"Rahasiakanlah cintamu pada-Ku. Jangan sampai angin mendengar meski sesiut apa pun. Rahasiakanlah cintamu pada-Ku. Jangan sampai senja melihat meski sezarah apa pun. Rahasiakanlah cintamu pada-Ku. Jangan sampai langit meraba meski selembut apa pun. Jadi, mengertilah, cintaku, sembunyikanlah tangismu meski seluka apa pun. Diamlah. Aku membenci dunia yang gaduh."
Triyanto Triwikromo (lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 15 September 1964; umur 50 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Redaktur sastra Harian Umum Suara Merdeka dan dosen Penulisan Kreatif Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang, ini kerap mengikuti pertemuan teater dan sastra, antara lain menjadi pembicara dalam Pertemuan Teater-teater Indonesia di Yogyakarta (1988) dan Kongres Cerpen Indonesia di Lampung (2003). Ia juga mengikuti Pertemuan Sastrawan Indonesia di Padang (1997), Festival Sastra Internasional di Solo, Pesta Prosa Mutakhir di Jakarta (2003), dan Wordstorm 2005: Nothern Territory Festival di Darwin, Australia.
Cerpennya Anak-anak Mengasah Pisau direspon pelukis Yuswantoro Adi menjadi lukisan, AS Kurnia menjadi karya trimatra, pemusik Seno menjadi lagu, Sosiawan Leak menjadi pertujukan teater, dan sutradara Dedi Setiadi menjadi sinetron (skenario ditulis Triyanto sendiri). Penyair terbaik Indonesia versi Majalah Gadis (1989) ini juga menerbitkan puisi dan cerpennya di beberapa buku antologi bersama.
"Kalau Aku berhenti meneteskan embun di sehelai daun, apakah kau masih mencintai-Ku?"
-Mogok hlm. 54
💫 Kitab Para Pencibir adalah karya pertama milik Triyanto Triwikromo yang aku baca, dan aku jadi tertarik untuk menyelami karyanya yang lain.
💫 Kutemukan buku ini di ipusnas di saat writer's block menyerang kepalaku beberapa hari lalu. Hebatnya, buku seindah ini tidak perlu mengantri di ipusnas.
💫 Kitab Para Pencibir berisi banyak puisi dan sajak pendek yang terbagi lagi menjadi 5 kalam: -Kalam Awal -Kalam Rahasia -Kalam Pengasingan -Kalam Waktu, dan -Kalam Akhir.
💫 Sesuai dengan judulnya, isi buku ini hampir seluruhnya merupakan cibiran mengenai hubungan hamba dengan Tuhannya, juga sebaliknya.
💫 Diksinya indah, tetapi perlu perenungan yang cukup panjang agar aku benar-benar bisa memahami makna dibaliknya. Ada yang memang mudah sekali aku pahami, ada beberapa juga yang terkesannya abstrak dan tidak jelas.
💫 Secara keseluruhan, aku menyukai buku ini. Dan beberapa tulisan beliau di dalamnya, salah satunya yang tertulis di paling awal, dan beberapa lainnya yang kusuka: -Rahasiakanlah Cintamu pada Kalam Rahasia hlm. 8 -Perayaan Kematian pada Kalam Pengasingan hlm. 58 -Sendiri pada Kalam Waktu hlm. 99
Kitab Para Pencibir karangan Triyanto Triwikromo terbitan @grasindo_id Manusia tak pernah ada habisnya bertanya banyak hal tentang Tuhan. Termasuk di antaranya adalah tentang keinginan-keinginan yang tak terkabulkan. Memang begitulah manusia.
Pernahkah terbayang apa yang jadi jawaban Tuhan setiap kali seorang manusia bertanya kepadaNya? Kita hanya bisa berandai-andai. Tapi, setidaknya tidak ada yang segila penulis ini hingga menjadikannya sebuah buku.
Tuhan sering kali mendapatkan cibiran tentang apa yang terjadi di dunia. Siapa kita? Buku ini akhirnya secara perlahan namun pasti menjawab cibiran-cibiran manusia kepada Tuhan.
Lewat kumpulan puisi - begitu yang dituliskan buku ini - penulis memecahkan nalar kita dari kebiasaan pada umumnya tentang bagaimana Tuhan menanggapi hambaNya.
Menarik. Semoga saja, jika siapa pun Anda yang membaca tulisan ini akhirnya tertarik membaca buku ini. Saran saya, berlapangdadalah berbicara tentang ketuhanan. Tuhan Maha Besar.
Ini buku kumpulan puisi pertama dari Triyanto Triwikromo yang saya baca. Banyak nilai-nilai sufisme yang ada di dalamnya. Sebagian puisi sarat makna, sebagian lagi abstrak—dan cenderung membingungkan.
Pertama kalinya baca buku Pak Triyanto Triwikromo. Sebelumnya lebih sering baca cerpennya di beberapa buku antologi media koran.
Buku kali ini adalah buku kumpulan puisi, ya. Persis seperti judulnya, semua isinya tentang cibiran, tetapi yang lebih istimewanya, ini hubungan antara manusia ke Tuhannya, ataupun sebaliknya. Jujur, membaca puisi-puisinya, seolah saya tercibir, dicibir, dan kadang pula justru mencibir, saya tak lain dan tak bukan adalah pencibir, menjadi salah satu tokoh di buku ini. Andai saya bisa berdialog dengan Tuhan, mungkin akan seperti ini gambarannya.
Cukup untuk mendalami pemikiran dan pemahaman spiritualitas.
Setelah segalanya berlalu, kini kau sekadar menjadi monster pembunuh bagi siapa pun yang kauanggap sebagai dajal. Apakah agama telah merusakmu?
Bohong jika kukatakan ini buku yang ringan. Tema, diksi dan maknanya butuh perenungan panjang sebelum bisa dimengerti. Dari sedikit yang bisa saya pahami, buku ini memiliki bahasan layaknya "Adam Ma'rifat" milik Danarto. Tapi ini kayaknya lebih pada "Kristus Ma'rifat" CMIIW. Isinya seperti judul bukunya, cibiran kepada para penganut agama tentang hubungan mereka kepada tuhan.
Membaca buku ini sangat mungkin membuat salah paham. hukum-hukum KETUHANAN dalam buku ini dikemas dengan cerita-cerita Analogi yang maknanya dapat bersifat prismatis, beda kepala beda makna. Pendapat Saya, Entitas manusia adalah yang paling mulia dan ini merupakan kontradiksi dari kalimat MENCIPTAKAN MANUSIA MERUPAKAN AIB TERBESAR TUHAN. Iblis sebelum menjadi Iblis, ia adalah AZAZIL. kedudukan Azazil sangat mulia di sisi Allah SWT lebih dari kedudukan malaikat. bahkan Allah SWT mempercayakan segala urusan langit kepada Azazil. Hari ketika diciptakannya Nabi Adam, Allah SWT memerintahkan seluruh penduduk langit untuk bersujud kepadanya. kemudian mereka bersujud. dalam pada waktu yang khidmat itu, Allah SWT mendapati satu makluk kepercayaanNya yang ingkar. dia tidak mau bersujud, karena terbersit dalam hatinya bahwa dirinya lebih mulia dari pada suatu makhluk yang hanya diciptakan dari Tanah. ia adalah AZAZIL. Allah SWT begitu murka dan memberi gelar baru kepada Azazil, Yakni GELAR IBLIS.