Kondisi umat Islam sekarang mengingatkan kita pada Hadis Nabi Saw. bahwa pada suatu masa nanti umat Islam akan banyak jumlahnya, tapi hanya bagaikan buih lautan yang hilang diterpa angin. Muslim tak lagi memiliki kewibawaan, kini tak lagi ditakuti musuh-musuhnya. Kita tak dapat menyangkal Islam diidentikkan dengan kebodohan, kekumuhan, dan kekerasan—bahkan dianggap sebagai penyebar teror. Betapa semua itu jauh dari citra Islam Nabi Saw. yang membawa kedamaian. Tak heran, di tangan Nabi Saw. dan para sahabatnya, Islam berkembang di seantero dunia, hidup dan bertumbuh memengaruhi peradaban dunia sehingga bekasnya dapat dirasakan sampai sekarang. Di tangan Wali Songo dan para ulama penerus syiarnya, Islam pun tertancap kukuh di bumi Nusantara. Mengapa citra Islam kini jadi terpuruk? Bagaimana memperbaikinya? Buku ini menyodorkan tulisan-tulisan ringan yang mengusik hati dan pikiran kita sebagai bahan perenungan untuk memahami keadaan umat Islam. Juga memberikan alternatif solusi untuk mengembalikan citra Islam sebagai pembawa cinta dan perdamaian.
Buku yang amat baik! Banyak yang saya pelajar hasil daripada pembacaan buku ini. Antaranya hati yang sakit akan cenderung menyakiti orang lain, jika kita beri keselesaan yang melampau kepada anak-anak, adversity quotient mereka akan rendah, akhlak lebih penting daripada luaran, Islam radikal hasil daripada pembelajaran dan pengajaran yang keras, masyarakat Islam rata-ratanya sudah tinggalkan nilai Islam sebenar, ikut cara Rasulullah SAW menghadapi penghinaan terhadapnya dan banyak lagi.
"Kata Marah dan Ramah itu jumlah dan bunyi hurufnya sama, tp beda letak posisinya. Sehingga konotasinya juga sangat berbeda, bahkan bertolak belakang. Kemarahan itu tidak saja muncul pada relasi sosial sehari-hari dlm urusan yg profan, dlm beragama pun kadangkala seseorang memunculkan kemarahan." (Hal. xii)
"... Secara alamiah seseorang yg telah memegang kuat pemahaman, akan mempertahankannya, sekuat mungkin. Bahkan semakin kita debat, semakin yakin dia pada pemahamannya. Berbagai dalil agama yg menunjukkan bahwa agama Islam itu rahmatan lil 'alamin dan lemah lembut, bisa dipatahkan oleh ayat-ayat yg 'keras' yg dicomot sana sini." (Hal.25)
Buku ini terbagi menjadi 2 Bab yaitu Bagian 1 : all about peace, dan Bagian 2 : Character building. Di bagian 1 ini pembaca diajak mengeksplorasi segala macam pengetahuan tentang 'peace', ditampilkan banyak cerita-cerita tentang citra Islam yg terpotret di zaman sekarang ini. Banyak orang yg ingin menyampaikan bahwa Islam itu penuh kedamaian, tp disisi lain tidak sedikit yg memandang bahwa Islam itu sebaliknya. Naah buku ini memberikan banyak fenomena2 tersebut, dan beberapa hal yg seharusnya kita sebagai Muslim lakukan, agar oranglain tdk salah memandang Islam.
"Pemahaman Islam yg radikal dan keras memang tidak selalu berujung pada aksi terorisme. Tapi, terorisme selalu berawal dari cara berpikir yg radikal." (Hal.24)
"Egoisme dan individualisme adalah salah satu masalah terbesar peradaban kita." (Hamza Yusuf - Hal. 188)
Saya jatuh cinta sih sm buku ini, Pembahasan buku ini sebenernya agak berat, tp cara penyampaiannya itu asyik banget dan gak terkesan menggurui. Serius tp santai. Jadinya mudah dicerna dan gak ngebosenin. Banyak juga diselipkan humor-humor yang penuh hikmah. Tampilan isi bukunya pun dibuat sedemikian rupa sehingga tdk membosankan. Naah, biar tahu apa saja sih yg dibahas dibuku ini, sebaiknya kamu membacanya juga yaa.. 😆
"Cara termudah untuk membangun Indonesia yaitu dengan cinta: datang ke TPS pada tanggal yg sudah ditentukan, berikan satu-satunya senjata yg kita miliki: Suara. Dasari dengan cinta".(Hal.101)
Karya asal penulis adalah bahasa Indonesia. Jadi, "edisi bahasa Malaysia" seperti yang tertera di kulit buku.
Apa yang gerakkan saya untuk dapat buku ni? 🖍 Kak jida banyak share tentang buku ni dalam ig dan telegram channel. 💲 Diskaun 20% yang saya dapat dari shopee ringgit niaga. Katanya diskaun sehingga hujung Januari. 📔 Cover buku. Imej jari-jari berbincang dengan latar putih tu menarik mata saya.
Terus kepada topik-topik menarik dalam buku:
💡 Adakah kita masih memiliki hilm? Hilm bermaksud kemampuan merespons sesuatu dengan bijak, tidak reaktif. Response ability inilah yang membezakan orang dewasa dengan kanak-kanak. Dengan sikap hilm ini, nabi saw berjaya mengubah tabiat orang quraisy daripada sikap reaktif dan suka berperang menjadi lebih bijak dan bermusyawarah. Tapi umat Islam Indonesia dan Malaysia yang secara budaya sudah dikenali ramah kelihatan sudah mula kehilangan hilm ini. Lihat saja media sosial kita. Debat yang berpanjangan sering berakhir dengan permusuhan.
💡 5 tindakan yang sepatutnya kita lakukan apabila nabi kita dihina: Jangan broadcast, memaafkan, membalas dengan kebaikan, mendoakannya,, (yang kelima boleh dapatkan dalam buku ya) 😄 Pada pendapat saya, situasi ini merupakan praktikal kepada sikap response ability yang tidak terhad kepada situasi nabi dihina. Seharusnya kita cuba untuk bersikap hilm setiap masa.
💡 Lihat yang positif. Kajian menunjukkan fokus kepada perkara positif membantu meningkatkan prestasi. Sebuah hospital di Amerika menggunakan appreciate inquiry kepada 80% pelanggan yang berpuas hati. Melalui respon balas tersebut, mereka memperkuat dan meningkatkan segala perkara positif yang membuatkan pelanggan puas hati. Hasilnya di luar dugaan. Tahap kepuasan pelanggan melonjak hingga hampir 10%.
Buku ini banyak mengingatkan tentang perkara yang saya lupa. Terima kasih buat penulis dan tim penerbit 🤗
buku yang terlihat kecil tapi jangan salah bahwa buku berisi materi yang keren, pengalaman penulis yang pernah hidup sebagai minoritas membawa beliau pada pengalaman yang sulit didapatkan muslim di negara kita yang mayoritas. beliau banyak menuliskan kegalauan keislaman yang sedang dijangkiti kepada umat muslim. sehingga yang harus Islam menampilkan keramahan menjadi kemarahan. jauh dari citra Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. buku ini ingin mengajak pembaca merenungkan keadaan umat muslim dengan banyak sudut pandang, tidak lupa penulis menyodorkan sebuah solusi alternatif agar bisa mengembalikan citra umat Islam dimata dunia
Wajibul kudu dibaca buat yang 'selalu' jempolnya gatel copas, share dan update status. Sangat direkomendasikan untuk dibaca bagi pemilik 'jiwa muda kompor yang berapi-api'. Mau menyusun resolusi tiap awal tahun? buku ini pemantiknya, sangat aduhai dibaca untuk mengawali pekan, bulan atau tahunmu! Salam spider!
Buku yang cukup menarik untuk dibaca. Sarat dengan ilmu yang tidak diduga. Penulis bijak mengolah topik yang dihujahkan dengan fakta yang menarik. Syabas. . Selepas membaca buku ini, saya belajar untuk cekap mengawal fikiran dan tidak goyah dengan cabaran pada dignity.
Dah habis baca buku ni since 28 Jan 2021 tapi baru sempat tulis review. Aku suka buku ni. Penulis menulis dengan cara yang santai. Ada banyak benda yang aku pelajari. Antaranya :
- Jangan bekeras ketika berdakwah. Kerana Islam itu Ramah bukan Marah.
- Konsep domino (dalam mencapai azam). Set target sikit2, hari demi hari, minggu demi minggu dan seterusnya sehinggalah azam kita akhirnya tercapai.
- Cerita pendidikan zaman sekarang
- Kisah Kabayan
Ini yang dapat aku ingat buat masa ni. Aku memang cepat lupa apa yang telah dibaca. 😅
Berterima kasihlah kepada orang yang menyakiti kita. Mereka mengajarkan kita cara bersabar dan memaafkan. Jika semua orang di dunia ini jenis comel-comel dan baik-baik sahaja semuanya, lalu kepada siapa harus kita berikan maaf?
Ambillah 'ibrah dari kisah Buya Hamka yang memimpin solat jenazah Presiden Soekarno; insan yang telah menyumbatnya ke dalam penjara pada masa yang begitu lama.
Buya Hamka bukan sekadar memaafkan, tetapi beliau berterima kasih kerana dengan adanya waktu-waktu terluang di penjara, Buya Hamka berjaya merenung tentang kehidupan dan berkarya sehingga terhasilnya kitab Tafsir Al-Azhar.
– Islam itu Ramah bukan Marah, muka surat 59, terbitan Puteh Press