklus transnasional orang orang memainkan peran dalam menghasilkan perasaan tertentu mengenai warna kulit tertentu dan turut melestarikan hierarki gender, ras, dan warna kulit dalam suatu konteks transnasional."
"Lebih penting lagi karena warna kulit terang bukanlah benar benar 'norma' di Indonesia melainkan ideal imajiner belaka, maka praktik dan komentar tentang rutinitas pemutihan kulit penting untuk melestarikan 'norma' kulit terang"
As a cis-woman, I've always known that "putih" is more preferred in Indonesia. My mother is Chinese-Indonesian, but physically, I inherited my father's characteristics, including his medium to dark brown skin color. One of my earliest memories of recognizing that I am not "putih" is when my male teachers (yes, plural) commented that my skin was very dark. At that time, I was a very active child: I was always playing on the field during break time and took Paskibra as my extracurricular. Another time, when my family was staying at a hotel, another tourist didn't think I (who was standing right beside my mother) was my mother's child.
I was quite (if not very) aware of my skin color, but at the same time, I never had too much of a problem with it. I was a bitter and nonchalant teenager, so every time someone, whether a relative or a friend, commented on my or someone else's skin color, I would question them back or shut down the conversation with a simple, "So what?"
This book presents concepts and ideas that I have never heard before. Packed with history, research, and analysis, Professor L. Ayu Saraswati has published a compulsory book about the history of "putih" in transnational Indonesia. She analyzes and critiques how "putih" was constructed and understood from the pre-colonial era, through Dutch and Japanese colonialism, and into post-colonial, transnational Indonesia. What differentiates Professor Saraswati's analysis from others is that she looks at history through the lens of emotion. She believes that to enrich the production of knowledge, it must be accompanied by an analysis of emotions.
This book is so much more than I can summarize in this little post (and probably this post is not giving it justice). I encourage anyone to give this book a try, though at times it can be tough because you really need to pay attention and even take a step back to digest the information.
Buku ini untuk menyelesaikan Tsundoku Books Challenge 2020
3,6 dari 5 bintang!
Ketika aku berkunjung ke Pameran buku Patjarmerah di M Bloc hari kamis lalu aku sudah penasaran sama buku ini apalagi sinopsisnya yang menjelaskan tentang kenapa warna kulit putih menjadi standar kecantikan untuk wanita di indonesia?
Setelah membaca buku ini saya mengetahui bahwa perjalanan itu sangatlah panjang. Dimulai sejak jaman Kitab Ramayana lalu berlanjut ke iklan-iklan kecantikan tentang kulit putih dan perempuan kaukasia sampai di titik akhir rasa malu di kalangan perempuan indonesia jika memiliki kulit yang berwarna gelap karena dianggap tidak cantik.
Buku ini menelusuri jaman demi jaman untuk mengetahui dari mana asal kulit putih sebagai standar kecantikan. Suatu hal yang mengagumkan penulis mencari tahu semua itu yang dirangkum menjadi satu didalam buku ini. Sejujurnya saya suka sekali dengan pembahasan buku ini karena secara tidak langsung saya jadi kembali belajar sejarah indonesia dan bahkan baru tahu juga kalau makan ketupat saat lebaran ternyata budaya hindu jawa haha.. namun karena bahasanya akademis mungkin buku ini kurang pas dibaca sama beberapa orang yang kurang menyukai bahasa akademis sebagai bacaan dikala santai.
Hampir 2 bulan akhirnya aku menamatkan buku ini. Aku suka hal-hal yang berbau sejarah dan buku ini berhasil menguak sejarah kulit putih, khususnya di Indonesia. Terlepas dari itu, tata bahasa dan tulisan di dalamnya sangat akademis dan baku. Sangat susah bagiku untuk membaca lebih dari 10 halaman dalam sekali duduk karena pasti mengantuk. Bahkan tidak jarang aku membaca satu kalimat secara berulang-ulang demi memahami maknanya
Insightful and eye opening. Sekarang saya jadi mengerti kenapa sekarang banyak mbak dan mas ngabers lokal punya fetish indo-china. That's kind of dehumanizing tho because you just see people from their skin and race
Sewaktu masih duduk di sekolah menengah, di sela-sela jam pelajaran, teman-teman perempuan saya selalu sibuk membicarakan kosmetik atau bahan racikan pemutih, mulai dari wajah hingga seluruh badan. Katanya, mempunyai kulit gelap sudah menjadi kebiasaan dikucilkan dan menjadi bahan tertawaan. Dan benar, saya punya seorang teman berkulit gelap yang sudah akrab disapa ‘Si Hitam’ oleh seluruh siswa, bahkan guru-guru. Teman saya pun sama sekali tidak merasa tersinggung atau marah, seolah ia menerima pembentukan objek pada dirinya sendiri. Anehnya, siswa yang paling berkulit terang di kelas tidak mendapatkan julukan sebaliknya seperti ‘Si Putih’. Saya pun yakin, bahwa sesuatu yang berterma gelaplah yang mutlak menerima predikat di lingkungannya. L. Ayu Saraswati menulisnya seperti ini, “Di Indonesia, berkulit putih dipandang sebagai norma kecantikan. Obsesi memiliki kulit putih membuat produk pemutih kulit menduduki tempat teratas dalam penjualan industri kosmetik.” Buku karya L. Ayu Saraswati mencoba membuka sejarah rasial yang tidak hanya terjadi di Barat saja, melalui wacana kulit putih, masyarakat Indonesia turut berkontribusi atas rasialisme yang tiada henti-hentinya yang terjadi di belahan dunia bagian Barat maupun Timur. L. Ayu Saraswati membukanya dengan menceritakan ideal kecantikan, se¬perti terlihat dari epos India Ramayana yang diadaptasi di Jawa pada akhir abad ke-9. Pembedaan terdapat pada epos ini memuji-muji kecantikan Sita yang digambarkan wajah putih bercahaya yang diumpakan bulan purnama serta tokoh ‘Si Jahat Berkulit Gelap’ Rahwana digambarkan berkulit gelap. Disini nampak jelas terdapat pembedaan pada watak-watak tokoh yang berkaitan dengan penggambaran rupa mereka. L. Ayu Saraswati kemudian menjelaskan karya epos dapat mempengaruhi sebuah simpulan sejarah. Ia menegaskan terdapat Afek atau rasa yang ditimbulkan dan mempengaruhi pola-pola pikir tertentu dan menjadi cikal bakal sebuah penghapusan sejarah, sensor, bahkan upaya pemberian ras. Dari epos tersebut, saat penulis-penulis sastra cenderung memiliki emosi terhadap sesuatu yang membuatnya senang dan bahagia, bukan menjadi tidak mungkin akan ia tuangkan lagi dalam tulisan-tulisan selanjutnya. Sehingga, ketika ia beranggapan bahwa sesuatu yang bersifat terang menarik perhatiannya, itu akan tertanam pada ingatan dan menjadi inspirasi atas tulisan-tulisan selanjutnya. Rasa dicatat dalam pikiran (ingatan) dan bisa juga melalui tubuh (ingatan otot). Dengan demikan, tidak hanya ingatan, tubuh juga menandai gerakan-gerakan tertentu yang dilakukan berulang-ulang seperti tarian bahkan tanpa pikiran sadar. Apabila terdapat epos yang begitu mahsyur, akan menimbulkan afek pada pembacanya yang memengaruhi secara sadar maupun tak sadar dan kian membentuk atau menghapus sejarah. Misalnya berkulit terang, diyakini sebagai sesuatu yang indah, dan gelap sesuatu yang buruk. Di buku in juga saya menemukan bahwa ‘Putih’ kemudian menjadi standar kecantikan, yang berubah-ubah pada tergantung masanya di Indonesia, mulai dari kulit putih ras Kaukasian, lalu putih Jepang kemudian yang paling anyar iala putih Kosmopolitan. Sayangnya, pada buku ini hanya menjelaskan secara historis namun belum membuka lebar problem filosofis mengapa kulit putih atau berkulit terang menjadi lebih dibanggakan ketimbang berkulit gelap. Mengingat, judul hanya membatasi pada wacana kecantikan di Indonesia menjadi lebih sulit untuk mengupas darimana datang asal pembedaan rasial tersebut. Misalnya pada epos Ramayana, pertanyaan mengapa penyair seolah menggambarkan tokoh protagonis dengan karakter yang berkulit cerah dan terang sedang antagonis sebaliknya belum dijelaskan. Melalui buku ini saya lebih paham akan alurnya sejarah, mengutip L. Ayu Saraswati bahwa Sejarah menjadi narasi yang dapat menormalisasi dan mengalamiahkan perasaan kita tentang peristiwa dan tokoh-tokoh bersejarah. Dibalik apa yang diyakini sebagai sesuatu yang wajar sesungguhnya terdapat banyak teka-teki dibelakangnya. Siapa yang tahu bahwa dulunya tubuh montok lebih disukai daripada tubuh langsing seperti sekarang. Keuntungan mempelajari sejarah ialah, orang-orang tak perlu mempermasalahkan sesuatu diluar kuasanya. Sebab, tidak ada sesuatu yang benar-benar abadi. Dalam hal ini obsesi terhadap penggambaran cantik dapat direduksi. Yang tidak kalah penting, bagaimana bisa putih seakan membentuk gendernya sendiri di Indonesia. Putih cantik hanya dilekatkan pada perempuan tidak pada laki-laki. Membentuk karakter yang feminin. Misalnya pada iklan-iklan kecantikan postmo yang hanya menampilkan perempuan sebagai objek iklan untuk tampil cantik dan bersih. Sehingga dapat menjadi isu sensitif bagi sebagian kelompok, misalnya kaum feminist yang mengidam-idamkan kesetaraan. Iklan-iklan kecantikan tersebut bukan tidak mungkin turut menyumbang pembedaan antara feminin dan maskulin di Indonesia. Jawabannya belum saya temukan pada buku L. Ayu Saraswati ini. Nilai plusnya, buku ini dapat melacak penyebaran citra keantikan antar geografis berdasar era kesejarahannya, serta sirkulasi transnasional yang meneruskan supremasi putih sehingga membentuk konstruksi gender dan warna kulit di Indonesia
Kim Sunhye (my professor) NEEDS to have her own bookstagram so that i can read everything that woman reads. cause why does her book suggestion slap every time??????
In The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion, Jonathan Haidt contends that drawing attention to race and ethnicity risks widening racial and ethnic divides. But, as I commented in my review, it depends on scale. In an organizational setting, the approach can break barriers and foster cooperation. But at a national scale, it may only apply during transitional phases. Moreover, hosting several "hives" is more effective at aligning the diversity of ideas within a country (but with increasing connectivity, we succumb to confirmation bias and echo chambers, too).
This reminded me much of Sukarno's Pancasila model, which he hoped would unite the Indonesian people under one flag by requiring monotheism, adopting a standardized national language, and the identification as a national Indonesian rather than by race or ethnicity. As such, this book was a fantastic follow up.
Saraswati's discussion of affective reactions (referred to as rasa) parallels that of Haidt's elephant and rider model. Through a thorough examination of the Ramayana, she argues that perceptions of light (white) as good and dark (black) as bad exist even in folklore prior to Dutch colonization, suggesting that colorism is not a product of European conquest per se (certainly, it perpetuated racial and ethnic divides). It begs the question whether racism is inherent (something that Haidt also discussed) or if societal norms, through art, culture, and literature, locked-in the "us vs. them" paradigm eons ago.
I love the term "cosmopolitan whiteness", which Saraswati describes as desire for the "whiteness" that represents entitlement, privilege, and class. "Whiteness is a virtual quality, neither real nor unreal." Cosmopolitan whiteness really encapsulates the cultural hegemony of the Western norms, fueled by capitalism. Even I, admittedly, am subject to being a "cosmopolitan white": I was wondering while reading about how I sought to be darker, through sun exposure, rather than lighter-skinned when I was younger. Saraswati addresses this as an element of cosmopolitan whiteness, in that it portrays desirable skin tone as something achievable (with skin products). Countering the white beauty ideal further exotifies darker skin.
Lastly, Saraswati portrays malu (which generally refers to the feeling of shame, but, as Saraswati notes, the true meaning is difficult to translate) as a tool that is used to make people feel bad for having darker skin. In my experience, malu is definitely a commonly used tool Indonesia, but only because it is, for some reason, so effective. Even when I anticipate the weight-related comments when I go back to Jakarta, I still feel that heavy malu that makes me want to hide rather than motivates me to lose weight. But of course, those are entirely separate - weight can be lost; skin color and its associated affects are much harder to change.
Sejak kapan putih jadi warna yang diidolakan dan dilekatkan dengan simbol kecantikan? Di buku ini penulis mengajak pembacanya menelusuri beberapa periode waktu di Indonesia. Sebelum dijajah, Indonesia ternyata sudah punya kecenderungan menyukai warna kulit terang. Penulis menyoroti puisi epos Ramayana yang diadaptasi dari India. Contohnya, Sita berkulit terang, Prabu Rahwana yang jahat berkulit gelap. Sadar tak sadar, terang selalu diasosiasikan dengan yang positif, sedangkan gelap yang negatif. Preferensi warna kulit terang diubah dan baru digabungkan dengan ras saat Indonesia dijajah. Ada putih Belanda, dan ada putih Jepang. Wanita-wanita Kaukasia jadi contoh cantik yang ideal, usaha Jepang mengubah hierarki ras yang ada di Indonesia, sampai kebutuhan untuk mendefinisikan "cantik putih Indonesia" yang saat dijalani malah kontradiktif.
Buku ini makin menarik karena penulis memperlihatkan tipe iklan produk kecantikan di Indonesia dari puluhan tahun yang lalu hingga pasca orba. Pemilihan model, copywriting, sampai lokasi pada iklan. Isi tulisan dan iklan majalah di 2006-2008 dikritisi penulis, dan ia meminjam sebutan "gaya hidup merdeka yg semu" untuk mewakili kondisi ini. Di bab lain, penulis mengulik rasa malu dengan warna kulit dari wawancara dan pengakuan perempuan-perempuan yang menggunakan produk pemutih. Di sini penulis memperlihatkan beberapa penyebab, alasan, sekaligus menyampaikan beberapa kesimpulan Membaca Putih, saya seperti diajak naik mesin waktu dan melihat beragam situasi dari berbagai era di Indonesia. Idealisasi warna kulit itu dikonstruksi, diwariskan turun-temurun melintasi beberapa generasi, dan mau atau tidaknya melanggengkan warisan itu adalah opsi. Buku bagus terbitan Marjin Kiri yang layak sekali dibaca 👏🏻
Dari kecil, saya sering bertanya-tanya, "Kenapa, sih, orang yang kulitnya gelap cenderung lebih sering dikucilkan daripada mereka yang berkulit terang (termasuk saya)?"
Bahkan ketika pujian-pujian datang ke saya karena warna kulit saya yang jadi idaman banyak orang di Indonesia, saya tidak tersanjung. Yang ada di benak saya justru, "bagaimana kalau saya lahir lebih gelap dari saya yang sekarang?"
Buku ini cukup membuat saya kenyang dari pertanyaan-pertanyaan saya selama ini. Oleh Kak Ayu Saraswati jawaban dari pertanyaan saya dituturkan secara rinci melintasi waktu dari zaman pra-kolonial sampai era modern sekarang.
Walau awalnya saya agak kesusahan membaca buku ini karena taraf diksi yang digunakan agak 'wah' dan banyak yang artinya tidak saya pahami, lama-kelamaan ternyata buku ini enggak sesusah itu! Justru asyik banget. Ada banyak hal-hal kecil yang diselipkan di lintas masa yang ditulis di buku ini dan itu yang bikin saya, "oh iya juga ya ..."
Buku ini hadiah ulang tahun dari pacar saya September kemarin, hehe. Bukan cuma bacaan yang amat bagus. Dari buku ini juga saya paham bahwa warna kulit tidak seharusnya jadi patokan manusia untuk memandang manusia yang lain.
Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional.
“Fir, kamu cantik deh kalau putih” dan rentetan turunannya.
Tumbuh besar dengan entah-pujian-entah-hinaan seperti itu, membuat saya bertanya-tanya sepanjang hidup saya. Mengapa saya baru “cantik” kalau putih? Apakah kulit saya yang kurang putih menjadikan saya jelek? Pertanyaan-pertanyaan itu memupuk di sudut benak saya, menumbuhkan rasa malu, minder, bahkan pernah mengutuk warna kulit saya sendiri karena bukan putih!
Warna kulit saya adalah alasan mengapa saya jelek.
Narasi itu mengundang tanda tanya yang membuat saya begitu terganggu selama saya tumbuh dewasa. Lalu judul buku ini terpintas di layar gawai saya, langsung saya memburunya! Ya, buku ini out of stock bahkan dari penerbitnya. Frustasi, saya mengirimkan surel kepada penulisnya—Prof. L. Ayu Saraswati, yang sekaligus pengajar bidang perempuan di University of Hawai’i. Entah apa gerangan yang sedang dilakukannya, mungkin di sela waktu istirahat mengajarnya beliau menyempatkan membalas surel saya. Saya minta buku ini dipublish ulang, begitu singkatnya. Dan setelah lama penantian (dari 31 Januari) buku ini di terbitkan ulang pada 5 Agustus 2019. Dan demi waktu menunggu yang sulit, saya begitu beruntung bisa membaca buku ini.
Dalam buku ini, saya memahami seluk-beluk warna kulit dan kecantikan dengan bertamasya dalam sejarah Indonesia. Ternyata bukan hanya warisan kolonial persepsi “putih” adalah cantik, jauh sebelum itu, dari abad ke-9 puisi epos Ramayana sudah mengagumi wanita yang putih. Sejarah kecantikan sudah disusun dari pra-kolonial, transisi dari kolonial Belanda ke Jepang, pengaruh budaya Amerika, sampai ke kosmopolitan. Kegandrungan akan warna kulit Putih bukan sekadar pengaruh ras Kaukasia, namun juga terkomposisi dari unsur politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Bahkan ada kaitannya kecondongan preferensi terhadap warna putih dan kecantikan dengan tumbangnya komunisme di Indonesia. Kurang gila apa, coba! Ternyata begitu ruwet sejarah kecantikan ideal yang membuat saya sakit minder menahun karena menanggung beban konstruksi sosial: cantik itu putih.
Saya tidak bisa menghindar dan terpaksa mengakui bahwa saya (tanpa sadar) turut menjadi tubuh feminin yang patuh terhadap regulasi atas tubuh saya yang disusun dari gambaran “ideal” perempuan, toh, saya “merawat diri” yang secara ekonomis ujung-ujungnya menguntungkan pebisnis, alih-alih diri saya. Putih, tren kecantikan yang tetap bertahan hingga kini, terus-menerus beradaptasi, bermutasi, dan mengooptasi bentuk-bentuk kecantikan ideal untuk mempertahankan supremasinya.
Maka jika kamu merasa inferior dan minder karena warna kulit mu, maka kamu harus mulai mempertanyakan: Kenapa saya harus minder? Di ujung pertanyaan, kamu akan bertemu kapitalisme dan supremasi ras kulit putih, selanjutnya kamu bisa menentukan standing position kamu.
Menurut saya, wanita tidak perlu merasa malu, minder, dan mengutuk warna kulitnya, karena wanita adalah cantik. Cantik dengan segala kompleksitas yang membentuknya.
Buku ini ciamik, sangat-sangat wajib dibaca, khususnya perempuan yang merasa seperti di paragraf pertama. Ulasan buku ini saya dedikasikan kepada Prof. L. Ayu Saraswati selaku penulis yang mau mendengarkan dan meredakan rasa frustrasi saya. Terima kasih.
Membaca buku ini seakan jadi sebuah perjalanan dekonstruksi dari anggapan yang selama ini mengendap di kepala. Penulis mencoba mengurai tentang bagaimana warna kulit putih menjadi sebuah ekspektasi yang ditujukan pada perempuan-perempuan Indonesia. Bahkan, menjadi standar kecantikan dan di banyak waktu menentukan "nasib" perempuan di lingkungan sosialnya. Berangkat dari hal tersebut, banyak perempuan yang bersedia melakukan berbagai cara untuk memenuhi standar "kulit putih".
Tentu saja hal yang tertanam tanpa sadar itu adalah hasil konstruksi dari berbagai hal. Penulis membedah dari mana "glorifikasi" warna kulit putih itu berasal. Mulai dengan fakta sejarah dari masa Jawa Kuno hingga era kosmopolitan. Peristiwa-peristiwa dari masa ke masa itu memengaruhi bagaimana perempuan Indonesia memandang tentang kulit "putih". "Penceritaan dan penuturan sejarah adalah bagian dari produksi afektif." Hal-hal dalam diri yang "dituju" adalah rasa malu, emosi, afek, perasaan, dan rasa.
Tubuh pun juga memiliki ingatan dalam merespons sesuatu. "Sintestesia indra" yang diperkenalkan antropolog Kalpana Ram menjelaskan bagaimana tubuh kita merespons berdasarkan ingatan-ingatan dari tubuh yang dilihat sebelumnya, seperti melalui film atau perjumpaan langsung. Sehingga hal itu yang memengaruhi bagaimana kita merespons orang lain dan anggapan tentang standar "cantik".
Di buku ini dijelaskan bagaimana indra kita "dibiasakan" memiliki anggapan tentang kulit putih melalui kisah-kisah Ramayana Jawa Kuno tentang wajah yang cantik putih sempurna. Di era kolonial Belanda ukuran standar putih menjadi putih ala Kaukasia. Bahkan adanya stereotip pribumi berkulit gelap sebagai "pemalas" dan "bodoh". Warna kulit dan ras saat itu menjadi penanda status sosial, hingga bagaimana mereka diperlakukan untuk menarik garis antara penjajah dan terjajah. Hal ini didukung oleh berbagai iklan dan media cetak di masa kolonial yang menampilkan produk kecantikan dengan iming-iming putih Kaukasia.
Di era Soekarno yang anti Barat, iklan produk pemutih kulit jadi lebih sedikit. Hingga di tahun 70-an cantik Eropa dianggap sebagai hal ideal dengan strategi pengasosiasian warna kulit putih dengan tempat-tempat "idaman" seperti Prancis, Amerika, Inggris, dan Italia. Setelah era itu, terbitlah produk-produk kecantikan lokal yang mempromosikan "cantik putih Indonesia". Di era majalah Cosmo, penulis menyebutkan adanya "putih kosmopolitan" yang digambarkan sebagai pemberi identitas pada pemiliknya sebagai kesan modern, "warga dunia", bahkan status superior dengan produk-produk kosmetik asal negeri-negeri "idaman".
Penulis juga menegaskan konstruksi kulit putih ini sebagai sesuatu yang tak riil : "Tidak ada ras yang bisa menempati suatu lokasi putih yang autentik karena sejak awal putih yang "riil" itu tak pernah ada." (hal 168)
Setelah mengenal bagaimana konstruksi itu dibangun, penulis seakan menjentikkan jari untuk menyadarkan pembaca. "Memahami bagaimana kuasa bekerja melalui afek dengan demikian memberi kemungkinan untuk menantang kuasa tersebut melalui ranah afek. Maka selanjutnya, untuk lepas dari cengkeraman kuasa yang ditata melalui pengelolaan afek yang berdasarkan gender, kita mesti mencari cara untuk menolak merasakan sesuatu yang tertentu mengenai hal-hal spesifik seperti warna kulit atau ideal kecantikan dan mengelola perasaan-perasaan itu dengan cara-cara yang berlawanan dan berbeda." (hal 219)
Buku ini memang hadir dengan kemasan yang "serius", namun fakta-fakta dan perspektif yang diungkap dari halaman ke halaman menyenangkan untuk dituntaskan hingga akhir.
Akhirnya, setelah menutup halaman terakhir, saya jadi teringat kalimat penyemangat dari penulis buku-buku psikologi feminis, Mbak Ester Lianawati, sering berikan di kelas yang diampunya, "Semua yang dikonstruksi, bisa diruntuhkan."
bicara tentang tradisi cantik memang selalu jd bahasan yg menarik. Indonesia sbg negara yg mengadopsi warna kulit putih sbg norma kecantikan, tentu tak begitu peduli bahwa gagasan mengenai kecantikan ini sebenarnya sistemik dan problematik. di buku ini, penulis mencoba utk kritis mempertanyakan dan/sekaligus mendekonstruksi ulang standar kecantikan kulit terang.
menggunakan pendekatan antropologi dan kajian budaya tentang emosi, buku ini secara historis merunut perkembangan konsep warna kulit putih, standar kecantikan, hierarki ras, sampai obsesi kita thdp warna kulit putih dalam bbrp periode sejarah di Indonesia; Jawa prakolonial, pendudukan Belanda dan Jepang, Indonesia paska kemerdekaan (dan masa Orba), serta konsep putih kosompolitan di Indonesia kontemporer paska reformasi.
penulis jg banyak melakukan analisis/pembacaan kritis pada iklan2 pemutih kulit di majalah2 maupun produk2 kecantikan. konsep putih dlm hal ini dibentuk sbg sesuatu yg baik dan diinginkan. penyematan bahasa (metafora terang-gelap) yg dipakai jg turut menyumbang peredaran wacana kecantikan dgn memainkan kata2 yg memiliki afek/rasa tertentu. kata 'putih' memiliki dan trs disematkan dgn makna2 konotatif yg baik, seperti terang, harapan, bahagia, kemurnian.
adanya obsesi pd warna putih ini jg jadi meminggirkan dan mendiskriminasi warna kulit lainnya; yg tidak putih, yg gelap, yg hitam, sbg suatu warna kulit yg tidak diinginkan. konotasi negatif banyak dilekatkan pd warna gelap sbg sesuatu yg menakutkan, buruk, jelek, dan segala yg berkebalikan dari putih. perempuan2 berkulit gelap, khususnya dr Indonesia timur, kemudian dihapuskan dan dikucilkan dari ideal kecantikan.
di sini, afek/rasa itu td punya peran yg sangat penting. afek berfungsi sbg suatu aparatus kuasa yg bekerja mengalamiahkan beragam hirarki sosial termasuk hirarki ras, gender, dan warna kulit transnasional.
gagasan ttg cantik dan ambisi utk jadi putih ini jg menciptakan potensi penyiksaan diri baru, yaitu melalui praktik2 pemutihan kulit yg tak jarang punya dampak berbahaya bagi tubuh —dan ini adalah bentuk baru penindasan yg muncul seiring perempuan berperang dengan tubuhnya sendiri yg mereka enggani.
Buku ini ditulis oleh pengajar bidang kajian perempuan di Universitas Hawai’i, Manoa. Tidak heran bahasa yang digunakan cukup berat bagi orang awam seperti aku.
Banyak istilah ilmiah yang jarang didengar, tetapi tidak menutup semangat untuk mencari tahu artinya dan tetap menyelesaikan buku ini 😊
Penulis melakukan riset pengaruh warna kulit putih terhadap emosi, afek/perasaan, dan ideologi masyarakat. Mulai dari zaman prakolonial, bukti sejarah terkait warna kulit dalam epos Ramayana. Dikisahkan Sita memiliki kulit putih bercahaya seperti bulan, meninggalkan kesan energi positif. Sedangkan tokoh jahat dikaitkan dengan kulit gelap, memberikan rasa negatif seperti kegelapan di malam hari.
Saat zaman kolonial, wanita belanda memiliki privilege daripada wanita pribumi. Kulit putih dari ras kaukasia menjadi sebuah senjata agar tidak ditindas oleh penguasa. Sebagaimana saat Jepang berhasil menduduki Indonesia, Pengusa Jepang menyebarkan ideologi baru bahwa Putih Asia (Jepang & Indonesia) lebih baik daripada putih Belanda (ras kaukasia).
Saat era kemerdekaan walau Soekarno memiliki sentimen thdp Barat, iklan-iklan pemutih seperti bedak mulai bermunculan. Semakin banyak produk pemutih muncul saat era reformasi, dimana Soeharto membuka masuk pihak Barat (Amerika) untuk berbisnis di Indonesia. Iklan-iklan pemutih ini menggunakan cover wanita ras kaukasia sebagai contoh kecantikan. Semakin kesini, era kosmopolitan, kulit putih bermakna luas dan transnasional, tidak hanya menggunakan model ras kaukasia, tetapi ras asia seperti Hongkong, Jepang, dan Indonesia yg berkulit terang sebagai ikon.
Hal inilah yang mejadikan mengapa banyak wanita Indonesia sangat terobsesi untuk menjadi putih. Doktrin kulit putih/terang ini sudah ada dari abad puluhan sampai sekarang. Warna gelap disimpulkan menjadi pembeda, yang menghasilkan perasaan malu karena wanita memiliki perhatian terhadap penampilan lebih besar daripada pria.
Saat wanita Indonesia berpindah negara, kulit mereka tidak dianggap buruk. Hal ini menyimpulkan bahwa afek akibat warna kulit tidak terbatas wilayah dan geografi tertentu.
Esai yang sangat layak dibaca untuk laki-laki dan perempuan, khususnya orang muda yang masih terjebak dalam standar putih kecantikan!!
Topik dalam buku ini menjadi penting mengingat kecantikan masih menjadi alat diskriminasi di masyarakat, dan semakin relevan, karena “putih kulit” seolah-olah mendistrupsi definisi kecantikan itu sendiri.
Seperti rangkuman yang tertulis di bagian belakang, buku ini bermaksud melacak peredaran citra kecantikan secara lintas lokasi geografis, yang mana penulis membagi ulasannya melalui babak-babak sejarah.
Buku ini di mulai dengan mengajak pembaca menelurusi sirkulasi kecantikan India, melalui Ramayana— sebagai pengaruh pertama yang masuk ke Indonesia sebelum kerajaan Islam dan kolonialisme Eropa. Dilanjutkan dengan gagasan cantik putih saat Belanda dan Jepang menjajah tanah air, dan ditutup dengan periode pascareformasi atau yang disebut kosmopolitan oleh penulis.
Kesimpulannya adalah putih masih menjadi warna unggulan dan idaman di berbagai negara. Ketika refleksi dengan diri sendiri, ternyata saya masih jadi orang yang melanggengkan praktek kulit putih juga. Misalnya, merasa malu dan jelek ketika kulit menghitam setelah terpapar sinar matahari, secara gak sadar memberikan pujian kepada teman ketika kulit mereka lebih cerah/putih (entah pakai produk pemutih atau karena perawatan ke dokter), yang justru mempertegas bahwa gelap, cokelat, hitam bukanlah hal yang patut dipuji.
Terima kasih untuk penulis atas tulisannya yang bagus, meskipun masih ada beberapa kata dan penyusunan kalimat yang terlalu panjang dan sulit dimengerti awam, tapi cukup dipahami mungkin untuk menjaga agar pendapat penulis dapat tergambarkan secara utuh.
What does it mean to be white-skinned? How is white skin perceived by society and what kind of emotion does it evoke?
In this meticulous examination of white skin, its representation in ads and magazines, and its perception in different societies, the author offers a new perspective for analyzing colorism, specifically in relation to whitening and tanning products - emotion. After the extensive global campaign for whitening products, what emotions did it evoke among non-white audiences?
It took me longer than expected to finish the book because it is densely packed with theories that I am not familiar with and require ample time to comprehend before progressing to the next page. However, since the topic is one that interests me greatly, I persevered and gained knowledge of some valuable frameworks and theories that apply to other phenomena. The author is highly critical of attempts that shift the white skin perspective from maintaining colonialism to making it sound empowering, yet still oppressive, and attempting to maintain the superiority of white skin.
For instance, tanning products conspicuously convey the impression that darker skin is as desirable as white skin. However, the marketing of these products, including the language used, is entirely different. While whiteness is often associated with positive words like "detoxifying," darkening products are marketed more conservatively and do not guarantee permanence like their counterparts.
I believe individuals who work in marketing and branding could significantly benefit from this book as it would assist them in crafting campaigns that differ from Western ones, especially in non-Western societies.