Menyenangkan sekali membaca cerita pendek yang memiliki premis dan setting yang unik. Tapi dibanding itu semua, pembawaan penulis, menurut saya, adalah unsur yang jauh lebih krusial.
Buku ini, lagi-lagi menurut saya, adalah kombinasi yang apik dari tiga unsur tersebut. Transisi antara satu bagian cerita dengan bagian cerita lainnya dipoles dengan halus dan mudah dicerna. Nuansa sureal dan absurd yang diselipi beberapa kritik sosial bisa dikemas dengan baik oleh Budi Darma, terutama atas kemampuannya untuk mengobservasi dengan cermat.
Pilihan kata beliau sederhana dan efisien. Jarang beliau memberikan detail yang memusingkan, sehingga untuk cerpen-cerpen yang panjang sekali pun, saya masih merasakan pengalaman membaca yang nyaman. Komponen ceritanya juga terasa utuh dan tersusun dengan baik.
Cerpen favorit saya di antologi ini adalah Laki-laki Lain, Senapan, Tiga Laki-laki Terhormat, dan tentu saja Kritikus Adinan. Kritikus Adinan, entah kenapa, mengingatkan saya kepada novel The Stranger milik Camus (yang pada dasarnya juga merupakan bagian dari pujian).
Secara keseluruhan, cerita di antologi Kritikus Adinan ini kebanyakan memiliki open ending. Beberapa cerita seperti sengaja dimaksudkan sebagai teka-teki yang harus diselesaikan sendiri oleh pembaca, sedangkan beberapa cerita lainnya terasa lebih kasual dan tidak memerlukan 'jalan keluar'.
Dan yang paling penting, sang penulis bukan tipikal yang mendikte pembacanya, sehingga kesan dikotomis —yang sering saya takuti setiap membaca buku baru— tidak saya temui di buku ini.
Mungkin ulasan ini terdengar terlalu mengelu-elukan. Entah karena memang begitulah buku ini, atau semata karena buku ini adalah tipikal buku yang saya-banget.